3. METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Jenis dan metode Pengambilan data
Pengumpulan data primer dilakukan dengan mempergunakan metode pengamatan lapangan (observasi) dan metode sampling (stratified, cluster,
random, purposive, systematic sampling). Metode observasi merupakan
metode yang sangat mendasar dalam melakukan inventarisasi potensi sumberdaya di ekosistem mangrove (Kusumastanto 2002; Kusmana et al.,
2005). Data sosial dan ekonomi yang terkait dengan kegiatan penelitian ini akan dikumpulkan di lokasi penelitian dari para responden. Responden akan dipilih secara purposive sampling dan accidental sampling. Pengumpulan data terhadap responden akan dilakukan dengan menggunakan pendekatan wawancara mendalam (deep interview) dengan menggunakan kuisioner.
3.2.1 Data Sosial, Ekonomi, dan kelembagaan
Data sosial ekonomi dikumpulkan secara langsung dengan cara wawancara yang berpedoman pada kuisioner. Sedangkan data jumlah penduduk, mata pencaharian, dan tingkat pendidikan diperoleh dari kantor desa, kantor kecamatan, dan badan pusat statistik daerah.
Responden dipilih sebagai unit penelitian dengan metode penarikan contoh acak secara sengaja. Responden yang dipilih adalah masyarakat yang sering berasosiasi dengan mangrove yang tinggal di pesisir pulau. Responden yang dipilih adalah responden yang berinteraksi langsung dengan ekosistem mangrove.
Data yang diperoleh dari wawancara adalah :
1. Karakteristik individu masyarakat berupa identitas responden (umur, pendapatan, lama tinggal, pekerjaan, dan tingkat pendidikan). Tingkat pendidikan formal yang dimaksud adalah SD, SMP, SMA atau lainnya.
2. Pekerjaan, yaitu jenis pekerjaan yang terutama dilakukan sehari-hari untuk pemenuhan kebutuhan hidup, sedangkan pendapatan, yaitu jumlah penghasilan per bulan yang diperoleh dari berbagai sumber mata pencaharian. 3. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap sumberdaya ekosistem mangrove
yaitu mengenai pendapat atau pandangan responden tentang pemanfaatan ekosistem mangrove dan partisipasi dalam mengelola ekosistem mangrove. 4. Pemanfaatan yang biasanya dilakukan pada ekosistem mangrove baik itu
berupa potensi biologi seperti pemanfaatan satwa dan fauna di ekosistem mangrove ataupun potensi fisik ekosistem mangrove dan nilai ekonominya. 5. Peranan pemerintah dalam pelestarian ekosistem mangrove melalui intensitas
frekuensi kegiatan, berupa penyuluhan, pembangunan infrastruktur, penanaman mangrove, dan pengawasan.
6. Partisipasi masyarakat dalam upaya untuk pelestarian sumberdaya pesisir khususnya ekosistem mangrove merupakan bagian dari program pemerintah. Bentuk partisipasi masyarakat ini adalah keikutsertaan masyarakat dalam mengikuti kegiatan mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, dan pelatihan, tahap pelaksanaan, sampai pada tahap evaluasi dan pengawasan, serta tingkat partisipasi masyarakat.
Data sosial dan ekonomi ini akan digunakan dalam beberapa indeks untuk penentuan nilai kerentanan masing-masing pulau pada PPK kawasan konservasi TNB. Beberapa indeks yang akan menggunakan data ini antara lain : indeks pertumbuhan penduduk (ISPP), indeks kepadatan penduduk (ISKP), Indeks Partisipasi Masyarakat (ISPM), Indeks Pemahaman Masyarakat (ISPHM), indeks tingkat Pendidikan (ISTP), indeks pendapatan masyarakat (ISPDM), Indeks keterpencilan ekonomi (ISKE), Indeks dampak TNB (ISDT), dan Indeks kepadatan bangunan (ISLT).
Sedangkan untuk indeks dari dimensi kelembagaan meliputi indeks kualitas perencanan (IKKP), indeks kualitas koordinasi (IKKK), indeks kualitas implementasi (IKKIM), indeks kualitas monitoring (IKKM), indeks kualitas evaluasi (IKKE), Indeks kepatuhan aturan (IKKA), indeks kesiapan infrastruktur (IKKI), indeks peran perguruaan tinggi (IKPT), indeks pendampingan masyarakat (IKPM).
Untuk menentukan jumlah responden pada penelitian ini digunakan persamaan sebagai berikut (Hutabarat et al., 2009) :
.
Type equation here.
3.2.2 Data Biofisik Ekosistem Mangrove
Data ini terbagi atas dua jenis data yaitu primer dan sekunder. Untuk data sekunder dapat diperoleh dari beberapa instansi seperti Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan Kota Manado, Badan Taman Nasional Bunaken (BTNB), World Wildlife Fund (WWF), Birdlife, Yayasan Kelola, Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Sam Ratulangi, dan sumber data lain yang dipercaya akurat dan dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah .
Pengukuran kondisi fisik dan kimia perairan ekosistem mangrove dilakukan pada masing-masing titik pengamatan. Variabel yang diukur adalah suhu, salinitas pH, DO, TSS, kekeruhan, NO3, dan PO4. Hasil ini akan menggambarkan kualitas air PPK yang digunakan dalam analisa kerentanan.
n = jumlah contoh
p = proporsi kelompok yg akan diambil contohnya q = proporsi sisa dalam populasi contoh
Z = nilai tabel Z dari ½ α dimana α = 0.05 maka Z = 1,96 dibulatkan 2
Beberapa indeks yang menjadi dasar dalam menganalisa kerentanan dimensi ekologi pada penelitian ini adalah indeks pantai (IEP), indeks keterisolasian pulau (IEKP), indeks luasan zona inti (IELZI), indeks luasan zona pemanfaatan (IELP), indeks luasan terumbu karang (IELTK), indeks luasan mangrove (IELM), indeks degradasi mangrove (IEDM), indeks degradasi terumbu karang hidup (IEDTK), indeks tunggang pasut (IETP), indeks kemiringan lereng (IEKM), indeks tinggi gelombang (IETG), indeks kecepatan arus (IEKCA), indeks kualitas air (IEKA), indeks abrasi (IEAB), indeks rob (IERO), dan indeks erosi (IEER)
VARIABEL ALAT & BAHAN SATUAN
Struktur komunitas Meteran cm & m
Tali Pasak
Kompas GPS Plastik sampel Citra satelit & peta Kamera Buku identifikasi Salinitas Refraktometer Termometer pH meter ‰ Suhu o C pH
Kualitas air Botol sampel & pengawet mg/l
Tunggang Pasut Palem pasut cm
Kemiringan Kelerengan Profiller %
Arus Floater current meter m/s
Sosek dan kelembagaan Profl desa
Lembar kuisioner
Alat tulis menulis Kalkulator Pustaka
3.2.3 Vegetasi Mangrove
Pengambilan data vegetasi mangrove menggunakan metode pada Point-
Centered Quarter Method (PCQM) (Bakus 2007). Prosedur metode ini dalam
pelaksanaan di lapangan adalah, membuat satu garis seri (garis rintis) dari arah laut menuju ke darat. Pada satu garis seri tersebut diletakan beberapa titik contoh secara acak dengan menggunakan tabel acak. Areal sekitar titik contoh dibuat garis absis dan ordinat khayalan, sehingga di setiap titik contoh terdapat empat Tabel 3. Alat dan Bahan Penelitian
Gambar 3. Metode Point-Centered Quarter Method (PCQM) (Bakus 2007 ; Setyobudiandi 2009)
buah kuadran. Tiap kuadran dipilih satu pohon yang letaknya paling dekat dengan titik contoh kemudian diukur jarak dari masing-masing pohon tersebut ke titik contoh. Beberapa stasiun pengamatan dapat dilihat pada Gambar 4. Pengukuran dimensi pohon hanya dilakukan terhadap keempat pohon yang terpilih, dan diameter pohon yang diamati sejajar dengan dada orang dewasa.
Sampel kemudian diidentifikasi langsung di lapangan sesuai waktu dan keadaan dimana saat pengambilan sampel. Apabila tidak teridentifikasi maka sampel berupa daun dan bunga dibawa ke laboratorium biologi kelautan untuk selanjutnya diidentifikasi. Identifikasi yang dilakukan baik di lapangan atau di laboratorium menggunakan acuan identifikasi yang baku. Sampel vegetasi mangrove diidentifikasi menggunakan referensi menurut Noor et al., (1999).
Stasiun pengamatan untuk masing-masing pulau berbeda sesuai dengan luasan ekosistem mangrove yang dimiliki pulau tersebut. Masing-masing stasiun dalam pengamatannya dibuat tiga garis kearah laut yang nantinya akan digunakan sebagai pengamatan terhadap struktur komunitas vegatasi mangrove. Garis yang dibuat mengikuti sebaran mangrove ke arah laut, makin lebar luasan mangrove maka semakin panjang garis yang ditarik (Gambar 3).
Gambar 4. Lokasi Penelitian di Pulau-pulau kecil Taman Nasional Bunaken Mantehage Nain Manado Tua Bunaken Siladen Stasiun Pengamatan