BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit
2.3.3. Jenis-jenis Bukti Audit
Dalam menentukan prosedur-prosedur audit mana yang akan digunakan, auditor dapat memilihnya dari ketujuh jenis-jenis bukti audit. Alvin arens, Randal, dan Mark Beasley dalam buku “Auditing dan pelayanan verifikasi” (2004 : 250) mengemukakan ketujuh jenis-jenis bukti audit sebagai berikut :
“ 1. Pengujian Fisik (physical examination) 2. Konfirmasi (confirmation)
3. Dokumentasi (documentation)
4. Prosedur Analitis (analytical procedures)
5. Wawancara kepada klien (Inquiries of the client) 6. Hitung uji (reperformance)
7. Observasi (observation)”.
Ketujuh jenis-jenis bukti diatas dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Pengujian Fisik (physical examination)
Pengujian fisik adalah inspeksi atau perhitungan yang dilakukan oleh auditor atas aktiva yang berwujud. Jenis bukti ini sering berkaitan dengan persediaan dan kas, tetapi dapat pula diterapkan untuk berbagai verifikasi atas surat berharga, surat piutang, serta aktiva tetap yang berwujud. Pengujian fisik yang secara langsung berarti verifikasi atas aktiva yang benar-benar ada, dianggap sebagai salah satu jenis bukti audit yang paling terpercaya dan berguna. Pada umumnya, pengujian fisik merupakan sarana ke tujuan untuk meyakinkan kebenaran kuantitas maupun uraian aktiva.
2. Konfirmasi (confirmation)
Konfirmasi menggambarkan penerimaan tanggapan baik secara tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen yang memberikan keakuratan informasi sebagaimana yang diminta oleh auditor.
Permintaan ini ditujukan bagi klien, dan klien meminta pihak ketiga yang independen untuk memberikan tanggapannya secara langsung kepada auditor. karena konfirmasi-konfirmasi ini datang dari berbagai sumber yang independen terhadap klien, maka jenis bukti audit ini
sangatlah dihargai dan merupakan jenis bukti audit yang paling sering dipergunakan.
3. Dokumentasi (documentation)
Dokumentasi adalah pengujian auditor atas berbagai dokumen dan catatan klien untuk mendukung informasi yang tersaji atau seharusnya tersaji dalam laporan keuangan. Berbagai dokumen yang diuji oleh auditor adalah catatan-catatan yang dipergunakan oleh klien untuk menyediakan informasi bagi pelaksanaan bisnis suatu organisasi. Karena pada umumnya setiap transaksi dalam organisasi klien ini minimal didukung oleh selembar dokumen, maka jenis bukti audit ini tersedia dalam jumlah besar. Dokumen-dokumen secara sederhana dapat diklasifikasikan sebagai dokumen internal dan eksternal. Dokumen internal adalah dokumen yang dipersiapkan dan dipergunakan dalam organisasi klien sendiri serta tidak pernah disampaikan kepada pihak-pihak di luar organisasi seperti pelanggan atau pemasok klien. Contoh-contoh dari dokumen internal adalah : salinan faktur penjualan, laporan jam kerja karyawan. Dokumen eksternal adalah dokumen yang pernah berada dalam genggaman seseorang di luar organisasi yang mewakili pihak yang menjadi klien dalam melakukan transaksi, tetapi dokumen tersebut saat ini berada di tangan klien atau dengan segera dapat diakses oleh klien. Contoh dari dokumen eksternal ini adalah faktur-faktur dari pemasok.
4. Prosedur analitis (analytical procedures)
Prosedur analitis yaitu menggunakan berbagai perbandingan dan hubungan-hubungan untuk menilai apakah saldo-saldo akun atau data lainnya nampak wajar. Contoh atas hal ini adalah perbandingan presentase antara laba kotor yang diperoleh selama tahun berjalan terhadap laba kotor yang diperoleh pada tahun sebelumnya. Prosedur analitis digunakan secara luas dalam praktek dan penggunaan prosedur tersebut telah meningkat dengan tersedianya komputer untuk melakukan perhitungan. Prosedur analitis digunakan untuk tujuan berbeda atas sebuah audit dimulai dari memahami industri dan bisnis klien, menilai kemampuan dan keberlanjutan bisnis entitas, menunjukkan munculnya kemungkinan kesalahan penyajian dalam laporan keuangan, mengurangi pengujian audit secara rinci.
5. Wawancara dengan klien (inquiries of the client)
Wawancara adalah upaya untuk memperoleh informasi baik secara lisan maupun tertulis dari klien sebagai tanggapannya atas berbagai pertanyaan yang diajukan oleh auditor. Walaupun banyak bukti yang diperoleh dari klien berasal dari hasil wawancara ini, bukti tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai bukti yang meyakinkan karena tidak diperoleh dari sumber yang independen dan barangkali cenderung mendukung pihak klien. Oleh karena itu, saat auditor memperoleh bukti
dari hasil wawancara ini, maka pada umumnya merupakan suatu keharusan bagi auditor untuk memperoleh bukti audit lainnya yang lebih meyakinkan melalui berbagai prosedur lainnya.
6. Hitung uji (reperformance)
Hitung uji melibatkan pengujian kembali berbagai perhitungan dan transfer informasi yang dibuat oleh klien pada suatu periode yang berada dalam periode audit pada sejumlah sampel yang diambil auditor.
pengujian kembali atas berbagai perhitungan ini terdiri dari pengujian atas keakuratan aritmatis klien. Hal ini mencakup sejumlah prosedur seperti pengujian perkalian dalam faktur-faktur penjualan, penjumlahan dalam jurnal-jurnal dan catatan-catatan pendukung, serta menguji perhitungan atas beban depresiasi dan beban dibayar dimuka.
7. Observasi (observation)
Observasi adalah penggunaan indera perasa untuk menilai aktivitas-aktivitas tertentu. Sepanjang proses audit, terdapat banyak kesempatan bagi auditor untuk mempergunakan indera penglihatan, pendengaran, perasa, dan penciumannya dalam mengevaluasi berbagai item yang sangat beraneka ragam. Contohnya, auditor dapat melakukan perjalanan ke ruang pabrik untuk memperoleh suatu pandangan umum akan berbagai fasilitas yang dimiliki klien, mengamati apakah peralatan yang ada masih layak untuk digunakan, serta mengamati para individu yang melaksanakan tugas-tugas akuntansi untuk memperoleh apakah individu yang diserahi tanggung jawablah yang melaksanakan tugas tersebut.
2.4. Pengaruh Kondisi Pengendalian Intern Terhadap Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit oleh Auditor
Bahwa kondisi pengendalian intern sebagai pengendalian dalam menentukan jumlah bukti yang di kumpulkan oleh auditor. Bukti-bukti harus sesuai data yang telah ada dilapangan. Bahwa kondisi disini sangat menentukan bahan bukti yang dikumpulkan oleh auditor.
Menurut Mulyadi dalam buku Auditing (2002:80) tentang Kondisi Pengendalian Intern dengan bukti audit :
“Kuat atau lemahnya Pengendalian Intern merupakan faktor utama yang menentukan jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan oleh auditor dari berbagai sumber bukti audit. Semakin kuat pengendalian intern, semakin sedikit bukti audit yang harus dikumpulkan sebagai dasar pernyataan pendapat auditor. Jika pengendalian intern lemah, auditor harus mengumpulkan jumlah bukti audit yang lebih banyak.”
Arens, Elder, dan Beasley mengemukakan kondisi pengendalian intern dengan bukti audit yang telah diterjemahkan oleh Tim Dejacarta dalam bukunya
“Auditing dan Pelayanan Verifikasi” (2004:15) yaitu :
“Jika klien memiliki suatu pengendalian intern yang sangat baik, maka jumlah bukti audit yang harus dikumpulkan dapat dikurangi secara signifikan daripada jika pengendalian internnya tidak memadai.”
Dari pernyataan diatas bahwa kondisi pengendalian intern sangat berpengaruh terhadap bahan bukti yang dikumpulkan oleh seorang auditor. Pengendalian intern yang baik atau kuat dapat memberikan kemudahan oleh seorang auditor karena bukti audit yang dikumpulkan semakin sedikit. Dan sebaliknya jika pengendalian intern yang lemah dapat menyebabkan bukti audit yang banyak.
BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN
3.1. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah kondisi pengendalian intern serta pengaruhnya terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit oleh auditor.
Penelitian ini dilaksanakan pada 5 (lima) Kantor Akuntan Publik terdaftar dalam Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) yang merupakan KAP terbesar yang berada di kota Bandung.
3.1.1. Populasi Penelitian
Pengertian populasi menurut Sugiyono (2002:57) yaitu :
“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”
Objek tersebut bisa merupakan manusia, file-file, atau dokumen-dokumen yang dipandang sebagai objek penelitian. Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi penelitian adalah para auditor eksternal atau akuntan publik yang bekerja pada 5 (lima) Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Bandung yang terdaftar pada Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Jawa Barat
Di mana populasinya dapat digambarkan pada tabel berikut ini.
Tabel 3-1
Rincian Jumlah Populasi .
Kantor Akuntan Publik Jumlah
populasi
KAP Mansyur dan Rekan 10
KAP Drs. Gunawan Sudrajat 11
KAP La Midjan dan Rekan, 9
KAP Dra Yati Rutiyah 9
KAP Sanusi, Supardi dan Soegiharto 11
Dari tabel di atas, maka jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 40 auditor dari 5 Kantor Akuntan Publik
3.1.2. Ukuran Sampel
Ukuran sampel merupakan besarnya sampel yang diambil untuk melaksanakan suatu penelitian dari populasi yang telah ditentukan. Besarnya sampel dapat ditentukan secara statistik atau melalui estimasi penelitian. Perlu diperhatikan bahwa sampel yang dipilih harus representatif, dalam arti segala karakteristik yang ada pada populasi dapat tercermin dalam sampel yang dipilih. Dengan berpedoman pada pendapat Winarto Surakhmat (2000 ; 100) yang menyatakan bahwa :
“Untuk pedoman umum dapat dilaksanakan bahwa bila populasi dibawah 100 orang, maka dapat digunakan sampel 50%. Dan jika diatas 100 orang, digunakan sampel 15%.”
Dengan demikian ukuran sampel yang diambil peneliti pada 5 Kantor Akuntan Publik di kota Bandung adalah sebanyak 40 responden. Sehingga jumlah responden yang akan menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 50% x 40 orang auditor = 20 orang auditor. Pengambilan sampel ini didasarkan karena keterbatasan waktu dan kemampuan peneliti. Diharapkan jumlah sampel tersebut dapat mewakili dari seluruh akuntan publik yang bekerja pada 5 Kantor Akuntan Publik tersebut.
3.1.3. Teknik Sampling
Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu probability sampling (pengambilan secara acak) dan non probability sampling (pengambilan sampel secara tidak acak atau sistematis). Metode pengambilan sampel secara acak meliputi simple random, proportionate stratified random, disproportionate stratified random dan area random. Sedangkan metode pengambilan sampel secara tidak acak meliputi sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidential, purposive sampling sampling jenuh, dan snowball sampling.
Dalam penelitian ini dipergunakan Purposive Sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yaitu sudah pernah bekerja minimal 3 tahun, karena sudah memiliki banyak pengalaman dalam melaksanakan tugas audit.
3.1.4. Prosedur Pemilihan Objek Penelitian
Prosedur penelitian objek penelitian yang dilakukan penulis dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Penulis mempelajari beberapa buku yang berhubungan dengan akuntansi khususnya mengenai auditing untuk mendapatkan topik penelitian yang akan penulis tuangkan dalam bentuk skripsi.
2. Berdasarkan topik penelitian yang telah ditetapkan, penulis membuat batasan masalah, tujuan yang ingin dicapai, menyusun kerangka pemikiran dan lokasi penelitian.
3. Penulis menyampaikan rencana penelitian pada 5 Kantor Akuntan Publik yang telah ditentukan.
4. Penulis mengajukan judul dan membuat proposal penelitian kepada Ketua atau Sekretaris Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung untuk mendapat persetujuan.
5. Setelah mendapat persetujuan dari Ketua atau Sekretaris Program Studi Akuntansi, penulis kemudian mengajukan proposal penelitian untuk mendapatkan Surat Keputusan (SK) dari Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung mengenai penetapan dosen pembimbing yang ditunjuk untuk mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi.
3.2. Metode Penelitian 3.2.1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deksriptif asosiatif, adapun pengertian deskriftif asosiatif menurut Sugiyono (2007:8) adalah sebagai berikut :
“Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variable atau lebih. Data yang diperoleh akan diolah dan dianalisis lebih lanjut dengan alat Bantu berupa dasar-dasar teori yang dipelajari dan dapat digunakan untuk menarik kesimpulan.”
Dalam hal ini bagaimana pengaruh kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti oleh auditor.
Penulis menggunakan jenis ini karena merupakan suatu analisis yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai objek dengan melakukan survey. Data yang diperoleh selama penelitian akan diolah dan dianalisis serta dijadikan bahan pengujian dalam penelitian.
Hasil akhir penelitian ini merupakan hasil pengujian dari teori atau hipotesis melalui perhitungan statistik, di mana hasil yang keluar adalah diterima atau ditolak
3.2.2 Operasionalisasi Variabel Penelitian
Sesuai dengan judul skripsi ini, maka penulis menggunakan dua variabel dalam penelitian, yaitu :
1)Variabel Bebas (independent variable) yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain yang tidak bebas. Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) adalah Kondisi Pengendalian Intern
2)Variabel Terikat (Dependent Variable) yaitu variabel yang dipengaruhi atau disebabkan oleh variabel lain. Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikat (Y) adalah Keputusan Mengumpulkan Bukti Audit
Untuk lebih jelasnya operasionalisasi variabel (X) dan operasionalisasi variabel (Y) dapat dilihat dibawah ini :
OPERASIONALISASI VARIABEL (X)
Variabel Sub Variabel Indikator Skala
Kondisi
Menurut : Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dialih bahasakan oleh Herman Wibowo (2008:380-284)
OPERASIONALISASI VARIABEL (Y)
Variabel Sub Variabel Indikator Skala
Keputusan
Menurut : Alvin A. Arens, Randal J. Elder, dan Mark Beasley dialih bahasakan oleh Herman Wibowo (2008:231-238)
3.2.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah merupakan cara-cara untuk memperoleh data yang diperlukan, adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut:
1. Survey (kuisioner)
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara survey, yaitu suatu penelitian yang dilakukan dari suatu populasi dengan menggunakan kuisioner (daftar pertanyaan) sebagai alat pengumpulan data. Kuisioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
3.2.4. Model Penelitian
Model penelitian yang dimaksud adalah abstraksi dari fenomena-fenomena yang sedang diteliti dan model penelitian bertujuan untuk mempermudah menggambarkan masalah yang diteliti antara variabel X dan variabel Y. Model penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
GAMBAR 3.1 MODEL PENELITIAN
3.2.5 Analisis Data dan Rancangan
3.2.5.1 Pengujian Validitas dan Pengujian Reliabilitas 1) Pengujian Validitas
Menurut Sugiyono dalam buku “Metode Penelitian Bisnis” (2004 : 109) instrumen penelitian dikatakan valid apabila alat ukur yang digunakan untuk
KONDISI
PENGENDALIAN INTERN(X)
KEPUTUSAN MENGUMPULKAN BUKTI AUDIT OLEH AUDITOR(Y)
mendapatkan data tersebut valid. Oleh karena itu, untuk mendapatkan instrumen yang valid peneliti menggunakan pengujian validitas instrumen penelitian dengan metode pengujian validitas isi (content validity) dengan analisis item, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor butir instrumen dengan skor total. Untuk menghitung korelasi pada uji validitas menggunakan korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut :
( ∑ )( ∑ )
=
∑
2
2 B
A AB r
Dimana :
A : Skor item pernyataan di kurang rata-rata skor item pernyataan B : Total skor item di kurang rata-rata total skor item pernyataan r : Korelasi antara skor item dengan total skor item pernyataan
2) Pengujian Reliabilitas
Pengunaan pengujian reliabilitas oleh peneliti adalah untuk menilai
konsistensi pada objek dan data, apakah instrumen yang digunakan beberapa kali
untuk mengukur objek yang sama akan menghasilkan data yang sama. Untuk
menguji reliabilitas dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan metode
internal consistency dengan teknik belah dua / split half (Spearman Brown)
dengan rumus sebagai berikut :
AB AB
r r xr
= + 1
2
dimana : r = reliabilitas seluruh instrumen
r
AB
= korelasi rata-rata product moment
3.2.5.2 Analisis Data
Analisis data merupakan penyederhanaan data kedalam bentuk yang mudah dibaca, dipahami dan diinterprestasikan. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Peneliti melakukan pengumpulan data dengan cara sampeling, dimana yang diselediki adalah sampel yang merupakan sebuah sub himpunan dari pengukuran yang dipilih dari populasi yang menjadi perhatian dalam penelitian.
2. Setelah metode pengumpulan data ditentukan, kemudian ditentukan alat untuk memperoleh data dari elemen-elemen yang akan diselidiki. Alat yang
digunakan dalam penelitian ini adalah kuisioner. Untuk melakukan penilaian atau memberikan skor kuisioner peneliti menggunakan skala likert. Skala likert adalah teknik pengukuran yang digunakan untuk mengubah data kualitatif yang diperoleh dan jawaban kuisioner menjadi suatu ukuran data kuantitatif melalui summanated rating methode yaitu the likert scale , yang merupakan suatu pengukuran skala ordinal.
3. Daftar kuisioner kemudian disebar kebagian-bagian yang telah ditetapkan.
Setiap item dari kuisioner ini memiliki 5 jawaban dengan masing-masing nilai atau skor yang berbeda dengan menggunakan alternatif jawaban sebagai berikut:
• Skor 5, untuk jawaban yang dianggap sangat mendukung dari kondisi seperti yang diharapkan.
• Skor 4, untuk jawaban yang dianggap mendukung dari kondisi seperti yang diharapkan.
• Skor 3, untuk jawaban yang dianggap kurang mendukung dari kondisi seperti yang diharapkan.
• Skor 2, untuk jawaban yang dianggap tidak mendukung dari kondisi seperti yang diharapkan.
• Skor 1, untuk jawaban yang dianggap sangat tidak mendukung dari kondisi seperti yang diharapkan.
Tabel 3.3
Tabel pertanyaan atau pernyataan
Ragu-Ragu (RR), jawaban kurang mendukung dari kondisi yang diharapkan
Skor 4
Setuju (S), jawaban kurang yang mendukung dari kondisi yang diharapkan
Skor 5
Sangat Setuju (SS), jawaban sangat mendukung dari kondisi yang diharapkan
Untuk pertanyaan atau pernyataan atas kuisioner yang diajukan kepada responden, maka nilai bobot tertinggi diberikan untuk tanggapan yang sangat setuju, sedangkan untuk bobot nilai terendah diberikan untuk tanggapan yang sangat tidak setuju.
Apabila data terkumpul, kemudian dilakukan pengolahan data, disajikan dan dianalisis. Dalam penelitian ini menggunakan uji statistik.
Untuk meneliti Variabel X dan variabel Y, analisis yang digunakan
Me = Median Me = Median
Xi = Nilai X ke-I sampai ke-n Yi = nilai Y ke-I sampai Y ke-n N = Jumlah Responden
Nilai variabel X terdapat 15 pernyataan, nilai tertinggi variabel X adalah 5 sehingga (5X15) = 75 sedangkan nilai terendah adalah 1, maka (1X15) = 15. Variabel X kondisi pengendalian intern, rentang (75 – 15= 60) jadi 60 : 5 = 12, maka penulis tentukan sebagai berikut :
• Nilai 12 – 24 ; dirancang untuk kriteria “Tidak Memadai ”
• Nilai 25– 37 ; dirancang untuk kriteria “ Kurang Memadai ”
• Nilai 38 – 50 ; dirancang untuk kriteria “Cukup Memadai ”
• Nilai 51 – 63 ; dirancang untuk kriteria “ Memadai ”
• Nilai 64 – 75 ; dirancang untuk kriteria “ Sangat Memadai “
Nilai variabel Y terdapat 13 pernyataan, nilai tertinggi variabel Y adalah 5, maka (5X13) = 65, sedangkan nilai terendah adalah 1, maka (1X13) = 13. Variabel Y keputusan mengambil bukti audit , rentang (65 –13 = 52) jadi 52 : 5 = 10,4 maka penulis tentukan sebagai berikut :
• Nilai 10,4 – 20,8 ; dirancang untuk kriteria “Tidak Memadai”
• Nilai 21,8 – 32,2 ; dirancang untuk kriteria “Kurang Memadai”
• Nilai 33,2 – 43,6 ; dirancang untuk kriteria “ Cukup Memadai”
• Nilai 44,6 – 54,6 ; dirancang untuk kriteria “Memadai”
• Nilai 55,2 – 65 ; dirancang untuk kriteria “sangat Memadai“
3.2.5.3 Rancangan Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis yang diajukan yaitu “Kondisi pengendalian intern berpengaruh terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit oleh auditor”, penulis menggunakan tes statistik dan perhitungan nilai tes statistik.
Skala yang digunakan untuk mengukur kedua variabel penelitian adalah menggunakan skala ordinal dan pengujian ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh antara kedua variabel yang akan diteliti. Dimana hipotesis nol (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh antara kedua variabel yang akan diteliti, yaitu bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel X dan variabel Y dan dalam hal ini berarti ditolak. Sedangkan hipotesis alternatif (Ha) merupakan hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh antara kedua variabel yang akan diteliti yaitu variabel X dan variabel Y, dan dalam hal ini berarti diterima.
Menurut Sugiyono dalam bukunya Statistika Untuk Penelitian (2002 : 160) penetapan hipotesis nol dan hipotesis alternatif adalah sebagai berikut :
Ho = 0 adalah tidak terdapat pengaruh kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit oleh auditor.
Ha ≠ 0 adalah terdapat pengaruh pengaruh kondisi pengendalian intern terhadap keputusan mengumpulkan bukti audit oleh auditor.
Hipotesis yang diajukan akan diuji dengan menggunakan analisis korelasi rank spearman dengan rumus sebagai berikut :
n
rs = Koefisien korelasi di = Xi – Yi (selisih rangking) n = jumlah responden
Nilai koefisien korelasi (r) berkisar antara – 1,00 hingga 1,00 atau -1 <
r < 1 di mana :
a. Nilai r = +1 atau mendekati +1, menunjukkan adanya hubungan yang sangat positif kuat diantara variabel-variabel yang diteliti dan merupakan hubungan positif.
b. Nilai r -1 atau mendekati -1, menunjukkan hubungan yang sangat kuat diantara variabel-variabel yang diteliti dan merupakan hubungan yang negatif, artinya kedua variabel merupakan hubungan yang terbalik.
c. Nilai r = 0 atau mendekati 0, menunjukkan hubungan yang timbul di antara kedua variabel sangat lemah atau bahkan tidak ada hubungan.
Untuk menentukan daerah penerimaan dan penolakan hipotesis berdasarkan nilai rs adalah sebagai berikut :
Apabila nilai t hitung > t tabel maka Ho ditolak, dan Ha diterima.
Apabila nilai t hitung < t tabel maka Ho diterima, dan Ha ditolak.
Untuk dapat memberikan interprestasi terhadap kuatnya pengaruh tersebut, maka digunakan pedoman seperti yang dijelaskan oleh Sugiyono dalam bukunya “Metode Penelitian Bisnis” (2006 : 183) yang terdapat pada tabel berikut :
Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 – 0,199 0,20 – 0,399 0,40 – 0,599 0,60 – 0,799 0,80 – 1,000
Sangat Rendah Rendah Sedang Kuat Sangat Kuat
Apabila dalam perhitungan data yang dikumpulkan, terdapat cukup banyak rangking yang berangka sama maka digunakan faktor koreksi sebagai berikut :
12
3 t
T = t −
di mana,
T = Korelasi nilai yang sama t = jumlah rangking yang sama
Sesuai dengan rumus koreksi di atas maka dapat dicari rs dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
∑ ∑ ∑ ∑
∑
+ −= 2 2
2 2
2
2 x y
di y
rs x
∑ x2 = n
212 − n − ∑ Tx
∑ y2 = n
212 − n − ∑ Ty
Sedangkan dalam pengujian ini penulis menggunakan tingkat signifikansi (α) = 0,05 karena dinilai cukup ketat untuk mewakili hubungan antara kedua variabel tersebut. Artinya kemungkinan benar dari hasil penarikan kesimpulan mempunyai tingkat probabilitas 95% atau toleransi kesalahan 5%. Sedangkan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh antara variabel X dengan Y maka penulis menggunakan rumus koefisien determinasi dengan memasukkan nilai dari koefisien korelasi yang diperoleh di dalam rumus di bawah ini :
Kd = rs x 100 %
Dari nilai koefisien determinasi yang diperoleh, penulis akan mengetahui nilai (dalam bentuk persentase) kondisi pengendalian intern mempengaruhi keputusan mengumpulkan bukti audit yang dikumpulkan auditor pada masing-masing Kantor Akuntan Publik di kota Bandung.
3.2.7. Proses Penelitian
Proses penelitian merupakan tahap-tahap yang dilakukan oleh penulis dalam melakukan penelitian ini. Adapun tujuannya adalah untuk memudahkan dan menguraikan kegiatan apa saja yang dilakukan peneliti dalam menyusun skripsi ini.
Rangkaian kegiatan dalam proses penelitian dilakukan secara terencana dan sistematis di dalam menyusun suatu permasalahan dan akhirnya mencoba untuk memecahkan masalah tersebut dalam suatu bentuk penelitian. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan berkaitan sangat erat.
Adapun proses penelitian yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan topik penelitian.
2. Latar belakang penelitian.
3. Identifikasi masalah.
4. Menyusun kerangka pemikiran.
5. Tinjauan pustaka.
5. Tinjauan pustaka.