BAB II TINJAUAN TEORITIS
B. Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
2. Jenis-Jenis Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan tingkat dalam pengertian yang cukup luas yang mencakup pada bidang kognitif, afektif dan psikomotik peserta didik setelah mengikuti pembelajaran. Adapun tujuan dari hasil belajar tesebut adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan peserta didik kearah yang lebih baik serta untuk mengevaluasi dan memberikan motivasi kepada peseta didik untuk lebih semangat dalam belajar.
Dalam sistem pendidikan nasional tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dan Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya dalam 3 ranah yaitu:
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, dan kemampuan mengevaluasi. Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6 (enam) aspek yaitu:
9Fatkhan Amirul Huda, “Pengertian Hasil Belajar” https://fathkan.web.id/pengertian-hasil-belajar/ (Diakses 16 Februari 2022)
24
1) Pengetahuan adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.
2) Pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman juga merupakan jenjangkemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
3) Penerapan adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya dalam situasi yang baru dan kongkret.
4) Analisis adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor lainnya.
5) Sintesis adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sintesis merupakan suatu proses memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjadi suatu pola yang berstruktur atau berbentuk pola baru.
6) Penilaian, penghargaan serta evaluasi merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide.
b. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap dan nilai.
Yang mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai.
25
Ranah afektif terdiri dari 5 (lima) aspek yaitu penerimaan (receiving), jawaban atau reaksi (reaction), penilaian (valuing), organisasi (organization) dan internalisasi (characterization by evalue or calue complex).
c. Ranah psikomotorik
Ranah psikomotorik yaitu berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.10
3. Faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar
Ada banyak sekali faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar.
Secara umum, faktor yang memengaruhi hasil belajar diantaranya adalah faktor internal (dari dalam) dan faktor eksternal (dari luar).
Adapun faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar menurut pendapat Slameto, adalah sebagai berikut:
a. Faktor-faktor internal adalah faktor yang terdapat dalam individu yang sedang belajar yaitu meliputi:
1) Faktor jasmani (kesehatan)
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau bebas dari penyakit.
2) Faktor psikologi (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan).
3) Faktor kelelahan
Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani (bersifat psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemahnya tubuh dan timbul kecenderungan untuk
10Rizki Oktavia, “Hasil Belajar Model Teori Bloom”, Situs resmi Scribd https://www.scribd.com/document/97538541/hasil-belajar-model-teori-Bloom
26
membaringkan tubuh. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
b. Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar individu yang sedang belajar meliputi:
a. Faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang dan kebudayaan)
b. Faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan peserta didik, relasi peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas)
c. Faktor masyarakat (kegiatan peserta didik dalam masyarakat, media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).11
C. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 Bab 1 Pasal 1 tentang pendidikan agama dijelaskan bahwa pendidikan agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Sedangkan pendidikan keagamaan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan
11Zurtina. “Peningkatan Hasil Belajar melalui penerapan Strategi Pembelajaran Index Card pada mata pelajaran IPA di kelas IV MIN 10 Bandar Lampung”. Skripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam Raden Intan Lampung (08 Maret 2017) h.28
27
yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya. 12
Adapun pendidikan menurut Zakiah Daradjat merupakan pembentukan kepribadian muslim atau perubahan dan tingkah laku sesuai dengan petunjuk ajaran Islam.13 Sedangkan dalam pandangan Al-Ghazali pendidikan adalah usaha pendidik untuk menghilangkan akhlak buruk dan menanamkan akhlak yang baik kepada peserta didik sehingga dekat kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan Akhirat. Sedangkan menurut Ibnu Khaldun memandang bahwa pendidikan itu memiliki makna luas. Menurut beliau pendidikan tidak terbatas pada proses pembelajaran saja dengan ruang dan waktu sebagai batasannya, tetapi bermakna proses kesadaran manusia untuk menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa sepanjang zaman.14
Dalam Ensiklopedia pendidikan, budi pekerti diartikan sebagai kesusilaan yang mencakup segi-segi kejiwaan dan perbuatan manusia, sedangkan manusia susila itu sendiri adalah manusia yang sikapnya sesuai dengan norma etik dan moral. Sedangkan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional mengartikan budi pekerti sebagai sikap dan perilaku sehari-hari, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun suatubangsa yang mengandung nilai-nilai yang berlaku dan bersumber dari pancasila.15
Jadi dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah suatu pembelajaran yang dilakukan seseorang atau instansi pendidikan dalam menjalankan peranan dengan tujuan untuk memahamkan serta
12Undang-undang Republik Indonesia, “Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan No.55 Tahun 2007”
13Samrin, “Pendidikan Agama Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia”, Jurnal Al-Ta’dib Vol. 8 no.1 (2 Februari 2022) h. 103
14Mokh. Iman Firmansyah, “Pendidikan Agama Islam: Pengertian, Tujuan Dasar dan Fungsi)” Jurnal Pendidikan Agama Islam- Ta’lim 4 no.2. 2019 h. 82
15Asep A. Aziz, dkk. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diSekolah Dasar”, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 18 No.2 2020
28
meningkatkan keimanan melalui materi tentang ajaran agama Islam sehingga menjadi seorang muslim yang terus bertambah pengetahuan agamanya serta dapat menerapkan atau mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
D. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
Pada ruang lingkup Pendidikan Agama Islam, selalu berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menyeluruh dan mengandung generalisasi berbagai jenis tingkatan pendidikan, baik di masa sekarang mauapun di masa yang akan datang. Dengan kata lain, Pendidikan Agama Islam adalah suatu sistem pendidikan yang dapat mengarahkan kehidupan seseorang sesuai dengan ideologi Islam sehingga seseorang mudah membentuk dirinya sesuai dengan ajaran Islam sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan ilmu dan teknologi.16
Menurut Ramayulis, mengungkapkan bahwa orientasi pada Pendidikan Agama Islam terbagi atas 3 ranah, yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ketiga ranah tersebut mempunyai nilai-nilai yang akan diinternalisasikan, meliputi nilai al-Qur’an, akidah, syariah, akhlak dan tarikh. Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam secara umum meliputi aspek-aspek, yaitu al-Qur’an dan Hadis, Akidah Akhlak, Fikih dan Tarikh Kebudayaan Islam yang selanjutnya Pendidikan Agama Islam dilaksanakan sesuai dengan tahap dan tingkat perkembangan fisik serta psikologis peserta didik dengan menekankan keseimbangan, keselarasan antara hubungan manusia dengan Allah serta antar makhluk lainnya.
Adapun ruang lingkup Pendidikan Agama Islam menurut Zakiah Darajat dalam buku Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam sebagai berikut:
1. Pengajaran Keimanan
16A. Rosmiaty Azis, Ilmu Pendidikan Islam, 2019, Yogyakarta: Sibuku, Cet.II h.9
29
Pengajaran keimanan berarti proses belajar mengajar berbagai aspek kepercayaan ajaran Islam. Dalam hal keimanan, inti pembicarannya adalah tentang keesaan Allah. Karena itu ilmu tentang keimanan ini disebut juga
“Tauhid”. Adapun ruang lingkup pengajaran keimanan ini meliputi rukun iman yang enam.
2. Pengajaran Akhlak
Dalam pelaksanaannya, pengajaran ini berarti proses kegiatan belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya peserta didik dapat berakhlak baik dalam sehari-hari dengan membicarakan nilai suatu perbuatan menurut ajaran agama, membicarakan sifat terpuji dan tercela menurut ajaran agama, serta membicarakan berbagai hal yang langsung ikut memengaruhi pembentukan sifat-sifat itu pada diri seseorang secara umum.
3. Pengajaran Ibadah
Pengajaran ibadah adalah pembelajaran yang mendorong supaya yang peserta didik dapat teratur dan terampil, baik dari segi kegiatan anggota badan, ataupun dari segi bacaan. Dengan kata lain, peserta didik dapat melakukan ibadat dengan mudah, dan selanjutnya akan termotivasi mengamalkan ibadah tersebut.
4. Pengajaran Fikih
Fikih ialah ilmu pengetahuan yang memuat hukum-hukum Islam yang bersumber pada al-Qur’an, Sunnah dan dalil-dalil Syar’i yang lain.
5. Pengajaran Qira’at Qur’an
Pengajaran al-Qur’an pada tingkat pertama berisi pengenalan huruf hijaiyah dengan memperkenalkan tanda-tanda baca. Melatih membiasakan mengucapkan huruf Arab dengan makhrajnya yang benar pada tingkat permulaan,
30
akan membantu dan mempermudah mengajarkan tajwid dan lagu pada tingkat membaca dengan irama.
6. Pengajaran Tarikh Islam
Pengajaran tarikh Islam adalah suatu pembelajaran tentang sejarah yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan umat Islam. Adapun tujuan belajar sejarah Islam adalah agar mengetahui dan mengerti pertumbuhan dan perkembangan umat Islam. Hal ini bertujuan untuk mengenal dan mencintai Islam sebagai agama dan pegangan hidup.17
E. Tujuan Pendidikan Pendidikan Agama Islam
Menurut Darajat mengemukakan bahwa ada beberapa tujuan pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Menumbuhsuburkan dan mengembangkan serta membentuk sikap peserta didik agar positif dan cinta agama dalam berbagai kehidupan sebagai esensi takwa, taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
2. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan suatu motivasi intrinsik peserta didik terhadap pengembangan ilmu pengetahuan sehingga mereka tersadar akan iman dan ilmu hanya untuk keridhaan Allah.
3. Menumbuhkan serta membina peserta didik dalam memahami agama secara benar.
Ahmad Tafsir juga mengemukakan ada tiga tujuan pendidikan Agama Islam, yaitu:
1. Terwujudnya insan kamil yang nantinya akan meneruskan dakwah Agama Islam hingga generasi setelahnya.
17Asep A. Aziz, dkk. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) diSekolah Dasar”, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 18 No.2 2020
31
2. Terciptanya insan kaffah yang memiliki dimensi religius, budaya dan ilmiah
3. Terwujudnya penyadaran tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini hanyalah untuk beribadah kepada Allah semata.18
18Mokh. Iman Firmansyah, “Pendidikan Agama Islam: Pengertian, Tujuan, Dasar dan Fungsi, Jurnal Pendidikan Agama Islam-Ta’lim, Vol.17 No.2, 2019.