MORFOLOGI DAN SINTAKSIS
F. Tindak Tutur
2. Jenis-jenis Tindak Tutur a Konstatif dan Performatif
Tuturan konstatif adalah tuturan yang menyatakan sesuatu yang kebenarannya dapat diuji--benar atau salah--dengan menggunakan pengetahuan tentang dunia. Misalnya tuturan, ”Masjid Raya Darul ’Amal ada di sebelah barat lapangan Kota Salatiga.” Tuturan tersebut dapat diterima atau ditolak berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Jika diterima, berarti tuturan tersebut benar, dan sebaliknya.
Tuturan performatif adalah tuturan yang pengutaraannya digunakan untuk melakukan sesuatu. Atau, tuturan yang merupakan tindakan melakukan sesuatu dengan memmbuat tuturan itu. Berkaitan dengan tuturan performatif, tidak dapat dikatakan bahwa tuturan itu benar atau salah. Misalnya (1) ”Apa pun resikonya, saya bertekad menjadi pendakwah agama Islam”; (2) ”Saya akan rajin Tahajjud”; dan (3) ” Saya namai masjid ini Darut Tauhid.”
b. Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi
Lokusi atau tindak lokusi adalah tindak tutur yang dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu. Dalam lokusi tidak dipermasalahkan maksud atau fungsi tuturan itu. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan lokusi adalah apakah makna tuturan yang diucapkan itu. Tuturan, ”Lantai kotor” yang mengacu kepada makna lantai ’bagian bawah dalam rumah’ dapat berupa tanah atau keramik dan kotor ’tidak bersih’, tanpa dimaksudkan untuk menyuruh orang lain untuk membersihkannya.
Ilokusi atau tindak ilokusi merupakan tindak melakukan sesuatu. Berbeda dari lokusi, tindak ilokusi adalah tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan tindak ilokusi adalah ”Untuk apakah tuturan itu dilakukan?” dan bukan ”Apakah makna tuturan yang diucapkan itu?” Tuturan, ”Lantai kotor” yang dimaksudkan untuk menyuruh agar lantai dibersihkan merupakan tuturan ilokusi. Alasannya adalah tuturan itu mengandung suatu maksud, yaitu meminta agar lantai dibersihkan.
Perlokusi adalah efek atau pengaruh yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu. Efek tuturan itu dapat ditimbulkan oleh penutur secara sengaja maupun tidak sengaja. Tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengruhi mitra tutur inilah yang merupakan perlokusi. Tuturan, ”Tidak lama lagi harga ayam akan
turun.” yang disampaikan kepada peternak ayam yang masih memiliki stok ayam yang banyak merupakan tindak perlokusi. Oleh karena tuturan tersebut mempengaruhi para petani itu, yaitu mereka menjadi ketakutan jika stok ayamnya tidak segera dijual.
c. Representatif, Direktif, Ekspresif, Komisif, dan Deklarasi
Searle (1969) mengategorisasikan tindak tutur menjadi lima jenis, yaitu representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi. Tindak tutur representatif/asertif adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya akan kebenaran atas apa yang diujarkannya. Termasuk dalam jenis tindak tutur ini adalah tuturan- tuturan memberikan, menyatakan, menunjukkan, menyebutkan melaporkan mengakui, dan sebagainya.
Tindak tutur direktif/impisiotif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan dalam tuturan itu. Termasuk dalam jenis tindak utur ini adalah tuturan-tuturan memerintah, memaksa, menagih, mengajak, menantang, dan sebagainya.
Tindak tutur ekspresif/evaluatif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar tuturannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan menyalahkan, memuji, mengkritik, mengeluh, mengucapkan terima kasih adalah termasuk dalam jenis tuturan ini.
Tindak tutur komisif adalah adalah tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan apa yang disebutkan dalam tuturannya. Termasuk dalam tuturan ini adalah mengancam, berjanji, bersumpah, menawarkan, menyatakan kesanggupan, dan sebagainya.
Tindak tutur deklarasi/isbati adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya) yang baru. Memaafkan, mengabulkan, memutuskan, membatalkan, mengampuni, dan sebagainya adalah termasuk jenis tuturan deklarasi.
d. Vernakuler dan Seremonial
Berdasarkan kelayakan pelakunya, Fraser (1974) membedakan dua jenis tindak tutur, yakni vernakuler dan seremonial. Tindak tutur vernakuler adalah tindak tutur yang dapat dilakukan oleh semua anggota masyarakat tutur, misalnya meminta,
memuji, dan mengucapkan terima kasih. Sementara itu, tindak tutur seremonial adalah tindak tutur yang dilakukan seorang yang berkelayaan untuk hal yang dituturkannya, misalnya memutuskan perkara, membuka sidang, berkhutbah, menikahkan, dan sebagainya.
G. Konteks dan Situasi Tutur 1. Konteks
Gagasan tentang konteks sangat penting bagi kajian pragmatik. Ditinjau dari sifatnya, konteks merupakan konsep yang luas yang melibatkan unsur fisik, linguistik, epistemis, dan sosial (Cummings, 2010:37). Ada dua jenis konteks yang perlu dipahami, yaitu konteks linguistik (ko-teks) dan konteks fisik.
Ko-teks suatu kata merupakan sekelompok kata-kata lain yang digunakan dalam frasa atau kalimat yang sama.. Ko-teks memiliki pengaruh kuat pada penafsiran makna kata yang kita ucapkan. Misalnya, kata tanggal sebagai homonim dalam kalimat, ”Pada tanggal lima giginya tanggal lima.” Kata tanggal yang pertama yang didahului kata pada tentu tidak tepat jika dimaknai ’lepas’. Demikian pula, kata tanggal yang kedua yang didahului kata giginya tentu tidak benar kalau dimaknai ’kalender’.
Selanjutnya, tentang konteks fisik. Apabila Anda melihat pertandingan olahraga tinju dan reporter mengatakan, ”Saudara-saudara, kini lihatlah pertarungan sengit antara kedua petinju yang sedang baku hantam.” Tentu, makna kata baku yang diucapkan reporter tersebut bermakna ’saling’, bukan ’standard’. Pengucapan kata baku dapat ditafsirkan menurut konteks pengucapannya. Dengan demikian, pemahaman kita tentang sesuatu yang dibaca atau didengar terkait erat dengan waktu dan tempat kita menemui pernyataan-pernyataan linguistik.
Konteks, menurut Cahyono (1995:215), juga berhubungan dengan situasi tutur (speech situation). Misalnya, dalam situasi melayat di rumah orang meninggal, pembicaraan orang yang ada di tempat itu pasti berbeda dengan pembicaraan orang- orang yang ada di tempat resepsi pernikahan atau pesta. Berbagai bentuk percakapan dapat berlangsung secara bersama-sama pada pesta yang sama, masing-masing disebabkan oleh adanya satu peristiwa tutur (speech event) atau lebih. Yang dimaksud
peristiwa tutur ialah satuan struktur linguistik terbesar yang ditentukan oleh norma dan kaidah tertentu.
Adapun unsur-unsur konteks itu ialah pembicara, pendengar, pesan, latar/situasi, saluran, dan kode (Stubbs, 1984:46). Pembicara dan pendengar adalah peserta dalam peristiwa tutur. Dalam hubungannya dengan peserta percakapan itu, faktor-faktor yang mempengaruhi peristiwa tutur antara lain jumlah peserta, penggunaan sapaan, status, dan peranan sosial. Sementara itu, pesan atau topik memiliki dua komponen, yaitu bentuk pesan dan isi pesan. Bentuk pesan (message form) ialah cara bagaimana kita mengungkapkan sesuatu. Bentuk tersebut bermacam- macam tergantung pada situasi. Isi pesan (message content) ialah apa yang kita katakan. Selanjutnya, latar (setting) atau situasi tidak hanya berkaitan dengan tempat dan waktu saja, tetapi juga menyangkut konsep abstrak yang disebut adegan. Lalu, tentang saluran (channel) dapat diuraikan sebagai berikut. Pengucapan ujaran pada umumnya disertai dengan tingkah laku nonverbal yang disebut para bahasa (para language), yang mencakup gerak anggota tubuh, modulasi suara, raut muka, sentuhan, dan jarak. Adapun kode mengacu ke bahasa yang digunakan oleh pembicara untuk menyampaikan pesan, yang dapat berupa bahasa baku, dialek, jargon, dan ragam bahasa tertentu.
Secara lebih terurai, pembicaraan mengenai konteks dapat dipaparkan sebagai berikut. Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana pemerjelas suatu maksud. Sarana itu meliputi dua macam, yaitu ko-teks (co-tex) dan konteks (contex). Yang pertama berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud dan yang kedua berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian.
Konteks terdiri atas unsur-unsur seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana. Bentuk amanat sebagai unsur konteks antara lain dapat berupa surat, esai, iklan, pemberitahuan, pengumuman. Kode menyangkut ragam bahasa yang digunakan, apakah ragam bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia logat daerah, atau bahasa daerah. Sementara itu, unsur konteks yang berupa sarana adalah wahana komunikasi yang dapat berwujud pembicaraan bersemuka atau melalui telepon, surat, dan televisi (Alwi, 1998:421).
Dalam peristiwa tutur ada sejumlah faktor yang menandai keberadaan peristiwa itu. Menurut Hymes (1968) dalam Rustono (1999:20), faktor-faktor itu berjumlah delapan, yakni : (1) setting atau scene yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur; (2) participant, yaitu penutur, mitra tutur, atau pihak lain; (3) end atau tujuan; (4) act, yaitu tindakan yang dilakukan penutur di dalam peristiwa tutur; (5) key, yaitu nada suara dan ragam bahasa yang digunakan di dalam mengekspresi tuturan dan cara mengekspresinya; (6) instrument, yaitu alat atau sarana untuk mengekspresi tuturan, apakah secara lisan, tulis, melalui telepon atau bersemuka; (7) norm atau norma, yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap peserta tutur; dan (8) genre, yaitu sejenis kehiatan seperti wawancara, diskusi, kampanye, dan sebagainya. Konfigurasi fonem awal nama kedelapan faktor itu membentuk kata speaking.
Menurut Lubis (1993:85), mengetahui penutur di dalam suatu peristiwa tutur memudahkan interpretasi maksud tuturan. Makna tuturan, “Rapatkan barisan!” tidak jelas tanpa diketahui penuturnya. Jika tuturan itu diekspresi oleh para pemimpin organisasi atau pemimpin ummat, maksud tuturan itu adalah untuk meningkatkan soliditas organisasi/ummat. Akan tetapi, jika penuturnya komandan barisan atau imam jamaah salat tentu maksudnya adalah untuk merapatkan dan merapikan barisan pasukan atau shaf orang-orang yang akan menunaikan salat secara berjamaah.
Mitra tutur juga merupakan aspek yang penting di dalam penelusuran maksud suatu tuturan dalam peristiwa tutur. Pengetahuan tentang mitra tutur dapat memperjelas maksud tuturan. Perbedaan mitra tutur menyebabkan perbedaan tafsiran maksud tuturan. Ekspresi jauh dan berat memiliki tafsiran yang berbeda secara bertahap menurut usia manusia. Maksud jauh bagi mitra tutur dengan usia anak-anak tidak sama dengan maksud tuturan ibu bagi mitra tutur dewasa. Bejalan satu kilometer jauh bagi anak-anak. Hal itu tidak berlaku bagi mitra tutur dewasa. Bagi mitra tutur ini berjalan lima belas kilometer baru jauh. Hal yang sama terjadi pada tafsiran tuturan berat. Berat bagi mitra tutur anak-anak jauh berbeda dari berat bagi mitra tutur dewasa (Rustono, 1999:21-22)
Topik tuturan, yaitu pokok persoalan yang dibicarakan dalam suatu peristiwa tutur, merupakan ciri konteks yang penting pula. Topik tuturan menjadi sarana pemetaan maksud tuturan. Tuturan, “Apakah artikel itu?” memiliki makna yang
berbeda-beda sesuai dengan lingkup topik tuturannya. Dalam lingkup topik morfologi (cabang ilmu bahasa yang membahas bentuk-bentuk kata), tuturan itu berkenaan dengan kata sandang misalnya si dan sang. Sementara itu, dalam lingkup topik karangan, tuturan itu bermakna sejenis makalah atau paper.
Waktu dan tempat bertutur yang berfungsi sebagai latar peristiwa tutur merupakan ciri konteks yang lain. Dengan mengetahui latar, maksud sebuah tuturan dapat mudah dipahami. Latar yang tidak jelas menjadikan penafsiran maksud tuturan menjadi sulit. Selain soal waktu dan tempat bertutur, latar juga berkenaan dengan hubungan penutur dan mitra tutur, gerak-gerik tubuh penutur, serta roman muka penutur.
Ciri konteks yang selanjutnya adalah saluran atau media. Yang dimaksud dengan saluran atau media adalah wahana pengungkapan ekspresi. Atas dasar caranya, pengungkapan ekspresi itu dapat secara lisan dapat pula secara tulis. Di dalam beberapa hal maksud tuturan lisan lebih mudah ditangkap daripada tuturan tulis. Hal itu terjadi karena tuturan lisan dapat disertai peranti komunikasi lain seperti sasmita dan ekspresi roman muka. Dengan menggunakan tanda baca yang tepat, pengungkapan maksud ekspresi tulis dapat dilakukan dengan jelas.
Kode merupakan ciri konteks berikutnya. Dalam pembicaraan ini kode berarti jenis bahasa. Peristiwa tutur yang memakai saluran atau media lisan dapat memilih salah satu dialek bahasa yang digunakan. Ketepatan pilihan dialek dapat memperjelas maksud tuturan. Peristiwa tutur yang terjadi di antara orang-orang Boyolali di suatu tempat tentu terasa tepat dengan menggunakan bahasa Jawa dialek Boyolali. Hal yang sebaliknya terjadi jika dialek yang dipilih dialek Tegal.
Ciri konteks yang selanjutnya adalah amanat atau pesan. Amanat atau pesan adalah sesuatu yang hendak disampaikan. Pengungkapan amanat hendaknya diupayakan sedemikian rupa sehingga mitra tutur atau pihak lain dapat mudah menangkapnya. Kondisi mitra tutur menjadi acuan dalam upaya memperoleh ketepatan penyampaian pesan. Jika mitra tutur itu bersifat umum, bentuk amanat yang disampaikannya pun hendaknya umum. Sebaliknya, jika mitra tuturnya khusus bentuk pesan yang diungkapkan hendaknya bersifat khusus.
Peristiwa atau kejadian menjadi ciri konteks yang terakhir. Peristiwa tutur itu bermacam-macam, bergantung pada tujuannya. Setiap peristiwa tutur itu memiliki cara penuturan tertentu. Peristiwa tutur memberikan nasihat tentang pemanfaatan sampah plastik, ekspresinya berbeda dari peristiwa tutur wawancara tentang cara membina remaja. Penuturan khatib di depan jamaah salat Jumat tidak sama dengan penuturan penceramah dalam resepsi pernikahan.