• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Sistematika Penulisan

6. Jenis Model Pembelajaran

Sebagai seorang pendidik harus merencanakan berbagai program pembelajaran, seperti program pembelajaran dikelas, program pembelajaran individual yang menginginkan siswa belajar sendiri atau belajar secara kelompok. Model pembelajaran mendesain pembelajaran yang menyenangkan yang menempatkan peserta didik

49

sebagai subjek pendidikan, selain itu memberi ruang peserta didik untuk berimajinasi, mengembangkan kreatifitasnya, dan berpikir kritis analitis (Al Fandi, 20011: 246).

a. Model Pembelajaran Kooperatif

Cooperative adalah mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu bersama-sama lain sebagai satu kelompok atau satu tim. Falsafah yang mendasari model belajar ini adalah Homo Homoni Sosius. Falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial. Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Robert E Selfin. (Al Fandi, 2011: 249).

Menurut Kagan (1994) pembelajaran kooperatif adalah strategi pengajaran yang sukses di mana tim kecil, masing-masing dengan siswa dari tingkat kemampuan yang berbeda, menggunakan berbagai aktivitas belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang suatu subjek. Setiap anggota tim bertanggung jawab tidak hanya untuk belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga menciptakan suasana prestasi bersama-sama.

Pembelajaran kooperatif di desain sebagai pola pembelajaran yang dibangun oleh lima elemen penting sebagai prasyarat, sebagai berikut: (http:// aristhaserenade .blogspot. com/2011/01/ teori-belajar dan model pembelajaran. html diakses tanggal 8 Agustus 2013 jam 12.48).

50

1) Saling ketergantungan secara positif (Positive Interdependence)

Bahwasanya setiap anggota tim saling membutuhkan untuk sukses. Walaupun setiap tujuan peserta didik mungkin berbeda.

2) Interaksi langsung (Face-to-Face Interaction).

Memberikan kesempatan kepada peserta didik secara individual untuk saling membantu dalam memecahkan masalah, memberikan umpan balik yang diperlukan antar anggota untuk semua individu, dan mewujudkan rasa hormat, perhatian, dan dorongan di antara individu-individu sehingga mereka termotivasi untuk terus bekerja pada tugas yang dihadapi.

3) Tanggung jawab individu dan kelompok (Individual & Group Accountability).

Bahwasanya tujuan belajar bersama adalah untuk menguatkan kemampuan akademis peserta didik, sehingga kontribusi peserta didik harus adil.

4) Keterampilan interpersonal dan kelompok kecil

(Interpersonal & small-Group Skills).

Asumsi bahwa peserta didik akan secara aktif mendengarkan, menjadi hormat dan perhatian, berkomunikasi secara efektif, dan dapat dipercaya tidak selalu benar.

51

Keterampilan sosial harus mengajarkan kepemimpinan, pengambilan keputusan, membangun kepercayaan, komunikasi, keterampilan manajemen konflik.

5) Proses kerja kelompok (group processing).

Proses kerja kelompok memberikan umpan balik kepada anggota kelompok tentang partisipasi mereka, memberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran kolaboratif anggota, membantu untuk mempertahankan hubungan kerja yang baik antara anggota, dan menyediakan sarana untuk merayakan keberhasilan kelompok. (http:// aristhaserenade .blogspot. com/2011/01/ teori-belajar dan model pembelajaran. html diakses tanggal 8 Agustus 2013 jam 12.48).

Ada beberapa manfaat ketika pendidik menggunakan model pembelajaran kooperatif dalam proses belajar mengajar diantaranya:

1. Meningkatkan hasil belajar peserta didik.

2. Meningkatkan hubungan antar kelompok, model pembelajaran ini memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan teman satu tim untuk mencerna materi pelajaran.

3. Meningkatkan rasa percaya diri dan motifasi belajar, belajar kooperatif dapat membina sifat kebersamaan, kepedulian,

52

tenggang rasa dan mempunyai rasa andil terhadap keberhasilan tim.

4. Menumbuhkan realisasi kebutuhan peserta didik untuk belajar berpikir.

5. Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkanya (Anitah, 2008: 3.9).

Selain manfaat model pembelajaran kooperatif juga memiliki beberapa keterbatasan yaitu:

a. Memerlukan waktu yang cukup bagi setiap siswa untuk bekerja dalam tim.

b. Memerlukan latihan agar siswa terbiasa belajar dalam tim c. Model belajar kooperatif yang diterapkan harus sesuai

dengan pembahasan materi ajar, materi ajar harus dipilih sebaik-baiknya agar sesuai dengan misi belajar kooperatif. d. Memerlukan kemampuan khusus bagi pendidik untuk

mengkaji berbagai teknik pelaksanaan belajar kooperatif (Anitah, 2007: 3.10).

Metode dalam pembelajaran kooperatif:

1) Metode Student Achievement Divisions (STAD) 2) Metode Jigsaw

3) Metode Group Investigation (GI) 4) Metode Struktural

53 b. Model Pembelajaran Quantum

Model ini muncul untuk menanggulangi masalah yang paling sukar disekolah yaitu, kebosanan. Istilah quantum yaitu kualitas sesuatu, mekanis. Shelton (1999) mengemukakan kuantum mekanis merupakan suatu studi tentang gerakan-gerakan partikel subatomic. (Anitah, 2007. 3.4).

Belajar kuantum atau quantum learning merupakan seperangkat metode dan falsafah belajar. De Porter dan Hernacki (1999) mendefinisikan quantum learning sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, sedangkan Agus Nggermanto (2002) mengemukakan quantum learning sebagai cara belajar efektif sehingga mendapat hasil yang sama dengan kecepatan cahaya. (Anitah, 2007: 3.5).

Meskipun dinamakan pembelajaran kuantum namun pembelajaran ini tidaklah diturunkan secara langsung dari fisika kuantum. Melainkan hanya meminjam analogi prinsip relativitas Einsten saja. Dalam pembelajaran kuantum berlaku prinsip bahwa proses pembelajaran merupakan permainan orkestra simfoni. (Fandi, 2011: 428).

Quantum learning berakar dari upaya Lozanov dengan eksperimenya tentang sugestopedia. Prinsipnya bahwa sugesti dapat mempengaruhi hasil belajar dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif atau negatif. (Anitah, 2007: 3.5).

54

Prinsip pembelajaran kuatum diantaranya:

1. Segalanya berbicara, media, metode, peserta didik, pendidik, lingkungan sekolah atau kelas mengirim pesan tentang belajar. 2. Semuanya mempunyai tujuan yaitu para peserta didik

mengembangkan kecakapan dalam mata pelajaran.

3. Hargai semua usaha peserta didik dengan memberi pengakuan atas kecakapan yang dilakukanya.

4. Rayakan keberhasilan peserta didik dalam belajar. (Anitah, 2007: 3.6)

Dalam pembelajaran kuantum tidak hanya tahu tentang prinsip yang ada dalam pembelajaran tersebut, akan tetapi ada beberapa teknik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif yang diterapkan oleh Lozanov dalam penelitianya, yaitu: (Anitah,2007:3.5)

a) Mendudukkan siswa secara nyaman b) Memasang musik latar didalam kelas c) Meningkatkan partisipasi individu

d) Menggunakan poster untuk memberikan kesan besar sambil menunjukkan informasi

e) Menyediakan pendidik yang terlatih dalam seni

sugestopedia.

55

Model pembelajaran ini membawa peserta didik tidak hanya sekedar mendengarkan, akan tetapi juga melakukan kegiatan seperti memproses, menemukan, dan memanfaatkan informasi. Dengan demikian peserta didik akan mendapatkan pengalaman melakukan (do) sesuatu, mengamati, dan diskusi dengan diri sendiri atau peserta didik lain tentang pengalaman yang diperoleh (Al Fandi,2011: 247).

Model ini dikembangkan oleh Mel Siberman yang memodifikasi teori confucius yang disebut dengan paham belajar aktif. Karakteristik pembelajaran aktif diantaranya:

1. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh pendidik, melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas

2. Peserta didik tidak hanya mendengarkan materi pelajaran secara pasif, tetapi mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pelajaran

3. Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan materi

4. Peserta didik lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisis dan melakukan evaluasi

5. Umpan balik lebih cepat terjadi dalam proses pembelajaran. Beberapa metode yang digunakan dalam model pembelajaran

56 aktif learning diantaranya:

a) Card Sort b) Active Debate c) The Power Of Two

d) Contectual Teaching Learning

d. Pembelajaran kontekstual

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang membantu pendidik mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik. Membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapanya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. (Muslich, 2011: 44).

Landasan model pembelajaran ini adalah konstruktivisme

yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, tetapi mengkontruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta yang mereka alami dalam kehidupanya.

Teori konstruktivisme yang banyak dianut oleh para guru saat ini, mengharuskan guru untuk menyusun dan melaksanakan suatu kegiatan belajar mengajar yang dapat memfasilitasi siswa agar aktif membangun pengetahuannya sendiri. Menurut paham konstruktivisme, keberhasilan belajar tidak hanya bergantung pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada

57

pengetahuan awal siswa dan melibatkan pembentukan “makna”

oleh siswa itu sendiri berdasarkan apa yang telah mereka lakukan, lihat, dan dengar (http: //pembelajaranguru .wordpress .com /2010

/04/07/ pembelajaran- kooperatif- model- pembelajaran-

pembangun-pengetahuan-siswa/#more-52 diakses hari Rabu jam 5.35).

Beberapa komponen dalam belajar kontekstual diantaranya adalah:

1. Konstruktivisme

a) Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pengetahuan awal.

b) Model pembelajaran kontekstual menekankan terbangunya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman yang bermakna.

Pembelajaran harus dikemas menjadi proses

“mengkontruksi‟ bukan menerima pengetahuan. Manusia harus mengkontruksi pengetahuanya terlebih dahulu dan memberikan makna dalam dunia nyata. Karena itu, peserta didik perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.

58

Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Kegiatan ini diawali dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya. 3. Questioning

Kegiatan pendidik untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir peserta didik. Belajar dalam model pembelajaran kontektual dipandang sebagai upaya guru yang mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa perolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.

4. Learning Community

a) Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar b) Bekerja sama dengan orang lain lebih baik dari pada

bekerja sendiri c) Tukar pengalaman d) Berbagi ide.

Dapat dijelaskan bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman, antar kelompok

59

dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu, baik didalam maupun diluar kelas. Karena itu, pembelajaran yang dikemas dalam berdiskusi kelompok yang anggotanya heterogen dengan jumlah yang bervariasi sangat mendukung komponen ini.

5. Modelling

a. Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, belajar dan bekerja.

b. Mengerjakan apa yang pendidik inginkan agar peserta didik mengerjakan.

Komponen ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa pemberian contoh tentang sesuatu hal. Misalnya, mempertontonkan suatu penampilan atau hasil karya.

6. Reflection

a. Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari b. Mencatat apa yang telah kita pelajari

c. Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok.

Komponen yang paling penting dari model belajar kontekstual adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari, menelaah, merespon

60

semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan.

Siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kesadaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru.

7. Penilaian yang Sebenarnya

a. Mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik b. Penilaian produk

c. Tugas-tugas yang relefan dan kontektual. (Aqib, 2013: 7). Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman siswa ini diketahui pendidik setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar peserta didik.

Penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan semata-mata hasil

61 pembelajaran.

Program pembelajaran kontekstual berisi tentang rencana kegiatan kelas yang dirancang pendidik. Rencana pembelajaranya berupa skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama peserta didiknya sehubungan dengan topik yang akan dipelajari. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran (Muslich, 2011: 44).

Dokumen terkait