• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

B. Jenis Penelitian dan Sumber Data

Jenis metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus, dimana data yang dihasilkan hanya dapat digunakan pada daerah tersebut dan tidak dapat diterapkan untuk daerah lain. Metode studi kasus adalah suatu metode yang digunakan untuk memahami fenomena tertentu disuatu tempat tertentu untuk memberikan gambaran secara terperinci mengenai sifat serta karakteristik khas dari suatu kasus (Surakhmad (1990) dalam Jalil, 2013).

Metode studi kasus ini digunakan untuk memperoleh gambaran yang rinci

mengenai karakteristik arus laut yang terjadi di perairan Tamasaju, Kabupaten Takalar melalui pendekatan matematis yang dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Matlab sehingga data yang dihasilkan dalam penelitian ini tidak dapat digunakan untuk daerah lain. Pada penelitian ini akan menggunakan dua sumber data yaitu :

1. Data primer yaitu data yang diperoleh dengan melakukan pengukuran langsung di lapangan. Data primer yang dibutuhkan adalah pengambilan data arus laut dan data pasang surut.

2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai data pendukung dan pelengkap dari data primer. Data sekunder yang di butuhkan adalah data kecepatan angin.

C. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu sebagai berikut. Alat dan Bahan Pengambilan data lapangan beserta fungsinya.

1. Bendera : sebagai alat penunjang dalam pengambilan data agar alat yang kita pasang bisa kelihatan dari jauh

2. Kotak GPS : Alat untuk menempatkan GPS agar bisa merekam besar arus beserta arahnya.

3. Pelampung : Untuk membuat alat yang kita pasang tetap terapung 4. Batang Kayu : Menyangga komponen-komponen yang ada

5. Sensor Arus : Menangkap pergerakan arus, disini kami menggunakan dua buah tripleks yang di buat menyilang.

6. Pemberat : Digunakan untuk menyeimbangkan pelampung

7. Tali : Digunakan untuk mengontrol pergerakan alat agar tidak dibawah arus terlalu jauh

8. Perahu : Sebagai alat penunjang pengambilan data pasang surut di laut 9. Rambu Ukur : Alat untuk mengukur tinggi dan rendahnya pasang surut 10. Alat Tulis : Mencatat data-data yang telah diperoleh dari lapangan

11. GPS Antena : Untuk mendapatkan data posisi koordinat pengamatan pasang surut

12. Laptop : sebagai alat pengelola data dalam penelitian.

D. Langkah – langkah Penelitian

Ada dua tahapan penelitian yang akan dilakukan selama kegiatan penelitian yang akan berlangsung, dua tahapan ini akan di lakukan secara bertahap. Penelitian yang akan dilakukan pertama kali adalah penelitian dengan mengukur di lapangan secara langsung, hal ini di lakukan untuk mengambil data primer yaitu data topografi laut, data arus laut dan data pasang surut. Selanjutnya, penelitian yang akan dilakukan adalah pengolahan data baik data yang diperoleh di lapangan maupun yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Data – data ini akan diolah dengan menggunakan aplikasi computer yaitu Matlab, sehingga nantinya perekaman data lapangan dapat disajikan dalam bentuk profil arus, grafik, dan current rose atau mawar arus.

Penelitian ini dilakukan diperairan Takalar, Sulawesi Selatan dengan menggunakan metode purposive sampling method. Menurut Purwanto dan Sulstiyastuti (2007), purposive samping method yaitu pengambilan sampel

berdasarkan keperluan penelitian yang diambil dengan sengaja berdasarkan pertimbangan tertentu. Pengukuran data arus pada penelitian ini berdasarkan pertimbangan kondisi lapangan yang secara non-teknis lokasi pengukuran merupakan daerah yang tidak banyak aktifitas kapal nelayan yang dapat mengganggu badan air ketika pengukuran arus.

1) Penelitian arus menggunakan peralatan GPS (Global Positioning System) yang berfungsi untuk mendapatkan jarak dan waktu sehingga mendapatkan kecepatan arus.

2) Sedangkan pasang surut untuk mendapat ketinggiannnya menggunakan rambu ukur (Tide Staff) yang terbuat dari kayu atau aluminium atau bahan lain yang dicat anti karat yang telah diberi skala dalam cm atau m ditempatkan lokasi survey penempatan rambu ukur (Tide Staff) haruslah didaerah yang pada pasang surut terendam dalam air lalu ditanam 50 cm kedasar perairan. Titik lokasi penempatan rambu ukur (Tide Staff) diikatkan (Leveling) pada patok yang dibuat. Lama pengukuran arus laut masing – masing minimal 24 jam per 1 hari, yaitu pada saat pasang surut sampai saat pasang surut berikutnya atau pada saat pasang ke saat pasang berikutnya. Hal ini dinamakan 1 siklus pasang surut.

E. Flowchart Penelitian

Tahapan penelitian yang dilakukan sesuai dengan bagan alir pada Gambar berikut ini :

Gambar 17. Flowchart ( Bagan Penelitian)

M U L A I

=-STUD I- Studi Literatur : Teori & Penelitian Terdahulu - Persiapan Alat dan Bahan Penelitian

Survey Lokasi Penelitian

Melakukan Pengukuran dan Membagi sel atau grid (bagian)

Pengambilan data Arus, Pasang Surut

Pengambilan data Sekunder Kecepatan Angin dan Topografi Laut

Tperhitungan Kecepatan Arus dan Pasang Surut Pengolahan data dengan menggunakan program

aplikasi Software World Current dan MATLAB

hHHasil Akhir

S E L E S A I

Flowchart program (Aplikasi MATLAB 2017)

Tahapan program aplikasi MATLAB bagan alir pada Gambar berikut ini :

Gambar 18. Flowchart Program Aplikasi MATLAB MULAI

Memasukkan Perintah/rumus untuk koordinat data awal pantai

Memasukkan rumus/perintah untuk menginput nilai – nilai parameter yang sudah

didapatkan sebelumnya

Memasukkan perintah/rumus untuk menginput nilai batas kondisi awal pantai

Memasukkan perintah/rumus untuk proses integrasi dan angkutan sedimen

Memasukkan perintah/rumus untum memplot nilai akhir garis pantai

Perintah/rumus untuk mengontrol stabilitas

Running

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Peta Bathimetri dan Topografi Laut

Data batimetri pesisir pantai tamasaju di peroleh dari data Batimetri Nasional yang di olah kembali ke dalam GIS untuk mendapatkan garis kontur dasar laut.

Untuk mengetahui kemiringan pantai di wilayah pantai Tamasaju maka dibuatkan lima stasiun A, B, C, D dan E yang terdiri dari beberapa patok seperti yang terlihat pada gambar 18.

Gambar 19. Peta Bathimetri Perairan

Gambar 20. Profil melintang bathimetri daerah Lokasi penelitian

Profil melintang A : 12 patok, beda tinggi 2, rata - rata kemiringan 0,006 % Profil melintang B : 14 patok, beda tinggi 2, rata - rata kemiringan 0,008 % Profil melintang C : 12 patok, beda tinggi 2, rata - rata kemiringan 0,006 % Profil melintang D : 14 patok, beda tinggi 2, rata - rata kemiringan 0,007 % Profil melintang E : 13 patok, beda tinggi 2, rata - rata kemiringan 0,006 % Untuk perhitungan kemiringan dan persentase dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Tabel hasil analisis kemiringan

P12 24 490 0,004 0,4

Dari hasil hitungan diatas maka didapatkan kemiringan pantai : 0,006 m dan persentase kemiringan 0,6% termasuk kategori datar < 8%

Tabel 3. Tabel hasil analisis kemiringan

Berdasarkan tabel 2 yaitu hasil analisis kemiringan untuk mendapatkan profil kemiringan pantai yang telah dibagi menjadi 5 segmen. Berdasarkan hasil yang didapatkan kemiringan pantai lokasi penelitian adalah 0,006 %, yang dimana pada tabel 3 termasuk dalam kategori kelas I dengan kemiringan dibawah 8 % dengan keterangan bahwa topografi atau bentuk laut adalah datar.

B. Faktor Penyebab Terjadinya Arus

Jenis arus yang umum dikenal adalah arus pasang surut, arus akibat tiupan angin, arus akibat gelombang (arus sejajar pantai), dan arus yang disebabkan oleh pebedaan densitas air laut . Oleh sebab itu dalam analisa arus laut, data yang diperoleh diuraikan menjadi sejumlah komponen arus sesuai dengan penyebabnya.

Beberapa factor penyebab terjadinya arus di lapangan setelah dilakukan pengukuran langsung:

1) Pasang Surut

Pengamatan data pasang surut yang dilakukan selama 15 hari di pantai Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, dengan interval pengambilan data setiap 1 jam dengan jarak dari pengukuran pasut ke tepi pantai ketika pasang tertinggi yaitu 50 m sedangkan surut terendahnya 20 m.

Tabel 4. Tabel data pasang surut 15 hari interval 1 jam

Sumber : Hasil Data Lapangan

Bacaan

00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 rata2/hari

1 28 Juni 2021 83 105 115 138 157 179 169 162 159 150 149 140 132 124 120 115 110 109 101 92 89 85 80 78 2941 122,542

2 29 Juni 2021 30 102 117 137 154 175 160 158 160 153 146 138 130 128 124 117 113 110 107 94 90 85 77 80 2885 120,208

3 30 Juni 2021 32 100 110 120 125 136 142 144 155 147 140 135 128 126 115 110 108 112 109 106 103 102 111 98 2814 117,25

4 31 Juni 2021 87 80 92 100 110 134 142 141 152 148 140 129 120 110 107 103 100 98 105 108 104 103 94 89 2696 112,333

Tabel 5. Konstanta Pengali

Tabel 6. Tabel Penentuan Pasut X1 Tanggal 28 Juni 2021

Data Pengamatan

Konstanta Pengali dari tabel 5 Hasil Perkalian Jam

Tabel 7. Tabel penentuan Pasut X1 Tanggal 29 Juni 2021

Jam Konstanta Pengali dari Tabel 5 Hasil Perkalian

Tabel 8. Tabel Penentuan Pasut Y1 Tanggal 28 Juni 2021

Jam Konstanta Pengali dari Tabel 5 Hasil Perkalian

Tabel 9. Tabel Penentuan Pasut Y1 Tanggal 29 Juni 2021

Sumber : Hasil Perhitungan

Data pengamatan hasil perhitungan selanjutnya dapat dilihat pada tabel 10 yaitu tabel hasil perhitungan harga X1,Y1,X2,Y2, X4, dan Y4 dari skema 2.

Data Pengamatan

Jam Konstanta Pengali dari Tabel 5 Hasil Perkalian

Tabel 10. Penyusunan Hasil Perhitungan harga X1,Y1,X2,Y2, X4, dan Y4 dari skema 2.

Sumber : Hasil Perhitungan

Penyusunan hasil perhitungan harga X1, Y2, X2, Y2, X3, Y3, X4 dan Y4, pengisian data tabel 4 dilakukan dengan bantuan tabel 4 yang mengalikan nilai pengamatan dengan harga pengali pada daftar 1 untuk setiap hari pengamatan. Karena pengali dalam daftar hanya berisi bilangan 1 dan -1 kecuali untuk X4 ada bilangan 0 (nol) yang tidak dimasukkan dalm perkalian, maka lakukan perhitungan dengan menjumlahkan bilangan yang harus dikalikan dengan 1 pada kolom bertanda (+) dibawah kolom X1, Y2, X2, Y2, X3, Y3, X4 dan Y4. Hal yang sama untuk pengali -1 pada kolom dibawah bertanda (-)

X0

Tgl Bln Thn + - + - + - + - + - +

-28 6 21 2941 1639 1302 1235 1706 1361 1580 1487 1454 991 971 1451 1490 29 6 21 2885 1637 1248 1255 1630 1310 1575 1437 1448 930 983 1400 1485 30 6 21 2814 1562 1252 1328 1486 1344 1470 1322 1492 892 962 1370 1444 31 6 21 2696 1490 1206 1241 1455 1299 1397 1241 1455 904 909 1348 1348 1 6 21 2448 1398 1050 1138 1310 1209 1239 1084 1364 828 798 1243 1205 2 6 21 2613 1476 1137 1123 1490 1254 1359 1242 1371 842 877 1281 1332 3 6 21 2387 1396 991 973 1414 1158 1229 1160 1227 794 802 1209 1178 4 6 21 2562 1257 1305 955 1607 1338 1224 1242 1320 839 879 1264 1298 5 6 21 2496 1268 1228 945 1551 1281 1215 1197 1299 838 831 1248 1248 6 6 21 2375 1289 1086 914 1461 1158 1217 1136 1239 750 814 1165 1210 7 6 21 2430 1376 1054 921 1509 1186 1244 1229 1201 819 798 1211 1219 8 6 21 2877 1554 1323 1041 1836 1382 1495 1516 1361 974 945 1435 1442 9 6 21 2465 1528 937 1071 1394 1201 1264 1182 1283 810 840 1236 1229 10 6 21 2143 1196 947 806 1337 1054 1089 1039 1104 719 707 1088 1055 11 6 21 2032 1266 766 776 1256 954 1078 994 1038 677 681 1012 1020

X4 Y4

Waktu X1 Y1 X2 Y2

Tabel 11. Penyusunan Hasil Perhitungan harga X dan Y indeks ke satu dari skema 3

Sumber : Hasil Perhitungan

Untuk mendapatkan hasil perhitungan pada setiap kolom nilai X1 Akan ditambahkan pada kolom 5 baris 2 yaitu 800, untuk nilai Y1 akan ditambahkan pada kolom 5 baris 2 yaitu 700 dan begitu seterusnya dengan nilai X2,Y2,X4 dan Y4. Pada tabel ini tidak boleh ada nilaiyang bernilai negatif jika masih bernilai negatif maka akan ditambahkan nilai B = 1000.

X1 Y1 X2 Y2 X4 Y4

Tgl Bln Thn +800 +700 +800 +700 +200 +300

28 6 21 2941 1137 229 581 733 220 261

38164 16500 3780 10814 9352 2810 4258

Waktu

X0

Jumlah

Tabel 12. Bilangan Pengali untuk 15 Piantan

Sumber : Hasil Perhitungan

Tabel 13. Penyusunan Hasil Perhitungan Besaran X dan Y skema 5 dan 6

S0 M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4

Skema 7 Konstanta P 333 345 327 173 160 307 318

Untuk

Y20 = -1148 0 183,68 -1148 -344,4 11,48 -22,96 34,44 11,48

Y22 + X2b = -747 0 -776,88 112,05 478,08 -14,94 74,7 -29,88 14,94

Y23 + X2c = 438 0 -306,60 113,88 451,14 -13,14 39,42 -30,66 -13,14

Y42 + X4b = -12 0 -0,24 0 0 0 0 -1,32 -12

Y44 + X4d = 200 0 -6,00 2 10 0 0 200 -12

Skema 5 38117,91 538,51 -920,06 428,89 4069,81 -1085,53 -263,5 54,26

Skema 6 0 -938,65 -896,3 649,99 -6113,54 -574,49 188,11 -30,03

S0 M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4

1 1

Untuk mendapatkan hasil perhitungan untuk kolom 2 sampai dengan kolom 9 diperoleh dengan mengalikan kolom 1 dengan bilangan tabel 13. Contohnya, untuk kolom 2 X00= 38164 x 1 (Konstanta pengali untuk 15 piantan), demikian dengan kolom lainnya.

Tabel 14. Susunan hasil perhitungan skema 7 untuk Besaran – besaran dari konstanta – konstanta Pasang Surut

Sumber : Hasil perhitungan

a. Analisis Harmonik Pasang Surut

Metode yang digunakan adalah perhitungan pasang surut dengan analisa harmonik dengan menggunakan Metode admiralty. Konstanta pasut di lokasi studi yang merupakan hasil analisa dengan metode admiralty, yang akan menentukan tipe konstanta pasang surut di lokasi penelitian. Selain 10 konstanta ini juga akan menentukan beberapa variabel pasang surut seperti MSL, LWS, MHHWS, MHHWN, dan MLWS. Konstanta ini disajkan pada tabel 15.

S0 M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4 K2 P1

V: PR Cos r 38117,9 538,51 -920,06 428,89 4069,81 -1085,53 -263,5 54,26 V: PR Sin r 0 -938,65 -896,3 649,99 -6113,54 -574,49 188,11 -30,03 PR 38117,9 1082,15 1284,47 778,738 7344,3 1228,18 323,755 62,0157

Tabel 3B:P 360 175 214 166 217 177 273 280

Tabel 5 : f 0,977 1 0,977 1,074 1,119 0,955 0,977 1,186

Tabel 6 : V' 272,9 239,9 9,6 263,3

Tabel 7 : V" 254 68,1 149,8 104,2 Tabel 8 : V''' 278,8 235,2 3,300 275,4

V 805,7 0 543,2 162,7 642,9 1611,33 805,7

Tabel 9 : u 1,70 0 1,70 6,500 -7,500 3,40 1,70

Tabel 3B : p 333 345 327 173 160 307 318

Tabel 4 : r 299,8 224,3 56,6 303,7 207,9 144,5 331,0

w 12,6129 -10,7333 6,48357 12,6129

1+W 1 0,70144 1,00467 1,33 1 1 0,70144

g 1440,2 581,9 917,7 652,3 1003,3 2066,2 1469,0 Kelipatan dari 360 1440 360 720 360 720 1800 1440

A cm 106 6 9 5 24 6 1 0 2 8

go 0 222 198 292 283 266 29 222 292

Tabel 15. Konstanta Pasang Surut Pantai Tamasaju

Dengan menggunakan data konstanta pasang surut, maka tipe pasang surut yang berada di lokasi penelitian dapat diprediksi dengan menggunakan rumus Formzhal Number (Fs) sebagai berikut :

F = A(K1) + A(O1)

Berdasarkan hasil perhitungan yang di dapatkan yaitu nilai Formzha = 2,01.

Maka kriteria pasang surut termasuk dalam pasang surut 1,5< F < 30, dimana pasang surut ini termasuk pasang surut campuran, condong harian tunggal (mixed tide prevailing). Dalam 1 hari terjadi 1 kali air pasang dan satu kali air surut.

Dengan menggunakan kostanta harmonik pasang surut seperti pada tabel 7, maka elevasi muka air sebagai fungsi waktu dapat diprediksi dengan menggunakan persamaan berikut :

η (t) = 𝑆0 𝑛 ἱ = 1𝐴Cos (𝜔t − 𝑃)

Dengan menggunakan data pengamatan dan hasil prediksi elevasi muka air menggunakan persamaan pada Bab sebelumnya, maka perbandingan grafik elevasi muka air (pasang surut) sebagai fungsi waktu, antara data pengamatan dan hasil prediksi dapat diperoleh dan disajikan seperti pada gambar 21.

9 6 0

Gambar 21. Grafik Pasang Surut Pantai Tamasaju

Gambar 21. Memperlihatkan bahwa pasang surut terjadi sebanyak 1 kali yaitu 1 kali pasang dan 1 kali surut. Adapun elevasi dari Mean Sea level berada pada ketinggian 106 cm.

1) Elevasi Muka Air Laut

Dari beberapa komponen pasang surut yang diperoleh, dapat ditentukan beberapa nilai evaluasi muka air laut sebagai berikut :

Pasut tipe campuran condong harian tunggal (Mixed Tide Prevailing Diurnal) HAT = LAT + 2 (AK1 + AO1 + AS2 + AM2)

= 61 + 2 (24 + 6 + 9 + 6) = 151 cm

MHHWS = LAT + 2 (AK1 + AO1) + AS2 + AM2 = 61 + 2 (23,7 + 6,2 ) + 8,56 + 6,33 = 136 cm

MHHWN = LAT + 2(AK1) + AS2 + AM2 = 61 + 2 (23,7) + 8,56 + 6,33

= 123 cm MSL = 106 cm

MLLWN = LAT + 2 (AO1) + AS2 +AM2 = 61 + 2 (6,2) + 8,56 + 6,33 = 88 cm

MLLWS = LAT + AS2 + AM2 = 61 + 8,56 + 6,33 = 76 cm

LAT = MSL - AK1 - AO1 - AS2 - AM2 = 107 – 24 – 6 – 9 - 6

= 61 cm

Keterangan :

2) Tunggang Pasang di lokasi studi

HAT

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa pada saat neep tide tunggang pasang dilokasi studi mencapai 35 cm sedangkan pada saat spring tide tunggang pasang mecapai 59,8 cm.

2) Analisa data angin

Data angina yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Stasiun Badan Meteorologi Maritim Paotere Makassar atau disebut BMKG, dengan lintang -5.11377, bujur 119.41983, serta ketinggian elevasi stasiun dari permukaan tanah adalah 5 m. Data yang diperoleh adalah data angin lima tahun terakhir yaitu tahun 2016 sampai 2020. Dari data hasil pengukuran, selanjutnya dilakukan analisa untuk mendapatkan beberapa parameter penting, yakni kecepatan rata-rata (knot), arah terbanyak (°), kecepatan maksimum (knot) dan arah saat kecepatan maksimum (knot), yang disusun dalam bentuk table setiap bulan dalam setahun data pengelompokan data angin pada tahun 2016-2020 terdapat pada lampiran.

Dari data hasil pengukuran, selanjutnya dilakukan analisis untuk mendapatkan beberapa parameter penting, yakni kecepatan rata-rata (knot), arah terbanyak (o), kecepatan maksimum (knot) dan arah saat kecepatan maksimum (o), yang disusun dalam bentuk tabel setiap bulan dalam setahun data pengelompokan data angin pada tahun 2016-2020 terdapat pada lampiran.

Dari hasil analisis data angin yang telah dianalisis, diperoleh persentasi kejadian angin berdasarkan arah seperti tabel 16 dibawah:

Tabel 16. Persentasi kejadian angin berdasarkan arah datangnya di lokasi studi Arah

Jumlah data Persentase Kejadian (%) Notasi Derajat

Sumber: Stasiun Meteorologi Maritim Paotere Makassar

Table 16. memperlihatkan bahwa persentasi kejadian angin yang paling besar atau sering terjadi adalah angin yang terhembus dari arah Barat Daya (26,7), di susul masing-masing dari Barat (23,3%), Timur Laut (16,7%), arah Barat Daya (13,3%), dan arah Selatan (6,7%), dan untuk angin yang berhembus di Timur sebanyak (1,7%). Sementara itu, persentasi kejadian menurut interval kecepatan di sajikan pada table 17

Tabel 17. Persentasi kejadian angin berdasarkan interval kecepatan

Sumber : Analisis data

Berdasarkan table 16 dapat diketahui bahwa arah angin dominan adalah barat laut dengan presentasi kejadian sebanyak 26,7% dengan kecepatan maksimum 23 knot (11,882 m/detik). Dalam skala beaufort, angin yang berhembus termasuk tergolong sebagai angka agak kuat. Data angin yang didapatkan dari BMKG yang dicatat pada elevasi 5 m kemudian dikonversi dalam data angin pada ketinggian 10 m.

U10 = U5 (10 / y )1/7

Selain penyajian data angin dalam bentuk tabulasi, juga disajikan dalam bentuk mawar angin seperti pada gambar 22.

Gambar 22. Mawar angin di Perairan Tamasaju dari tahun 2017sampai 2021

C. Karakteristik Arus

Pengukuran data arus dilakukan menggunakan GPS Garmin 64s kemudian di pindahkan ke aplikasi Basecamp, lokasi penelitian berada di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar. Respresentasi data lebih lanjut dapat menggunakan program – program Windows seperti MS. EXCEL atau program khusus kelautan atau seperti surfer atau lainnya. Berikut representasi data arus yang kami dapat dari hasil tracking dengan alat sederhana di pantai Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Berikut adalah beberapa gambar pengambilan data yang dilakukan di lokasi penelitian.

Gambar 23. Lokasi penjejakan atau tracking arah Arus Laut menggunakan GPS Garmin 65s di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Gambar 24. Contoh 1 hasil pengukuran Arus menggunakan GPS Garmin 65s di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Gambar 25. Contoh 2, hasil pengukuran arus menggunakan GPS Garmin 64s di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Gambar 26. Contoh 3, hasil pengukuran arus menggunakan GPS Garmin 64s di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Gambar 27. Contoh 4, hasil pengukuran arus menggunakan GPS Garmin 64s di Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar.

Dari beberapa komponen arus yang diperoleh, maka dapat di tentukan nilai kecepatan arus laut sebagai berikut:

Rumus menghitung kecepatan arus: V = st

Berikut beberapa contoh perhitungan kecepatan arus:

 Contoh 1

V = st

= 14400390

= 0,0271 m/det

 Contoh 2

V = st

V = kecepatan arus (m/det) s = jarak (m)

t = waktu (detik), untuk interval waktu yang digunakan saat pengukuran adalah setiap 4 jam pada satu titik pengamatan.

Begitulah cara menghitung kecepatan arus untuk seterusnya, dimana di dapatkan hasil seperti pada table dibawah ini.

Berikut adalah table hasil perhitungan kecepatan arus:

Table 18. Kecepatan Arus

Berdasarkan hasil pengukuran arus di lapangan diperoleh arah arus dominan kearah selatan. Dapat kita ketahui arus minimum, maksimum, dan rata-ratamya.

Dimana kecepatan arus berkisar antara 0,0264 – 0,0396 m/det dengan kecepatan rata-rata 0,0340 m/det.

Dengan menggunakan data pengamatan dan hasil perhitungan kecepatan arus pada persamaaan di atas, maka dapat di peroleh grafik profil arus sebagai berikut :

Gambar 28. Cara memasukan data untuk mendapatkan profil Arus menggunakan Matlab.

Gambar di atas bertujuan untuk mengetahui nilai x dan y dimana nilai x diambil dari nilai jarak dan nilai y diambil dari kecepatan, sehingga kita bias

memasukkan angka untuk mendapatkan profil arus yang kita inginkan seperti menggunakan software matlab seperti gambar di bawah ini.

Gambar 29. Profil arus dengan menggunakan aplikasi Matlab

Gambar 29. Memperlihatkan bahwa arah arus yang terjadi selalu berubah-ubah posisinya yang di sebabkan dari beberapa factor seperti pasang surut, angina dan gelombang.

Dari hasil Software Matlab di atas juga, kita dapat membuat grafik kecepatan arus seperti pada gambar di bawah ini.

Gambar 30. Grafik kecepatan arus

Berikut adalah cara membuat Mawar Arus atau Current Rose dengan menggunakan software Matlab.

Berdasarkan grafik di atas dapat kita lihat bahwa kecepatan arus tertinggi adalah 0,0349 m/det dengan jarak 567 m. Dimana karakteristik arus dominan pada saat air laut pasang.

0 0,005 0,01 0,015 0,02 0,025 0,03 0,035 0,04 0,045

381 401 421 441 461 481 501 521 541 561 581

kecepatan

Jarak

kecepatan arus

Gambar 31. Data kecepatan arus koordinat awal

Gambar 30. Memperlihatkan cara memasukkan data jarak dan titik koordinat awal dalam membuat mawar arus atau Current Rose menggunakan aplikasi Matlab.

Gambar 32. Current Rose atau Mawar Arus pada titik koordinat awal pantai Tamasaju

Berikur adalah tahap menggabungkan koordinat awal dan koordinat akhir dari mawar arus atau Current Rose yang di buat menggunakan aplikasi Matlab.

Dimana koordinat awalnya adalah 90º dan koordinat akhirnya adalah 5º menuju kearah selatan. Di bawah ini adalah gambar memasukkan data kecepatan arus untuk koordinat akhir menggunakan aplikasi Matlab.

Gambar 33. Data kecepatan arus

Gambar 32. Memperlihatkan cara memasukkan data jarak dan titik koordinat akhir dalam membuat Mawar Arus atau Current Rose dengan menggunakan aplikasi Matlab.

Gambar 34. Penggabungan dari Mawar Arus

Dari Current Rose atau Mawar Arus seperti gambar di atas, dimana kecepatan arus minimum sebesar 0,0264 m/det dan maksimum 0,0396 m/det dengan kecepatan rata-rata 0,0340 m/det dari titik koordinat awal sebesar 90º dan titik koordinat akhir 5º ke arah selatan dapat diketahui bahwa arah arus dominan yang terjadi di perairan Desa Tamasaju lebih dominan kearah Selatan.

Berdasarkan hasil pengelolaan data arus menggunakan GPS Garmin 64s pada lapisan permukaan menunjukkan bahwa di perairan Desa Tamasaju, arus menyebar ke arah Selatan yaitu (5º ).

Karakteristik arus di Perairan Desa Tamasaju lebih dominan ketika air laut pada saat pasang.

Analisa perubahan garis pantai dapat mensimulasikan garis pantai sesuai dengan tahun yang diinginkan. Agar lebih akurat untuk mendapatkan bukti perubahan garis pantai yang signifikan, maka perubahan garis pantai ini akan diolah dan dianalisa melalui Program aplikasi MATLAB. Proram ini akan memperhatikan adanya perubahan dan pergeseran garis pantai.

Prediksi perubahan dan pergeseran garis pantai dibutuhkan koordinat garis pantai, periode, arah gelombang serta kemiringan laut. Setelah itu, melakukan pembagian beberapa lokasi berdasarkan profil pantai. Hasil dari pengelolaan numerik ini berupa perubahan garis pantai ke depan.

1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dan hasil perhitungan kecepatan arus pantai, maka dapat disimpulkan bahwa :

a. Hasil analisis kecepatan karakteristik arus laut yang terjadi di peraira pantai Tamasaju merupakan tipe arus pasang surut campuran, condong harian tunggal ( mixed tide prevailing ), saat pasang dimana kecepatan arus tertinggi yaitu 0,0396 m/det dengan jarak 567 m dan kecepatan arus terendah yaitu 0,0264 m/det menempuh jarak 381 m dengan kecepatan rata-rata yaitu 0,0340 m/det.

Arah arus pada permukaan dominan kearah Selatan sebesar 5º16,13”81’S.

b. Dampak yang terjadi adalah adanya abrasi pada kawasan pantai sehingga menyebabkan adanya kemunduran garis pantai kearah daratan. Dimana pada stasiun 1 mengalami perubahan sebesar 4 m, faktor utamanya adalah gelombang laut dan arus atau pasang surut arus laut yang terus menerus menghantam bibir pantai.

2. Saran

a. Untuk masyarakat kawasan pesisir pantai Tamasaju langkah perspektif untuk mengantisipasi perubahan garis pantai yang di sebabkan arus adalah yaitu dengan soft solution dan hard solution. Cara soft solution berupa penanaman pohon bakau (mangrove), pengisian pasir pada pantai (sand nourishment),

pemeliharaan karang laut dan gundukan pasir (dumes) di pinggir pantai. Dan cara Hard solution berupa penanganan membuat struktur bangunan pelindung pantai.

b. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan agar menggunakan peralatan yang lebih akurat dengan ketelitian yang lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Andi Makbul Syamsuri, Dadang Suriamihardja, Arsyad Thaha, Taufiqur Rachman. 2019. Pengaruh Periode Dan Kedalaman Air Terhadap Kecuraman Gelombang Pada Flume Dan Kedalaman Air Terhadap Gelombang. Prosiding Seminar Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Anissa Cintya Andika Asri, Agus Anugroho Dwi Suryoputro, Warsito Atmodjo.

2014. Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Diponegoro Tambulang Semarang. Jurnal Oseanografi Volume 3, Nomor 4 Tahun 2014 Halaman 603-604.

Arief,M.,G Winarso, & T.Prayoga.2011. Kajian perubahan garis pantai menggunakan data satelit Landsat di Kabupaten Kendal.J.Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital, 8(1):71-70.

Anna Lilian, (2014). Analisa Sedimen Dan Perubahan Garis Pantai Utara Pulau Rangsang Kabupaten Kepulauan Meranti

Awaliah,Waode.,(2013),”Model Perubahan Garis Pantai Dengan Metode One-line Model (Studi Kasus : Pantai Mangarabombang – Galesong Selatan,Kabupaten Takalar)”, Skripsi pada Jurusan Geofisika, Universitas Hasanuddin.

Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting, dan Sitepu (2013). Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Balai Pustaka Perss : Cetakan Ke 5, 328 Hal. P. 36. Jakarta.

Danial, M. M. (2008). Rekayasa Pantai (Coastal Engineering). Penerbit : Alfabeta.

Bandung.

Bandung.

Dokumen terkait