• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN

4.2. Karakteristik Sampel

4.2.3 Jenis Tempe yang Dikonsumsi

Terdapat beberapa jenis tempe yang dikonsumsi oleh sampel rumah tangga. Dari keseluruhan jenis tersebut umumnya tempe diperoleh oleh masyarakat dari pasar yaitu sebanyak 6 jenis tempe. 3 jenis lainnya diperoleh oleh masyarakat dari supermarket. Tentunya hal ini membuat adanya perbedaan harga yang cukup

signifikan antara jenis tempe yang berasa dari pasar dengan jenis tempe yang berasal dari supermartket. Berikut adalah jenis tempe yang dikonsumsi oleh masyarrakat di Kecamatan Medan Kota, Kota Medan.

Tabel 11. Jenis Tempe Berdasarkan Berat, Harga dan Tempat Pembeliannya No

Jenis Tempe

Berat/

Batang

Harga/

Batang

Tempat pembelian 1. Daun Besar dan Tebal 400 gr Rp. 5000 Pasar

2. Plastik Besar dan Tebal 400 gr Rp. 5000 Pasar

3. Plastik Besar 250 gr Rp. 3000 Pasar

4. Daun Sedang 170 gr Rp. 3000 Pasar

5. Plastik Sedang 170 gr Rp. 2000 Pasar

6. Plastik Kecil 100 gr Rp. 1000 Pasar

7. Plastik Besar dan Tebal 400 gr Rp. 8500 Supermarket

8. Plastik Sedang dan Tebal 250 gr Rp. 7000 Supermarket

9. Daun + Plastik Kecil dan Tebal

170 gr Rp. 7000 Supermarket

Sumber : Lampiran 4

BAB V

HASIL PEMBAHASAN

5.1 Pendapatan Keluarga Medan Kota

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dari seluruh sampel sebesar 391 sampel yang diteliti ,diperoleh rata-rata tingkat pendapatan rumah tangga adalah sebesar Rp. 6.133.458/bulan, dengan pendapatan tertinggi sebesar Rp.

30.000.000/bulan dan pendapatan terendah sebesar Rp. 500.000/bulan (Sumber : Lampiran 1)

Kemudian berdasarkan hasil pengamatan seluruh sampel dikelompokkan berdasarkan 5 kategori diantaranya adalah :

Tabel 12. Pendapatan Rumah Tangga Kecamatan Medan Kota No Pendapatan Jumlah Pendapatan

(Rp/bulan)

Tabel di atas dikelompokkan berdasarkan selisih antara pendapatan yang peneliti peroleh di lapangan. Penentuan pendapatan paling rendah lebih kecil dari Rp.

2.500.000 (UMR Kota Medan), dan kenaikan pendapatan antar tingkatannya juga sebesar Rp. 2.500.000.

5.2 Jumlah Konsumsi Tempe, Biaya Konsumsi Tempe dan Jenis Tempe yang Diminati di Kecamatan Medan Kota

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dari 391 sampel yang diteliti, diperoleh rata-rata jumlah konsumsi tempe rumah tangga sebanyak 4,19 kg per

rumah tangga/bulan dengan jumlah tertinggi sebesar 12,8 kg/bulan/rumah tangga dan jumlah terendah sebesar 0,68 kg /bulan/rumah tangga.

Sedangkan untuk biaya konsumsi tempe per rumah tangga , dari seluruh sampel diperoleh rata-rata biaya konsumsi sebesar Rp. 56.641/bulan/rumah tangga, dengan biaya konsumsi tempe tertinggi sebesar Rp. 180.000/bulan/rumah tangga dan konsumsi tempe terendah sebesar Rp. 8000/bulan/rumah tangga.

Jika ditinjau dari jenisnya terdapat beberapa tempe yang umum dikonsumsi oleh masyarakat khususnya di kecamatan Medan Kota. Jenis tempe yang dikonsumsi diantaranya Tempe dengan daun besar dan tebal (400gr); tempe daun sedang (170gr); tempe plastik besar dan tebal (400gr); tempe plastik besar (250gr); tempe plastik sedang (170gr); tempe plastik kecil (100gr). Keenam jenis tempe tersebut umumnya diperoleh di pasar. Ada juga tempe yang dibeli di supermarket diantaranya Tempe plastik besar dan tebal (400gr); tempe plastik sedang dan tebal (250gr); dan tempe daun + plastik (170gr).

Tabel 13. Jumlah dan Biaya Konsumsi Tempe berdasarkan jenis tempe.

Sumber : Data diolah dari Lampiran 2

Berdasarkan tabel diatas dapat kita lihat bahwa jenis tempe yang paling banyak dikonsumsi oleh sampel adalah jenis 1 yaitu tempe daun besar dan tebal (400gr) yaitu sebesar 888,80 kg/bulan dengan rata-rata 2,27kg/bulan/rumah tangga . Biaya yang dialokasikan untuk membeli tempe tersebut sebesar Rp11.110.000/bulan dengan rata-rata Rp 28.414/bulan/rumah tangga. Sebesar 54% rumah tangga di Kecamatan Medan Kota mengkonsumsi tempe jenis 1. Dapat disimpulkan bahwa sampel lebih menyukai tempe dengan jenis pembungkus daun dengan alasan tempe yang lebih harum dan khas yang dihasilkan dari daun pembungkusnya tersebut.

Sedangkan jenis tempe yang paling sedikit dikonsumsi oleh masyarakat di Kecamatan Medan Kota adalah jenis 9 yaitu Daun + Plastik Kecil dan Tebal (170gr) yaitu sebesar 20,06 kg/bulan dengan rata-rata 0,05kg/bulan/rumah tangga . Biaya yang dialokasikan untuk membeli tempe tersebut sebesar Rp 826.000 /bulan dengan rata-rata Rp 2.113 bulan/rumah tangga. Sebesar 1,2% rumah tangga di Kecamatan Medan Kota mengkonsumsi tempe jenis 9. Dapat disimpulkan bahwa sampel kurang menyukai jenis tempe nomor 9 karena harganya yang lumayan mahal karena dijual di supermarket.

Tabel 14. Persentase Jumlah Tempe berdasarkan Jenis Tempe dan Tingkat Pendapatan

No Jenis Tempe Persentase Jumlah Tempe pada Tingkat Pendapatan I

Keterangan : I, II, III,IV dan V adalah tipe tingkat pendapatan Sumber : Data diolah dari Lampiran 1 dan 2.

Dari tabel di atas dapat dilihat berdasarkan tingkat pendapatan maka, tingkat pendapatan I (< Rp 2.500.000) paling banyak mengkonsumsi jenis tempe 1 yaitu daun besar dan tebal (400 gr) dengan persentase sebesar 10,0% , sedangkan untuk konsumsi tempe paling sedikit yaitu jenis tempe 9 yaitu daun + plastik kecil dan tebal (170 gr) dengan persentase sebesar 0,3% .

Untuk tingkat pendapatan II (Rp 2.500.000 - < Rp 5.000.000) paling banyak mengkonsumsi jenis tempe 1 yaitu daun besar dan tebal (400 gr) dengan persentase sebesar 9,8%, sedangkan untuk konsumsi tempe paling sedikit jenis tempe 7 yaitu plastik besar dan tebal (400gr) dan juga jenis tempe 9 yaitu daun + plastik kecil dan tebal (170 gr) dengan persentase masing-masing sebesar 0,2%.

Untuk tingkat pendapatan III (Rp 5.000.000 - < Rp 7.500.000) paling banyak mengkonsumsi jenis tempe 1 yaitu daun besar dan tebal (400 gr) dengan persentase sebesar 10,1%, sedangkan untuk konsumsi tempe paling sedikit jenis tempe 7 yaitu plastik besar dan tebal (400gr) dengan persentase sebesar 0,0%.

Untuk tingkat pendapatan IV (Rp 7.500.000 – < Rp 10.000.00) paling banyak mengkonsumsi jenis tempe 1 yaitu daun besar dan tebal (400 gr) dengan persentase sebesar 12,1%, sedangkan untuk konsumsi tempe paling sedikit jenis tempe 9 yaitu daun + plastik kecil dan tebal (170gr) dengan persentase masing-masing sebesar 0,1 %.

Untuk tingkat pendapatan V ( Rp 10.000.000) paling banyak mengkonsumsi jenis tempe 1 yaitu daun besar dan tebal (400gr) dengan persentase sebesar 10,0%, sedangkan untuk konsumsi tempe paling sedikit jenis tempe 8 yaitu plastik sedang dan tebal (250gr) dengan persentase masing-masing sebesar 0,1 %..

Jika dilihat secara keseluruhan tingkat pendapatan berdasarkan konsumsi, maka jumlah konsumsi tempe terbanyak ada pada tingkat pendapatan IV yaitu jenis tempe 1 daun besar dan tebal (400gr) dengan persentase sebesar 12,1%, sedangkan untuk tingkat pendapatan paling sedikit yaitu tingkat pendapatan III yang mengkonsumsi jenis tempe 7 plastik besar dan tebal (400 gr) dengan persentase sebesar 0,0%.

Walaupun harga dan berat tempe pada jenis 1 dan 3 sama namun dari hasil penelitian diperoleh bahwa tempe jenis 1 lah yang paling diminati di semua tingkat pendapatan. Dapat disimpulkan bahwa dari hasil penelitian, sampel lebih menyukai jenis tempe dengan pembungkus daun. Hal ini dikarenakan tempe dengan jenis pembungkus daun lebih wangi dan tercium aroma khasnya daripada jenis tempe yang lainnya dan juga jenis tempe 1 mudah di dapatkan di seluruh kawasan di Kecamatan Medan Kota, Kota Medan. Untuk jenis tempe 7 adalah jenis tempe yang paling sedikit dikonsumsi walaupun memiliki berat yang sama dengan jenis tempe 1 dan 3, jumlah konsumsinya paling sedikit hal ini dikarenakan harganya yang mahal. Jenis tempe ini dijual di supermarket, harganya lebih mahal, sehingga menyebabkan sampel kurang tertarik untuk mengkonsumsinya

5.3 Faktor –Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Konsumsi Tempe Rumah Tangga di Kecamatan Medan Kota.

Sebelum dilakukan estimasi dilakukan pengujian untuk memenuhi asumsi Regresi Linier Berganda yaitu:

a. Uji Normalitas

Setelah melalukan uji Kolmogorov Smirnov, diperoleh signifikansi sebesar 0,200

> 0,05 (lihat pada lampiran 2 ) yang artinya data terdistribusi normal.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200

Sumber : Data diolah dari Lampiran 3

b. Uji Gejala Multikolinieritas

Setelah melihat tabel Coefficient terdapat nilai VIF untuk masing-masing variabel mempunyai nilai < 10 dan nilai Tolerance > 0,1 (lihat pada lampiran 3) sehingga diperoleh kesimpulan bahwa gejala multikolinearitas tidak terdapat dalam persamaan ini.

Coefficientsa Sumber : Data diolah dari Lampiran 3

c. Uji Gejala Heterokedastisitas

Setelah melakukan metoda grafik dan uji Park untuk menguji heterokedastisitas maka dapat disimpulkan bahwa gejala heterokedastisitas tidakterdapat dalam persamaan ini, nilai signifikansi dari variabel 0,129 > 0,05 (lihat pada lampiran 3).

ANOVAa

Sumber : Data diolah dari Lampiran 3

Tabel Hasil Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Konsumsi Tempe Rumah Tangga di Kecamatan Medan Kota.

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

T Hitung Sig.

Koef. Regresi Std. Error

1 (Constant) ,218 ,025 8,829 ,000

Sumber : Data diolah dari Lampiran 3

Model Summaryb Sumber : Data diolah dari Lampiran 3

Berdasarkan Tabel diperoleh persamaan sebagai berikut:

Ŷ = 0,218 - 0,017 X1 + 0,013 X2 + 0,766 X3 Keterangan:

Ŷ = Jumlah konsumsi tempe (gr/bulan) X1 = Pendapatan Keluarga (Rp/bulan) X2 = Jumlah Anggota Keluarga (orang) X3 = Biaya Konsumsi Tempe (Rp/bulan) 1) Koefisien Determinasi ( )

Dari model dihasilkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,997. Hal ini menunjukkan bahwa 99,7 % variasi variabel jumlah konsumsi tempe telah dapat

dijelaskan oleh variabel pendapatan keluarga dan biaya konsumsi tempe sedangkan sisanya 0,03% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.

2) Uji F (Uji Serempak)

Secara serempak pengaruh variabel pendapatandan biaya konsumsi tempe nyata pada taraf 95% Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis, diperoleh F-hitung = 1.7312.681 > F-tabel = 2,67 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Ho ditolak dan H1 diterima, yang berarti variabel bebas pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga dan biaya konsumsi tempe berpengaruh nyata terhadap variabel terikat yaitu juumlah konsumsi tempe keluarga.

3) Uji T (Uji Parsial)

Dari hasil analisis regresi dapat dilihat juga bahwa secara parsial pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga dan biaya konsumsi tempe yang mempengaruhi jumlah konsumsi tempe keluarga dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengaruh Jumlah Pendapatan Keluarga Terhadap Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga

Hasil analisis pendapatan keluarga terhadap jumlah konsumsi tempe memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0,017, maka setiap peningkatan pendapatan keluarga sebesar 1 rupiah maka akan menyebabkan penurunan konsumsi tempe sebesar 0,017 kg/bulan dengan asumsi variabel lain dianggap tetap. Tanda negatif pada pendapatan menunjukkan pengaruh negatif pada jumlah konsumsi tempe, yang artinya apabila pendapatan keluarga meningkat maka jumlah konsumsi akan

menurun. Berdasarkan uji t diperoleh nilai t-hitung -7,622 pendapatan keluarga <

t-tabel sebesar 1,656 pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai signifikansi 0,000<

α 5% yang berarti terima H1 artinya variabel tingkat pendapatan keluarga berpengaruh nyata secara parsial terhadap jumlah konsumsi tempe.

Hal ini sesuai dengan teori Keynesia,MenurutMankiw (2016) fungsikonsumsi Keynesian memilikitiga properties (Keynes’s Conjectures), pertamahasrat marginal untuk mengkonsumsi c berada antara nol dan satu (0 < c < 1), kedua rata-rata kecenderungan mengkonsumsi akan menurun apabila pendapatan (output) meningkat, dan ketiga konsumsi ditentukan oleh pendapatan (output) sekarang. Akan tetapi, apabila teori ini diimplikasikan kepada konsumsi barang tertentu (dalam hal ini kedelai) maka akan ditentukan oleh produksi (output) kedelai serta pendapatan per kapita.

b. Pengaruh Jumlah Anggota Keluarga Terhadap Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga

Hasil analisis jumlah anggota keluarga terhadap jumlah konsumsi tempememiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,013, maka setiap penambahan 1 anggota keluarga menyebabkan kenaikan konsumsi tempe sebesar 0,013 kg/bulan dengan asumsi variabel lain dianggap tetap. Tanda positif pada biaya konsumsi menunjukkan pengaruh positif pada jumlah konsumsi tempe, yang artinya apabila jumlah anggota keluarga meningkat maka jumlah konsumsi jugameningkat. Berdasarkan uji t diperoleh nilai t-hitung jumlah anggota keluarga sebesar 2,742 > t-tabel sebesar 1,656 pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai signifikansi 0,007< α 5%

yang berarti terima H1 artinya biaya konsumsi tempe berpengaruh nyata terhadap jumlah anggota keluarga.

Hal ini sesuai dengan hasil peneitian Hanafi (2014) “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Tempe di Kelurahan Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan” yang menyatakan bahwa koefisien regresi untuk jumlah anggota keluarga bernilai positif sebesar 0.005. Tanda positif ini menunjukan pengaruh yang searah antara jumlah anggota keluarga dengan permintaan tempe.

Artinya jika ada penambahan satu orang anggota keluarga maka akan ada peningkatan permintaan tempe sebesar 0.005 kg. Hal ini menunjukan bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga maka semakin besar juga jumlah permintaan akan tempe.

c. Pengaruh Biaya Konsumsi Tempe Terhadap Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga

Hasil analisis biaya konsumsi tempe terhadap jumlah konsumsi tempe memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,766, maka setiap peningkatan biaya konsumsi tempe sebesar 1 rupiah menyebabkan kenaikan konsumsi tempe sebesar 0,766 kg/bulan dengan asumsi variabel lain dianggap tetap. Tanda positif pada biaya konsumsi menunjukkan pengaruh positif pada jumlah konsumsi tempe, yang artinya apabila biaya konsumsi tempe meningkat maka jumlah konsumsi jugameningkat. Berdasarkan uji t diperoleh nilai t-hitung biaya konsumsi tempesebesar 205,205 > t-tabel sebesar 1,656 pada taraf kepercayaan 95% dengan nilai signifikansi 0,000< α 5% yang berarti terima H1 artinya biaya konsumsi tempe berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi tempe.

Hal ini sesuai dengan Teori Benneth, dalam Aryani dan Hermanto (2014) yang berjudul “Dinamika Konsumsi Pangan” yaitu peningkatan pendapatan akan

harga yang lebih mahal per unit gizinya. Pada tingkat pendapatan rendah permintaan terhadap pangan diutamakan pada pangan yang padat energi yang berasal dalam karbohidrat. Apabila pendapatan meingkat, pola konsumsi pangan akan makin beragam dan umumnya akan terjadi peningkatan konsumsi pangan yang lebih bernilai gizi tinggi.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Rata-rata jumlah pendapatan rumah tangga sebesar Rp. 6.133.458/bulan , dengan pendapatan tertinggi sebesar Rp. 30.000.000/bulan dan pendapatan terendah sebesar Rp. 500.000/bulan.

2. Rata-rata jumlah konsumsi tempe sebesar 4,19 kg/rumah tangga/bulan, jumlah tertinggi sebesar 12,8 kg/rumah tangga/bulan dan jumlah terendah sebesar 0,68 kg /rumah tangga/bulan

3. Rata-rata biaya konsumsi tempe sebesar Rp. 56.641/rumah tangga/bulan. Biaya konsumsi tempe tertinggi sebesar Rp. 180.000/rumah tangga/bulan dan konsumsi tempe terendah sebesar Rp. 8000/rumah tangga/bulan

4. Jenis tempe yang paling diminati adalah jenis tempe 1 yaitu tempe dengan daun besar dan tebal yang memiliki berat 400gr/bungkus dengan harga Rp 5000/bungkus.

5. Jumlah pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga dan biaya konsumsi tempe berpengaruh nyata secara serempak terhadap jumlah konsumsi tempe.

Secara parsial jumlah pendapatan keluarga dan biaya konsumsi tempe berpengaruh nyata terhadap jumlah konsumsi tempe. Jumlah pendapatan keluarga berpengaruh negatif terhadap jumlah konsumsi tempe, sedangkan jumlah anggota keluarga berpengaruh positif terhadap jumlah konsumsi tempe dan biaya konsumsi tempe berpengaruh positif terhadap jumlah konsumsi tempe.

6.2 Saran

1. Kepada Pemerintah

Membuat program-program kepada petani kedelai agar membudidayakan kedelainya secara organik agar produsen tempe juga dapat membuat tempe organik karena konsumen akan memiliki banyak pilihan untuk di konsumsi dan anggapan tempe adalah makanan kelas menegah kebawah dapat dihilangkan.

2. Kepada Produsen atau Pengusaha

Membuat inovasi pada produk tempe baik dari segi kualitas produk, pengemasan maupun proses pemasaran sehingga dapat lebih menarik minat masyarakat dalam mengkonsumsi tempe terutama konsumen menengah keatas yang jumlah konsumsinya relatif lebih rendah. Contohnya seperti membuat steak tempe, keripik tempe dengan berbagai rasa, dll.

Peneliti juga menyarankan untuk para produsen dan pengusaha memproduksi atau memasarkan produk tempe dengan jenis pembungkus daun karena berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa masyarakat pada daerah penelitian lebih menyukai jenis tempe dengan jenis pembungkus daun karena rasa dan aromanya yang khas.

3. Kepada Peneliti Selanjutnya

Sebaiknya melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi olahan kedelai selain tempe, misalnya tahu dan susu kedelai.

DAFTAR PUSTAKA

Aldillah, R. 2015. Proyeksi Produksi dan Konsumsi Kedelai Indonesia. Jurnal Ekonomi Kuantitatif Terapan.

Ananda, Annisa Widya, 2015. Pengaruh Pengumuman Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak ersubsidi Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Arif, M. 2010. Pengantar Metodologi Penelitian Untuk Ilmu Kesehatan. UPT Penerbitan dan Percetakan UNS : Surakarta.

Ariyani, 2014. Aplikasi Metodologi Penelitian. Nuha Medika. Yogyakarta.

Ariani dan Hermanto, 2014. Rekonstruksi Agenda Peningkatan Kesejahteraan Petani : Panel Petani Nasional. Media Neliti.

Apridar, 2008. Analisis Tentang Permintaan Tempe di Kota Lhokseumawe.

Jurnal. Universitas Malikulsaleh.

Assael. 2001. Consummen Behavior. Edisi Bahasa Indonesia. New Jersey:

Prentice Hall Inc.

Azhar M Reza, 2018. Pola Konsumsi Tahu dan Tempe Pada Keluarga Prasejahtera (kasus di kelurahan way lunik,kecamatan panjang, bandar lampung). Skripsi. Universitas Lampung.

Badan Pusat Statistik , 2018. Kota Medan dalam angka Tahun 2018.

Badan Pusat Statistik , 2018. Kecamatan Medan Kota dalam angka Tahun 2018.

Badan Pusat Statistik , 2017. Sumatera Utara dalam angka Tahun 2017.

Badan Survei Nasional, 2012. Survei Nasional Tahun 2012

Boediono. 2014. Ekonomi Mikro Seri Sinopsis: Pengantar Ilmu Ekonomi BPFE, Yogyakarta..

Departemen Kesehatan, 2016. Survei Kesehatan Pangan Tahun 2016.

Dewi, Ratna Stia dan Saefuddin Aziz, 2011. Isolasi Rhizopus Oligosporus. Pada Beberapa Inokulum Tempe di Kabupaten Banyumas. Jurnal Molekul.

Friedman, M.M, 2007. Family Nursing Research Theory and Practice. 5th Ed.

Stamford ; Appieton & Lange. Terjemahan.

Hanafi, F Imam, 2014. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Tempe di Kelurahan Jurangmangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Jurnal. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hanafie, Rita. 2018. Sentra Produksi dan Difersivikasi Pangan Olahan Berbasis Pangan Lokal di Jawa Timur. Journal of CIASTECH.

Henry, F, 2010. Manajemen Public Relations, Jakarta. PT. Elex Media.

Kementerian Dalam Negeri, 2013. Kementerian Dalam Negeri Tahun 2013

Mankiw, N. Gregorry, 20013. Teori Makro Ekonomi. Edisi ke V. Erlangga.

Oxlay, A, 2014. Sex, Gender an Society. London; Temple Smith. Reprinted with new Introduction, London : Gower.

Prima, 2015Analisis Tingkat Kesejahteraan Rumah Tangga Buruh Nelayan dan Pariwisata di Pantai Sendang Biru Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur (skripsi). Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Rosyidi, S. 2013. Pengantar Teori Ekonomi: Pendekatan Kepada Teori Ekonomi Mikro dan Makro (Edisi Revisi) . PT Raja Grafindo Persada.

Jakarta.

Salvatore, Dominick. 2014. Ekonomi Manajerial dalam Perekonomian Global.

Salemba empat : Jakarta.

Samuelson, Paul A dan Nordhaus, William D,1996, Ilmu Makro Ekonomi. Jakarta PT. Media Edukasi. Edisi ke 17

Schifman dan Kanuk. 2012. Prilaku Konsumen. Edisi IX. Prentice Hall. Jakarta.

Subarna, 2012. Formulasi produk-produk serelia dan umbi-umbian. Makalah Produk Olahan, Ekskrusi, Bakery dan Frying. Jakarta.

Suhartono, dkk. 2008. Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Poliitk. Bandung.

Alfabeta.

Supriana, T. 2013. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Medan. USU Press.

Supriana, T. 2016. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Medan. USU Press.

Trisnawati dkk. 2013. Pengaruh Corporate Govenance Terhadap Manajemen Laba Rill. The 2 University Research Coloqium 2015

Lampiran 1. Karakteristik Konsumen Tempe di Kecamatan Medan Kota

No Pendapatan

No Pend.apatan

No Pend.apa.tan

No Pend.apa.tan

No Pend.apa.tan

No Pend.apa.tan

No Pend.apa.tan

No Pend.apa.tan

No Pend.apa.tan (Rp /Bulan)

Jumlah Anggota Keluarga

(Jiwa)

Biaya Konsumsi Tempe (Rp /Bulan)

Jumlah Konsumsi

Tempe (Kg/Bulan)

386. 4.000.000 3 64.000 5,44

387. 7.260.000 4 60.000 4,8

388. 2.100.000 5 56.000 4,76

389. 600.000 2 40.000 3,2

390. 2.000.000 5 40.000 3,4

391. 2.100.000 2 20.000 1,6

Total 2.398.182.000 1.643 22.146.500 1.645 Rataa

n 613.3457

4

56.640

4,21

Lampiran 2 Jumlah Konsumsi Tempe Berdasarkan Jenis Tempe

50 3,2 0 0 0 0 0 0 0 0 3,2

103 4,8 0 0 0 0 0 0 0 0 4,8

156 3,2 0 0 0 0 0 0 0 0 3,2

209 0 0 0 0 2,04 0 0 0 0 2,04

262 0 0 0 0 4,08 0 0 0 0 4,08

315 4,8 0 0 0 0 0 0 1 0 5,8

368 0 0 0 0 0 1,2 0 0 0 1,2

1 = Daun besar dan tebal, berat = 400 gr, harga = Rp 5000 dan tempat pembelian

= pasar

2 = Daun sedang, berat = 170 gr, harga = Rp 3000 dan tempat pembelian = pasar 3 = Plastik besar dan tebal, berat = 400 gr, harga = Rp 5000 dan tempat pembelian

= pasar

4 = Plastik besar, berat = 250 gr, harga = Rp 3000 dan tempat pembelian = pasar 5 = Plastik sedang, berat = 170 gr, harga = Rp 2000 dan tempat pembelian = pasar 6 = Plastik kecil, berat = 100 gr, harga = Rp 1000 dan tempat pembelian = pasar 7 = Plastik besar dan tebal, berat= 400 gr, harga = Rp 8500 dan tempat pembelian supermarket

8 = Plastik sedang dan tebal, berat = 250 gr, harga = Rp 7000 dan tempat pembelian supermarket

9 = Daun = plastik kecil dan tebal, berat = 170 gr, harga = Rp 7000 dan tempat pembelian supermarket

Lampiran 3. Hasil Analisis Faktor – Faktor yang Mmepengaruhi Jumlah

a. Predictors: (Constant), Biaya Konsumsi Tempe, Jumlah Pendapatan Keluarga, Jumlah Anggota Keluarga

b. Dependent Variable: Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 258,664 3 86,221 17312,681 ,000b

Residual ,682 137 ,005

Total 259,347 140

a. Dependent Variable: Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga

b. Predictors: (Constant), Biaya Konsumsi Tempe, Jumlah Pendapatan Keluarga, Jumlah Anggota Keluarga

a. Dependent Variable: Juumlah Konsumsi Tempe Keluarga

a. Dependent Variable: Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga Residuals Statisticsa

Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Predicted Value ,7932 7,2579 3,4783 1,35927

Std. Predicted

Predicted Value ,7929 7,2705 3,4785 1,35920

Residual -,20887 ,24045 ,00000 ,06981

a. Dependent Variable: Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga

Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 141

Normal Parametersa,b

Mean ,0000000

Std. Deviation ,06981068

Most Extreme Differences

Absolute ,063

Positive ,063

Negative -,062

Test Statistic ,063

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance.

Hasil Uji Multikolinearitas a. Dependent Variable: Jumlah Konsumsi Tempe Keluarga

Uji Heterokedastisitas

b. Predictors: (Constant), LNBiaya, LNPendapatan, LNAnggota

Lampiran 4. Kuisioner Penelitian

KUISIONER PENELITIAN

PENGARUH TINGKAT PENDAPATAN KELUARGA TERHADAP KONSUMSI TEMPE

DI KECAMATAN MEDAN KOTA, KOTA MEDAN

No. Responden :

1. Nama : ...

2. Jenis Kelamin : ...

3. Usia : ...

4. Alamat : ...

5. Pendidikan Terakhir : ...

6. Jumlah anggota keluarga : ... orang 7. Berapa pendapatan rumah tangga yang diperoleh setiap bulannya?

No Anggota Keluarga Utama Sampingan Total

1 Suami Rp. Rp. Rp.

2 Istri Rp. Rp. Rp.

3 Lainnya Rp. Rp. Rp.

Total Rp. Rp. Rp.

8. Alasan mengkonsumsi tempe ? a. Bergizi

b. Mudah mengolahnya c. Mudah di dapat d. Harga relatif murah

e. Alasan lainnya, sebutkan ...

9. Jika tempe tidak tersedia, maka konsumsi tempe digantikan dengan mengkonsumsi apa?

No Jenis Tempe Berat/

Batang

Harga/

Batang

Tempat pembelian

Jumlah konsumsi/minggu

Keterangan 1. Daun Besar dan Tebal 400 gr Rp. 5000 Pasar

2. Plastik Besar dan Tebal 400 gr Rp. 5000 Pasar

3. Plastik Besar 250 gr Rp. 3000 Pasar

4. Daun Sedang 170 gr Rp. 3000 Pasar

5. Plastik Sedang 170 gr Rp. 2000 Pasar

6. Plastik Kecil 100 gr Rp. 1000 Pasar

7. Plastik Besar dan Tebal 400 gr Rp. 8500 Supermarket

8. Plastik Sedang dan Tebal

250 gr Rp. 7000 Supermarket

9. Daun + Plastik Kecil dan Tebal

170 gr Rp. 7000 Supermarket

Total

Lampiran 5. Peta Kecamatan Medan Kota

Dokumen terkait