Konsep Jihad dalam Islam dan Implikasinya di Indonesia
B. JIHAD DALAM PANDANGAN ISLAM
Jihad, secara etimologi, berasal dari kata jâhada-yujâhidu dengan masdar jihâdan wa mujâhadatan yang berarti kekuatan (tâqah), usaha (al-wus’u) dan kesulitan (al-masyaqqah) (Mandzur, 1414). Jika ditelaah dalam kamus bahasa Arab, seperti kamus Mukhtar al-Shahâ, kata ini tidak mengalami distorsi secara etimologi seperti yang tertulis di dalam Lisânul Arab. Jihad, secara terminologi, artinya berperang di jalan Allah Swt. Pengertian ini sesuai dengan apa yang ditulis Sayyid Bakri dalam kitab I’ânat Al-Thâlibîn. Jika jihad adalah perang, segala bentuk tindak kekerasan, aksi demo anarkis yang merusak infrastruktur pemerintah tidak termasuk dalam definisi perang karena perang harus memiliki ketentuan musuh yang jelas atau adanya dua atau lebih dari negara/kelompok yang bertikai (Cambridge, 2006).
Oleh karena itu, melibatkan warga sipil yang tidak berdaya, merusak lingkungan, mengganggu ketenteraman masyarakat adalah tindakan yang menyimpang dan jauh dari syariat jihad. Pilihan kata “di jalan Allah” tidak berarti berperang sampai mengorbankan sesama muslim, apalagi sampai mengatakan bahwa dalam setiap usaha jihad pasti ada korban yang tidak bisa dihindarkan.
Buku ini tidak diperjualbelikan.
Pengertian lain didapatkan dalam kamus al-Mu’jam al-Wasith.
Dalam kamus tersebut, jihad bermakna memerangi orang kafir yang tidak ada ikatan perjanjian damai (Al-‘Arabi, 2008). Hal ini selaras dengan seruan grand syekh al-Azhar, Ahmad Tayyib, dan Paus Fransiskus pada Februari 2019 untuk melakukan kesepakatan perdamaian, menentang tindak kekerasan yang berlandaskan agama, ras, dan suku. Sepadan dengan kutipan kalimat yang ada pada Per-janjian Abu Dhabi”... dengan mengatas namakan orang yang tidak bersalah bahwa Tuhan melarang kita untuk membunuh, kemudian menegaskan bahwa siapa pun yang membunuh seseorang seperti orang yang membunuh seluruh umat manusia, dan bahwa siapa pun yang menyelamatkan seseorang seperti orang yang menyelamatkan seluruh umat manusia. Meskipun isi dari perjanjian di Dubai tersebut sekilas hanya terfokus pada perdamaian antaragama, perjanjian ini membuka mata dunia bahwa pertikaian di dunia bisa diselesaikan dengan jalur musyawarah dan kesepakatan.
Menurut Sayyid Bakri, hukum jihad terbagi menjadi dua, yaitu wajib kifayah dan wajib ain. Wajib kifayah adalah wajib yang apabila sudah ada sebagian yang melaksanakan satu perkara maka yang lain-nya sudah terwakilkan dari kewajiban ini. Berbeda dengan wajib ain yang kewajibannya harus dilaksanakan setiap muslim.
Syekh Ibnu Qayyim mempunyai pengertian tersendiri terhadap makna jihad. Ia membaginya menjadi 4 macam, kemudian dijabarkan oleh Syekh Yusuf Qardawi menjadi 13 susunan jihad sebagai berikut.
1. Jihad untuk memperbaiki diri sendiri
Jihad untuk memperbaiki diri terdiri dari empat langkah. Pertama, berjihad mempelajari seluruh ilmu agama Islam secara menyeluruh serta melawan hawa nafsu. Tujuannya adalah menghindari kemun-duran dan kejumudan dalam berpikir dengan menggunakan kacamata Islam. Poin ini menjelaskan bahwa menjadi seorang yang alim harus melewati fase penguasaan ilmu dasar dan kaidah dalam bahasa Arab.
Kedua, mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari dalam Islam ke dalam kehidupannya sehari-hari sebagai pembiasaan dalam diri
Buku ini tidak diperjualbelikan.
seorang muslim. Ketiga, mendakwahkan apa yang sudah dipelajari secara baik dan benar tanpa tindak kekerasan karena hakikatnya Islam datang dengan damai atau rahmatan lil ‘aalamin. Keempat, selalu ber-sabar dalam proses berdakwah. Hal ini merupakan poin akhir jihad memperbaiki diri karena akan banyak tantangan dalam perjalanan berdakwah, sebagaimana yang dialami Nabi dan para penerusnya.
Para sahabat di zaman Rasulullah dijuluki sebagai seorang yang rab-baniyan setelah menyelesaikan keempat langkah jihad ini.
2. Jihad melawan setan
Ada dua langkah jihad melawan setan. Pertama, menghindari apa saja yang berpotensi samar-samar (syubhat) yang bisa mengganggu keyakinan, amalan, dan ibadah seorang muslim. Kedua, menghindari apa saja yang berpotensi menimbulkan syahwat. Apabila poin yang pertama terpenuhi maka akan muncul ruh keyakinan, dan apabila poin kedua terwujud maka akan timbul ruh kesabaran.
3. Jihad melawan orang kafir dan jihad melawan orang munafik
Menurut Ibnu Qayyum, jihad melawan orang kafir dan jihad melawan orang munafik berada pada poin ketiga dan keempat (berada di akhir rentetan jihad). Jika seseorang sudah menyukseskan dua poin jihad yang di awal, ia dianggap mampu untuk melakukan sisa jihadnya, yakni jihad melawan orang kafir dan orang munafik. Ada tiga langkah jihad pada poin ini. Pertama, melakukan perlawanan melalui hati (al-Qalbu). Kedua, menggunakan lisan, misalnya berdiskusi, berdebat, bermusyawarah, dan berargumen dalam dakwah. Ketiga, meng-gunakan harta dalam arti membagikan rezeki kepada mereka agar terbuka hatinya. Ketiga langkah ini memberikan penggambaran yang baik kepada kaum kafir agar bisa menilai dengan kacamata sendiri bahwa memang benar Islam datang dengan membawa kedamaian serta membawa kemaslahatan untuk umat manusia. Kemudian, 3 poin akhir dari Syekh Yusuf Qardawi untuk melengkapi 13 susunan jihad, yaitu berjihad memberantas ketidakadilan, berjihad melawan kezaliman, serta berjihad melawan kesesatan sesuai dengan syarat,
Buku ini tidak diperjualbelikan.
ketentuan, dan langkah yang sudah dijabarkan di awal (Abdul Wahab, 1987).
Langkah-langkah jihad dalam memerangi orang kafir dan munafik sudah dijelaskan. Masalahnya, tantangan zaman yang di-hadapi muslim saat ini berbeda dengan tantangan zaman terdahulu.
Tantangan jihad kaum muslimin saat ini adalah bagaimana menjaga kedamaian bernegara dan menghilangkan segala penindasan yang tidak sesuai dengan kemanusiaan. Membawa risalah kenabian de-ngan versi yang berbeda tanpa mengubah esensi dari dakwah Islam bukanlah hal yang rumit karena kedamaian menjadi dasar Islam hadir di muka bumi ini.
C. PERMASALAHAN PRAKTIK JIHAD DI INDONESIA