Kebijakan Kolektivisasi Tanah
Pertanian
Joseph Stalin Vissarionovich atau Stalin merupakan orang kepercayaan Lenin dan juga orang yang memi-liki pengaruh besar dalam perkembangan komunisme di Rusia. Oleh karena itu tidak aneh ketika Lenin men- inggal pada tahun 1924 Stalin langsung mendapat ke-percayaan untuk menempati posisi penting di dalam partai dan struktur pemerintahan. Namun, di sisi lain kematian Lenin juga memicu perpecahan dalam Partai Komunis.
Perpecahan ini membagi tubuh partai menjadi dua kubu, yaitu kubu Sta-lin dan kubu Trotsky. Persaingan untuk mendapatkan kekuasaan berlang-sung di antara kedua kubu ini. Namun pada akhirnya, seperti yang telah disebutkan di atas, Stalin mendapatkan posisi untuk menggantikan Lenin sebagai pemimpin Partai Komunis Uni Soviet dan pemimpin Negara.
Kebijakan yang diambil pada masa pemerintahan Stalin dapat disebut pula dengan Stalinisme. Stalinisme merupakan sebuah sistem hubungan ke-masyarakatan dan politik kekuasaan yang mendominasi pemerintahan dik-tator Stalin. Dalam Stalinisme terdapat ide tentang Komunisme Internasional yang bertujuan untuk menjaga roda kekuasaan yang dimiliki olehnya den-gan jalan memperkuat sistem birokrasi, meningkatkan kadar represi massal, upaya penghapusan demokrasi, dan persamaan nasional.
Stalin menjalankan pola pemerintahan yang totaliter dan tersentralisir. Stalin menciptakan struktur birokrasinya dengan menempatkan seluruh ele- men Negara di bawah pengawasannya. Misalnya saja lembaga-lembaga sep-erti Komita Sentral (CK) PKUS, Dewan Komisariat Rakyat (Dewan Menteri),
Komite Keamanan Negara (GKO), dan menduduki posisi sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.
Dari gambaran di atas dapat dilihat bahwa rezim totaliter yang dijalank-an oleh Stalin tidak memberikan kesempatan sedikitpun bagi kebebasan ide dan berpikir bagi warganya. Ketiadaan kebebasan berpikir dan memuncul-kan ide membuat posisi Rusia di kawasan Eropa semakin termarginalisasi karena memiliki ideologi yang bertolak belakang.
Keadaan semacam ini juga diyakini menjadi factor utama yang me-nyebabkan pemerintahan sosialisme runtuh. Seperti yang telah disebutkan di atas, Stalin menjalankan represi massal dalam kadar intensitas yang cu-kup tinggi untuk menjaga rezim yang dibangun olehnya. Represi massal ini dilakukan untuk membungkam perkembangan ide warga Negara, terutama yang bertentangan dengan prinsip-prinsip rezim yang dijalankan oleh Stalin. Untuk menjalankan teror terhadap lawan-lawan politiknya Stalin memben-tuk polisi rahasia.
Polisi rahasia Rusia, atau yang banyak dikenal dengan nama KGB memi-liki tugas untuk mengawasi aktivitas warga Negara. Bila aktivitas tersebut dinilai dapat mengancam stabilitas rezim, pemerintah akan mengambil tin-dakan keras terhadap pihak yang bersangkutan.
Salah satu tindakan yang mungkin akan diberikan terhadap penentang pemerintah yaitu misalnya saja dengan cara menyebarkan ancaman dan teror. Jutaan warga Negara yang tidak bersalah ditangkap secara sewenang-wenang karena dianggap telah melawan kebijakan pemerintah.
Orang-orang itu tidak saja ditangkap, namun juga disiksa, dieksekusi, dideportasi secara brutal, atau dijebloskan dalam penjara dengan peraturan yang kejam dan menempati kamp-kamp pekerja paksa yang ada di suatu tempat yang disebut dengan Gulag (Glavnoe Upravlenia Lagerei).
Di dalam kamp kerja paksa ini terdapat semacam kamp konsentrasi yang disebut dengan Kontslager. Kontslager tersebar di seluruh penjuru Uni So-viet. Tindakan tersebut diyakini menjadi faktor pendorong terjadinya peris-tiwa holocaust di Rusia.
Selain itu terdapat pula kebijakan kolektivisasi tanah pertanian yang menyebabkan hilangnya kepemilikan 25 juta petani swasta terhadap tanah pertanian. Sekitar 200 ribu lahan pertanian diorganisasikan di bawah pen-gawasan pemerintah. Tujuan dari kolektivisasi pertanian ini yaitu untuk mewujudkan industrialisasi yang tidak terlepas dari pengawasan dan kon-trol dari Negara. Selain kontrol terhadap lahan pertanian, pemerintah juga melakukan sejumlah pengawasan terhadap kegiatan ekspor produk, produk pertanian itu sendiri, dan biaya dari hasil ekspor yang digunakan Negara untuk mendanai impor teknologi. Kebijakan kolektivisasi lahan pertanian yang dilakukan oleh Stalin membawa dampak yang cukup signifikan da-lam kehidupan sosial ekonomi di Uni Soviet. Bahkan kebijakan ini diyakini menjadi faktor yang bertanggungjawab atas kematian jutaan petani Ukraina akibat paceklik pada tahun 1930.
Kebijakan Stalinisme terus berjalan di Rusia hingga Stalin meninggal pada tahun 1953. Namun dampak dari Stalinisme memiliki pengaruh yang sangat luas dalam kehidupan politik, sosial, dan ekonomi Rusia pada masa-masa selanjutnya. Stalinisme mengklaim prinsip-prinsip yang sama dengan Leninisme, yaitu pemerataan tingkat kesejahteraan dengan dihapuskannya hak kepemilikan individu menjadi kepemilikan kolektif yang pengorgan-isasiannya diawasi dan dikontrol oleh Negara. Namun pada kenyataannya, pada masa Stalin, pemerataan yang menjadi basis tujuan sosialisme itu send-iri tidak terimplementasikan secara nyata. Kemiskinan dan kesengsaraan hanya dialami oleh masyarakat pada tingkat sosial yang rendah, sedang-kan di sisi lain, para elit partai mendapatsedang-kan hak-hak khusus misalnya saja melalui pelayanan kesehatan, pelayanan pendidikan dengan fasilitas yang memadai, perjalanan ke luar negeri dan sebagainya. Fasilitas-fasilitas yang diberikan kepada kaum elite politik jelas-jelas menjadi nilai pembeda yang pada akhirnya menimbulkan fragmentasi dalam masyarakat Uni Soviet pada masa itu.
Prinsip kepemilikan kolektif jelas-jelas telah dilanggar, sehingga pada akhirnya merusak bangunan sosialisme yang ada di Uni Soviet. Pada akh-irnya, kebijakan otoriter Stalin justru membawa hambatan bagi kreativitas dan inisiatif yang berlaku hampir di segala bidang dan tidak memiliki flek-sibilitas untuk menyesuaikan rencana dan keputusan dengan perubahan
lingkungan domestik dan kondisi internasional yang dinamis. Kebijakan Stalin juga diyakini gagal dalam melakukan antisipasi terhadap kesempatan yang mungkin dicapai dan masalah yang akan dihadapi oleh Uni Soviet[10]. Pada akhirnya elemen-elemen tersebut terintegrasi dan membentuk landasan politik, ekonomi, dan sosial Rusia yang pada masa-masa selanjutnya cend-erung terbelakang dan tertinggal dari Negara-negara di sekitarnya. Hingga berdampak pada kehancuran tatanan politik Rusia pada masa perang dingin yang ditandai dengan keruntuhan Uni Soviet.