STRUKTUR MELODI ENDE PARHAMINJON 5.1 Struktur Melod
5.2 Model Notas
5.3.4 Jumlah Interval
Interval adalah jarak antara satu nada dengan nada yang lainnya (Manoff 1991:50). Jarak antara satu nada dengan nada yang lain terdiri dari interval naik maupun turun. Sedangkan jumlah interval merupakan banyaknya interval yang dipakai dalam sebuah komposisi musik.Berdasarkan hukum music, nama interval telah ditentukan menurut jumlah nada yang dipakai, sedangkan jenisnya ditentukan berdasarkan jarak ke dua nada tersebut dalam laras, seperti pada table berikut :
NO. NAMA NADA JUMLAH
1. A 9 2. B 3 3. C 63 4. D 161 5 E 36 6. F 39 7. G 26 TOTAL 337
Simbol interval Jlh nada Jlh Laras
Nama dan jenis interval Contoh nada
1P 1 0 Prime perfect (murni) C – C
2M 2 1 Sekunda mayor (besar) C – D
3M 3 2 Terts mayor (besar) C – E
4P 4 2,5 Kwart perfect (murni) C – F
5P 5 3,5 kwint mayor (besar) C – G
6M 6 4,5 Sekta mayor (besar) C – A
7M 7 5,5 Septime mayor (besar) C – B
8P 8 6,5 Oktaf perfect(murni) C – c’
9M 9 7,5 None mayor C – d’
10M 10 8,5 Decime mayor C – E
Rumus interval
Dim + ½ laras = m m + ½ laras = M M + ½ laras = Ag m – ½ laras = dim M – ½ laras = m Ag – ½ laras = M
Dengan demikian, berdasarkan hukum interval diatas maka interval untuk komposisi melodi Ende marhaminjon di atas dapat dilihat pada table di bawah ini: Tabel Interval Komposisi Ende Marhaminjon
Nama Interval Posisi Jumlah
P 196 2M 49 45 2m 6 6 3M 1 3 3m 11 5 4P 2 2 5P 4 7 Total 337
PolaKadensa (Cadence Patterns)
Seperti kalimat bahasa yang diberi tanda baca berupa titik dan koma, maka demikian juga halnya dengan musik, juga diberi tanda baca melalui kadens-kadens yang terdapat di dalamnya. Sebuah kadens adalah satu kerangka atau formula yang terdiri dari elemen-elemen harmonis, ritmis, dan melodis yang menghasilkan efek kelengkapan yang bersifat sementara (kadens tak sempurna, kadens gantung) dan yang permanen (kadens lengkap, sempurna).
Kadens yang berakhir pada nada tonal disebut kadens sempurna (lengkap), sedangkan yang berakhir pada nada lain (seperti nada dominan atau sub-dominan) disebut kadens gantung (tak sempurna). Analoginya dengan kalimat, kadens sempurna itu merupakan titik; kadens merupakan tanda tanya atau titik koma. Sebuah frase yang berakhir pada kadens gantung (tak sempurna) disebut frase anteseden dan biasanya kadens seperti ini akan segera pula diikuti oleh sebuah frase konsequen yang berakhir dengan sebuah kadens sempurna lengkap.
Contoh Kadens Tidak Sempurna
Disebut kadens tidak sempurna karena pada bar ke lima tepatnya pada ketukan ke 4, sebelum tanda istirahat terdapat nada D yang bukan merupakan nada tonal (dasar) dari nyanyian ini.
Formula Melodic (melodic formula)
Dalam mendiskripsikan formula melodic, ada tiga hal penting yang akan dibahas yaitu bentuk frasa, dan motif. Bentuk adalah suatu aspek yang menguraikan tentang organisasi musik. Unit terkecil dari suatu melodi disebut dengan motif, yaitu tiga nada atau lebih yang menjadi ide sebagai pembentukan melodi. Gabungan dari motif adalah semi frasa dan gabungan dari semi frasa disebut frasa (kalimat).
Menurut pendapat Malm (Malm dalam Takari 1993:15-15), Bentuk juga dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu:
1. Repetitive, yaitu bentuk nyanyian yang mengalami pengulangan.
2. Ireratif, yaitu suatu bentuk nyanyian yang menggunakan formula melodi yang kecil dengan kecenderungan pengulangan-pengulangan di dalam keseluruhan nyanyian.
3. Reverting, yaitu suatu bentuk nyanyian apabila di dalam nyanyian terjadi pengulangan pada frase pertamasetelah terjadi penyimpangan melodis.
4. Strofic, yaitu apabila bentuk nyanyian diulang dengan formalitas yang sama namun menggunakan teks yang baru.
5. Progressive, yaitu apabila bentuk nyanyian selalu berubah dengan menggunakan teks yang baru.
Berdasarkan jenis bentuk, Ende marhaminjondapat dikategorikan sebagai bentuk Repetitive karena bentuk nyanyian yang mengalami pengulangan.
Kontur (contour)
Kontur dapat diartikan alur melodi yang biasanya ditandai dengan menarik garis pada notasi sebuah komposisi musik.Identifikasi kontur didasarkan pada bentuk melodi musiknya. Menurut Malm, ada bebrapa jenis kontur (Malm dalam Jonson 2000: 76), jenis-jenis kontur tersebut antara lain:
1. Ascending, yaitu garis melodi yang sifatnya naik dari nada rendah kenada yang lebih tinggi, seperti gambar
2. Descending, yaitu garis melodi yang sifatnya turun dari nada yang tinggi kenada yang rendah, seperti gambar:
3. Pendulous, yaitu garis melodi yang sifatnya melengkung dari nada yang rendah kenada yang tinggi, kemudian kembali kenada yang rendah, begitu juga sealiknya, contoh gambar
4. Teracced, yaitu garis melodi yang sifatnya berjenjang seperti anak tangga dari nada yang rendah ke nada yang lebih tinggi kemudian sejajar.
5. Static, yaitu garis melodi yang sifatnya tetap atau apabla gerakan-gerakan intervalnya terbatas, seperti gambar:
Berdasarkan jenis kontur di atas, maka kontur ende marhaminjon yang disajikan penyaji tergolong jenis static karena garis melodi yang sifatnya tetap atau apabila gerakan-gerakan intervalnya terbatas.
Ende Marhaminjon
David Simanungkalit Elkando Purba
BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan
Pohon kemenyan (styrax Benzoin) adalah salah satu tanaman yang banyak tumbuh liar dan juga banyak telah dibudidayakan di daerah Humbang Hasundutan. Masyarakat setempat Khususnya desa Pandumaan, kecamatan Polung menjadikan pohon ini sebagai sumber penghidupan, seperti si Parhminjon yang memang memilih mengerjakan hingga memanen getah pohon kemenyan untuk dijual untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya.
Masyarakat Pandumaan memiliki kepercayaan terhadap mitos pohon kemenyan. Dalam mitos tersebut dikatakan bahwa pohon yang menjadi penghasil getah kemenyan dulunya adalah seorang wanita cantik Boru Nangniagayang tinggal bersama orang tuanya yang dipaksa menikah dengan orang yang tidak disukainya, kemudian dia melarikan diri kehutan, kemudian dia disana menangis tersedu-sedu dan lama kelamaan berubah menjadi pohon yang menghasilkan getah dan dinamai dengan Haminjon
Sebelum memanen haminjon, parhaminjon terlebih dahulu manige pohon kemenyan. Manige adalah sebuah pekerjaan tradisional yang harus dilakukan secara langsung oleh seorang parhaminjon dengan cara membersihkan batang pohon dan melobanginya dengan panuktuk yaitu alat untuk melobangi pohon sebagai wadah dari getah yang akan keluar. Parhaminjon selalu mengharapkan getah yang akan keluar nantinya cukup banyak dan berkualitas karena tidak jarang pohon kemenyan menghasilkan getah yang jumlahnya sangat sedikit atau bahkan tidak menghasilkan sama sekali. Dengan harapan agar getah yang akan keluar jumlahnya banyak,maka biasanya petani kemenyan akan membujuk pohon tersebut melalui ende (nyanyian) pada saat manige.
Ende yang digunakan parhaminjon untuk proses mengolah batang pohon kemenyan disebut Ende Marhaminjon (nyanyian petani kemenyan) yaitu nyanyian yang berisikan tentang ratapan dan ungkapan hati parhaminjon. Dalam ende marhaminjon tersebut menceritakan kehidupan siparhaminjonyang serba kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga,misalnya memenuhi kebutuhan sandang pangan keluarga dan menyekolahkan anak. Oleh karena itu,maka siparhaminjon berharap agar getah yang keluar nantinya banyak dan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Makna yang terkandungdalamteksEndemarhaminjonmendominasikepada :
a. siparhaminjon yang harus bekerja keras untuk mencari sumber penghidupan b. hidup parhaminjon yang memprihatinkan
c. anak parhaminjon yang kelaparan.
Dari uraian-uraian tentang permasalahan dan pebahasan yang telah dibahas pada bab- bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis mencoba membuat kesimpulan bahwa kepercayaan atau mitos yang berkembang dalam suatu kebudayaan hanya akan menjadi milik kebudayaan iu sendiri. Dalam proses manigeterlihat jelas bahwa apabila sebuah mitos kita analisa dengan logika maka akan timbul pernyataan-pernyataan yang berbanding terbalik. Masyarakat Batak Toba di desa Pandumaan memiliki kepercayaan bahwa dengan marende pada saat manigeakan menghasilkan getah yang lebih banyak.
Saran
Adapun saran penulis adalah sebagai berikut :
Endemarhaminjon ini merupakan nyanyian yang digunakan pada saat mengolah atau mengerjakan pohon kemenyan di masyarakat Batak Toba, penulis menyarankan agar nyanyian seprti ini seharusnya didokumentasikan dengan baik, baiik itu dalam bentuk tertulis (karya ilmiah, skripsi) ataupun media digital (rekaman audio atau video). Sehingga nyanyian tersebut tidak punah, karena sudh ada bentuk dokumentasinya. Selain itu, dokumentasinya
memberikan informasi kepada masyarakat yang ingin mengetahui serta mempelajari Endemarhaminjon ini.
Penulis juga menyarakan agar masyarakat suku Batak Toba selaku pendukung dan pemilik kebudayaan ini dapat meregenerasikan kebudayaan ini kepada keturunannya khususnya endemarhaminjon ini dengan tetap menjalankannyasesuai adat dan istiadat yang terdapat dalam suku Batak Toba. Oleh karena itu penulis menyarankan dan mengharapkan kepada siapa saja yang berminat melanjutkan penelitian iini untuk lebih mendalam lagi, sehingga dapat bermanfaat bagi pengembangan Etnomusikologi dan sebagai dokumentasi data mengenai kebudayaan musikal yang berkaitan dengan Ende marhaminjon.
Keseluruhan saran tersebut berguna supaya memberikan rangsangan moral dan material kepada seniman-seniman dan pemerintahan yang terlibat dalam pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan tradisional Batak Toba secara umum dan khususnya pada Ende marhaminjon ini.
Akhir kata, penulis mengharapkan semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi yang positif terhadap apresiasi budaya dan pengetahuan terhadap ilmu pengetahuan secara Khusus dalam bidang Etnomusikologi. Adapun saran tambahan penulis adalah sebagai berikut :
1. Dengan membaca skripsi ini, kita dapat menyadari pentingnya menghargai nilai-nilai kebudayaan yang ada di tengah-tengah masyarakat, agar selalu ada dan tidak punah mengingat budaya adalah sebua identitas yang sangat berharga.
2. Dengan membaca skripsi ini, kita menget
3. Akui kebudayaan kita sendiri, mencintai kebudayaan mengingat deras nya arus globalisasi sesuai perkembangan zaman yang dapat merusak atau mengakibatkan kepunahan terhadap budaya yang kita miliki.
4. Melestarikan kebudayaan yang ada, dan menghargai keberagaman budaya yang masih ada ditengah-tengah kita saat ini.
BAB II
ETNOGRAFI MASYARAKAT BATAK TOBA