• Tidak ada hasil yang ditemukan

2008 2009 2010 2011 2012 1 Jumlah Izin Trayek Antar Kota Antar

Dalam dokumen RPJMD 2013-2018 RPJMD 2013 2018 (Halaman 117-123)

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2008 2009 2010 2011 2012 1 Jumlah Izin Trayek Antar Kota Antar

Provinsi/AKAP (trayek) 840 840 840 902 902

2 Jumlah Izin Trayek Antar Kota

Dalam Provinsi/AKDP (trayek) 367 367 367 367 367

3 Angkutan wisata (kendaraan) 952 1.502 1.791 2.095 2.249

4 Jumlah bus (unit) 11.536 10.174 10.174 10.174 10.490

5 Mobil Penumpang Umum (unit) 397.667 397.667 397.667 397.667 397.667

6 Jumlah terminal bis Tipe A 15 16 16 16 17

Sumber : Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah, 2012

Untuk jaringan jalan kewenangan provinsi kondisinya telah 100% terlayani dengan angkutan umum AKDP sepanjang 2.353,921 km terbagi dalam 260 trayek dan angkutan perdesaan sepanjang 211,70 km.

Guna mendukung keselamatan lalu lintas, maka dilakukan pemasangan fasilitas perlengkapan jalan di Jawa Tengah, yang terdiri antara lain rambu lalu lintas, Rambu Pendahulu Penunjuk Jalan (RPPJ),

Alat Penunjuk Isyarat Lalu Lintas (APILL), guardrail, dan marka jalan. Perkembangan pemasangan fasilitas perlengkapan jalan selama kurun waktu Tahun 2008-2012 dapat dilihat pada Tabel 2.85.

Tabel 2.85.

Perkembangan Pemasangan Fasilitas Perlengkapan Jalan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 - 2012

No Uraian Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 1 Rambu Jalan 243 564 878 2.502 1.902 2 RPPJ 40 - 12 65 101 3 APILL 1 - - - - 4 Guardrail 360 - 464 824 904 5 Marka Jalan - - 23.200 61.785 52.815

Sumber : Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah, 2012

Jawa Tengah memiliki 140 stasiun Kereta Api. Jumlah penumpang yang menggunakan Kereta Api sebagai sarana transportasi mengalami peningkatan selama 4 tahun terakhir. Tahun 2008 jumlah penumpang sebanyak 7.889.666 orang meningkat sebesar 22,38% menjadi 9.655.794 orang pada Tahun 2012. Untuk jumlah barang terangkut Kereta Api cenderung fluktuatif yaitu pada Tahun 2008 sebanyak 1.882.028 ton turun menjadi 1.562.214 ton pada Tahun 2012. Perkembangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.86.

Tabel 2.86.

Perkembangan Pelayanan Perkeretaapian di Provinsi Jawa Tengah

Tahun 2008 – 2012 No Uraian Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 1 Jumlah penumpang (orang) 7.889.666 8.957.670 9.376.298 7.586.582 9.655.794 2 Jumlah barang terangkut (ton) 1.882.028 1.748.849 1.796.157 448.788 1.562.214 3 Jumlah stasiun KA 140 140 140 140 140 4 Jumlah Perlintasan KA di Jalan Provinsi - 1.427 1.506 1.570 1.614

Sumber : Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah, 2013

Jawa Tengah memiliki 2 buah kapal yang digunakan sebagai sarana angkutan sungai dan penyeberangan yaitu KM Muria dengan rute Jepara- Karimunjawa dan KMC Kartini I dengan rute Semarang-Karimunjawa. Jumlah penumpang KM Muria mengalami peningkatan yang signifikan selama 3 tahun terakhir (Tahun 2010 - 2012) mencapai 151%. Tahun 2010 jumlah penumpang KM Muria sebanyak 16.350 orang, dan Tahun 2012 mencapai 65.886 orang. Sementara KMC Kartini I Tahun 2010 sebanyak 15.977 orang, dan Tahun 2012 menjadi 13.227 orang. Perkembangan jumlah penumpang angkutan sungai danau dan penyeberangan selengkap- nya dapat dilihat pada Tabel 2.87.

Tabel 2.87.

Perkembangan Pelayanan ASDP di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 - 2012 No Uraian Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 1 Jumlah penumpang KM. Muria (orang) 20.851 8.720 16.350 65.925 65.886 2 Jumlah penumpang KMC. Kartini I (orang) 10.521 13.259 15.977 13.102 13.227

Sumber : Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah, 2012

b. Perhubungan Laut

Perhubungan laut Jawa Tengah, didukung dengan 9 Pelabuhan Laut termasuk Pelabuhan Utama Tanjung Emas Semarang yang saat ini dalam pengembangan dan modernisasi pelayanan serta telah dilengkapi dengan fasilitas gudang/lapangan penumpukan peti kemas seluas 352.384 m2,

Crane sampai dengan 40 ton untuk pelayanan bongkar muat barang dan

peti kemas, dan 10 dermaga/tambatan dengan kedalaman sampai dengan minus 10 m; KMC Kartini I untuk melayani lintas Semarang–Jepara– Karimunjawa, serta KMP Muria dan KMP Express Bahari untuk melayani lintas Jepara–Karimunjawa. Perkembangan pelayanan angkutan laut selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.88.

Tabel 2.88.

Perkembangan Pelayanan Angkutan Laut di Provinsi Jawa Tengah

Tahun 2008 – 2012 No Uraian Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 1 Jumlah pelabuhan 9 9 9 9 9 2 Pelabuhan Tanjung Emas a. Kunjungan kapal (call) 3.994 3.914 2.221 1.919 1.703 b. GRT (GT) 17.253.846 17.453.846 12.556.730 14.739.666 12.538.366 c. Kargo (ton) 5.868.383 7.487.270 7.863.850 11.593.685 5.841.235 d. Kontainer (Teus) 373.644 356.451 384.522 313.480 269.044 e. Penumpang (orang) 403.569 392.606 449.645 318.527 238.525 3 Pelabuhan Tanjung Intan a. Kunjungan kapal (call) 1.723 2.140 1.249 309 448 b. GRT (GT) 18.083.880 21.153.538 21.882.020 2.519.752 3.669.263 c. Kargo (ton) 6.601.033 37.511.612 23.895.627 1.949.073 5.568.781

Sumber : Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah, 2012

c. Perhubungan Udara

Perhubungan udara, didukung dengan 4 (empat) bandar udara (Bandara), termasuk 2 Bandara yang dalam tahap pengembangan yaitu Bandara pengumpul skala sekunder internasional, Bandara Ahmad Yani Semarang dengan rencana kapasitas penumpang 4.000.000 penumpang, landasan pacu sepanjang 2.680 m, kapasitas appron untuk 2 (dua)

pesawat sejenis B 767 dan 8 (delapan) pesawat sejenis B 737, serta pengembangan Bandara Karimunjawa Jepara yang merupakan bandara pengumpul dengan run way sepanjang 1.200 m.

Perkembangan pelayanan perhubungan udara dapat diketahui dengan jumlah penumpang dan barang yang dapat terangkut setiap tahunnya. Dari dua bandara besar di Jawa Tengah yaitu Bandara Ahmad Yani dan Bandara Adi Soemarmo, diketahui bahwa perkembangan jumlah penumpang dan barang yang terangkut cenderung fluktuatif, baik penumpang domestik maupun internasional. Perkembangan jumlah penumpang dan barang yang terangkut di Bandara Ahmad Yani dan Adi Soemarmo selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.89.

Tabel 2.89.

Perkembangan Pelayanan Perhubungan Udara

di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 – 2012

No Uraian Tahun

2008 2009 2010 2011 2012

1 Jumlah bandara - 4 4 4 4

2 Bandara Ahmad Yani a. Penumpang domestik (orang) 1.370.012 1.627.706 1.954.901 2.400.686 2.888.087 b. Penumpang internasional (orang) 37.994 23.278 38.603 32.256 114.673 c. Barang domestik (kg) 18.226.293 7.944.179 23.862.533 25.062.038 11.037.345 d. Barang internasional (kg) 555.968 1.645.400 1.641.079 1.680.832 598.392 3 Bandara Adi Soemarmo

a. Penumpang domestik (orang) 516.403 574.453 780.852 970.615 1.200.787 b. Penumpang internasional (orang) 137.764 111.957 119.694 115.522 48.961 c. Barang domestik (kg) 6.044.690 1.995.359 2.542.982 3.349.969 4.128.433 d. Barang internasional (kg) 2.020.733 24.786 75.311 150.723 358.495

Sumber : Dishubkominfo Provinsi Jawa Tengah, 2012

8. Lingkungan Hidup

Kualitas lingkungan hidup di Jawa Tengah dapat ditunjukkan dengan penerapan dan pencapaian target SPM Bidang Lingkungan Hidup, yaitu informasi status mutu air, jumlah pengaduan dugaan pencemaran/kerusakan lingkungan yang ditindaklanjuti, pemantauan dan pencemaran terhadap kualitas air, udara ambien, dan pengaduan kasus lingkungan hidup.

Kondisi kualitas air sungai di Jawa Tengah saat ini sudah mengalami penurunan kualitas air yang berakibat pada percemaran air. Hal ini ditunjukkan dengan adanya beberapa parameter kunci yang melebihi baku mutu antara lain

Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total

Suspended Solid (TSS) dan Fosphat.

Kondisi kualitas udara ambien di Jawa Tengah, berdasarkan pengukuran di 35 kabupaten/kota, dengan titik sampel pada 3 (tiga) lokasi pengukuran yakni Kawasan Perumahan, Kawasan Industri dan Kawasan Padat Lalu Lintas, menunjukan bahwa nilai Total Partikel Debu (TSP) melebihi batas ambang baku

mutu, sementara nilai SO2, NO2 dan CO masih di bawah baku mutu udara

ambien.

Pada Tahun 2012, jumlah kasus lingkungan yang terjadi sebanyak 43 kasus dan semuanya dapat ditangani 100%, terdiri dari 29 kasus diberi sanksi administratif dan 14 kasus diselesaikan melalui mediasi. Secara rinci perkem- bangan kinerja pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup berdasarkan SPM dapat dilihat pada Tabel 2.90.

Tabel 2.90.

Kinerja Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 - 2012

No Indikator Target SPM (2013) 2008 2009 2010 2011 2012 1 Informasi status mutu air

(SPM) sungai

100 - 2 3 4 6

2 Informasi status mutu udara ambien (SPM) kab/kota

100 - 25 35 35 35

3 Jumlah pengaduan akibat dugaan pencemaran/ kerusakan lingkungan yang ditindaklanjuti (SPM) %

100 - 100 100 100 100

Sumber : Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, 2012

Dalam rangka pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan, pemerintah provinsi juga melakukan penilaian dokumen AMDAL usaha/ kegiatan. Dalam kurun waktu 2008 - 2012 telah dilaksanakan penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL Provinsi sebanyak 41dokumen AMDAL usaha/kegiatan, dengan rincian pada Tahun 2008 sebanyak 8 dokumen, Tahun 2009 tidak ada, Tahun 2010 sebanyak 3 dokumen, Tahun 2011 sebanyak 15 dokumen, dan Tahun 2012 sebanyak 15 dokumen AMDAL usaha/kegiatan.

Terkait dengan fenomena perubahan iklim yang diakibatkan oleh emisi Gas Rumah Kaca (GRK), menunjukkan bahwa emisi GRK yang dihasilkan di wilayah Jawa Tengah sebesar 29,42 juta ton CO2e pada Tahun 2008, kemudian

meningkat menjadi 39,89 juta ton CO2e. Peningkatan ini selain disebabkan

konsumsi energi yang meningkat, juga disebabkan cakupan sumber emisi yang diperhitungkan. Sumber emisi GRK berasal dari sektor energi mencapai 16,80 juta ton CO2e, transportasi 10,45 juta ton CO2e, proses industri 1,40 juta ton

CO2e, kehutanan 0,18 juta ton CO2e, pertanian 6,40 juta ton CO2e dan

pengelolaan limbah 4,67 juta ton CO2e.

Masalah utama dalam pengendalian emisi GRK di Jawa Tengah, adalah: a. Proses industri yaitu industri-industri yang menghasilkan emisi adalah

semen, kaca, peleburan logam, dan karbonasi;

b. Kehutanan dan pengembangan wilayah yang terkait dengan tingginya konversi hutan ke lahan lainnya, yang mengakibatkan menurunkan potensi serapan karbon;

c. Pertanian dengan sumber utama emisi berasal dari pemakaian pupuk urea, sistem penanaman padi dengan air menggenang, pembakaran seresah pasca panen, dan pengelolaan limbah peternakan;

d. Pengelolaan limbah yang belum mengadopsi teknologi yang tepat seperti

sanitary land fill untuk TPA dan pengomposan, serta sistem sanitasi yang

menggunakan sistem cubluk;

e. Energi, terkait dengan penggunaan energi yang masih bertumpu pada energi fosil yang potensinya semakin lama semakin berkurang dan rentan terhadap kenaikan harga, serta penggunaan energi yang kurang efisien pada bangunan/gedung dan industri;

f. Transportasi, berkaitan dengan pola pemanfaatan ruang di Jawa Tengah yang menyebar sehingga membutuhkan transportasi yang intensif.

9. Pertanahan

Pelayanan umum kepada masyarakat di urusan pertanahan, bertujuan untuk mempertahankan kelestarian lahan dan lingkungan. Beberapa hal yang dilakukan antara lain dengan memberikan insentif kepada masyarakat dalam rangka mempertahankan lahan pertanian, serta memberikan sertifikat tanah masyarakat yang berada di kawasan lindung dan Lahan Pangan Pertanian Berkelanjutan (LP2B).

Kinerja persertifikatan bidang tanah di Jawa Tengah dapat ditunjukkan dari data jumlah bidang tanah di Jawa Tengah sejumlah 21.212.403 bidang seluas 3.254.248 ha. Dari jumlah tersebut, sebanyak 9.929.926 bidang seluas 1.394.192,79 ha telah terdaftar/bersertifikat, sedangkan sebanyak 11.282.477 bidang seluas 1.860.055,57 ha belum terdaftar/bersertifikat. Saat ini kesadaran masyarakat semakin tinggi dalam pensertifikatan tanah. Berkaitan dengan penanganan konflik-konflik pertanahan, tercatat sebanyak 372 kasus pengaduan pertanahan yang masuk, dan telah diselesaikan permasalahannya sebanyak 355 kasus (BPN, data sampai dengan Oktober 2013).

Dalam upaya meningkatkan keberdayaan masyarakat, salah satunya dilakukan dengan memberikan stimulan berupa sertifikasi tanah bagi masyarakat, sekaligus dalam upaya mendukung ketahanan pangan dan mempertahankan fungsi lahan/kawasan lindung, lokasi ditentukan di kawasan lahan sawah dan kawasan lindung.

Selanjutnya, dalam upaya mempertahankan tanah kas desa sebagai lahan pertanian, selama Tahun 2008-2012 telah dilakukan penggantian tanah kas desa yang telah beralih fungsi untuk kepentingan pembangunan. Penggantian tanah kas desa untuk pertanian harus tetap memperhatikan kesuburan tanah sebagai lahan pertanian yang sekaligus mendukung upaya mempertahankan sektor pertanian.

Sementara untuk meningkatkan partisipasi dan keberdayaan masyarakat dalam mendukung penetapan kawasan lindung dan lahan pertanian berkelanjutan, telah dilakukan stimulasi pembuatan sertifikat bagi masyarakat di kawasan tersebut. Status kepemilikan dan penggunaan tanah tersebut selain dimaksudkan untuk mempertahankan keberadaan fungsi kawasan juga digunakan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap lahannya.

Perkembangan pelayanan urusan pertanahan di Jawa Tengah selama Tahun 2008–2012, dapat dilihat pada Tabel 2.91.

Tabel 2.91.

Perkembangan Pelayanan Urusan Pertanahan di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008 - 2012

No Uraian Tahun Ket

2008 2009 2010 2011 2012

Dalam dokumen RPJMD 2013-2018 RPJMD 2013 2018 (Halaman 117-123)