• Tidak ada hasil yang ditemukan

M. JUNUS POHAN: Saudara Ketua, oleh sebab itu Pimpinan menerima berbagai-bagai perhitungan, dan pokok jang mungkin berbeda-beda, saja dalam hal ini ingin mengemukakan satu facet lagi sebagai perhitungan harga pokok, jaitu bahwa organisasi perusahaan, modern ataupun se-derhana, mempengaruhi penetapan tarip bus jang sama. Oleh sebab itu saja ingin mengemukakan pertimbangan, jaitu satu facet dari perusahaan bahwa pada satu ketika perusahaan, seperti autobus, djika diperbesarkan, mungkin ongkos exploitatie relatip mendjadi ketjil. Djadi ini berarti djika perusahaan itu diperluas, maka relatif ongkos-ongkos exploitatie bertambah ketjil sampai pada satu limit jang tertentu. Djadi dalam hal ini tentu sadja tidak dapat kita memperluas perusahaan itu ongelimit-teerd untuk mentjapai ongkos-ongkos jang enteng. Dalam hal ini kami kemukakan, bahwa rentjana jang kami berikan kepada Djawatan itu adalah berdasarkan 5 buah perusahaan. Djadi saja tidak heran, umpamanja nanti satu perusahaan jang besar jang memadjukan, mungkin ongkos itu mendjadi tambah besar. Dan djuga sebaliknja djika ada pengusaha jang ketjil, mungkin djuga itu tarif mendjadi agak tinggi. Djadi facet inilah jang ingin saja sumbangkan pada Depernas jaitu facet dari structuur organi-sasi, apakah ini satu organisasi jang sebagaimana dikehendaki Pemerintah jaitu komplot, apakah seperti jang dimaksudkan kepada itu tadi, satu organisasi seperti di Djambi. Terima kasih, Saudara Ketua.

KETUA : Pertanjaan selandjutnja jang tidak tersimpul disini, jaitu mengenai assemblasi sepeda. Masih ada bahan-bahan ?

DRS. ZAKARIA RAIB : Jang ada tjuma merupakan keterangan jang singkat sadja, jang nanti bisa kami adjukan setjara tertulis sampai dengan nama perusahaan, sampai dengan alamat-alamat dan mateinding -nja, jaitu jang terhitung artinja jang berdasarkan peraturan jang ber-laku pada Djawatan, ada 16 perusahaan assembling speda dengan kemam-puan produksi kapasitetit untuk setahun 300.000 buah jang sampai saat sekarang devisen jang disediakan untuk mereka bekerdja 100%, karena Djawatan menganggap fungsi sepeda ini djuga mempunjai economisch leven itu. Di dalam rangka untuk mengusahakan penghematan devizen as-sembling sepeda ini memasukan apa jang belum bisa dibuat di Indonesia. Dan jang sudah dibuat di Indonesia tidak boleh dimasukkan, seperti pem-buatan sadel, pempem-buatan bagasi belakang, kettingkasten, jang dari ka-ret, bel. Itu jang sudah bisa dibuat di Indonesia.

Dan langkah kedua, jaitu didalam rangka usaha Pemerintah men-dirikan hoogover dan staalplan itu djuga berusaha kedjurusan

pipa-pipa-Umumnja ini didatangkan dari Djepang dan kesulitan jang dihadapi ialah banjaknja perusahaan-perusahaan jang menjediakan sepeda tidak ada peridjinan, karena untuk mendirikan satu assembling, itu sangat sederhana. Bengkelpun bisa membuat assembling sepeda, tetapi terhadap soal ini Djawatan tidak mengambil suatu tindak-an jtindak-ang keras, karena mengingat kepada economische functie-nja dan buruh, selama mereka berdjalan dengan tidak mengganggu de-vizen negara.

Dan hal-hal jang lainnja jang sedikit mengatjau, didalam assembling sepeda ini ialah penggunaan merk-merk sebetulnja ti-dak boleh mereka pergunakan jang bersifat pemalsuan daripada merk-merk jang ada. Mengenai menggunakan etiket palsu itupun sudah ada usaha dari polisi ekonomi. Spreding dari tiap-tiap daerah, mengingat pada fungsinja itu, sebagian besar berada di Djawa.

KETUA : Djadi jang 16 perusahaan-perusahaan assembling itu jang dengan resmi ditetapkan, luar daripada usaha-usaha ber-bagai bengkel jang djuga melakukan pekerdjaan-pekerdjaan assem-bling-assembling.

DRS. ZAKARIA RAIB : Tetapi ini tempoh-tempoh mengganggu karena tidak dengan idjin. Jang mendapat idjin sudah mendapat suatu djumlah devizen jang tertentu. Jang tidak dapat itu se-ring mempergunakan setjara tehnis sadja, tidak dapat dipertang-gung-djawabkan dipergunakan pipa-piha waterleiding.

Oleh sebab itu terhadap itu djuga sering diadakan pengawasan.

Dalam soal ini saja rasa massief daripada metal itu berlainan, sehingga banjak terdjadi ketjelakaan dalam mempergunakan pipa waterleiding ini.

KETUA : Terima kasih, kita landjutkan kepada pertanjaan ge-lombang kedua. Kalau tadi saja tindjau keadaan sekarang, maka sekarang kita menindjau hal-hal untuk memperbaiki keadaan se-karang itu. Pertanjaan pertama, jaitu jang ada hubungannja de-ngan pertanjaan tadi, mengenai daja angkutan dair tiap bus dan truck, riilnja sekarang ini dan procentage daripada djumlah bus dan truck jang berdjalan. Ditanjakan ialah kalau segala sesuatu dalam keadaan baik, djadi dalam keadaan optimum, berapa sebe-narnja daja angkut jagn bisa ditjapai baik mengenai procentage daripada alat-alat angkutan jang berdjalan maupun mengenai daja angkut daripada tiap alat angkutan itu sendiri.

SISWOSOEMARTO : Sesungguhnja kalau segala rintangan sudah tidak ada, maka efisiensi jang setinggi-tingginja bisa ditjapai.

Untuk luar kota, bus 100 prosen kali djumlah tempat duduk kali 300 km kali 300 hari. Untuk dalam kota 100 prosen kali djumlah tempat duduk kali 200 km kali 300 hari. 320 km untuk luar kota itu jang dimaksud bahwa keluar kota supir kita paling banter hanja 8 djam didjalan sehari @ 40 km djadi 320 km. Kalau itu bisa ditjukupi itu sudah suatu efisiensi jang paling tinggi, dan angka 300 seperti ta-di dalam kalkulasi sudah kami utarakan, 1 bus praktis bekerdja tjuma 25 km kali 12 djadi 300 km.

Adapun dalam 1 tahun ada sisa 60 hari, jang 60 hari ini diisi dengan bus tjadangan, oleh karena kami adakan bus 120 prosen, jaitu 300 hari dengan bus jang djalan dan 60 hari dengan bus tjadangan.

KETUA : Djadi 20 prosen tjadangan itu adalah mutlak, djuga da-lam keadaan jang sebaik-baiknja.

OEY TJENG SAN :Sebelum perang saja mempunjai 60 bus, sekarang tjuma 7 jang djalan, dari 7 ini 2 tjadangan.

KETUA : Pertanjaan jang kedua, ialah bagaimana saran-saran untuk mentjapai keadaan jang optimum.

ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, djawabannja pendek sadja, jaitu dihilangkannja semua perintang jang disebut tadi.

KETUA : Ada lagi ?

SISWOSOEMARTO : Saudara Pimpinan, saja terpaksa menjambung Pak Abdoelwahab dan untuk menjambung pak Inkiriwang jang tadi jakni soal spareparts, diantaranja untuk pemakaian jang efficient jang setinggi-tingginja, diantaranja distribusi spareparts band dan chasis baru hendaknja disalurkan dengan jang tidak seperti sekarang ini.

KETUA : Itu adalah pertanjaan nomor 4 jang chusus mengenai spareparts. Baiklah itu dimasukkan kedalam djawaban nomor 4 sadja.

SISWOSOEMARTO: Karena salah satu penghambat adalah soal parts, djadi untuk menghilangkan penghambat itu jaitu masalah spare-parts saja masukkan disini, sekalipun itu belum atjaranja, Sau-dara Pimpinan. Inilah maksudnja. Tetapi kalau ini sebaiknja nanti, ja nanti sadja.

Jang lain Saudara Pimpinan, jang mungkin bisa dimasukkan disini, dalam atjara ini ialah peridjinan trajek supaja agak diper-mudah. Umpamanja kita ambil tjontoh Saudara dari Perusahaan Bis BETUL tadi mempunjai bus banjak, itu tadi jang lalu didjadikan tjadangan, karena idjinnja tidak mungkin. Tetapi sekarang bagi pengu-saha jang tidak dilarang oleh Hukum Negara tetapi memppunjai bus tetapi peridjinan trajeknja tidak dipermudah. Itu djuga salah satu penghambat.

Penghambat jang lain Saudara Pimpinan, jaitu soal klas dja-lan. Perentjanaan klas djalan jang berlaku sampai sekarang hanja disandarkan atas sjarat-sjarat teknik seluruh djalan semata-mata, sedangkan sjarat-sjarat teknik sekarang ini kurang, bahkan kalau boleh saja katakan tidak direkening houden, sehingga seperti tadi Pak Wahab katakan, satu trajek Bandung Djakarta via Purwakarta kalau sampai Pulau Gadung, semua penumpang harus berhenti. Karena Pulau Gadung masuk Djatinegara klasnja lain daripada Pulau Gadung ke Purwakarta. Itu tidak mungkin karena mereka sudah membajar dari Bandung-Djakarta, lantas sampai ke Pulau Gadung harus turun. Inilah penentuan klas jang mendjadi soal, djadi bukan apa-apanja. Oleh karena itu baiknja supaja dikawinkan sjarat-sjarat teknik pengang-kutan dan sjarat-sjarat teknik pembuatan djalan.

KETUA: Apa pengaruh daripada klas djalan kepada pengangkutan. Djadi tadi di Pulau Gadung turunnja penumpang itu bagaimana ?

ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Karena untuk djalan jang klasnja tinggi, jang boleh diangkut oleh suatu bus atau truck lebih banjak daripada untuk djalan jang klasnja lebih rendah.

Djadi umpamanja kalau untuk djalan kelas II itu satu bus dapat memuat 35 orang, kalau untuk djalan kelas III bus jang sama itu hanja boleh mengangkut 27 orang, jang ditentukan untuk djalan itu sudah ditentukan dalam klasifikasi djalan.

KETUA : Dari Djakarta-Bandung : Perhitungan itu sampai Bogor, penumpang dikurangi, karena lebih tinggi klas djalan, diperboleh-kan lebih banjak penumpang, dan lebih rendah kelas djalan, penumpang harus berkurang.

D.A.M.R.I. apakah mempunjai dispensasi ?

Dan djuga satu factor jang sering dilupakan jang menghambat lantjarnja transport, jaitu kurangnja dispensasi dan factor lain dalam hal ini djuga tugas daripada polisi lalu lintas : disiplin kurang keras dipegang. Dan apakah mungkin dalam kendaraan ini disisipkan unsur keinsafan, diadakan pendidikan mental, sebab karena kurangnja disiplin, kendaraan bermotor itu djuga mengganggu djalan. Apalagi pada hari-hari jang banjak digunakan dan kalau di-lihat dari pengalaman di Luar Negeri, karena djalannja ekonomi berdjalan baik, untuk perdjalanan duga ada djam-djam tertentu jang hanja boleh dipergunakan oleh matjam kendaraan jang tertentu, djadi umpamanja pada hari libur truck tidak boleh berdjalan; apakah ini tidak bisa ditoepassen, tidak bisa diberikan disiplin, djadi truck dan bus dianggap kendaraan jang lebih besar memuat daripada jang lain.

Apalagi psychologisch, karena kurangnja disiplin, sering djiwa ma-nusia diabaikan.

DRS. ZAKARIA RAIB : Menurut disiplin membawa barang, Walau-pun peraturan itu mengganggu djalannja perekonomian, tetapi ku-rang pada tempatnja, kendaraan bermotor itu dibiarkan sadja.

Djakarta kalau waktu pagi, lepas daripada apakah bus atau truck, tetapi ini soal verkeersdicipline sadja, kalau sudah ada sa-tu mobil jang mogok didjalan antara Kebajoran, saja kira dalam satu djam tidak akan sampai dari Kebajoran sampai di Harmoni, ja-itu karena orang mempunjai mobil tidak memikirkan, kalau mogok, lebih baiknja disingkirkan supaja djangan mengganggu djalan.

Djadi kekurangan disiplin.

KETUA : Kepada Saudara Wahab satu pertanjaan lagi mengenai djalan-djalan raja. Tadi dikemukakan bahwa salah satu penghambat ia-lah pertama, ada kendaraan-kendaraan jang ditarik dengan tenaga manusia atau bianatang jang djuga memakai djalan raja jang diper-gunakan untuk snelverkeer dan terlalu sempitnja djalan-djalan sekarang. Ini mengenai jang pertama,

Untuk memperbaiki ini kira-kira saran jang difikirkan bagai-mana. Djalan tersendiri dari sepeda, gerobak dan sebagainja.

Dan jang nomor dua, djalan terlalu sempit, kadang-kadang djalan itu hanja dua ban. Sekarang ini mengingat pertumbuhan daripada ang-kutan didjalan raja, kira-kira bagaimana lebar jang dikehendaki oleh pemakai daripada djalan-djalan itu.

ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Saudara Ketua, mengenai langzaamverkeer jang djuga menggunakan djalan raja, maka sebaiknja kalau diadakan djalan tersendiri untuk langzaamverkeer itu. Tetapi disamping itu sesudahnja diadakan djalan itu, verkeersdicipline seperti disarankan oleh Saudara Zakaria itu harus difikirkan keppa-da masyarakat. Dalam hal ini sukeppa-dah akeppa-da angan-angan, tetapi belum merupakan rentjana jang kongkrit dari fihak polisi lalu-lintas dan kami jang bersama-sama akan memikirkan satu operasi mengenai verkeers-dicipline ini. Mungkin dengan menghidupkan kembali suatu organisasi jang antar lain djuga diikuti oleh palang merah, jaitu barisan lalu-lin-tas jang dibeberapa tempat djuga masih hidup. Saja rasa djuga disini ma-sih ada, di Bandung. Kalau ini diteruskan dan didapat bantuan dju-ga dari fihak P.P. dan K. barangkali dapat diharapkan perbaikan.

Mengenai berapa lebarnja djalan jang dikehendaki saja minta maaf tidak dapat mengatakan begitu sadja disini-hanja saja dapat kemukakan bahwa sebenarnja keadaan disini itu adalah terbalik ja-itu pengangkutan dipaksa tunduk pada keadaan kendaraan dan kendaraan dipaksa tunduk pada keadaan djalan, sehingga sering-sering dulu ka-mi mendapat kesukaran-kesukaran mengenai lebarnja, truck dan bus dengan susah pajah kemudian dapat ditetapkan sampai 2 ½ meter. Ini sampai lama sekali dipertahankan sampai 2,25 meter. Setebulnja sudah tidak sesuai lagi, bahkan 2 ½ meter djuga sudah tidak sesuai dengan keadaan truck dan bus jang sekarang ini dan kami didalam hal ukuran mobil ini sangat tergantung kepada norm jang ditetapkan oleh pa-brik, oleh karena kami memesan jang istimewa small, itu meng-hendaki harga jang lain. Sajang sekali saja tidak dapat menjatakan dengan tegas berapa memang jang dikehendaki.

KETUA : Sekarang ini ditetapkan bahwa lebar djalan itu 2,5 meter, dan kalau menurut pemikiran daripada pemakai angkutan, sebaik-nja berapa lebar djalan itu.

ABDOELWAHAB DJOJOHADIKOESOEMO: Lebarnja djalan adalah dari lebarnja kendaraan dengan memperhitungkan kelonggaran untuk paaseren dan terutama untuk inhalen.

M. JUNUS POHAN : Sebenarnja dalam teknik pembikinan djalan kita sudah ketinggalan terhadap kemadjuan-kemadjuan teknik kenda-raan bermotor, sudah tidak begitu international standard,

karena masih dalam keadaan lama.

KETUA : Bisa ditjarikan keterangan mengenai standard interna-sional dari baan ini, mestinja berapa ?

WAN INGKIRIWANG : Menurut pengetahuan saja, kalau djalan kelas III tidak boleh lebih dari 2,25 meter.

KETUA : Jang dimaksud ssekarang ialah untuk mentjapai supaja kendaraan tidak dipaksa oleh keadaan djalan. Djadi djalam mesti menjesuaikan diri dengan pertimbangan teknik daripada angkutan dan djuga dengan keperluan daripada mereka jang memakai angkutan itu. Kalau dulu ketjepatannja rendah, sekarang ini pada umumnja I-ngin lebih tjepat. Ini djuga membawa perubahan daripada lebarnja baan itu, lebih tjepat lebih lebar, sungguhpun keadaannja sama. Disamping itu sekarang ini kendaraannja sendiri sudah berubah.

SISWOSOEMARTO : Saudara Ketua, kalau tudjuan djalan itu hanja untuk eenrichting verkeer biasanja 120 prosen dari lebarnja kenda-raan jang terbesar, tetapi kalau itu untuk bukan eenrichting ver-keer biasanja 225 prosen dari kendaraan jang terbesar jang diperke-nankan pada djalan itu. Djadi kalau kita bersimpangan djalan masih ada tjukup ruangan.

KETUA : Angka tadi itu diambil dari perhitungan bagaimana ?

SISWOSOEMARTO : Kalau umpamanja satu bus itu lebarnja 2,30 kali 125% masih ada speling untuk sepeda atau orang-orang djalan kaki sehingga tidak terganggu oleh djalan ini. Ini kalau untuk eenrich-ting verkeer tetapi kalau bukan untuk tudjuan eenricheenrich-ting verkeer djalannja, baiknja 225% dari lebar kendaraan jang terbesar jang di-perkenankan memakai djalan itu.

Ini minimum.

KETUA : Djadi lebarnja satu baan dan mengingat tjaranja djalan raja itu dipakai dalam keadaan di Indonesia itu, berapa baan sua-tu djalan jang dipakai unsua-tuk 2 richting.

Ada berapa djalan jang bisa dipakai dua baan. Misalnja dari Bandung ke Tjiandjur, itu hanja 2 baan, sehingga tidak bisa menju-suli kalau tidak vrij sama sekali.

Apakah ini menurut sjarat-sjarat pengangkutan sekarang masih bisa dipakai ataukah tidak, mengingat bahwa berbagai matjam ken-daraan memakai djalan raja itu. Truck, kenken-daraan mobil lainnja jang lebih tjepat djuga memakai itu pula. Itu berapa baan misal-nja minimum harus disediakan oleh Djawatan djalan-djalan untuk angkutan motor ini.

Pertanjaan jang ketiga tadi sudah disinggung oleh Saudara Zakaria jaitu taksiran alat-alat bermotir, bus dan truck jang dibutuhkan untuk mentjukupi kebutuhan tahun 1961 sampai tahun 1966.

Tadi telah sedikit banak disinggung kami setiap tahun 4000 untuk replacement, 4000 tambahan.

DRS. ZAKARIA RAIB : Menurut perkiraan kami setiap tahun 4000 untuk replacement, 4000 tambahan.

KETUA : 4.000 untuk replacement, 4.000 untuk tambahan. Tapi perhitungan 4.000 untuk replacement dan 4.000 untuk tambahan ini bagaimana ?

DRS. ZAKARIA RAIB : 4.000 replacement adalah untuk motor jang sudah berumur 10 tahun.

Djadi mengingat kendaraan sekarang jang ada berumur 10 tahun, kira-kira 50% dari daja angkut itu meliputi djumlah daja angkut 105 ribu ton. Djadi kira-kira 50.000 ton jang harus diganti dalam djangka waktu 5 tahun. djadi berarti kria-kira 10.000 ton daja angkutan tiap tahun jang harus diganti penggantiannja berdasarkan truck umum, truck bus jang sekarang diperhitungkan adalah dari 2 ½ ton, 3 ½ ton dan pick up dari ½ ton, bus umum dari 1 ½, 2, 2 ½ ton 1 dan 1 ½ ton dan bus bukan umum, itu tidap tahun meliputi kira-kira untuk mengganti jang 10.000 ton ini, merupakan kira-2 4.000 kendaraan.

Dan dilihat dari perentjanaan luasnja djalan, umpamanja di Ka-limantan, mungkin kalau dapat terlaksana dengan bantuan I.C.A., maka tambahan perlu ada djuga kira-kira sama dengan 4.000 kendaraan. Djadi untuk tiap tahun mengingat pada kapasiteit daripada assembling mobil di Indonesia, bisa mentjapai 8 a 10.000 untuk dikerdjakan.

KETUA : Djadi kira-kira tambah berapa % ?

ZAKARIA RAIB : Dua puluh persen dari de bestaande kendaraan tiap tahun, karena djika jang 50% dalam 5 tahun sudah diganti, ber-arti jang 50% lagi sudah mendjadi tua. Djadi harus diusahakan djuga karena jang 50% itu umur kebanjakan djuga 5 tahun. djadi itu harus djuga diganti sesudah lima tahun dan di-aanvullen dengan jang baru, 20% tiap tahun. djadi kira-2 40%, itu jang ideal.

KETUA : Djadi memerlukan tambahan 20% tiap-tiap tahun, kalau dalam praktek disini, di Djawa Barat, itu keperluan akan pengangkutan dalam pembagian, djelas berkurang, akan tetapi menurut perasaan berapa % kurangnja ? Ditambah sekian % tjukup ?

Ini ahli-ahli daripada angkutan jang bisa mendjawab.

WANG INGKIRIWANG : Kira-kira 30 – 40%. Sekarang kebanjakan tidak djalan, kalau mereka djalan sebetulnja kita tidak keku-rangan angkutannja. Sebab banjak diantara kita ini tidak mempunjai, onderdeel.

KETUA : Djadi daripada jang djalan sekarang ini, memerlukan tambahan 30-40%, itu kira-kira mendjadi tjukup memenuhi perasaan kebutuhan masarakat ? Dan jang berdjalan adalah 80% daripada djum-lah jang tersedia ?

Biaja sekarang.

DRS. ZAKARIA RAIB : Harga truck atau bus dalam C.i.f. 85.000 jaitu berarti dalam 20% harus disediakan 850 djuga devizen satu ta-hun. Sedangkan tahun 1960 disediakan djauh lebih kruang dari tahun 1959. tahun 1959 kalau saja tidak salah jang disediakan 800 djuta. Memang tahun 1959 spareparts sangat kurang, 10% dari 800 djuta.

KETUA : Bisa bahan-bahan ini disampaikan ? DRS. ZAKARIA RAIB : Bisa.

KETUA : Saja sarankan untuk malam ini mendjawab pertanjaan jang paling achir, oleh karena Saudara Siswosoemarto tadi sudah mau mendjelaskan.

Pertanjaan keempat, jatu tentang pengaturan, penjebaran onderdeel dan lain-lain jang lebih memuaskan, bagaimana tjaranja.

SISWOSOEMARTO : Saudara Pimpinan, ini satu idée kesulitan spareparts itu disebabkan pertama tersedianja devizen tidak me-muaskan. Lantas kedua kalinja djalannja distribusi djuga tidak memuaskan. Soal tersedianja devizen diadjukan oleh keuangan negara. Djadi kami tidak berkompetent untuk menganggu-gugat hal itu. Hanja jang dapat kami kemukakan disini, jaitu sistem dari penja-luran. Apa jang terdjadi sekarang, penjaluran itu melalui tiga ting-katan, jaitu importir, dealer atau toko, dan jang terakhir adalah konsumen, jakni perusahaan-perusahaan angkutan. Dan hendaknja dengan sistim ekonomi terpimpin sekarang dealer dan toko itu dihapuskan tetapi diganti Bank Pengangkutan. Djadi importir djangan meminta uang kepada dealer sekarang, karena dealer sudah tidak ada, hendak-nja importir mengambil kredit dari Bank Pengangkutan, lantas di-bajarkan kepada pabrik luar-negeri jang akan melever itu. Nanti dimana barang sudah berangkat dari pelabuhan negara pendjual, importir skarang mulai memungut uang pembajaran dari kandidat-kandidat pembeli, jakni para perusahaan angkutan. Hasil daripada uang itu sudah tentu sadja dihitung harganja, ditentukan setjara kira-kira lebih dahulu, hasil dari uang itu oleh importir disetor kembali kepada Bank Pengangkutan sebagai membajar hutangnja importir pa-da waktu tadi.

Sekarang bagaimana perusahaan angkutan bisa financieren itu ? Perusahaan sekarang pada waktu akan membajar kepada importir memin-djam uang kepada Bank Pengangkutan. Sudah tentu dengan bunga. Nah, jang itulah jang dibajar kepada importir. Adapun membajarnja nan-ti dari uang pendapatan jang diperoleh senan-tiap hari oleh perusahaan-perusahaan angkutan. Dengan demikian dengan hilangnja dua tussen-instellig, jaitu dealer dan toko, maka harganja importartikelen i-tu tidak terlalu banjak meningkatnja. Paling tjuma ditambah rente plus komisi importir sadja.

Lantas ketjuali itu djalannja distribusi biasa lebih tjepat dari importir langsung kepada konsumen, jakni para perusahaan-peru-sahaan angkutan. Lebih safe lagi kalau importir itu berbentuk badan Pemerintah jang berstatus perusahaan, tetapi djangan terikat dengan istilah harus biasa zelfbedruipen. Sebab kalau badan Pemerintah ber-sifat perusahaan, tetapi diikat oleh istilah zelfbedruipen, maka importir itu terpaksa nanti menjeleweng karena ditekan harus dapat menutup ongkos sendiri. Atas dasar ini menurut pendapat kami, penja-luran onderdeel bisa sampai kepada sipemakai dengan baik, dengan pe-ngertian bahwa penjaluran itu betul-betul ditudjukan hanja kepada perusahaan-perusahaan angkutan, perusahaan-perusahaan bengkel bermotor dan kepada pemilik-pemilik kendaraan prive. Djadi djangan diserahkan kepada orang jang datang karena mempunjai uang sadja, sebab kalau de-ngan demikian maka nanti datangnja onderdeel itu tidak bisa sampai kepada tangan jang memerlukannja.

Dokumen terkait