• Tidak ada hasil yang ditemukan

K AIDAH P ELAKSANAAN

Dalam dokumen 2 DOKUMEN RPB ACEH (Halaman 71-79)

dihilangkan. Mitigasi bencana dilaksanakan dengan membangun zona penghalang antara potensi bencana dengan faktor risiko yang ada. Mitigasi dapat berupa struktural yaitu dengan memperkuat bangunan dan insfrastruktur yang berpotensi terkena bencana seperti membuat kode bangunan, desain rekayasa dan lain-lain, maupun dengan melakukan mitigasi non struktural dengan meningkatkan pemahaman akan besarnya potensi bencana, menjaga kepekaan dan kesiapsiagaan agar melakukan tindakan akurat sebelum atau ketika bencana.

2. Kesiapsiagaan Bencana

Kesiapsiagaan merupakan kebijakan yang perlu diambil bila upaya pencegahan dan mitigasi belum dirasa optimal. Kunci keberhasilan kesiapsiagaan adalah keberhasilan proses evakuasi masyarakat yang didukung oleh sistem pendeteksian ancaman dan sistem peringatan dini. Kolaborasi antara kultur dan teknologi (struktur) sangat penting dalam mewujudkan system kesiapsiagaan yang efektif.

Untuk menjamin capaian dari kebijakan ini, maka program difokuskan pada pemabanguan sistem peringatan dini bencana di zona prioritas penanggulangan bencana Aceh, peningkatan kapasitas evakuasi masyarakat, pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasarana kesiapsiagaan bencana, gladi dan simulasi peringatan dini dan evakuasi masyarakat

3. Penanganan Bencana

Penanganan Bencana merupakan kebijakan yang perlu diambil saat masa krisis, masa darurat dan masa pemulihan dilaksanakan. Penanganan bencana dilaksanakan untuk menyelamatkan korban bencana sekaligus melakukan normalisasi secepatnya kehidupan dan perikehidupan korban bencana.

Untuk menjamin capaian dari kebijakan ini, maka program difokuskan kepada tanggap darurat bencana serta rehabilitasi dan rekonstruksi.

perundang-b. Biro Organisasi, menata tugas pokok dan fungsi kelembagaan penanggulangan bencana

c. Biro Administrasi Pembangunan, mencatat sarana dan prasarana penanggulangan bencana.

d. Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat, melakukan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan rakyat di daerah rawan bencana.

2. Dinas Syariat Islam Aceh, menguatkan, mengawasi, dan mengintegrasikan nilai-nilai Keislaman ke dalam upaya penanggulangan bencana

3. Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Disnakermobduk) Aceh, merencanakan pengerahan dan pemindahan korban bencana ke daerah yang aman bencana.

4. Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, merencanakan pencegahan, penyuluhan, kesiapsiagaan, pelayanan kesehatan dan rehabilitasi sarana dan prasarana kesehatan termasuk obat-obatan, logistik kesehatan, dan tenaga medis/paramedis.

5. Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh, merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana geologi dan bencana akibat ulah manusia yang terkait dengan bencana geologi.

6. Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Aceh, merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana tsunami dan abrasi pantai.

7. Dinas Sosial (Dinsos) Aceh, merencanakan dan melaksanakan penyediaan kebutuhan logistik (pangan, sandang, dan kebutuhan dasar lainnya) untuk korban bencana.

8. Dinas Pengelolaan Kekayaan dan Keuangan Aceh (DPKKA), melakukan penyiapan anggaran kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada masa pra, saat dan pasca bencana.

9. Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh, merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah rawan bencana dan pemulihan sarana-prasarana pendidikan, serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana.

10. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, mendorong tumbuhnya penyadaran publik dan budaya sadar bencana melalui kegiatan di bidang kebudayaan dan pariwisata.

11. Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Telematika (Dishubkomintel) Aceh, merencanakan dan melaksanakan dukungan kebutuhan transportasi, komunikasi, dan informasi.

12. Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Aceh, merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi khususnya kebakaran hutan/lahan.

13. Dinas Pengairan Aceh, melaksanakan dan mengendalikan pembangunan di bidang pengairan terkait dengan pengurangan resiko dan tindakan penanggulangan bencana.

14. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (Dinas BMCK) Aceh, merencanakan,

sarana/prasarana publik, dan pengadaan fasilitas darurat serta mengkoordinasikan pengadaan perumahan untuk warga yang menjadi korban bencana serta melaksanakan pembangunan infrastruktur sesuai dengan rencana tata ruang daerah yang peka terhadap risiko bencana.

15. Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop dan UKM) Aceh, menyelenggarakan program-program usaha kecil dan kegiatan ekonomi produktif bagi warga masyarakat miskin di daerah-daerah pasca bencana untuk mempercepat pemulihan.

16. Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh, menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan organisasi dan aktifitas kepemudaan terkait dalam upaya penanggulangan bencana.

17. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh, merencanakan dan mengendalikan upaya mitigasi di bidang bencana kekeringan dan bencana lain terkait bidang pertanian.

18. Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan (Dinkeswan) Aceh, memberikan penyuluhan dan pemetaan serta penanggulangan penyakit hewan dan ternak.

19. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh, mendukung perencanaan, pengawasan, dan evaluasi program-program pembangunan yang peka risiko bencana bersama dengan dinas-dinas terkait.

20. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Aceh, memfasilitasi pembauran dalam rangka perwujudan kesatuan bangsa, politik dan perlindungan masyarakat dalam upaya mitigasi dan penanganan bencana

21. Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh, menyelenggarakan pengelolaan dan pelestarian di bidang kearsipan, dokumentasi, dan perpustakaan kebencanaan.

22. Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) Aceh, merencanakan, mendukung, dan mengendalikan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat di daerah rawan bencana.

23. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh, mengidentifikasi kebutuhan dan melindungi kelompok rentan.

24. Badan Investasi dan Promosi Aceh (Bainprom) Aceh, mendorong, mempromosikan, menggalang investasi dan penamaman modal terkait usaha masyarakat di daerah bencana.

25. Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Aceh, merencanakan, memfasilitasi, dan melaksanakan diklat terkait kebencanaan dalam rangka peningkatan kapasitas aparatur daerah.

26. Badan Pengelolaan Dampak Lingkungan (Bapedal) Aceh, melakukan pengawasan dan pengendalian serta penataan hukum lingkungan dalam pencegahan bencana terkait konservasi alam dan lingkungan hidup.

27. Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh, merencanakan, mendukung, dan mengendalikan penyediaan bahan pangan dan gizi kepada masyarakat dalam upaya penanggulangan bencana

28. Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Aceh, merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena

bencana dan pemulihan sarana-prasarana pendidikan, serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana.

29. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (BP2TSP) Aceh, melakukan pemangkasan birokrasi, menata dan mengendalikan perizinan terkait usaha dan industri.

30. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mengkoordinir, melaksanakan sekaligus bertanggung jawab terhadap pelaksanaan seluruh upaya penanggulangan bencana di Aceh.

31. Kantor Penghubung Pemerintah Aceh, penghubung pemerintah Aceh atau SKPA terkait dengan pemerintah (kementerian terkait), medukung kelancaran hubungan dan kerjasama antara Aceh dengan pemerintah pusat, provinsi lain, perwakilan negara lain dan lembaga lain terkait di Jakarta dan sekitarnya.

32. Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Aceh, Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, dan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aceh, berperan membantu pelayanan kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana, dan memberikan pelayanan kesehatan dasar dan lanjutan.

33. Inspektorat Aceh, mengawasi akuntabilitas pelaksanaan pembangunan fasilitas penanggulanan bencana.

34. Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah, memelihara dan menyelenggarakan ketertiban umum dan penegakan peraturan daerah terkait kegiatan penanggulangan bencana.

35. Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, menguatkan dan mengintegrasikan nilai-nilai Keislaman ke dalam upaya penanggulangan bencana.

36. Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) dan MAA, menguatkan dan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam upaya penanggulangan bencana.

37. Sekretariat Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh, mendukung penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah rawan bencana dan mendukung koordinasi pendidikan sadar bencana.

38. Baitul Maal Aceh, mengelola zakat, infaq, sadagah dan harta agama serta harta korban bencana untuk tujuan kemaslahatan ummat berdasarkan Syariat Islam.

b . I n s t a n s i V e r t i k a l d i W i l a y a h A c e h

1. Tentara Nasional Indonesia (Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara), membantu dalam kegiatan kesiapsiagaan, pencarian dan penyelamatan (SAR) dan mendukung pengkoordinasian upaya saat terjadi bencana.

2. Kepolisian Daerah Aceh, membantu dalam kegiatan SAR dan pengamanan saat darurat termasuk mengamankan lokasi yang ditinggalkan karena penghuninya mengungsi.

3. Kantor Badan Search and Rescue (SAR) Aceh, mendukung dalam mengkoordinasikan dan menyelenggarakan kegiatan pencarian dan penyelamatan

4. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), membantu dalam bidang pemantauan potensi bencana yang terkait dengan meteorologi, klimatologi dan geofisika.

5. Kantor Wilayah Kementerian Agama, merencanakan dan mengendalikan penyelenggaraan pendidikan darurat untuk daerah-daerah terkena bencana dan pemulihan sarana-prasarana pendidikan, serta mengkoordinasikan pendidikan sadar bencana.

6. Balai Wilayah Sungai Sumatera I (BWS SI), melaksanakan pengelolaan sumber daya air (SDA) yang meliputi perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan dalam rangka konservasi SDA.

7. Instansi-instansi pemerintah lainnya di Wilayah Aceh antara lain : Balai Pegelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Badan Pusat Statistik (BPS), Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Monitoring Pantau Penggunaan Frekwensi (Balmont), ESDM-Pos pengamat Gunung Api (PGA).

4 . 4 . 2 D a e r a h

Lingkup daerah kebijakan penanggulangan bencana Aceh adalah seluruh Wilayah Aceh.

Dengan keterbatasan kewenangan provinsi sebagai pemerintahan administratif, maka perlu diberikan batasan tambahan untuk dapat melakukan pendekatan langsung ke daerah yang amat membutuhkan. Penambahan batasan ini disusun dalam mekanisme Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Aceh.

Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Aceh merupakan strategi teknis yang ditujukan untuk memberikan daerah fokus Pemerintah Aceh dalam melakukan intervensi di wilayah kabupaten/kota untuk menghasilkan pencapaian yang berarti dalam 5 tahun masa perencanaan. Selain itu, penyusunan zona prioritas ini juga diharapkan dapat menjamin efektivitas anggaran penanggulangan bencana yang terbatas di Pemerintah Aceh.

Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Aceh disusun untuk 4 bencana yang akan menjadi tanggung jawab intervensi dari provinsi. Bencana tersebut adalah :

1. Gempa bumi 2. Tsunami 3. Banjir 4. Gunungapi

Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Aceh disusun berdasarkan beberapa kriteria, yaitu:

1. Keterpaparan bencana memapar lebih dari 1 kabupaten/kota dalam 1 kali kejadian.

2. Tingkat risiko minimal dari bencana pada point (1) tersebut di atas berada pada Tingkat Risiko Sedang berdasarkan Peta Risiko Bencana Aceh yang diterbitkan oleh TDMRC dan beberapa perubahannya.

3. Beberapa kondisi khusus, yaitu:

a. Membagi Aceh dalam 4 zona, yaitu Zona Barat, Zona Utara, Zona Timur dan Zona Kepulauan.

b. Mempertimbangkan 10 kecamatan pada 10 kabupaten/kota daerah program Pemerintah Aceh dan UNDP-DRRA tentang Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas.

Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Provinsi terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Zona Prioritas Penanggulangan Bencana Aceh

ZONA PRIORITAS

PENANGGULANGAN BENCANA KABUPATEN/KOTA KECAMATAN

1. BENCANA TSUNAMI 1. NAGAN RAYA 1. DARUL MAKMUR

2. ACEH BARAT DAYA 2. SUSOH

3. LEMBAH SABIL 3. ACEH SELATAN 4. LABUHAN HAJI BARAT 2. TSUNAMI KEPULAUAN 1. SINGKIL 1. PULO BANYAK

2. SIMEULUE 2. TEUPAH SELATAN

3. BANJIR 1. ACEH TIMUR 1. BIREM BAYEUN

2. LANGSA 2. LANGSA LAMA

3. LANGSA TIMUR 4. LANGSA KOTA

3. ACEH TAMIANG 5. TENGGULUN

6. MANYAK PAYED 4. GEMPA BUMI 1. KOTA BANDA ACEH 1. JAYA BARU

2. BANDA RAYA 3. MEURAXA 4. SYIAH KUALA 5. ULEE KARENG 6. LUNG BATA 2. ACEH BESAR 7. KRUENG BARANA

8. DARUSSALAM 9. BAITUSSALAM

5. GUNUNGAPI 1. BENER MERIAH 1. WIH PESAM

2. TIMANG GAJAH 3. BUKIT

2. ACEH TENGAH 4. BEBESAN

5. KUTE PANANG 6. KABAYAKAN 7. KETOL 8. SILIHNARA Sumber : Hasil Konsultasi Publik

Seluruh pendekatan yang dilaksanakan oleh pemerintah provinsi dalam penanggulangan bencana di Zona Prioritas Penanggulangan Bencana dapat dikatakan sebagai kegiatan percontohan. Sebagai kegiatan percontohan, diharapkan tidak hanya dapat menekan tingkat risiko bencana prioritas saat ini, namun juga dapat dijadikan sebagai tolak ukur bagi daerah kabupaten/kota lain baik di dalam maupun di luar provinsi dalam tingkat ketahanan daerah dalam penanggulangan bencana.

4 . 4 . 3 A d v o k a s i

Advokasi kebijakan penanggulangan bencana dibagi dalam 3 fase, yaitu : 1. Fase Sebelum Penyusunan RPJMA

2. Fase Saat Penyusunan RPJMA 3. Fase Saat Implementasi RPJMA

Untuk fase sebelum penyusunan RPJMA, upaya penjaminan difokuskan kepada memberdayakan Forum PRB-A untuk melaksanakan advokasi kepada calon gubernur.

Advokasi diarahkan kepada mengintegrasikan program penanggulangan bencana dalam visi dan misi calon gubernur. Untuk lebih jelasnya upaya ini dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rencana Advokasi RPB-A Fase Sebelum Penyusunan RPJMA

Kegiatan Penanggung Jawab Output

1. Audiensi Tim RPB dengan Forum PRB Aceh terkait RPB Aceh

Tim Penyusun RPB Aceh 1. Komitmen Forum PRB Aceh untuk melaksanakan advokasi RPB Aceh 2. Rencana Aksi Advokasi Forum PRB

Aceh tentang RPB Aceh

2. Melaksanakan advokasi kebijakan terkait PB dalam RPJMA kepada kandidat calon Gubernur Aceh

Forum PRB Aceh 3. Penanggulangan Bencana menjadi salah satu misi, arah kebijakan atau agenda prioritas dalam RPJMA

3. Melaksanakan sinkronisasi antara visi misi kepala daerah terpilih dengan RPJMA

Bappeda Aceh, BPBA

4. Pencetakan dan sosialisasi Dokumen RPB-A kepada kepala SKPA

BPBA 4. 250 Eksemplar

Untuk Fase Saat Penyusunan RPJMA, upaya difokuskan kepada intervensi Tim Penyusun RPB Aceh dalam proses penyusunan yang dilaksanakan oleh Bappeda Aceh. Intervensi ini tetap dengan memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rencana Advokasi RPB Aceh Fase Saat Penyusunan RPJMA

Kegiatan Penanggung Jawab Output

1. Memasukkan anggota Tim Penyusun RPB Aceh menjadi anggota Tim Penyusun RPJMA

BAPPEDA 1. Salah satu anggota Tim Penyusun RPB Aceh menjadi anggota Tim Penyusun RPJMA

2. Advokasi RPB Aceh dalam

Konsultasi Publik dan Musrembang RPJMA

Tim Penyusun RPB Aceh

2. Disuarakan kembali RPB Aceh dalam Konsultasi Publik

3. Intervensi Tim Kecil Penyusun RPJMA oleh Tim RPB Aceh saat penyusunan RPJMA

Tim Penyusun RPB Aceh

3. Disuarakan kembali RPB Aceh dalam proses penyusunan di Tim Kecil Penyusun RPJMA

4. Penyusunan position letter untuk menitipkan RPB Aceh dalam RPJMA

Tim Penyusun RPB Aceh

4. Position Letter

Sedangkan upaya yang akan diterapkan pada Fase Setelah Penyusunan RPJMA difokuskan kepada upaya mengatasi benturan kepentingan di DPRA serta monitoring intensif dari

pelaksanaan RPB Aceh oleh institusi terkait penanggulangan bencana di Aceh. Mekanisme tersebut dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rencana Advokasi RPB Aceh pada Fase Setelah Penyusunan RPJMA

Kegiatan Penanggung Jawab Output

1. Advokasi Penerapan RPB Aceh kepada masyarakat dan pemerintahan daerah di Zona Prioritas PB Aceh

(diidentifikasi kemudian)

1. Kontrak politik kepada anggota DPRA yang memiliki dapil di Zona Prioritas PB Aceh

2. Rapat Kerja Tahun Tim Penyusun RPB Aceh untuk memonitoring, mengevaluasi serta mendorong program-program SKPA untuk melaksanakan RPB Aceh.

Tim RPB Aceh 2. Laporan monitoring keberhasilan, kendala dan pembelajaran serta rekomendasi pelaksanaan RPB Aceh pada institusi PB di Aceh

3. Melaksanakan pengalihan upaya promosi prioritas PB yang tidak mampu ditangani oleh APBA kepada lembaga donor

(diidentifikasi kemudian)

3. Tersedianya anggaran bagi program yang tidak memiliki

Dengan rencana advokasi ini diharapkan mampu menjamin keterselenggaraan kebijakan penanggulangan bencana dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan dalam mewujudkan Visi Penanggulangan Bencana Aceh.

Fokus, Program dan Kegiatan Penanggulangan Bencana

Kebijakan penanggulangan bencana Aceh menjadi dasar pilihan tindakan yang dapat diambil oleh pemangku kepentingan untuk mengurangi risiko bencana yang terjadi di Aceh.

Ada 13 fokus penanggulangan bencana Aceh yang didasarkan atas kajian risiko, tingkat ketahanan Aceh berdasarkan indikator Kerangka Aksi Hyogo, pembelajaran dari daerah lain dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan diperoleh.

Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Aceh juga harus disinkronisasi dengan Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. Sinkronisasi ini berguna untuk melihat ketercapaian program nasional dan juga mempermudah Aceh mendapatkan akses bantuan dalam pelaksanaan program yang telah menjadi kebijakan nasional.

Sinkronisasi perencanaan pusat dan provinsi dalam penanggulangan bencana diperoleh melalui 5 strategi utama penanggulangan bencana, yaitu :

1. Penguatan peraturan perundangan dan kapasitas kelembagaan;

2. Perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu;

3. Penelitian, pendidikan dan pelatihan;

4. Peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat dan para pemangku kepentingan lainnya dalam pengurangan risiko bencana.

5. Perlindungan masyarakat dari bencana

Strategi ini menjadi kerangka dasar dalam penyusunan program penanggulangan bencana yang diterjemahkan sebagai fokus penanggulangan bencana di Aceh.

Dalam dokumen 2 DOKUMEN RPB ACEH (Halaman 71-79)

Dokumen terkait