• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III IMPLEMENTASI RENCANA TINDAK

C. Kabupaten Karangasem

Kabupaten Karangasem yang terbentang di belahan timur Pulau Bali, adalah sebuah daerah yang cukup kaya dengan warisan seni pertunjukan. Karangasem adalah daerah yang hingga kini masih banyak mewarisi kesenian-kesenian upacara. Berdasarkan hasil Pemetaaan Kesenian dan Budaya Bali tahun 2015, yang diadakan oleh Listibiya Provinsi Bali, tercatat Karangasem memiliki 923 buah kesenian. Dalam jumlah ini tercakup 156 buah kesenian yang tergolong wali, 392 buah kesenian bebali, dan 364 buah kesenian balih-balihan (PPKD Bali,2018).

Di Kabupaten Karangasem hingga kini masih terpelihara dengan baik berbagai jenis tari rejang yang disakralkan oleh warga masyarakat setempat. Selain disakralkan, rejang-rejang ini juga menunjukkan ciri khas kedaerahannya, yang dapat dilihat, salah satunya, dari tata busana penarinya.

Di kalangan masyarakat Bali, Karangasem sering dijuluki sebagai “bumi cakepung” karena daerah ini adalah satu-satunya di Bali yang memiliki kesenian rakyat, seni vokal bertutur, yang disebut dengan cakepung.

Gamelan Selonding yang ada di Desa Tenganan, Bongaya, dan sekitarnya, merupakan seni karawitan khas daerah Karangasem yang tidak dimiliki oleh daerah lainnya di Bali. Kedua kesenian ini hingga sekarang masih tetap disakralkan oleh masyarakat Karangasem.

Di Karangasem juga berkembang kesenian-kesenian klasik seperti tari legong, dramatari topeng, dramatari gambuh, dan dramatari arja. Legong Puri Karangasem, dengan kunjungannya ke Keraton Surakarta, pada tahun 1927, adalah yang memberi nama “legong keraton” terhadap tari-tarian legong yang ada di Bali. Dramatari gambuh dan topeng yang berkembang di daerah ini banyak mendapat pengaruh Gianyar sebagai akibat terjadinya interaksi yang kuat antara para seniman/seniwati Gianyar (Batuan dan Saba) di masa lampau.

Sejauh ini, upaya-upaya pelestarian kebudayaan, khususnya tari tradisi Bali, telah dilakukan di Kabupaten Karangasem, dalam hal ini oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Karangasem. Salah satu tugas besar yang sedang dijalankan oleh Disbud Karangasem adalah melakukan rekonstruksi terhadap sejumlah tari tradisi yang mulai pudar bahkan yang terancam hilang. Kegiatan rekonstruksi ini diawali dari tahap penelitian, yaitu menggali kembali bentuk-bentuk tari tersebut untuk menemukan makna yang terkandung di dalamnya yang kemudian pada tahap selanjutnya menyusun kembali model tari tradisi dengan tidak menghilangkan pakem-pakem asli yang terdapat dalam setiap tari tradisi tersebut. Beberapa tari tradisi yang sudah direkonstruksi, di antaranya Dramatari Wayang Wong tahun 2017, Dramatari Gambuh tahun 2018, dan Tari Rejang Lilit tahun 2019 ini.

Informasi mengenai rencana tindak sejauh ini belum diterima oleh pihak Disbud selaku salah satu pemangku kepentingan di daerah, sehingga Disbud tidak secara spesifik memberikan perhatian kepada Tari Sanghyang Dedari. Seperti diketahui, dalam pendaftaran tiga genre tari tradisi Bali dalam Daftar ICH UNESCO, Kabupaten Karangasem diberikan amanah untuk mengembangkan dan melestarikan Tari Sanghyang Dedari.

Gambar 3.7. Para Penari Sanghyang sedang mengalami kerauhan/ trans Sumber: Dokumentasi Penelitian 2019

Gambar 3.6. Tari tradisi Bali dipentaskan di sebuah Hotel di Karangasem Sumber: Dokumentasi Penelitian 2019

Walaupun demikian, saat ini pihak Disbud tengah melakukan penelitian terhadap Tari Sanghyang Dedari, kaitannya dengan program rekonstruksi tari-tari yang mulai langka di Kabupaten Karangasem. Di Kabupaten Karangasem sendiri, ada tiga jenis varian Tari Sanghyang, yaitu: (1) Sanghyang Dedari; (2) Sanghyang Bojo; dan (3) Sanghyang Jaran. Disbud Karangasem juga memberikan apresiasi kepada seniman-seniman yang ada di Kabupaten Karangasem berupa penghargaan-penghargaan berdasarkan kategori-kategori, antara lain: (1) Praketya Racana Madya; (2) Praketya Racana Utama; (3) Praketya Racana Paripurna; dan (4) Praketya Racana Praja.

Terkait dengan kegiatan ekstrakurikuler di satuan pendidikan, hampir semua sekolah di Kabupaten Karangasem telah memasukkan tari tradisi Bali ke dalam kegiatan ekstrakurikuler mereka. Tari Genjet merupakan salah satu tari tradisi yang paling banyak dimasukkan dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah. Sementara itu, untuk materi mata pelajaran sudah masuk dalam pelajaran Seni Budaya. Pada intinya, hampir semua tari tradisi Bali telah diajarkan dan dikembangkan di sekolah-sekolah, sedangkan untuk Tari Sanghyang sejauh ini masih mengalami kendala untuk dimasukkan ke sekolah-sekolah karena berkaitan dengan upacara ritual adat.

Di samping itu, pelatihan-pelatihan yang selama ini telah dilakukan di antaranya adalah memberikan pelatihan-pelatihan langsung kepada para penari di desa-desa. Pelatihan yang pernah dilaksanakan, misalnya memberikan pelatihan Dramatari Wayang Wong di sejumlah desa bekerjasama dengan ISI Denpasar. Dalam rangka pelestarian kesenian tari tradisi Bali, pemerintah daerah, khususnya Dinas Kebudayaan juga menyelenggarakan beragam festival seni, terutama dalam rangka menyambut momen-momen tertentu. Misalnya, bulan Juli setiap tahunnya diselenggarakan festival seni sekaligus menyambut ulang tahun Kabupaten Karangasem. Di samping itu, Kabupaten Karangasem juga setiap tahunnya mengirim wakil untuk mengikuti Pesta Kesenian Bali (PKB) di Art Centre, Denpasar. Upaya inventarisasi terus dilakukan, terutama yang terkait

membentuk tim ahli cagar budaya. Benda-benda pusaka yang diinventarisasi tersebut, di antaranya yang terkait dengan aktivitas menari, seperti tombak untuk tarian Baris Upacara. Pihak Disbud juga melakukan sosialisasi terkait pelestarian benda-benda pusaka tersebut.

Perkembangan tari tradisi Bali di desa-desa di Kabupaten Karangasem masih terus berjalan, namun tingkat frekuensinya di masing-masing desa tersebut berbeda-beda, tergantung dari tokoh-tokoh desa setempat. Salah satu desa yang masih kental dengan adat adalah Desa Adat Geriana Kauh. Di desa adat tersebut, Tari Sanghyang Dedari ditampilkan jika desa mengalami masa paceklik. Penarinya haruslah anak perempuan yang belum dewasa atau belum mengalami siklus menstruasi. Tari Sanghyang ini sendiri merupakan tari wali yang merupakan tari sakral yang tidak semua orang bisa melakukannya. Terlaksananya tari ini jika para penarinya telah mengalami kesurupan (kerawuhan). Gerakan para penari mengikuti suara rapalan mantra para pengiring, yang terdiri dari ibu-ibu. Puncaknya, para penari melakukan gerakan yang tanpa disadari tersebut sampai memanjat batang bambu yang telah disiapkan. Tarian ini merupakan wujud permohonan hasil panen yang baik kepada Dewi Sri. Untuk menarik perhatian para turis datang ke desa adat tersebut, tercetus ide untuk dibuatkan jadwal sesuai dengan pementasan Tari Sanghang Dedari supaya para turis bisa datang di waktu-waktu tersebut. Hal ini menggerakkan ekonomi masyarakat setempat, misalnya usaha parkir, penyewaan pakaian adat, termasuk penginapan atau hotel di sekitar desa tersebut. Di desa adat ini juga, telah didirikan sebiah museum Sanghyang. Museum berisi segala bentuk dokumentassi dari pementasan tari Sanghyang yang berada di kabupaten Karengasem. Pemerintah setempat terus berusaha untuk dapat mengembangkan dan melestarikan museum Sanghyang ini agar dapat dibuka untuk publik.

Selain itu, di komunitas-komunitas atau sanggar-sanggar upaya pewarisan tari tradisi masih terus dilakukan. Anak-anak sekolah, mulai dari SD bahkan sampai perguruan tinggi pun masih ada yang belajar tari tradisi ini.

Semua jenis tari dipelajari, terutama yang kategori bali-balihan karena umumnya mereka juga menampilkan tarian tersebut di hotel-hotel untuk dipersembahkan kepada para tamu atau para turis, baik dalam negeri maupun mancanegara. Untuk tarian sakral tidak sembarangan bisa ditampilkan di ruang-ruang publik seperti itu. Biasanya jika pun ditampilkan telah mengalami kreasi baru karena yang aslinya hanya bisa ditampilkan pada saat upacara-upacara keagamaan di dalam pura.

Dokumen terkait