pada eksistensi olahraga tersebut pada tiap daerah.
Berdasarkan data yang dihimpun dari instansi terkait di Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, jumlah organisasi olahraga pada tahun 2011 organisasi olah raga sekitar 2.297 yang tersebar pada 19 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, sedangkan data pada tahun 2012 sebanyak 1.131 yang tersebar di 9 Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
18.3. Jumlah Kegiatan Kepemudaan
Guna meningkatkan partisipasi dan peran pemuda dalam pembangunan harus didukung oleh ketersediaan anggaran dan sarana- prasarana kepemudaan, penghargaan kepemudaan serta optimalisasi manajemen organisasi kepemudaan dalam rangka penyadaran, pemberdayaan, pengembangan, kepemimpinan, pengembangan kewirausahaan dan pengembangan kepeloporan pemuda, yang keseluruhannya merupakan kegiatan kepemudaan yang dilakukan pemuda dalam mengisi pembangunan.
Berdasarkan data dari Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten/Kota jumlah kegiatan kepemudaan pada tahun 2010 sebanyak 144 kegiatan dan tahun 2011 menjadi 149, sedangkan pada tahun 2012 sebanyak 167 kegiatan. Meskipun kenaikan kegiatan kepemudaan dari tahun 2010 sampai tahun 2012 tidak begitu besar, namun hal ini menunjukkan bahwa melalui kegiatan kepemudaan yang positif, pemuda sudah menunjukkan dukungan dalam proses pembangunan melalui kegiatan yang dilakukannya.
18.4. Lapangan Olahraga
Fasilitas olahraga secara keseluruhan mencakup fasilitas fisik dan fasilitas non fisik. Fasilitas olahraga secara fisik mencakup prasarana dan sarana fisik antara lain berupa stadion, gelanggang dan lapangan olahraga. Sedangkan fasilitas olahraga non fisik mencakup prasarana dan sarana non fisik seperti sasana/perkumpulan olahraga, tenaga pelatih dan guru olahraga.
Perkembangan jumlah fasilitas fisik untuk olahraga berupa lapangan olahraga pada suatu lingkungan masyarakat pada umumnya sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial-ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Berdasarkan data dari Dinas Pemuda dan Olah Raga Kabupaten/Kota jumlah lapangan olah raga pada tahun 2010 sebanyak 2268, pada tahun 2011 sebanyak 3812 meningkat sebanyak 1544
BAB II - 184
sedangkan pada tahun 2012 sebanyak 4660, kenaikannya menurun jika dibandingkan tahun 2010-2011.
19. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, Dan Persandian
Bidang otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan persandian menunjukkan peningkatan. Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk meningkat dari 1,15 tahun 2008 menjadi 1,22 di tahun 2012, sedangkan jumlah linmas per 10.000 penduduk juga mengalami peningkatan dari 68,84 di tahun 2008 menjadi 67,36 di tahun 2012.
19.1. Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk
Polisi Pamong Praja, sejak didirikannya pada tahun 1950 sampai saat ini telah mengemban tugas pelayanan penyelenggaraan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Gambar 2.57
Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja di Jawa Timur Tahun 2009-2012
Sumber : Bakesbangpol Kab/Kota Se Jatim
Catatan : *) Angka Sementara (data dari 34 Kab/Kota)
Berdasarkan data dari Bakesbangpol di 34 Kabupaten/Kota Se Jawa Timur, rasio polisi pamong praja pada tahun 2012 per 10.000 penduduk sebesar 1,24 atau dengan kata lain dalam 100.000 penduduk terdapat sekitar 12 orang Satpol PP yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban umum. Angka rasio ini terlihat sangat kecil bila dibandingkan dengan tugas yang diemban sangatlah berat.
19.2. Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk
Perlindungan Masyarakat (Linmas) seringkali hanya dikaitkan dengan fungsi linmas dalam masyarakat yang lebih dikenal dengan Pertahanan Sipil atau Hansip.
BAB II - 185 Gambar 2.58
Rasio Jumlah Linmas di Jawa TimurTahun 2009-2012
Sumber : Bakesbangpol Kab/Kota Se Jatim
Catatan : *) Angka Sementara (data dari 32 Kab/Kota)
Berkaitan dengan fungsi dalam membantu memelihara keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat maka satlinmas menjadi pendukung utama pihak kepolisian atau malah menjadi garda terdepan dalam tata kehidupan masyarakat secara umum baik di desa maupun di perkotaan.
Data dari Bakesbangpol di 32 Kab/Kota Se Jawa Timur menunjukkan rasio jumlah Linmas per 10.000 penduduk pada tahun 2012 sebesar 77,34. Angka tersebut berarti sekitar 77 orang Linmas bertugas membantu memelihara keamanan, ketentraman dan ketertiban umum untuk 10.000 penduduk dalam suatu wilayah.
19.3. Rasio Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan
Menjaga keamanan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama setiap warga negara. Partisipasi masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan diwujudkan dalam bentuk Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling). Pengertian siskamling secara umum adalah suatu kegiatan atau upaya untuk mencegah gangguan kamtibmas, yang dikembangkan oleh Polri dengan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dan peduli serta meningkatkan kepekaan dan daya tangkal masyarakat terhadap masalah keamanan dan ketertiban di lingkungannya masing-masing.
BAB II - 186
Gambar 2.59
Rasio Pos Siskamling di Jawa Timur Tahun 2009-2012
Sumber : Bakesbangpol Kab/Kota Se Jatim
Catatan : * ) Angka Sementara (data dari 19 Kab/Kota)
Berdasarkan data dari Bakesbangpol di 19 Kabupaten/ Kota Se Jawa Timur, selama 5 tahun terakhir rasio jumlah Pos Siskamling terus menunjukkan peningkatan. Seiiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, semakin banyak pula pemukiman penduduk yang memerlukan pos siskamling untuk menjaga keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Pada tahun 2012 rasio jumlah pos siskamling per jumlah desa adalah sebesar 5,34. Hal ini berarti di setiap desa di Jawa Timur terdapat sekitar 5 Pos Siskamling.
19.4. Penyelenggaraan Ketentraman dan Ketertiban Umum
Program Peningkatan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat bertujuan untuk mewujudkan Jatim kondusif, melalui pemantauan kegiatan orang asing, NGO dan lembaga asing yang ada di Jawa Timur, mengoptimalkan jaringan informasi konflik, dengan meningkatkan peran Kominda dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM).
Provinsi Jawa Timur bertekat mewujudkan Jawa Timur dalam suasana kondusif yang mendukung proses penguatan persatuan dan kesatuan bangsa serta mendorong proses peningkatan pemahaman mengenai hak-hak azasi manusia dan demokrasi dengan upaya membina rasa persatuan dan kesatuan bangsa melalui perwujudan sistem dan iklim kehidupan masyarakat yang demokratis dan berwawasan kebangsaan, serta melalui pembinaan hubungan antar golongan, antar agama, kelompok dan lembaga kemasyarakatan yang ada. Meskipun tidak dipungkiri bahwa masih ada beberapa hal yang perlu dituntaskan agar tidak sampai mengganggu implementasi kebebasan berekspresi, seperti
BAB II - 187