• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kadar Rerata Serum Glutathione Peroxidase (GPx) Pada Blighted Ovum dan Kehamilan Normal

HASIL PENELITIAN

6.2 Kadar Rerata Serum Glutathione Peroxidase (GPx) Pada Blighted Ovum dan Kehamilan Normal

Pada penelitian ini diperoleh rerata kadar serum GPx pada kelompok blighted

ovumsebesar 51,89 (SD 8,51) U/gHb, lebih rendah dari kelompok kehamilan

normalsebesar 94,94 (SD 21,66) U/gHb. Pada kedua kelompok didapatkan perbedaan bermakna secara statistik (p<0,05). Pada penelitian Ozkaya dkk (2008) kadar Gpx pada abortus 113,8 (SD 34,2) IU/I lebih rendah dibandingkan dengan kehamilan normal 119,6 (SD 27,4) IU/I. Desai dkk (2006) melaporkan kadar GPx pada kasus abortus 17,85 (SD 2,6) U/gHb lebih rendah dibandingkan dengan kehamilan normal dengan rerata GPx 20,93 (SD 2,6) U/gHb. Pada penelitian Zachara dkk (2001) kadar rerata GPx pada kelompok abortus 15,3 (SD 2,96) U/gHb juga lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kehamilan normal 18,4 (SD 6,0) U/gHb. Dari beberapa temuan di atas, rerata kadar GPx pada kegagalan awal kehamilan lebih rendah dibandingkan dengan

kehamilan normal. Ini terjadi oleh karena ketidak seimbangan antara stres oksidatif dengan oksidan yang ada.Dan oksidan ini tidak mampu menetralisis, sehingga terjadi kerusakan sel yang berakibat pada terjadinya kegagalan awal kehamilan ini. Pada

blighted ovum sebagian besar disebabkan oleh kelainan kromosom. Apabila

mekanismepertahanan tubuh masih baik, maka terjadi perlindungan embrio terhadap ROS dengan tujuan memberi keseimbangan dan mencegah terjadinya stres oksidatif yang merugikan.Stres oksidatif berperan dalam terjadinya cacat pada perkembangan embrio dan retardasi pertumbuhan embrio yang dikaitkan dengan kerusakan membran sel DNA dan apoptosis.Apoptosis menghasilkan embrio terfragmentasi, yang telah membatasi kemampuan untuk implantasi dan mengakibatkan rendahnya keberhasilan fertilitasasi (Guerin, 2001, Agarwal, 2003).

Stres oksidatif dapat timbul sebagai akibat dari berlebihan produksi ROS dan, atau pertahanan mekanisme antioksidan terganggu.Tinjauan literatur menunjukkan bahwa stres oksidatif memicu berbagai patologi fungsi reproduksi.Pada sistem reproduksi laki-laki, bukti jelas menunjukkan bahwa sperma manusia dapat menghasilkan ROS. Oleh karena itu beberapa spermatozoa akan mengalami kerusakan oksidatif yang dapat menjelaskan cacat fungsi sperma dan dapat diamati dalam proporsi yang tinggi pada pasien infertilitas. Sayangnya, spermatozoa tidak dapat memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh ROS yang berlebihan, karena mereka tidak memiliki sistem enzim sitoplasma diperlukan untuk mencapai perbaikan ini.Ini adalah salah satu kondisi yang membuat spermatozoa dalam kerentanannya terhadap stres oksidatif.Stres oksidatif menyerang fluiditas dari membran plasma sperma dan integritas DNA di dalam inti sperma. Oksigen spesies reaktif yang menyebabkan kerusakan DNA dapat mempercepat proses apoptosis sel, yang mengarah ke penurunan jumlah sperma yang berhubungan dengan infertilitas laki-laki. Spesies oksigen reaktif ditemukan di cairan peritoneum pasien dengan endometriosis dan infertilitas idiopatik, serta pada mereka yang menjalani ligasi tuba.Namun, tingkat ROS pada pasien dengan endometriosis dan kelompok kontrol tidak berbeda nyata, dan juga ditemukan perbedaan tidak signifikan antara pasien dengan infertilitas idiopatik dan kontrol.Oleh karena itu, ROS mungkin memainkan peran dalam pasien dengan infertilitas idiopatik. Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa ROS yang terdapat pada cairan folikel dengan konsentrasi yang rendah, dapat menjadi penanda potensial untuk memprediksi keberhasilan pada pasien

in vitro fertilization (IVF). Ada kecenderungan yang lebih tinggi perkembanganblastokista dengan tingkat rendah ROS dalam cairan hidrosalping.Dengan demikian, rendahnya ROS dapat menjadi penanda fungsi sekretorik yang normal tuba. Singkatnya, kecilnya jumlah fisiologis ROS memainkan peran penting dalam fungsi reproduksi normal, sedangkan tingkat tinggi akan menyebabkan berbagai kondisi patologis yang mempengaruhi fertilisasi manusia. Strategi pengobatan harus diarahkan untuk menurunkan tingkat ROS dalam menjaga jumlahnya sedikit, sehingga dapat diperlukan untuk mempertahankan fungsi sel normal (Agarwal, 2003)

Glutathione peroxidase (GPx) adalah nama umum dari sebuah enzim

denganaktivitas peroksidase dimana peran utama biologisnya adalah melindungi organisme dari kerusakan oksidatif. Fungsi biokimia GPx adalah mengurangi lipid hidroperoksida berhubungan dengan alkohol, dan mengurangi hidrogen peroksida bebas menjadi air (senyawa yang tidak berbahaya).Glutathione peroksidase 1 (GPx1) adalah versi yang paling banyak ditemukan di sitoplasma hampir semua jaringan mamalia, dengan substratnya adalah hidrogen peroksida.Glutathione peroksidase 4 (GPx4) memiliki preferensi tinggi pada lipid hidroperoksida, diekspresikan hampir pada setiap sel mamalia, meskipun pada tingkat kadar yang jauh lebih rendah. Glutahtione

peroksidase

2 adalah enzim usus dan enzim ekstraseluler, sementara glutathione peroksidase 3 adalah ekstraseluler, kadarnya berlimpah dalam plasma.Sejauh ini, terdapat delapan isoform berbeda dari glutation peroksidase yang telah diketahui keberadaannya pada tubuh manusia.Berkaitan dengan fungsi reproduksi, GPx 5 terdapat pada jaringan epididimis, dengan fungsinya melindungi sel dan enzim dari kerusakan oksidatif pada membran lipid sperma.Kemudian varian GPx lainnya adalah GPx 3 yang terdapat pada sel epitel tuba falopii, sehingga kadarnya yang rendah dapat memicu stres oksidatif dan mengganggu transportasi hasil konsepsi menuju endometrium.Embrio dapat tumbuh dan berkembang baik dalam keadaan rendah oksigen terutama masa implantasi.Apabila terjadi peningkatan O2 dapat memicu terbentuknya radikal bebas yang bersifat toksik terhadap embrio terutama sinsitiotropoblas.Normalnya sel tubuh dalam keadaan aerob menghasilkan radikal bebas sebanyak 1-5%.Pada dua pertiga kasus abortus, terdapat bukti anatomis adanya defek pada plasentasi yang memiliki karakteristik lapisan pelindung trofoblas yang lebih tipis maupun berfragmentasi, invasi endometrium oleh

berhubungan dengan tidak adanya perubahan fisiologis pada sebagian besar arteri spiralis dan menyebabkan onset prematus dari sirkulasi maternal pada seluruh plasenta.

Karena ROS memiliki fungsi fisiologis dan patologis, maka tubuh manusia mengembangkan sistem pertahanan untuk memelihara konsentrasinya dalam kadar tertentu. Sistem reproduksi wanita kaya akan antioksidan enzimatik dan non-enzimatik. Katalase, SOD dan GPx adalah antioksidan enzimatik yang mencegah dan menjaga keseimbangan agar ROS tidak sampai merusak molekul selular.Antioksidan non-enzimatik terdapat di folikel dan cairan tuba, yang memberikan perlindungan eksterna pada gamet dan embrio.Antioksidan ini adalah vitamin C, vitamin E, glutathione, taurin hipotaurin. Bilamana terjadi peningkatan konsentrasi ROS patologis dan stres oksidatif (OS) timbul, antioksidan bekerja dengan cara mencegah formasi ROS yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan memperbaikinya (Agarwal, 2004).

BAB 7

Dokumen terkait