BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
C. Hasil Belajar
4. Kaitan Antara EQ dan SQ terhadap Hasil belajar
intelektual dan kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu menyeimbangkan antara ketiga kecerdasan tersebut akan mampu berprestasi tinggi.
Dalam hubungannya dengan pencapaian pembelajaran penguasaan Bahasa Indonesia dimana indikator kecerdasan emosional yaitu kemampuan memotivasi akan memberikan dorongan untuk senantiasa berprestasi, memiliki komitmen,
52 inisiatif dan optimis. Keterampilan sosial memberikan siswa kemampuan untuk membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Siswa yang memiliki kemampuan tersebut akan senantiasa menjalin kerja sama dengan rekan-rekannya untuk memecahkan soal-soal Bahasa Indonesia yang diberikan dan tidak segan-segan bertanya kepada guru manakala ada persoalan yang tidak dapat dipecahkan sendiri. Dengan demikian, kemampuan memotivasi dan keterampilan sosial akan memberikan pengaruh yang positif terhadap Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa.
Kecerdasan spiritual dalam hubungannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia akan memberikan perasaan bahagia dan senang ketika mempelajari Bahasa Indonesia karena seseorang siswa yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dapat menemukan makna positif yang terkandung dalam ilmu Bahasa Indonesia yang terkait terhadap pengalaman dalam kehidupan sehari-hari baik yang berhubungan dengan peraturan alam semesta, kedisiplinan, kejujuran, dan lain-lain.
Demikian pula salah satu indikator kecerdasan spiritual yaitu sabar terhadap kesulitan sangat dibutuhkan dalam mempelajari ilmu Bahasa Indonesia karena ilmu Bahasa Indonesia dipelajari haruslah dengan bertahap yaitu mempelajari konsep B berdasarkan pada konsep A seseorang perlu memahami konsep A terlebih dahulu. Tanpa memahami konsep A, tidak mungkin orang itu memahami konsep B. ini berarti mempelajari Bahasa Indonesia diperlukan kesabaran untuk menguasai pengalaman belajar yang lalu untuk menuju tahap yang berikutnya.
53 Dengan demikian, manakala seorang siswa memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang baik, keduanya akan saling bersinergi dalam mencapai Hasil belajar yang gemilang.
7. Mengukur kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual
Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dapat diukur dengan menggunakan kuisioner yang dikembangkan sesuai dengan konsep tentang kecerdasan tersebut. Untuk mengukur kecerdasan emosional yang dijabarkan dalam kuisioner adalah kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial. Sedangkan untuk mengukur kecerdasan spiritual yang dijabarkan dalam kuisioner adalah iman (prinsip), ikhlas, qona’ah (merasa cukup dan penuh syukur), taubat (mengakui kesalahan), dan sabar terhadap penderitaan D. Hipotesis
1. Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama berpengaruh terhadap Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas XI IPA 1SMA Kartika Wirabuana . Untuk keperluan pengujian statistik, hipotesis penelitian dirumuskan sebagai berikut:
2 , 1 , 0
: i
Hi i
2. Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas XI IPA 1SMA Kartika Wirabuana dengan menganggap pengaruh kecerdasan spiritual tetap. Untuk keperluan pengujian statistik, hipotesis ini dinyatakan dengan
0 : 1
0
H lawan H1:1 0
Keterangan 1 Parameter kecerdasan emosional
54 3. Kecerdasan Spiritual berpengaruh positif terhadap Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas XI IPA 1SMA Kartika Wirabuana dengan menganggap pengaruh kecerdasan emosional tetap. Untuk keperluan pengujian statistik, hipotesis ini dinyatakan dengan
H0:2 0 lawan H1 :2 0
Keterangan 2 Parameter kecerdasan spiritual
55 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian verifikatif yang bersifat korelasional, karena peneliti tidak memberikan perlakuan kepada responden. Peneliti langsung menyelidiki variabel bebas dan efeknya terhadap variabel tak bebas.
B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel
Variabel penelitian ini terdiri atas dua macam yaitu variabel bebas dan variabel tak bebas. Variabel tak bebas yang diselidiki adalah Hasil belajar Bahasa Indonesia yang diberi simbol Y, sedangkan variabel bebasnya terdiri dari dua variabel yaitu kecerdasan emosional diberi simbol X1 dan kecerdasan spiritual diberi simbol X2.
2. Desain Penelitian
Dalam penelitian ini akan diselidiki hubungan antara variabel bebas dan variabel tak bebas. Hubungan antara variabel-variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut
X1
X2
Y
45
56 Keterangan :
Y : Hasil belajar Bahasa Indonesia X1: Kecerdasan emosional
X2 : Kecerdasan spiritual C. Definisi Operasinal
Untuk memudahkan dan memberikan arah yang lebih jelas dalam penelitian ini, maka perlu diberikan definisi operasional dari setiap variabel yang diperhatikan dalam penelitian ini. Definisi operasional variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Hasil belajar Bahasa Indonesia yang dimaksud dalam penelitian ini adalah skor rata-rata yang diperoleh oleh siswa dari tes yang diberikan.
b. Kecerdasan emosional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri dan mengelolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain. Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur kecerdasan emosional yaitu kesadaran diri pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial.
c. Kecerdasan spiritual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sikap hidup yang menjadi pegangan dan kemampuan untuk memberikan makna yang positif terhadap peristiwa atau kejadian yang menimpa kehidupan ini.
Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur kecerdasan spiritual yaitu: iman (prinsip), ikhlas, qona’ah (merasa cukup dan penuh syukur), taubat (mengakui kesalahan), sabar terhadap penderitaan.
57 D. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar tahun pelajaran 2012-2013 sebanyak 3 kelas.
2. Sample Penelitian
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling. Random dilakukan dengan pertimbangan bahwa kelas memiliki karakteristik yang sama (homogen)
E. Instrumen Penelitian
Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan skor dari masing-masing variabel yang diteliti. Ada tiga instrumen yaitu:
1. Tes Hasil belajar Bahasa Indonesia
Data Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes Hasil belajar Bahasa Indonesia. Tes berbentuk piihan ganda.
2. Tes kecerdasan emosional
Kecerdasan emosional siswa dapat diukur dengan menggunakan tes kecerdasan emosional. Tes berbentuk kuisioner yang diadopsi dari Rahma (2001:24). Instrumen kecerdasan emosional memiliki lima pilihan jawaban yaitu:
sangat setuju, setuju, ragu-ragu, kurang setuju, dan sangat tidak setuju. Skor untuk pilihan masing-masing jawaban tergantung pada bentuk pertanyaan, pertanyaan positif skornya adalah sangat setuju = 5, setuju = 4, ragu-ragu = 3, kurang setuju = 2, dan sangat tidak setuju = 1. sedangkan untuk pertanyaan negatif skor
58 sebaliknya; sangat setuju = 1, setuju = 2, ragu-ragu = 3, kurang setuju = 4, dan sangat tidak setuju = 5.
3. Tes kecerdasan spiritual
Kecerdasan spiritual siswa dapat diukur dengan menggunakan tes kecerdasan spiritual. Tes berbentuk kuisioner yang dikembangkan oleh Muh.
Darwis M dalam Natsir (2005). Instrumen kecerdasan spiritual memiliki bentuk yang sama dengan instrumen kecerdasan spiritual.
F. Tekhnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan memberikan instrumen (alat pengumpul data) kepada responden.
Penelitian secara klasikal yaitu diberikan di dalam kelas, sebelum pemberian tes terlebih dahulu peneliti berkonsultasi dengan dosen-dosen pembimbing dan menghubungi guru bidang studi Bahasa Indonesia prosedur pelaksanaan dan jadwal mata pelajaran serta materi yang diajarkan.
Pada saat pengembilan data, diamati langsung oleh peneliti bersama-sama guru bidang studi Bahasa Indonesia dengan demikian responden dapat menanyakan langsung kepada peneliti hal-hal yang kurang jelas sehubungan dengan petunjuk pengisian instrumen yang diberikan.
G. Tekhnik Analisis Data
Data dalam penelitian ini dikelolah dengan menggunakan statistik deskriptif dan inferensial dengan bantuan komputer program minitab dan SPSS.
59 Penggunaan tehnik statistik deskriptif dimaksudkan untuk mendiskripsikan karakteristik responden penelitian untuk keperluan tersebut digunakan tabel distributif frequensi, skor maksimum, rata-rata dan standar deviasi.
Kemudian tehnik statistik yang digunakan adalah analisis regresi linier multiple dengan model:
Komponen kesalahan acak Fungsi taksirannya adalah:
Y Skor Hasil belajar Bahasa Indonesia
X1: Skor kecerdasan emosional
2
X : Skor kecerdasan spiritual
60
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar
a. Sejarah singkat SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar
Lembaga pendidikan Islam SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar didirikan pada tanggal 24 Januari 1969 merupakan yayasan yang dibawa panglima Wirabuana Makassar. Sekolah tersebut berada di Jalan Sungai Tangka Kelurahan Sawerigading Kecamatan Ujungpandang Kota makassar, Propinsi Sulawesi Selatan. Pendirian SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar diawali oleh adanya salah seorang sesepuh masyarakat Makassar Kolonel (Purn) H. Makkatang Daeng Sibali (Alm) mewakafkan tanahnya kurang lebih 1 ha bersama gedung 4 (empat) kelas dan kini telah menjadi sekolah.
SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar ini dibangun sebagai upaya mengantisipasi situasi dan kondisi yang terjadi di tengah masyarakat yang kian hari kian jauh dari nilai kehidupan dan kultur budaya, karena terhalang oleh kehidupan yang materialistis, individualistis, kultur budaya yang serba nisbi, dan pergaulan bebas yang melanda sebagian besar generasi muda. Selain itu.
Pembiayaan pendidikan sangat mahal seingga kehadiran SMA Kartika Wirabuana ini dapat membantu generasi muda
Seiring dengan tujuan pembangunan nasional yaitu terwujudnya manusia Indonesia yang berkualitas, cerdas, beriman, beriptek dan berkhlakul karimah, SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar menggunakan kurikulum Pendidikan Nasaional (Diknas), Departemen Agama (Depag), dan pola pendidikan dua puluh empat jam yang diterapkan pesantren. Kurikulum ini selanjutnya disebut dengan trilogi karena memadukan ketiga kurikulum tersebut dalam pendidikan.
61 SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar, sejak semula telah mengembangkan pengajaran pendidikan dengan pola trilogi untuk mengembangkan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa dengan seimbang. Di sekolah tersebut sistem pendidikan klasikal dan pendidikan merupakan kurikulum yang sama pentingnya, laksana dua sisi mata uang. Sampai saat ini, lulusan sekolah tersebuut banyak yang melanjutkan di berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Selain itu, beberapa alumni juga telah bekerja sesuai dengan bidang yang ia tekuni. Bahkan beberapa alumni yang telah menyelesaikan program S1, kembali mengabdi di sekolah tersebut. SMA Kartika Modern Wirabuana XX-I Makassar bertujuan untuk meningkatkan kualitas putra-putri bangsa guna menjadi generasi yang sanggup menjawab tantangan zaman.
Selama berdirinya sekolah ini sampai sekarang telah beberapa kali mengalami pergantian kepala sekolah yaitu:
1) Prof. Dr Einsenring, menjabat pada tahun 1969-1974 2) Drs. R. M. Yuwono, menjabat pada tahun 1975-2001 3) Drs. Paharuddin, menjabat pada tahun 2001-2006
4) Drs. H. Syamsuddin Palili MM, menjabat pada yahun 2006-2007 5) Drs. Asgar, menjabat pada yahun 2007-2009
6) Drs. Padjemma Husain, menjabat pada yahun 2010-sekarang (arsip SMA Kartika Wirabuana XX-I)
b. Visi dan Misi a. Visi
62 Visi SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar adalah terciptanya generasi umat yang berkualitas pengemban masyarakat madani yang Islami.
b. Misi
Adapun misi SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar adalah:
1) Membentuk manusia Indonesia seutuhnya, sehat jasmani dan rohani, berimtak dan beriptek.
2) Memupuk perpaduan intelektualitas, ibadah, dan aqidah dalam pengajaran pendidikan.
3) Mempersiapkan kader yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang Islami.
4) Menanamkan kemandirian hidup. (arsip SMA Kartika Wirabuana XX-I)
Demikianlah lembaga pendidikan tersebut sebagai wadah untuk membina ilmu pengetahuan yang diharapkan benar-benar difungsikan oleh siswa untuk menjadi pola dasar dalam mengarungi kehidupan dunia modern dewasa ini. Pada awalnya SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar hanya membina MTs.
Kemudian pada tanggal 15 Mei 1993 didirikan pula SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar . SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar ini memperoleh respon dari kalangan masyarakat luas, sehingga jumlah siswanya semakin bertambah. SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar diharapkan oleh para penduduk atau masyarakat Makassar untuk dapat mencetak cendekiawan yang dapat menjadi pengayom terhadap generasi-generasi muda yang lain.
c. Perkembangan SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar
63 Untuk mengetahui perkembangan Pesantren Wirabuana XX-I Makassar , tentu dapat dilihat dari keadaan guru dan siswanya berikut fasilitas yang dimiliki.
1. Keadaan Guru
Guru adalah salah satu bahagian yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, sebab gurulah yang menanamkan ilmu pengetahuan terhadap siswa agar memiliki kepribadian yang sebenarnya. Harkat dan martabat bangsa dipengaruhi oleh kualitas manusianya, yakni sejauhmana manusia sebagai potensi pembangunan dalam menguasai sains dan teknologi yang dapat menunjang laju pertumbuhan ekonomi dalam pembangunan suatu bangsa untuk mentransfer ilmu pengetahuan yang tentunya lebih banyak berlangsung di sekolah. Oleh karena itu, guru sebagai perekayasa sosial mempunyai empat peranan, yaitu:
1) Sebagai pengamat sosial dengan sistematis serta memantau kejadian-kejadian yang ada di dalam masyarakat.
2) Sebagai analisis sosial, yang berusaha melengkapkan pengetahuan serta memperdalam pengertian dan masalah-masalah kejadian yang terjadi di dalam masyarakat.
3) Sebagai pengeritik sosial, guru sebagai seorang ilmuan mampu melihat kesenjangan dalam masyarakat, dan secara sadar mampu mengemukakan kritik-kritik sosialnya yang membangun meskipun unsur subyektifitas tidak terhindarkan
64 4) Sebagai perekayasa sosial, yang berusaha membentuk masyarakat baru;
seorang guru memegang peranan sebagai perekayasa sosial terhadap siswa.
(arsip SMA Kartika Wirabuana XX-I)
Untuk mengetahui keadaan guru di SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar , dapat dilihat tabel:
Tabel 4.1.
Keadaan Guru SMA Kartika
Wirabuana XX-I Makassar Tahun 2012-20013
No Nama L/P Jabatan Asal Sekolah
1 Hj. Muslinah, S.Pd P
Kep.
Sekolah S1 UNISMUH/Matematika 2 Senriani, S.Si P Wakasek S1 UNM/Matematika 3 Hajrah Syahruna, S.Pd P Guru S1 UNM/Ekonomi
4 Nadimah, S.Ag P Guru S1 IAIN/PAI
5 Ramlah, S.Pd P Guru S1 UNM/IPA
6 Dra. Syahreni P Guru S1 IAIN/Tad. IPS
7 Sri Rahayu. KW, S.Si P Guru S1 UNHAS/Kimia 8 Nursanga, S.Ag P Guru S1 IAIN/Bhs. dan S.Arab
9 Hasnah, S.Pd P Guru S1 UNM/Bhs. Indonesia
10 Haryanti, S.sos P Guru S1 UNTAD/Sosiologi
11 Abd. Salam, S.Pd L Guru S1 IKIP/Olahraga 12 Dwi Warsito, S.Pd.I L Guru S1 IAIN/Bhs. Arab
13 Aminullah, S.HI L Guru S1 DDI/Mangkoso/Hukum
14 Herlina, S.Pd L Guru S1 Yapis/PAI
15 Testiawati Salrh, S.Pd P Guru S1 UNM/Matematika 16 Nurlinda, S.Pd P Guru S1 UNM/Bhs. Indonesia 17 Ira Zerni, S.Pd P Guru S1 UNM/Pend. Bhs.Inggris
18 Wiwin Ansar L Guru S1 UNM/Geografi
19 Muh. Dahlan, S.Ag,M.Ag L Guru S2 UMI/Manj. Pend. Islam 20 Muh. Tahir, S.Ag L Guru STAI DDI Mangkoso 21 Priyadi Akhyar, S.Pd.I L Guru S1 IAIN Alauddin/Pendais
65
22 Dra. St. Nadirah P Guru S1 IAIN Alauddin/Syari'ah Sumber Data: SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar
Berdasarkan data pada table tersebut, dapat diketahui bahwa berdasarkan kuantitas atau jumlah guru sebanyak 22 orang jika dibadingkan dengan jumlah siswa yang ada, cukup memadai dalam menunjang proses pembinaan dan pembelajaran di SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar . Begitu pula dari segi kualitas umumnya guru SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar berlatar pendidikan guru, yaitu sarjana pendidikan umum yakni dari UNM dan sarjana Pendidikan Agama yakni dari Wirabuana XX-I IAIN atau UIN.
2. Keadaan Siswa
Untuk lebih mengetahui frekuensi dan perkembangan siswa SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar , berikut ini penulis akan memaparkan keadaan siswa:
Tabel 4.2
Keadaan Siswa SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar Tahun 2013
No Kelas Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-Laki Perempuan
1 VII 21 23 44
2 VIII 13 16 29
3 IX 14 16 30
Jumlah 48 55 103
Sumber data: arsip SMA Kartika Wirabuana XX-I
Berdasarkan data pada tabel tiga tersebut, dapat diketahui bahwa jumlah siswa SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar tahun 2009 cukup menggembirakan, yaitu mencapai 103 orang yang terdiri dari siswa laki-laki sebanyak 48 orang dan siswa perempuan sebanyak 55 orang.
66 3. Fasilitas yang dimiliki
Fasilitas yang dimiliki oleh SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar , masih dalam kondisi sederhana. Sekalipun demikian pihak sekolah tetap berusaha untuk memenuhi sarana yang memadai dalam rangka menunjang proses pembelajaran. Akan tetapi jika melihat jumlah siswa yang dimiliki, sarana vital seperti, gedung, ruang kelas, alat-alat, dan sarana pembelajaran yang di miliki masih dapat terpenuhi dengan baik.
Adapun fasilitas yang telah dimiliki oleh SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar dapat dilihat tabel 4 sebagai berikut:
Tabel 4.3
Sarana Prasarana SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar Tahun 2009
No Nama Bangunan, Fasilitas Keterangan
1 2 3
1 Nama Lengkap
SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar
2 Alamat:
- Jalan Jl.Sungai Tangka - Kelurahan Sawerigading - Kecamatan Ujungpandang - KOta Makassar - Propinsi Sulawesi Selatan
3 Didirikan Tanggal 24 januari 1969
No. NSS
4 Luas tanah:
5 Status Gedung Milik Yayasan
6 Fasilitas fisik
a. Konstruksi Gedung Permanen
- Jumlah ruang belajar permanen 150 m2
67
- Mesjid 190 m2
- Aula permanen 195 m2
- Ruangan Kepala Sekolah permanen 50 m2 - Ruangan guru Permanen 100 m2
1 2 3
- Ruang tata usaha Permanen 50 m2 - Ruang Perpustakaan 650 m2
- Lapangan Olah raga Permanen 75 m2 - Lab komputer permanen 7,9 m2 - Poliklinik Pengobatan Permanen 55 m2
- Kursi siswa 103 buah
- Meja guru 29 buah
- Lemari 3 buah
- Meja belajar/papan tulis 7 Waktu Penggunaan fasilitas 24 jam
Sumber Data: SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar ,
Demikianlah mengenai gambaran umum SMA Kartika Wirabuana XX-I Makassar, yang didirikan pada Tanggal 24 Januari 1969, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas putra-putri bangsa guna menjadi generasi yang sanggup menjawab segala tantangan dan rintangan yang bakal terjadi, dapat meningkatkan kualitas bangsa dan negara termasuk generasi muda, dan terciptanya generasi umat yang berkualitas pengemban masyarakat Madani yang Islami.
B. Hasil Penelitian
1. Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
a. Uji Hipotesis
68 Dari hasil penelitian menghasilkan data dari lokasi penelitian dari hasil pengumpulan data dengan menggunakan angket tertutup dengan data sebagai berikut:
Data Variabel X (Kecerdasan Emosional) dengan N = 26
22 33 20 30 33 21 33 20 26 24
22 24 23 24 23 23 22 21 23 32
22 26 24 25 23 23
Data variabel Y (Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa) dengan N = 26
6,7 6,7 7,5 7,5 6,5 7,6 7,5 7,5 7,5 6,8
7,5 8.5 8,5 7,5 7,0 6,5 7,0 7,5 7,0 7,8
8,5 7,5 6,5 6,8 7,5 8,5
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini di maksudkan untuk menentukan hubungan variabel bebas (independent variable), Kecerdasan Emosional dan variable terikat (dependent variable), hasil belajar Bahasa Indonesia siswa . Pengujian hipotesis dilakukan dengan beberapa langkah sebagai berikut:
Pertama, membuat Ha dan Ho dalam bentuk kalimat:
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
Ho : Tidak ada hubungan yang signifikan antara Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
Kedua, membuat Ha dan Ho dalam bentuk statistik:
Ha : r = 0 Ho : r ≠ 0
69
Ketiga, membuat tabel penolong untuk menghitung korelasi product moment.
Tabel IV.24
Rekapitulasi Product Moment
tentang Hubungan EQ dan SQ dengan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
No X Y XY X2 Y2 Keempat, mencari korelasi (rhitung) dengan cara memasukkan angka statistik dari tabel penolong dengan rumus yang digunakan untuk mengitung koefisien korelasi product moment.
70
Maka rxy yang diperoleh sebagai berikut:
Hasil korelasi antara variabel X (Kecerdasan Emosional ) dengan Variabel Y (Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa ) juga dapat dilihat dari hasil
Pearson Correlation 1.000 .623
Sig. (2-tailed) . .000
Sum of Squares and Cross-products
8025.229 4626.313
Covariance 97.869 56.418
71
N 26 26
Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
Pearson Correlation .623 1.000
Sig. (2-tailed) .000 .
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Kelima, mencari besarnya sumbangan (kontribusi) variable X terhadap Y dengan rumus:
KD = r2 x 100% = 0,6232x 100% = 38,81%
KD : nilai koefisiensi determinan r : nilai koefisiensi korelasi
Artinya Kecerdasan Emosional memberikan kontribusi terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa sebesar 38,81% dan sisanya 61,18% ditentukan oleh variabel lain.
Keenam, setelah diketahui nilai rxy, selanjutnya dicari nilai thitung untuk pengujian hipotesis yang diajukan, yaitu dengan mengkonsultasikan pada tabel nilai t baik dalam taraf signifikansi (α) = 0,05 (5%) maupun taraf signifikasi (α) = 0,01 (1%) dengan mencari derajat kebebasan (d.k) = n – 1, yaitu 83 – 1 = 82. Ada pun nilai ttabel yang diperoleh, taraf 5% adalah 2,000 dan taraf 1% adalah 2,660.
Kemudian melakukan uji signifikansi dengan memasukkan data yang diperoleh melalui korelasi product moment sebesar rxy = 0.62 ke dalam rumus:
1 2
72 antara Kecerdasan Emosional dengan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa .
Ketujuh, mencari regresi, yang diperlukan sebagai kelanjutan dari analisis korelasi dua variabel X-Y. Hasil perhitungan regresi akan menunjukkan adanya pengaruh atau hubungan fungsional dan sebab akibat.
Persamaan regresi dirumuskan dengan:
Ŷ = a + bX
Keterangan:
Ŷ = (baca Y topi) subjek variabel terikat yang diproyeksikan
X = variabel bebas yang mempunyai nilai tertentu untuk diprediksikan a = nilai konstanta harga Y jika X = 0
b = nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukkan nilai peningkatan (+) atau nilai penurunan (-) variabel Y.
Dalam menghitung regresi di atas diperlukan langkah-langkah berikut:
Pertama, Membuat Ha dan Ho dalam bentuk kalimat:
Ha : Terdapat pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
73
Ha : Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
Kedua, Membuat Ha dan Ho dalam bentuk staitistik:
r ≠ 0 r = 0
Ketiga, Membuat tabel penolong:
Tabel IV.26
Rekapitulasi Product Moment , tentang Hubungan Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
No X Y XY X2 Y2
74 Keempat, memasukkan angka-angka statistik dari tabel penolong dengan rumus:
3. Menghitung persamaan regresi Ŷ = a + bX
75
Ŷ = 37,8 + 0,578X
Persamaan regresi antara Kecerdasan Emosional (X) terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa (Y) adalah Ŷ = 37,8 + 0,578X. Hal tersebut bermakna, karena b positif maka hubungan fungsionalnya juga menjadi positif.
Selanjutnya kita bisa mengatakan bahwa jika Kecerdasan Emosional ditingkatkan frekuensi positifnya 100 maka rata-rata nilai hasil belajar (Y) akan bertambah menjadi Ŷ = 37,8 + 0,578.100 = 95,6. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin ditingkatkan Kecerdasan Emosional maka akan semakin meningkat pula hasil belajar Bahasa Indonesia siswa.
4. Membuat garis persamaan regresi a) Menghitung rata-rata X dengan rumus:
n
X X = 25.54 664 26
b) Menghitung rata-rata Y dengan rumus:
57 ditingkatkannya Kecerdasan Emosional (variabel X) dengan rata-rata jumlah X = 64,9 dan Y = 75,3.
Menghitung signifikansi dengan langkah-langkah berikut:
1) Mencari jumlah kuadrat regresi (JKReg[a]) dengan rumus:
76
2) Mencari jumlah kuadrat regresi (JKReg[b|a]) dengan rumus:
3) Mencari jumlah kuadrat residu (JKRes) dengan rumus:
JKRes = ΣY2 - JKReg(a|b) – JKReg (a)
JKRes = 477361 – 2692,337– 470481,939 = 4186,724
4) Mencari rata-rata jumlah kuadrat regresi (RJKReg [a]) dengan rumus:
RJKReg [a] = JKReg [a] = 470481,939
5) Mencari rata-rata jumlah kuadrat regresi (RJKReg [a|b]) RJKReg [b|a] = JKReg [b|a] = 2692,337
6) Mencari rata-rata jumlah kuadrat residu RJKRes dengan rumus:
2
7) Menguji signifikansi dengan rumus:
s
Jika Fhitung ≥ Ftabel, maka tolak Ho artinya signifikan dan Fhitung ≤ Ftabel, maka terima Ho artinya tidak signifikan.
Dengan taraf signifikan (α) = 0.05, dengan mencari Ftabel dengan rumus:
77 Ftabel = F ((1 – α) (dk Reg [b|a]), (dk Res))
Ftabel = F ((1 – 0,05) (dk Reg [b|a]= 1), (dk Res = 83-2 ))
Ftabel = F ((0,95) (1,81)
Ftabel = 6,96
Ternyata Fhitung = 52,089 ≥ Ftabel = 6,96, maka tolak Ho artinya signifikan 8) Membuat kesimpulan
Karena Fhitung lebih dari Ftabel maka tolak Ho dan terima Ha, dengan demikian terdapat pengaruh yang signifikan antara Kecerdasan Emosional terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa.
2. Pengaruh Kecerdasan Spiritual terhadap Hasil belajar Bahasa Indonesia siswa
a. Uji Hipotesis
Untuk melakukan analisis regresi maka terlebih dahulu dilakukan konversi terhadap skor mentah dari hasil angket untuk menyesuaikan dengan skala yang digunakan pada nilai hasil belajar bahasa Indonesia siswa , karena nilai hasil belajar menggunakan skala 10 maka skor dari
Untuk melakukan analisis regresi maka terlebih dahulu dilakukan konversi terhadap skor mentah dari hasil angket untuk menyesuaikan dengan skala yang digunakan pada nilai hasil belajar bahasa Indonesia siswa , karena nilai hasil belajar menggunakan skala 10 maka skor dari