TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
2.2 Kajian Hasil-Hasil Penelitian Yang Relevan
Untuk mewujudkan smart living, terdapat tiga buah sub bagian yang harus dipenuhi, diataranya sebagai berikut:
1. Fasilitas-fasilitas pendidikan yang memadai bagi masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi seperti penyediaan sarana internet gratis dan sehat II-4 sistem filtering/proxy
2. Penyediaan sarana, prasarana dan informasi terkait dengan potensi pariswisata daerah dengan baik dan atraktif memanfaatkan teknologi informasi seperti adanya sistem informasi geografis untuk pemetaan lokasi objek wisata, proses pemesanan tiket masuk dan kamar hotel secara online dan mobile.
3. Infrastruktur teknologi informasi yang memadai, sehingga semua fasilitas dan layanan publik dapat berjalan dengan baik melalui bantuan komputerisasi dan teknologi informasi seperti tersedianya komputer publik di tempat-tempat umum, tersedianya jaringan internet yang memadai, tersedianya tenaga IT/SDM yang kompeten.
2.2 Kajian Hasil-Hasil Penelitian Yang Relevan
Adapun hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang berkaitan dengan kajian sebaran keruangan dan layanan online dalam implementasi smart city. Dalam beberapa penelitian sebelumnya berfokus pada sebran keruangan dan indicator yang berada pada smart city terhadap layanan
online. Berikut merupakan perbandingan antara penelitian yang dilakukan dengan
21
Nama dan Judul Tujuan Metode Hasil Perbandingan
Nam, Taewoo and Pardo, Theresa A/ Journal of
Information System Applications (2011), Konsep Smart City dengan Dimensi Teknologi, Manusia, dan Institusi Mengetahui Konsep yang diterapkan pada Smart City. Metode Observasi, mengetahui keadaan letak geografis . Prinsip strategis menyelaraskan ke tiga dimensi utama
(teknologi, orang, dan institusi) kota pintar: 1. Integrasi
infrastruktur dan layanan yang dimediasi teknologi, 2. Pembelajaran sosial untuk memperkuat infrastruktur manusia, 3. Tata kelola untuk peningkatan kelembagaan dan keterlibatan warga negara.
Persamaan terletak pada objek penelitian yaitu integrasi pelayanan yang dimediasi oleh teknologi dan untuk peningkatan kelembagaan dan ketelibatan warga
Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan adalah terletak pada variable penelitiannya lebih bervariasi seperti Smart
Environtment, Health Care, Energy, Education, dan Safety Mengetahui Dimensi Teknologi, Manusia, dan Institusi. Metode Wawancara, untuk mengetahui data-data yang terkonsep dalam ketiga dimensi . Metode Dokumentasi, untuk mengumpulkan data melewati website Smart City. Pongsapan, Fajar P/ Jurnal Teknik Elektro dan Komputer (2014), ISSN: 2301-8402 Desain Arsitektur Jaringan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Manado Smart city;
Mengetahui teknologi informasi dan komunikasi sebagai upaya meningkatkan daya saing daerah pada khususnya dan Indonesia. Metode Interview, untuk mengumpulkan data-data pada pegawai-pegawai di lingkungan pemerintah Manado. 1. Topologi Jaringan Internet Pemerintah Kota Manado
2. Server jaringan TIK di Pemerintah Kota Manado, yang akan menghubungkan instansi-instansi pemerintahan lainnya akan terdapat 15 Jalur Utama.
Persamaan terletak
pembangunan kota berbasis Online dengan
menghubungkan berbagai instansi terkait.
Perbedaannya adalah
penelitian ini menjurus pada teknik jaringan internet kota Mandado yang
menghubungkan beberapa Tabel 2.1 Kajian Hasil Penelitian yang Relevan
22
Nama dan Judul Tujuan Metode Hasil Perbandingan
Studi Kasus Pemerintah Kota Manado . Mengetahui terapan Smart City di Manado. Metode Observasi, untuk mengetahui letak dan struktur geografis.
instasi.
Widodo,
Nurjati/Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JLAP) Vol. 2, No. 4, pp 227-235, 2016 Pengembangan e-Government di Pemerintah Daerah Dalam Rangka Mewujudkan Smart City (Studi di Pemerintah Daerah Kota Malang) Menganalisis pengembangan electronic government yang semakin marak di pemerintahan daerah dalam rangka mewujudkan smart city. Metode Deskriptif, untuk mendeskripsikan, mencatat, menganalisis dan menginterpretasika n mengenai kondisi saat ini, dengan kata lain penelitian jenis deskriptif kualitatif bertujuan untuk memperoleh informasi - informasi dari keadaan yang sudah terjadi. Pengembangan e-government melalui penerapan Program Anugerah Inovasi dan Komunikasi Informasi Digital (AIKID) di Kota Malang dalam rangka mewujudkan smart city diukur dengan
menggunakan indikator efektivitas dapat
dikatakan cukup efektif. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya seluruh dari isi indikator tersebut. Saat ini, setelah program ini berjalan di tahun kedua mengalami peningkatan di setiap situs layanan SKPD
Persamaan terletak dari tujuan yakni menciptakan suatu pelayanan yang prima bagi warga dengan adanya
Smart City.
Perbedaan dengan penelitian ini yakni bahwa kreatifitas
e-government sangat
diperlukan untuk mewujudkan berbagai produk fitur online dengan penerapan Program
Anugerah Inovasi Komunikasi Informasi Digital (AIKID) di Kota Malang dengan
menggunakan indikato efetivitas dan efisiensi tanpa mengetahui respon warga Kota Malang.
23
Nama dan Judul Tujuan Metode Hasil Perbandingan
Indrayati, Ariyani. 2011/ Jurnal Ilmiah Geografi Volume 8 No. 1 Pola Distribusi Keruangan Mck Komunal Dan Hubungannya Dengan Kawasan Kumuh Di Perkotaan Yogyakarta Menganalisis mengenai pola distribusi keruangan MCK Komunal yang sudah ada di Kota Yogyakarta, dan menghubungka nnya dengan distribusi keruangan Kawasan kumuh yang ada di kota tersebut Metode Kuantitatif, untuk pola distribusi spasial dihitung menggunakan teknik statistik berbasis area kelurahan, sedangkan distribusi kawasan kumuh dilakukan dengan analisis spasial dengan unit analisis
titik
1. Peta pola keruangan MCK Komunal di Kota Yogyakarta
2. Tabel dan peta tingkat manajemen MCK
Komunal di bantaran sungai (Winongo, Code, Gajahwong) Kota Yogyakarta
3. Tabel komparasi antar kasus tingkat peran serta komunitas pada MCK Komunal 4. Arahan pengembangan manajemen MCK Komunal di Perkotaan Yogyakarta
Persamaan terletak pada Teknik Analisis
menggunakan Indeks Moran dalam mengetahui pola keruangan MCK Komunal di Yogyakarta.
Perbedaan pada Penelitian ini yakni terletak pada arahan bagi pemerintah sebagai referensi untuk meletakkan infrasruktur baru terkai dengan masalah sanitasi.
24
24 2.3 Kerangka Berpikir
Peluncuran program Wakil Presiden Jusuf Kalla yakni program Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2015 merupakan sebuah inovasi digital dalam Pembangunan Perkotaan di Indonesia yang keterkaitanya dengan pelayanan publik. Hal tersebut dimuat dalam UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dalam Bab XXI bertajuk Inovasi Daerah, dimana program tersebut sejalan dengan salah satu misi Kota Semarang yakni terkait pengelolaan pelayanan agar lebih efektif dan efisien. Konsep smart city merupakan pengembangan dan pengelolaan kota dengan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk menghubungkan, memonitor, dan mengendalikan berbagai sumber daya yang ada di dalam kota dengan lebih efektif dan efisien untuk memaksimalkan pelayanan kepada warganya serta mendukung pembangunan yang berkelanjutan (Supangkat, et.al., 2015:16).
Pelayanan Smart Living yang dimaksud yakni pelayanan PDAM,
Smart Police, dan Transportasi. Dalam mendukung pelayanan ini agar
meningkatknya efisien, efektif, dan transparan, dipastikan adanya SDM yang mumpuni sebagai operator berbasis IT dan dapat memahami, menganalisis, dan memberikan penilaian terhadap pelayanan pada loket dan non loket (online) terkait dengan implementasi konsep smart city. Dengan hasil analisis dan respon warga ini selanjutnya dirumuskan arahan pelayanan yang lebih baik sebagai langkah awal mewujudkan smart city Kota Semarang.
25
Arahan untuk perbaikan dan pengembangan pelayanan perkotaan berdasarkan analisis keruangan sebagai langkah awal
mewujudkan Smart City Kota Semarang 1. PDAM
2. Smart Police
3. Transportasi
Pelayanan Smart City dalam indikator
Smart Living
Upaya smart city oleh Pemerintah
Indikator Smart City : 1. Smart Governance 2. Smart Infrastructure 3. Smart Environment 4. Smart Living 5. Smart People 6. Smart Economy
Pelayanan (Berbasis TIK)
Respon warga dan analisis pelayanan online per unit kecamatan (PDAM dan SKCK) dan
per koridor (Transportasi) dalam upaya implementasi smart city Kota Semarang
Pembangunan Inovasi Digital berdasarkan program Indeks Kota
Cerdas Indonesia (IKCI) dalam Pelayanan Publik di Kota Semarang
115
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pembahasan yang telah dilakukan pada wilayah penelitian dapat disimpulkan bahwa pelayanan smart
living pada smart city di Kota Semarang dari hasil perhitungan tingkat pengguna
pada pelayanan PDAM sudah dapat menerapkan smart living dengan baik dengan prosentase pengguna non loket (online) yakni 74,91%, sedangkan pada SKCK dan BRT belum dikatakan dapat menerapkan smart city dengan baik dikarenakan pengguna yang melalui non loket pada SKCK dan pembayaran non tunai pada BRT masih terpaut jauh yakni 0,7% (SKCK) dan 4,2% (BRT).
Sebaran keruangan pada pelayanan PDAM dan SKCK Non Loket
(Online) menggunakan Indeks Moran tersebut termasuk kedalam pola
menyebar (spreaded), ini berarti masyarakat Kota Semarang sudah menerapkan
smart living dengan baik dikarenakan sudah tersebar merata disetiap kecamatan
atau tidak ada pemusatan disatu kecamatan kecuali pada pelayanan SKCK di Loket yang masih mengelompok (clustered) yakni pada kecamatan Ngaliyan, Genuk, Pedurungan, dan Tembalang, sedangkan indeks konektivitas pada Trans Semarang yakni 1,714 yang berarti konektivitas pada jalur Trans Semarang adalah baik.
Pada respon masyrakat Kota Semarang terhadap ketiga pelayanan tersebut sudah menandakan bahwa masyarakat selalu mendukung dan
116
menghargai pelayanan PDAM, SKCK, dan Trans Semarang dengan memberikan penilaian yang sangat baik, yakni dengan penilaian PDAM 78,2125%, SKCK 84,58%, dan Trans Semarang 76,571%, meskipun penilaian ini memuaskan tetapi masih banyak masyarakat yang memberi masukan yang sangat perlu untuk ditingkatkan bagi ketiga instasnsi ini.
5.2 SARAN
Berdasarkan uraian yang telah disampaikan diatas maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :
Berdasarkan hasil analisis pelayanan smart living pada pelayanan PDAM yakni perlu pengawasan ketat terhadap jaringan pipa agar tingkat kebocoran dan matinya air tidak sering terjadi, tetap mempertahan pelayanan pembayaran secara online dengan baik.
Pada pelayanan SKCK yakni perlu adanya informasi lebih lanjut atau anjuran terhadap cara mudah dalam permohonan SKCK secara Online agar lebih mempermudah dalam pelayanan, mempebanyak mobil SKCK Online di tiap daerah di Kota Semarang atau mobil SKCK Online yang hanya satu dapat berpindah di daerah tertentu dan sesuai jadwal tertantu juga, agar warga lebih cepat mengakses pelayanan SKCK secara online.
Pada pelayanan Trans Semarang yakni fasilitas shelter/halte diperbaiki agar saat hujan tidak kehujanan, saat ramai tidak berdesakan, dan meningkatkan ketepatan waktu armada dengan menggunakan jalur khusus seperti Trans Jakarta sehingga implementasi smart city dalam bidang smart
117