BAB III. PENGOLAHAN DATA 3.1. Koreksi Radiometrik
3.7. Kajian Kenampakan Padang Lamun dari Data SPOT-6
Dikarenakan sesuatu hal, data SPOT 6 untuk area Kepulauan Seribu belum ada. Data arsip yang ada di Bank Data Penginderaan Jauh Nasional Pustekdata LAPAN ada beberapa data SPOT 6 dan SPOT 5 tetapi pada kondisi awan yang sangat tebal dan tidak mungkin digunakan. Untuk kajian penggunaan data SPOT-6 diubah lokasinya menjadi Pulau Lombok, khususnya area Pantai Kuta, Tanjung An, Teluk Awang. Ada tambahan di awal tahun untuk memasukkan padang lamun untuk dipelajar pada kegiatan ini, karena adanya kegiatan koordinatif yaitu kegiatan one map yang tahun ini salah satu targetnya adalah peta padang lamun nasional.
Padang lamun bisa dikategorikan dalam dua keadaan, pertama adalah padang lamun yang berada dalam ekosistem terumbu karang dan menjadi bagian terumbu karang. Pada proses pertumbuhan terumbu karang ada yang membentuk rataan pasir dan lumpur yang bisa menjadi habitat padang lamun. Luas padang lamun pada ekosistem lamun bervariasi mulai dari hanya spot-spot dan bercampur dengan tutupan yang lain, sampai menjadi padang lamun yang cukup luas. Satu jenis lagi adalah padang lamun yang berdiri sebagai ekosistem sendiri yang menjadi habitat ikan duyung (Dugong), karena Dugong tidak ditemukan di ekosistem terumbu karang. Ekosistem ini disusun oleh utamanya adalah padang lamun.
45 Penelitian dan Pengembangan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Untuk Ekstraksi Informasi Terumbu Karang dan Padang Lamun
Kelompok padang lamun yang satu sudah menjadi bahan studi dalam penelitian ini, sedangkan pada kelompok dua belum. Kegiatan one map padang lamun melakukan kegiatan verifikasi habitat lamun terhadap peta yang sednag dikompilasi. Data lapangan yang diperoleh ini yang digunakan dasar dalam kajian awal pemanfaatan data SPOT-6 untuk ekstraksi informasi padang lamun. Survei lapangan dilakukan dengan cara visual, melihat obyek dan mengambil foto obyek tersebut, kemudian dicocokkan dengan kenampakan di citra.
Awalnya agak sulit mendapatkan kenampakan yang kontras pada citra komposit SPOT-6 yang dikarenakan adanya tutupan awan yang relatif tebal di sekeliling area penelitian. Tutupan awan dengan nilai yang tinggi membuat penajaman dengan metode nilai minimum dan maksimum tidak memberikan kenampakan yang kontras. Di samping ada tutupan awan, keberadaan pasir yang sangat putih dan pecahan gelombang di lokasi penelitian memberikan warna putih yang relatif banyak. Hal ini akan berpengaruh terhadap proses penajaman karena nilai maksimum yang yang ada adalah nilai warna putih tersebut sehingga proses perentangan nilai-nilai keabuan tidak terjadi. Akhirnya ditemukan metode penajaman yang bagus yaitu perentangan linier dengan persentase perentangan dengan standar deviasi 0.3. Standar deviasi yang digunakan bisa saja berbeda tergantung kondisi data yang digunakan, dan bisa coba-coba dan diubah nilainya jika kontras yang diinginkan belum bisa dilihat. Kenampakan kawasan padang lamun dengan metode yang berbeda disajikan dalam Gambar 3.13.
Penelitian dan Pengembangan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Untuk Ekstraksi Informasi Terumbu Karang dan Padang Lamun 46 Gambar 3.13.Kenampakan citra komposit RGB (321) SPOT-6 dengan perentangan linier maksimun
dan minimum (kiri) dan perentangan linier dengan nilai persentase perentangan dengan standar deviasi 0.3 (kanan)
Secara umum kenampakan kawasan padang lamun hampir sama dengan 2 metode perentangan (streching) yang berbeda, area dengan tutupan lamun ditandai dengan warna gelap, sangat kontras dengan pasir yang berwarna cenderung terang. Kenampakan ini kurang kontras jika dibandingkan dengan kenampakan kawasan terumbu karang yang didalamnya terdapat padang lamun dari data World View 2 dengan resolusi spasial 1,8 m untuk data multispektral. Kenampakan yang kontras juga tidk terlihat ketika menggunakan data SPOT-6 yang di-pansharpen dengan data pankromatik menjadi citra dengan resolusi 1,5 meter sebagaimana disajikan pada Gambar 3.14. Dibandingkan dengan kenampakan kawasan padang lamun dari data Landsat 8, masih juga tetap kurang terlihat kontras antar obyek yang berbeda.
Hal ini diperkirakan karena data SPOT -6 yang digunakan dengan perentangan nilai untuk aplikasi darat di staisun bumi. Dari sisi spektrum gelombang yang digunakan hampir sama antara SPOT-6 dan World View 2 pada kanal biru, hijau dan merah hanya berbeda 10 nm, tetapi SPOT-6 tidak memiliki kanal coatal blue, kuning dan red edge. Data yang disandingkan menggunakan kanal-kanal yang sama.
47 Penelitian dan Pengembangan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Untuk Ekstraksi Informasi Terumbu Karang dan Padang Lamun
Gambar 3.14. Kenamakan citra komposit RGB (321) data SPOT 6 pansharphen (kiri) dan kenampakan Citra World View 2 (kanan)
Penelitian dan Pengembangan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Untuk Ekstraksi Informasi Terumbu Karang dan Padang Lamun 48
BAB IV. PENUTUP
Dari proses pengolahan data dan analisa hasil pengolahan data sampai dengan akhir kegiatan ini bisa disimpulkan sebagai berikut :
• Potensi yang besar untuk menggunakan metode interretasi visual dalam mengenali obyek-obyek yang ada di ekosistem terumbu karang sebagai acuan dalam proses klasifikasi yang selama ini asih sangat tergantung dengan data lapangan. Hal ini dikarenakan kelebihan data Landsat 8 dengan 12 bit dengan tingkat keabuan sampai 4098 tingkat. • Kemungkinan penggunaan density slicing dengan nilai hasil transformasi koreksi kolom air belum bisa digunakan walaupun sudah melalui proses koreksi atmosferik. Hal ini dikarenakan hasil transformasi koreksi kolom air Lyzenga (1978) pada data yang berbeda tanggal memberikan nilai yang berbeda cukup jauh. Hal ini perlu diinvestigasi lebih lanjut dan didalami untuk mendapatkan solusi yang tepat.
• Koreksi kolom air Lyzenga (1978) tidak efektif untuk kedalaman obyek kurang dari 1 meter apalagi pada daerah dengan kedalaman yang relatif sama. Koreksi kolom air ini menyebabkan hilangnya perbedaan obyek pada kedalaman kurang dari 1 meter dan memberikan kelas yang lebih bnayak pada kedalaman lebih dari 1 meter. Batas nilai kedalaman 1 meter baru nilai perkiraan dan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui nilai batas yang pasti.
• Data World View 2 memberikan hasil pemisahan obyel yang lebih bagus dan mampu memberikan kelas-kelas yang berbeda pada kombinasi band yang berbeda.
49 Penelitian dan Pengembangan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Untuk Ekstraksi Informasi Terumbu Karang dan Padang Lamun
• Kenampakan area padang lamun masih kurang kontras baik pada citra komposit dari data SPOT 6 multispektral resolusi 6 meter maupun data yang sudah di panshrapen dengan resolusi spasial 1,5 m.
Ucapan Terima Kasih
Penelitian ini di danai oleh DIPA Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh Tahun Anggaran 2014, untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada mantan Kapusfatja Bapak Ir. Dedi Irawadi dan mantan Kabid SDWPL Dra. Maryani Hartuti, M.Sc dan kami ucapkan terima kasih kepada Kapusfatja Bapak Dr. Rokhis Khomarudin dan Kabid SDWPL Bapak Syarif Budhiman, M.Sc.
Penelitian dan Pengembangan Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh Untuk Ekstraksi Informasi Terumbu Karang dan Padang Lamun 50