• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERPERSONAL UNTUK TERCAPAINYA TUJUAN KURIKULUM

2. KAJIAN PUSTAKA a Komunikasi Interpersonal

Menurut Sugiyo, (2005: 1), dijelaskan; “komunikasi merupakan kegiatan

manusia menjalin hubungan satu sama lain yang demikian otomatis keadaannnya, sehingga sering tidak disadari keterampilan berkomunikasi

merupakan hasil belajar.”

Tujuan utama dalam komunikasi adalah untuk mempengaruhi orang lain dan menjadikan diri kita sebagai suatu agen yang dapat mempengaruhi, agen yang dapat menentukan atas lingkungan kita menjadi suatu yang kita inginkan (Sugiyo, 2005; 9).

Dalam Hartley. P, (1999; 21-27), dijelaskan bahwa ‘Komunikasi Interpersonal yang terjadi antara orang, bukan antara peran atau masker atau stereotip. Komunikasi interpersonal dapat terjadi antara kamu dan aku hanya

Seminar Nasional Pendidikan Dasar | 180

ketika kita masing-masing mengakui dan berbagi hal dari apa yang membuat kita manusia dan menyadari beberapa hal yang membuat orang lain

menyadarinya’.

Hartley. P, (1999; 21-27), Mengungkapkan definisi komunikasi

interpersonal memiliki karakteristik sebagai berikut’;

a. Pertemuan tatap muka, komunikasi interpersonal melibatkan pertemuan tatap muka antara dua orang.

b. Peran, komunikasi interpersonal melibatkan dua orang dalam peran yang berbeda-beda dan memiliki hubungan satu sama lain. c. Dua arah, komunikasi interpersonal terjadi pada dua arah antara

pengirim dengan penerima.

d. Makna, komunikasi interpersonal tidak hanya melibatkan pertukaran pesan. Pada dasarnya melibatkan penciptaan dan pertukaran makna.

e. Niat, komunikasi interpersonal memiliki tujuan dan maksud tertentu dari apa yang orang komunikasikan.

f. Proses, komunikasi interpersonal adalah proses yang berkelanjutan bukan suatu peristiwa atau serangkaian peristiwa. g. Waktu, komunikasi interpersonal adalah kumulatif dari waktu ke

waktu.

“Komponen-komponen komunikasi interpersonal yang diungkap oleh

Hartley. P, (1999), sebagai berikut’ :

a. Komunikasi non verbal (non-verbal communication)yang dimaksud meliputi ekspresi wajah, arah pandangan mata dan penampilan.

b. Penguatan (reinforcement)yang dimaksud adalah pemberian pujian dan dukungan bagi orang lain.

c. Bertanya (questioning) yang dimaksud adalah mengajukan pertanyaan terbuka yang memperluas jawaban dan pertanyaan tertutup yang mendorong orang untuk berbicara langsung.

d. Merefleksikan (reflecting)yang dimaksud adalah pertanyaan dengan menggunakan refleksi perakapan dari beberapa aspek yang telah dikatakan (diutarakan) .

e. Membuka dan menutup (opening and closing) yang dimaksud adalah Keterampilan untuk memulai dan mengakhiri percakapan. f. Pendengar yang aktif (active listening)adalah sebuah proses

menangkap pesan yang diterima, memberikan respon dengan jelas dan memperhatikan.

g. Keterbukaan diri (self-disclosure)adalah proses berbagi informasi tentang diri sendiri kepada orang lain.

Membedah Anatomi Kurikulum 2013 | 181 b. Karakteristik Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 dirancang dengan karakteristik sebagai berikut :

1) Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.

2) Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di Sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.

3) Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta menerapkannya dalam berbagai situasi di Sekolah dan Masyarakat. 4) Memberi waktu yang cukup untuk mengembangkan berbagai sikap,

pengetahuan dan keterampilan.

5) Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar matapelajaran.

6) Kompetensi inti kelas menjadi unsur pengorganisasi (organizing elements) kompetensi dasar, dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai kompetensi yang dinyatakan dalam komptensi inti.

7) Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal.

3. METODE PENELITIAN

Penulis menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif (descriptive reaserch) adalah pendekatan penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan atau menunjukan fenomena dan kenyataan yang ada pada saat ini atau pada saat yang lampau. Penelitian ini tidak mengadakan manipulasi atau pengubahan pada variabel-variabel bebas, tetapi menggambarkan suatu kondesi apa adanya secara nyata. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekata kuantitatif (Sukmadinata, 2008 ; 54).

Lebih lanjut Sukmadinata (2006: 75) mengemukakan bahwa penelitian deskriptif dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi dalam memecahkan suatu masalah atau menentukan suatu tindakan. Untuk memecahkan suatu masalah mungkin hanya diperlukan satu jenis informasi, mungkin dua jenis informasi tetapi untuk memcahkan masalah tertentu mungkin diperlukan banyak informasi.

Penelitian Makalah dimulai dengan melakukan kajian secara teoritris mengenai permasalahan yang diteliti mengenai keterampilan komunikasi interpersonal dan kurikulum 2013.

Seminar Nasional Pendidikan Dasar | 182

Kegiatan penelitian difokuskan untuk mengkaji secara empiris profil keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik khususnya kelas X, XI dan XII Jurusan Pekerjaan Sosial di SMK Negeri 15 Bandung dan berbagai penelitian tentang keterampilan komunikasi interpersonal. Kajian empiris dilakukan dengan mengidentifikasi gambaran komunikasi interpersonal dan esensi kurikulum 2013.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

a. Profil Keterampilan Komunikasi Interpersonal

Berdasarkan segi penguasaan keterampilan komunikasi interpersonal pada peserta didik jurusan pekerja sosial di SMK Negeri 15 Bandung menunjukan sebesar 76,2%, yang diukur dari tujuh aspek oleh 41 butir item. Angka tersebut menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi peserta didik jurusan pekerjaan sosial masih belum optimal karena peserta didik jurusan pekerjaan sosial, sangat dituntut untuk dapat menguasai keterampilan komunikasi interpersonal dengan baik agar mampu menuntaskan standar kompetensi lulusan yang ada di jurusan pekerjaan sosial selain itu juga dapat berinteraksi dengan baik dalam lingkungannya.

Penguasaan keterampilan komunikasi interpersonal berdasarkan tujuh aspek tersebut bisa diketahui sebagi berikut : 1). Komunikasi Non-Verbal 75,9%, 2). penguatan 74.8 %, 3). Bertanya 76,7%, 4). Merefleksikan 81,8%, 5). Membuka dan Menutup 78,2%, 6) pendengar yang aktif 79,6% dan 7). Keterbukaan diri 66.8%. dengan demikian keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik jurusan pekerjaan sosial SMK Negeri 15 Bandung tergolong cukup tinggi atau sudah cukup optimal, namun itu semua masih memerlukan bimbingan untuk mempertahankan dan mengembangkan menjadi lebih baik. selain itu juga peserta didik yang paling tinggi penguasaanya mencapai 93,1% sehingga masih belum 100% sedangkan peserta didik yang paling rendah tingkat ketercapainya mempunyai nilai sebesar 52,1% dengan demikian ada sebagian peserta didik yang masih membutuhkan bimbingan secara mendalam.

Penelitian yang memberikan rujukan untuk terlaksananya penelitian mengenai profil kemampuan komunikasi interpersonal di SMK Negeri 15 Bandung jurusan pekerjaan sosial yaitu sebagai berikut ;

1) Noviyanti. I, (2010; 92) membahas mengenai kontribusi komunikasi interpersonal terhadap penyesuaian diri di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh koefisien korelasi antara komunikasi interpersonal dengan penyesuaian diri peserta didik sebesar 0,97 atau 94,43% dan termasuk kedalam kategori sangat kuat, salah satunya yaitu karena dalam penelitian ini tidak mengontrol variabel lain sehingga hasil yang didapat sangat besar. Dengan adanya korelasi yang sangat kuat, dapat diduga bahwa komunikasi interpersonal memiliki

Membedah Anatomi Kurikulum 2013 | 183 makna yang sama dengan penyesuaian diri. Dengan demikian, secara otomatis hubungan tersebut juga berlaku pada aspek-aspek yang terdapat di dalam variabel komunikasi interpersonal peserta didik. Siwa yang memiliki keterampilan komunikasi interpersonal tinggi akan menunjukan tingkat penyesuaian diri yang tinggi pula.

2) Aelani. L, (2011; 140) membahas mengenai Program Bimbingan Pribadi Sosial untuk Mengembangkan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Peserta didik SMA. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh gambaran umum kemampuan komunikasi interpersonal sebanyak 39 peserta didik (17,4%) yang mencapai tingkat kemampuan komunikasi interpersonal tinggi, sebanyak 151 peserta didik (67,4%) baru mencapai tingkat kemampuan komunikasi interpersonal sedang, dan masih ada 34 peserta didik (15,2%) peserta didik yang memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang rendah. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukan kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik kelas X SMA Negeri 15 Bandung Tahun Ajaran 2011/2012 berada pada kategori sedang. Artinya peserta didik mampu melakukan pengiriman pesan atau informasi yang disertai adanya feedback yang diwujudkan dalam bentuk keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan.

3) Sujarwo (2010; 107) membahas mengenai efektifitas bimbingan teman sebaya untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik SMA. Berdasarkan hasil yang telah dilakukan, rata rata skor kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik sebelum dilakukan bimbingan teman sebaya untuk kelompok kontrol sebesar 69,56 dan kelompok eksperimen 65,625 dalam kategori rendah dan setelah mengikuti layanan bimbingan teman sebaya kelompok eksperimen mengalami peningkatan menjadi 132 dan kelompok kontrol melalui bimbingan konvensional meningkat menjadi 93,72. Peningkatan kemampuan komunikasi interpersonal untuk kelompok eksperimen tinggi karena nilai tengah yang didapatkan 130 lebih besar dari nilai tengah teoritis yaitu 117, sednagkan peningkatan komunikasi interpersonal pada kelompok kontrol tergolong rendah karena nilai tengah yang didapatkan 90 dibawah nilai tengah teoritis sebesar 117. Dengan demikian, hasil penelitian menunjukan bimbingan teman sebaya untuk peserta didik SMA Negeri 1 Pageraran Lampung terbukti efektif untuk meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik pada aspek percaya, sikap suportif dan sikap terbuka.

4. Aminudin. D, (2012; 83) membahas mengenai efektivitas bimbingan teman sebaya dalam meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa persentase yang diperoleh sebelum diberikan perlakuan

Seminar Nasional Pendidikan Dasar | 184

bimbingan teman sebaya adalah 23,75% kategori sangat rendah, 35% kategori rendah, 18,75% kategori sedang, 12,5% kategori tinggi, serta 10% kategori sangat tinggi. persentase yang diperoleh setelah diberikan perlakuan bimbingan teman sebaya adalah 13,75% kategori sangat rendah, 18,75% kategori rendah, 23,75% kategori sedang, 27,5% katagori tinggi, serta 16,25% kategori sangat tinggi. Kemampuan komunikasi interpersonal mengalami perubahan setelah mendapatkan layanan bimbingan teman sebaya pada tiga indikator kemampuan tersebut. Dengan demikian peningkatan yang signifikan kemampuan komunikasi interpersonal pada peserta didik kelas XI TKJ 1 dan XI TKJ 2 SMK Taruna Bhakti Depok, setelah mendapatkan layanan bimbingan teman sebaya.