• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masukan Bagi Pedoman Sinkronisasi

Dalam dokumen TIM PENYUSUN LAPORAN (Halaman 40-0)

BAB 3 RUMUSAN HASIL PELAKSANAAN FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) DI WILAYAH STUDI

3.2 Masukan Bagi Pedoman Sinkronisasi

Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari kegiatan FGD dalam rangka kajian penyusunan materi teknis pedoman sinkronisasi antara Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan yang telah dilaksanakan, adalah sebagai berikut:

 Disamping perlunya sinkronisasi muatan/substansi antara dokumen rencana tata ruang dan rencana pembangunan, upaya sinkronisasi nomenklatur serta periodisasi waktu antara rencana pembangunan dengan rencana tata ruang juga merupakan hal penting.

 Salah satu kendala dalam upaya sinkronisasi muatan/substansi antara rencana tata ruang dan rencana pembangunan adalah masih adanya ketidakpahaman pejabat SKPD terhadap pentingnya dokumen rencana tata ruang sebagai salah satu acuan dalam menyusun rencana pembangunan daerah.

 Upaya penyelarasan nomenklatur program yang berdasarkan pada Permendagri No 13 Tahun 2006 sulit untuk dilakukan karena nomenklatur yang ditetapkan dalam Permendagri tersebut bersifat umum untuk semua daerah, sehingga tidak mencerminkan isu spesifik di tiap daerah. Salah satu upaya riil yang dapat dilakukan dalam rangka penyelarasan nomenklatur antara RTRW-RPJMD-RKPD adalah dengan melakukan pengkategorian program-program dalam RTRW berdasarkan nomenklatur yang diatur oleh Permendagri 13/2006 tersebut.

 Adanya kebijakan pelaksanaan Pilkada serentak dapat menjadi suatu momentum yang tepat dalam upaya sinkronisasi periodisasi waktu antara RTRW dengan RPJMD; periode pentahapan RTRW disesuaikan dengan periode RPJMD.

 Upaya sinkronisasi antara RTRW-RPJMD-RKPD dilakukan sejak proses Pilkada, dimana Bappeda mempresentasikan RTRW kepada para calon KDH, sehingga mereka dapat mengembangkan visi-misi mereka saat kampanye dengan mengacu pada RTRW yang telah ditetapkan. Namun, upaya ini perlu diperkuat melalui regulasi berkekuatan hukum tetap. Sebagai contoh, kewajiban para calon KDH merumuskan visi-misinya dengan mengacu pada RPJPD telah diatur dalam UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah.

Berdasarkan kesimpulan yang didapatkan dari hasil kegiatan FGD, dirumuskan beberapa rekomendasi untuk penyusunan materi teknis pedoman sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan sebagai berikut:

 Diperlukan penyusunan pedoman integrasi muatan/substansi, periodisasi waktu, dan nomenklatur dalam upaya sinkronisasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan (RTRW dan RPJPD maupun RPJMD).

 Dalam mendukung implementasi integrasi Rencana Tata Ruang dan Rencana Pembangunan (RTRW dan RPJPD maupun RPJMD), perlu dilakukan upaya:

- Peningkatan kualitas SDM yang kompeten dalam menangani upaya sikronisasi antara RTRW dan RPJPD maupun RPJMD. Upaya ini dapat dilakukan melalui kegiatan pelatihan atau bimbingan teknis.

- Penguatan badan koordinasi pentaan ruang di daerah dalam upaya memfasilitasi kegiatan koordinasi antarSKPD terkait.

 Diperlukan penyelenggaraan forum diskusi kelompok kerja yang dikoordinasikan oleh Bappeda/BKPRD, dengan melibatkan seluruh SKPD yang terkait dengan ruang dan melakukan penelaahan terhadap RTRW, RPJMD, dan Renstra SKPD, seperti kegiatan FGD yang telah dilakukan, sehingga substansi RTRW-RPJMD-RKPD dapat sinkron dan sinergis serta lebih dipahami oleh SKPD. Forum diskusi ini sebaiknya melibatkan pula perwakilan Kabupaten/Kota. Forum ini dilakukan dalam rangka memudahkan proses sinkronisasi antara dokumen rencana pembangunan dengan dokumen rencana tata ruang (RTRW-RPJMD-RKPD).

 Terkait dengan draft matek pedoman sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan, perlu ada penjelasan yang lebih kaya mengenai segala kemungkinan masalah sinkronisasi antara dokumen RTRW-RPJMD-RKPD.

Tabel 3.1 Rangkuman Hasil Pelaksanaan FGD di 3 Wilayah Studi

ISU SOLUSI & REKOMENDASI LOKASI

Kendala sinkronisasi muatan antara Rencana Tata Ruang

& Rencana Pembangunan

Beberapa strategi recana tata ruang belum terjabarkan secara jelas dalam tabel indikasi program RTRW

 Penyelenggaraan forum diskusi kelompok kerja dengan melibatkan seluruh SKPD yang terkait dengan ruang dan melakukan penelaahan terhadap RTRW, RPJMD, dan Renstra SKPD dalam rangka PK RTRW

 Sosialisasi RTRW kepada para calon KDH, sehingga mereka dapat menyelaraskan visi-misi mereka dengan RTRW yang telah ditetapkan

 Perlunya merumuskan indikator kinerja untuk mengukur pencapaian pelaksanaan tata ruang

Sumatera Barat, Jawa Timur

Perwujudan program RTRW yang tidak konsisten dengan kebijakan dan strategi RTRW

Jawa Timur

Belum sinkronnya program yang tertuang dalam RPJMD dengan program dalam RTRW

Belum seluruhnya substansi RTRWP terakomodir dalam RPJMD dan RKPD

Pengembangan sistem informasi komunikasi terpadu yang menjadi dasar pemrograman tahunan dengan berlandaskan pada RPJMD dan RTRW

Gorontalo Beberapa program dalam RKPD belum

terintegrasi dengan RTRWP dan RPJMD Kendala sinkronisasi

nomenklatur antara Rencana Tata Ruang dan

Rencana Pembangunan

Perbedaan nomenklatur antara RTRW dan Rencana Pembangunan Daerah (RPJMD dan RKPD)

 Diperlukan upaya penyelarasan nomenklatur antara RTRWP-RPJMD-RKPD

 Pengkategorian program RTRW yang diselaraskan dengan nomenklatur program dalam RPJMD

Sumatera Barat, Jawa Timur, Gorontalo

Kendala lainnya Periode dan masa berlaku yang berbeda antara RTRW-RPJMD-RKPD

 Upaya penyelarasan periodisasi waktu antara RTRWP-RPJMD-RKPD

 Penyerasian waktu PK RTRW dengan periode RPJMD untuk memudahkan sinkronisasi

Sumatera Barat, Jawa Timur, Gorontalo

Masih adanya kesulitan dalam membaca dokumen RTRW

Upaya sosialisasi muatan RTRWP bagi seluruh SKPD dalam rangka meningkatkan pemahaman SKPD terhadap RTRWP

Sumatera Barat, Gorontalo

ISU SOLUSI & REKOMENDASI LOKASI

Perbedaan outline dokumen antara RTRWP, RPJMD, RKPD

Penyelenggaraan forum diskusi kelompok kerja dengan melibatkan seluruh SKPD yang terkait dengan ruang dan melakukan penelaahan terhadap RTRW, RPJMD, dan Renstra SKPD dalam rangka PK RTRW

Sumatera Barat Kendala pembagian kewenangan antara

Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam upaya implementasi sinkronisasi RTRW-RPJMD-RKPD

Belum sinkronnya kebijakan nasional-provinsi-kabupaten/kota

Sosialisasi RTRW kepada para calon KDH, sehingga mereka dapat menyelaraskan visi-misi mereka dengan RTRW yang telah ditetapkan

Jawa Timur

BAB 4 PEDOMAN SINKRONISASI RENCANA TATA RUANG

DAN RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH

Bab ini memberikan pedoman untuk sinkronisasi rencana tata ruang dan rencana pembangunan daerah, khususnya untuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

4.1 Amanat Integrasi

Amanat keintegrasian antara dokumen rencana tata ruang dengan dokumen rencana pembangunan telah tertuang dalam UU Sistem Perencanaan Pembangunan NasionalNo. 25 Tahun 2004 (UU SPPN) maupun UU Penataan Ruang No. 26 Tahun 2007 (UUPR). Lebih khusus lagi, UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJP Nasional 2005-2025 mengamanatkan bahwa konsistensi pemanfaatan ruang dapat dicapai dengan mengintegrasikannya ke dalam dokumen perencanaan pembangunan. Oleh karena itu, penting untuk dapat melihat secara jelas bagaimana amanat integrasi tersebut dijabarkan secara lebih rinci, baik dari sudut pandang pelaksanaanpenataan ruang, maupun dari sudut pandang sistem perencanaan pembangunan nasional.

4.1.1 Amanat Integrasi dalam PelaksanaanPenataan Ruang

Mengingat bahwa penataan ruang merupakan suatu proses yang bersifat multisektor, maka salah satu konten yang terdapat dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah mengenai integrasi, khususnya integrasi antara rencana tata ruang dengan rencana pembangunan yang lebih bersifat aspasial, serta integrasi antara rencana tata ruang dengan rencana sektoral terkait penataan ruang yang lebih bersifat spasial. Di dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, pembahasan mengenai integrasi antara rencana tata ruang dengan rencana pembangunan banyak tertuang pada Bab VI mengenai “Pelaksanaan Penataan Ruang”, yaitu:

 Pasal 19 dan Pasal 20 Ayat (2) mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;

 Pasal 22 Ayat (1) dan Pasal 23 Ayat (2) mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi;

 Pasal 25 Ayat (1) dan Pasal 26 Ayat (2) mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten; serta

 Pasal 28 mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kota.

Di dalam pasal-pasal tersebut, disebutkan bahwa:

1) Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) harus mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), baik itu di tingkat Nasional/Provinsi/Kabupaten/Kota.

2) Rencana Tata Ruang Wilayah kemudian menjadi pedoman untuk penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM), baik itu di tingkat Nasional/Provinsi/Kabupaten/Kota, serta dalam mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan antar sektor.

Selain Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, Peraturan Pemerintah No. 15 Tahun 2010 juga membahas mengenai integrasi rencana tata ruang dengan rencana pembangunan. Pembahasan mengenai integrasi tersebut tertuang dalam ketentuan mengenai “Pelaksanaan Perencanaan Tata Ruang”, khususnya pada beberapa pasal sebagai berikut:

 Pasal 25 Ayat (2) butir d, mengenai penyusunan dan penetapan RTRWN;

 Pasal 27 Ayat (2) butir d, mengenai penyusunan dan penetapan RTRWP;

 Pasal 32 Ayat (2) butir d, mengenai penyusunan dan penetapan RTRW Kabupaten;

 Pasal 35 Ayat (2) butir d, mengenai penyusunan dan penetapan RTRW Kota;

 Pasal 53 Ayat (2), mengenai penyusunan dan penetapan RTR Kawasan Strategis;

 Pasal 61 Ayat (2), mengenai penyusunan dan penetapan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR); serta

 Pasal 43 Ayat (2), mengenai penyusunan dan penetapan RTR Pulau/Kepulauan;

penyusunan dan penetapan RTR Kawasan Perkotaan; serta penyusunan dan penetapan RTR Kawasan Perdesaan.

Disamping itu, pembahasan mengenai integrasi di dalam PP 15/2010 juga tertuang dalam ketentuan “Pelaksanaan Pemanfaatan Ruang”, khususnya pada Pasal 96. Di dalam pasal-pasal tersebut, disebutkan bahwa:

1) Perumusan konsepsi RTR di tingkat Nasional/Provinsi/Kabupaten/Kota paling sedikit harus mengacu pada RPJP.

2) Perumusan konsepsi RTR Pulau/Kepulauan, RTR Kawasan Strategis, RDTR, RTR Kawasan Perkotaan, serta RTR Kawasan Perdesaan paling sedikit harus memperhatikan RPJP maupun RPJM Nasional; Provinsi maupun Kabupaten/Kota terkait.

3) Pelaksanaan pemanfaatan ruang dilakukan melalui integrasi program yang dituangkan ke dalam rencana pembangunan jangka panjang, rencana pembangunan jangka menengah, dan rencana pembangunan tahunan sesuai

dengan sistem perencanaan pembangunan nasional, serta pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang.

4.1.2 Amanat Integrasi dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang SPPN sendiri memang tidak menyinggung mengenai rencana tata ruang. Namun demikian di dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN (pada sub-bab IV.1.5) disebutkan bahwa:

“Rencana tata ruang digunakan sebagai acuan kebijakan spasial bagi pembangunan di setiap sektor, lintas-sektor, maupun wilayah agar pemanfaatan ruang dapat sinergis, serasi, dan berkelanjutan. Rencana Tata Ruang Wilayah disusun secara hierarki. Dalam rangka mengoptimalkan penataan ruang perlu ditingkatkan (a) kompetensi sumber daya manusia dan kelembagaan di bidang penataan ruang, (b) kualitas rencana tata ruang, dan (c) efektivitas penerapan dan penegakan hukum dalam perencanaan, pemanfaatan, maupun pengendalian pemanfaatan ruang.”

Keterkaitan antara rencana pembangunan dan rencana tata ruang dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Keterkaitan Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang

Sumber: DSF-Bappenas, 2011

4.1.3 Kedudukan RPJMD terhadap RTRW

Perencanaan Pembangunan Daerah merupakan suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah yang berjangka waktu 5 tahun. RPJMD provinsi disusun berdasarkan visi, misi, dan program kepala daerah terpilih dengan mengacu pada:

- Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi;

- Rencata Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi; dan

- Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

RTRW dan RPJPD merupakan dokumen perencanaan jangka panjang daerah yang seharusnya saling berkaitan dan terintegrasi. Kedua dokumen perencanaan jangka panjang tersebut menjadi acuan dalam penyusunan RPJMD. Penyusunan rencana pembangunan daerah (RPJMD) sendiri dilakukan secara paralel dan iteratif dengan penyusunan Renstra SKPD oleh masing-masing SKPD. Dalam hal ini, RTRW (rencana tata ruang) juga menjadi acuan dalam penyusunan Renstra SKPD, khususnya bagi urusan-urusan yang bersifat spasial.Urusan-urusan yang bersifat spasial dan memiliki keterkaitan erat dengan rencana tata ruang adalah urusan-urusan yang kegiatannya memiliki implikasi terhadap ruang, misalnya pengembangan infrastruktur (urusan Pekerjaan Umum), pengembangan kawasan industri (urusan industri), penetapan destinasi kawasan pariwisata (urusan pariwisata), dan sebagainya. Kedudukan dan keterkaitan RPJMD dan Renstra SKPD terhadap RTRW dan RPJPD dapat dilihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Keterkaitan RTRW dengan RPJMD dan Renstra SKPD

RPJPD

RTRWP

RPJMD

Renstra SKPD

RKPD

Renja SKPD

Jangka Panjang Jangka Menengah Jangka Pendek

Sumber: DSF-Bappenas, 2011

4.1.4 Konsistensi Perencanaan dari Jangka Panjang ke dalam Jangka Menengah

Rencana tata ruang adalah hasil dari suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang. Sedangkan rencana pembangunan daerah merupakan hasil dari suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. Dokumen rencana tata ruang dan dokumen rencana pembangunan haruslah saling terintegrasi. Dalam rangka pemanfaatan ruang, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) menjadi acuan bagi pelaksana pembangunan.

Sinkronisasi antara RTRW dan RPJMD ini menjadi krusial karena dokumen RPJMD merupakan dokumen rencana pembangunan yang bersifat implementatif dan mengakomodir amanat visi dan misi kepala daerah terpilih (KDH). Dengan terintegrasinya RTRW dan RPJMD, maka melalui pelaksanaan RPJMD, perencanaan dalam RTRW terimplementasikan.

Dengan adalanya pemilihan kepala daerah secara langsung, maka ada kecenderungan bahwa rencana pembangunan jangka menengah daerah disusun (hanya) berdasarkan visi, misi, dan program kepala daerah terpilih. RPJPD, apalagi RTRW, kurang dijadikan acuan dalam penyusunan RPJMD. Akibatnya kedua dokumen perencanaan pembangunan jangka panjang daerah tersebut tidak terimplementasikan. Namun, hal tersebut saat ini sudah diantisipasi melalui UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang mengamanatkan bahwa RPJPD harus menjadi pedoman dalam perumusan visi, misi, dan program calon kepala daerah (pasal 265 ayat 1). Sayangnya, RTRW tidak disebut dalam amanat tersebut. Namun demikian, UU No. 26 tahun 2007 telah mengamanatkan bahwa RTRW menjadi pedoman dalam penyusunan RPJPD maupun RPJMD. Dengan demikian, dalam proses pilkada harus ditegaskan bahwa dalam merumuskan visi, misi, dan program, calon kepala daerah harus mengacu pada RPJPD maupun RTRW yang ada.

Penegasan tersebut dapat dilakukan antara lain dengan cara:

- Bappeda sebagai institusi dengan fungsi perencana melakukan sosialisasi dan diskusi tentang RTRW dan RPJPD kepada semua bakal calon KDH sebelum mereka merumuskan visi, misi, programnya untuk kampanye. Bila visi-misi-program bakal calon KDH tidak sesuai dengan RPJPD dan RTRW, maka dikembalikan untuk direvisi.

- RTRW dan RPJPD disosialisasikan kepada masyarakat dengan menggunakan cara-cara yang mudah diakses dan dipahami oleh masyarakat sesuai dengan kebiasaan masyarakat setempat. Diharapkan dengan memahami muatan RTRW dan RPJPD, masyarakat dapat menilai kampanye calon KHD secara lebih obyektif pada saat Pilkada.

Melalui penerapan langkah-langkah tersebut diharapkan integrasi RTRW dan RPJMD dapat terlaksana, sehingga konsistensi perencanaan jangka panjang (RTRW) ke jangka menengah (RPJMD) dapat terjaga, dan program 5 tahunan dalam RPJMD tetap selaras dengan RTRW.

Gambar 4.3 Konsistensi Perencanaan Jangka Panjang ke Perencanaan Jangka Menengah

Apablia menilik sistem perencanaan yang dilakukan pada beberapa negara lain di dunia (Uni Eropa), maka sistem perencanaan yang ada di Indonesia ini dipengaruhi oleh sistem yang ada di Negara Belanda. Dimana pendekatan yang diacu merupakan pendekatan comprehensive-integrated. Implementasi pendekatan ini terindikasikan dari adanya sistem perencanaan yang bersifat kaku (rigid), terhierarki, serta memiliki fokus perencanaan yang terkesan terpisah antara fokus pengembangan ekonomi lokal dan fokus pengaturan ruang. Hal ini terlihat jelas dari pelaksanaan penyusunan antara perencanaan pembangunan (RPJP dan RPJM) dengan perencanaan tata ruang (RTR) yang dilakukan secara paralel dan terhierarki dari tingkat nasional, provinsi, sampai kabupaten/kota.

Sistem perencanaan yang dianut oleh Indonesia ini disesuaikan dengan karakter pemerintahan Indonesia yang bersifat demokrasi pancasila serta kondisi global yang ada saat ini, dimana Indonesia berupaya mengadopsi sistem pasar bebas, tetapi tetap terkontrol oleh Pemerintah Pusat. Namun, diakui bahwa dalam prakteknya sistem perencanaan yang diterapkan ini tidak diikuti dengan sistem pemerintahan yang ajeg dan baik, sehingga kemudian dalam prakteknya banyak ditemui ketidaksesuaian

Penyusunan RPJMD RTRW

Provinsi

Visi, Misi, Program

KDH

RPJPD Provinsi

Perencanaan Jangka Panjang Perencanaan Jangka Menengah

antara rencana dan implementasi pembangunan. Upaya perumusan kondisi sistem perencanaan yang ideal di Indonesia bukanlah hal yang mudah, karena kita tidak dapat serta merta mengadopsi sistem perencanaan dari negara lain. Upaya pengadopsian suatu sistem perencanaan sangatlah dipengaruhi oleh karakteristik suatu negara.

Namun demikian, dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, dapat diperoleh gambaran keterkaitan dokumen-dokumen perencanaan daerah, yaitu antara rencana pembangunan (khususnya RPJPD dan RPJMD) dan rencana tata ruang (RTRW) yang mendekati kondisi ideal, sebagai berikut:

1. Periode perencanaan

Akan ideal apabila semua dokumen perencanaan daerah memiliki periode perencanaan yang sama sesuai dengan hierarkinya. Idealnya, RPJPD dan RTRW (juga berbagai rencana induk sektor) yang merupakan dokumen perencanaan daerah jangka panjang memiliki periode perencanaan yang sama, misalnya 2005-2015. Kemudian RPJMD (dan Renstra SKPD), sebagai dokumen perencanaan jangka menengah daerah yang mengoperasionalkan dokumen perencanaan jangka panjang tersebut dan menjembataninya menjadi acuan implementasi dalam perencanaan tahunan, memiliki periode yang sama dengan periodisasi waktu/pentahapan dalam dokumen perencanaan jangka panjang tersebut. Dalam kenyataannya hal ini tidak terjadi. Walau untuk RPJPD diatur bahwa periodenya harus sama dengan RPJPN, yaitu 2005-2025, tidak ada pengaturan untuk periode RTRW. Demikian juga, periode RPJMD lebih dipengaruhi oleh pelaksanaan Pilkada yang dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Terkait dengan hal-hal tersebut, adanya rencana pelaksanaan Pilkada serentak di seluruh Indonesia dapat dijadikan momentum untuk melakukan penyesuaian periode waktu perencanaan dari berbagai dokumen perencanaan daerah tersebut dari tingkat nasional sampai kabupaten/kota, dan dari perencanaan jangka panjang ke perencanaan jangka menengah.

2. Prosedur penyusunan

Idealnya RTRW dan RPJPD sudah diintegrasikan sejak saat penyusunannya, yaitu dengan mengembangkan prosedur penyusunan yang parallel antara RTRW dan RPJPD. Sebagai contoh lihat kembali gambar 2.1 dan 2.2 pada Bab 2 di atas.

Dengan prosedur penyusunan yang terintegrasi dan paralel diharapkan muatan dalam RPJPD dan RTRW dapat saling melengkapi, terkait, terintegrasi, dan sinkron.

Dalam hal ini, RTRW dapat menjadi muatan spasial dari RPJPD. Ke depannya dapat dipertimbangkan apa kelebihan masing-masing: apakah RPJPD dan RTRW tetap menjadi 2 dokumen dengan proses penyusunan yang diintegrasikan atau RPJPD dan RTRW digabung menjadi 1 dokumen perencanaan jangka panjang daerah yang

memuat grand design pengembangan daerah dan dijabarkan ke dalam rencana pembangunan maupun spasial.

3. Muatan

Saat ini muatan RPJPD dan RTRW tidak setara. RPJPD lebih bersifat arah kebijakan strategis, sementara RTRW mengatur sampai indikasi program utama selama 20 tahun, dengan 5 tahun pertama terinci setiap tahun. Dengan sifatnya yang rinci, muatan RTRW menjadi lebih mudah (dan rigid) untuk dioperasionalkan ke dalam RPJMD sesuai dengan periode waktu pelaksanaannya. Pertanyaan yang muncul adalah harus seberapa detil sebenarnya muatan perencanaan yang diatur dalam RTRW? Apakah tingkat kedetilan muatan perencanaan dalam RTRW tersebut harus sama dari tingkat nasional sampai dengan tingkat kabupaten/kota? Bagaimana seharusnya kesetaraan muatan antara RPJPD dan RTRW (bila tetap menjadi 2 dokumen terpisah) dan kedetilan arahan dalam RTRW (dan RPJPD) sebagai acuan penyusunan RPJMD?

4. Legalitas

Dari sisi legalitas, RPJPD, RPJMD, dan RTRW memiliki kekuatan hukum yang setara yaitu ditetapkan dengan Peraturan Daerah, walaupun proses penetapan Perdanya melalui prosedur yang berbeda. RTRW harus melalui proses persetujuan substansi dalam forum BKPRN. Selain itu evaluasi Raperda RTRW Kabupaten/Kota saat ini juga harus melalui proses konsultasi dengan Menteri Dalam Negeri yang kemudian berkoordinasi dengan Menteri yang menangani bidang tata ruang (Menteri Agraria dan Tata Ruang). Sementara tidak demikian halnya dengan proses evaluasi Raperda RPJMD.

Hal yang perlu ditekankan di sini adalah, walau RPJPD, RPJMD, dan RTRW sama-sama ditetapkan dengan Peraturan Daerah, tetapi karena RPJPD dan RTRW merupakan dokumen perencanaan jangka panjang dengan periode waktu perencanaan 20 tahun, maka kedua dokumen tersebut memiliki hierarki lebih tinggi daripada RPJMD, dan penyusunan RPJMD harus mengacu pada kedua dokumen tersebut. Dengan demikian, bila terjadi perubahan pada dokumen RTRW yang telah Perda (dan menjadi acuan dalam penyusunan RPJMD), maka dokumen RPJMD juga harus disesuaikan kembali dengan perubahan yang ada dalam RTRW, apabila perubahan tersebut terjadi pada jangka waktu periode RPJMD yang berlaku.

5. Nomenklatur

RPJPD, RPJMD, dan RTRW sama-sama merupakan dokumen perencanaan daerah yang seharusnya saling melengkapi, terintegrasi, dan sinkron satu dengan lainnya.

Atas dasar itu, seharusnya muatan dalam dokumen-dokumen tersebut menggunakan nomenklatur yang sama dan setara.

4.2 Integrasi antara RTRW dan RPJMD

Berdasarkan analisis secara komprehensif dari hasil kunjungan lapangan dan tinjauan literasi, dapat diidentifikasi bahwa integrasi antara RTRW dan RPJMD dapat dilakukan melalui 5 (lima) langkah, yaitu (1) integrasi proses/dokumen, (2) legalitas RTRW; (3) periodisasi waktu, (4) integrasi muatan; serta (5) pemahaman nomenklatur.

Sehubungan dengan itu, berikut ini dijabarkan pedoman integrasi RTRW dan RPJMD berdasarkan kelima langkah tersebut di atas.

4.2.1 Integrasi Proses/Dokumen

Proses penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah diatur dalam:

- UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

- PP No. 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; dan

- Permendagri No. 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan PP No. 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, khususnya dalam Lampiran III tentang Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RPJMD.

Penyusunan RPJMD dilakukan melalui proses berikut ini (lihat Gambar 4.4):

a. Penyusunan rancangan awal RPJMD oleh Bappeda sebagai penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah;

b. Penyusunan rancangan RPJMD: Bappeda menyempurnakan rancangan awal RPJMD menjadi rancangan RPJMD dengan menggunakan rancangan Renstra-SKPD sebagai masukan;

c. Pelaksanaan Musrenbang Jangka Menengah: Musrenbang dilaksanakan untuk membahas rancangan RPJMD;

c. Pelaksanaan Musrenbang Jangka Menengah: Musrenbang dilaksanakan untuk membahas rancangan RPJMD;

Dalam dokumen TIM PENYUSUN LAPORAN (Halaman 40-0)