BAB III EVALUASI DAN ANALISIS TERHADAP PERATURAN
B. Keterkaitan Dan Harmonisasi Peraturan Daerah Yang
Pembentukan rancangan Peraturan Daerah tentang perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Badung tentang Pajak Parkir, disatu sisi merupakan usaha untuk menyesuaikan kembali peraturan daerah yang berlaku dengan kondisi dan perkembangan masyarakat, Disisi lain peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku perlu diharmonisasi dengan perubahan – perubahan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar pembentukannya dan juga peraturan perundang – undangan yang terkait.
Adapun peraturan perundang undangan yang terkait dan sebagai langkah harmonisasinya akan disampaikan sebagai berikut :
1. Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah.
Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, merupakan dasar hukum dari pembentukan dari peraturan daerah tentang pajak parkir. Substansinya mengatur tentang pemberian kewenangan – kewenangan dalam bidang perpajakan kepada pemerintah daerah dalam rangka memperkuat pelaksanaan otonomi daerah. Pajak parkir adalah salah satu yang di serahkan kewenangan untuk memungut kepada pemerintah daerah.
Dalam Pasal 64 ayat (2) Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, diatur bahwa dasar pengenaan pajak parkir ditetapkan dengan peraturan daerah.
38
Kemudian dalam ketentuan Pasal 65 ayat (2) diatur bahwa tarif pajak ditetapkan dengan peraturan daerah. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa perubahan peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku, terutama berkaitan dengan perubahan ketentuan tarif pajak parkir dilakukan dengan bentuk instrumen peraturan daerah yang baru adalah sesuai perintah Undang – Undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, sehingga dapat dikatakan satu aturan dengan aturan yang lain harmonis.
2. Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.
Undang- undang ini mengatur mengenai penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi. Dalam Pasal 236 ayat (1) Undang – Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, diatur bahwa untuk menyelenggarakan otonomi daerah dan tugas pembantuan, daerah membentuk perda.
Pada ayat (3) diatur bahwa perda memuat penyelengaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, serta penjabaran lebih lanjut ketentuan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut, maka pembentukan peraturan tentang pajak parkir dalam bentuk perda adalah bagian dari penyelenggaraan otonomi daerah, terutama berkaitan dengan sumber pembiayaan otonomi daerah tersebut. Kemudian disamping itu muatan dari peraturan daerah tentang pajak parkir yang baru, sebagai perubahan peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku adalah penjabaran lebih lanjut ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yaitu Undang-Undang No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah. Jadi apabila dilihat dari hal-hal yang telah dijelaskan, ada keterkaitan yang harmonis antara peraturan daerah tentang pajak parkir yang baru dengan undang – undang pemerintahan daerah.
39
3. Peraturan Daerah Kabupaten Badung No. 14 Tahun 2011 Tentang Pajak Parkir
Peraturan daerah ini mengatur tentang ketentuan pajak parkir, yang salah satu substansi pengaturannya adalah persoalan tarif parkir.
Wacana perubahan tarif parkir di Kabupaten Badung dari aspek yuridis adalah wacana perubahan terhadap peraturan daerah yang mengatur tentang tarif parkir. Dengan demikian peraturan daerah yang baru akan merubah/menggantikan peraturan daerah tentang pajak parkir yang berlaku saat ini, sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara satu dengan yang lainnya.
40
BAB IV
LANDASAN FILOSOFIS SOSIOLOGIS DAN YURIDIS
Landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis dimuat dalam pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang maupun Peraturan Daerah.
Ketiga unsur tersebut menjadi pertimbangan dan alasan dibentuknya Undang-Undang ataupun Peraturan Daerah tersebut. Unsur filosofis diartikan sebagai pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk mempertimbangkan pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum yang meliputi suasana kebatinan serta falsafah bangsa Indonesia yang bersumber dari Pancasila dan Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Unsur sosioliogis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berbagai aspek. Landasan sosioliogis sesungguhnya menyangkut fakta emperis mengenai perkembangan masalah dan kebutuhan masyarakat.
Selanjutnya unsur yuridis menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk mengatasi permasalahan hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang telah ada, yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat.
A. Landasan Filosofis
Pembukaan Undang-Undang Dasar NegaraRepublik Indonesia Tahun 1945 alinea keempat dengan tegas menyatakan bahwa tugas konstitusional Pemerintah Negara Republik Indonesia adalah : ―melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial‖. Tujuan inilah yang harus menjadi acuan utama dari seluruh gerak langkah yang dijalankan oleh negara dalam arti yang seluas-luasnya. Kemudian dalam kaitannya dengan aspek kesejahteraan juga disebutkan bahwa kata atau frasa kalimat
―mencerdaskan kehidupan bangsa‖. Para pendiri bangsa sadar benar
41
akan hal ini karena kecerdasan adalah merupakan juga bentuk kesejahteraan yang bersifat psikis. Dengan demikian maka lengkaplah makna kesejahteraan ini seperti yang sering disampaikan oleh para bijak dan cendekiawan bahwa kesejahteraan itu bukan saja menyangkut aspek kesejahteraan lahir akan tetapi juga meliputi kesejahteraan batin.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka negara diberikankan hak, salah satu diantaranya adalah hak untuk memungut pajak yang harus dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan negara dan daerah.
Selanjutnya Pasal 23 A UUD NRI 1945 menyatakan bahwa… ―pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan Undang-Undang‖. Secara nyata pajak jelas memberikan beban kepada masyarakat dan pemungutannya dapat dipaksakan. Disamping itu pajak tidak memberikan imbalan yang secara langsung dapat ditunjuk atau tidak memberikan imbalan yang sifatnya langsung terhadap orang yang membayar pajak. Pengambilan kekayaan atau harta tanpa persetujuan dari pemiliknya sesungguhnya merupakan tindakan ―perampokan, pemaksaan, perampasan‖. Namun pajak tidak dimaksudkan seperti itu, karena itu pemungutan pajak harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari masyarakat itu sendiri. Persetujuan tersebut dilakukan oleh rakyat melalui wakil-wakilnya yang duduk di parlemen dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dipilih oleh rakyat secara langsung melalui produk hukum yang dibentuk yaitu Undang-undang. Falsafah pajak yang tersirat dalam Pasal 23 A UUD NRI 1945 ini ternyata mirip dengan falsafah pajak di Inggris dengan ―No taxation without representation” dan di Amerika Serikat dengan ―Taxation without Representation is Robbery”.
Atas dasar uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa landasan filosofis pemungutan pajak didasarkan atas pendekatan ―Benefit Approach‖ atau pendekatan manfaat. Pendekatan ini merupakan dasar fundamental atas dasar filolosofis yang membenarkan negara melakukan pemungutan pajak sebagai yang dapat dipaksakan dalam arti mempunyai wewenang dengan kekuatan pemaksa. Pendekatan manfaat (benefit approach) ini mendasarkan suatu falsafah: oleh karena negara menciptakan manfaat yang dinikmati oleh seluruh warga negara yang berdiam dalam negara,
42
maka negara berwewenang memungut pajak dari rakyat dengan cara yang dapat dipaksakan.
Bentuk manfaat yang bisa dinikmati oleh warga negara adalah:
kesejahteraan, pelayanan umum, perlindungan hukum, kebebasan, penggunaan fasilitas umum, seperti: pelabuhan, jalanan, jembatan, tempat-tempat hiburan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan manfaat tersebut.
Secara filosofi pembuatan suatu peraturan perundang-undangan termasuk Peraturan Daerah adalah untuk menciptakan nilai-nilai keadilan, kepastian hukum, objektivitas, perlindungan hukum terhadap objek yang diatur dan sebagainya dalam suatu bidang kehidupan tertentu. Untuk menjaga agar hal tersebut berlangsung sesuai dengan keinginan dan cita-cita maka seluruh pemangku kepentingan harus senantiasa menjaga dan selalu melakukan sinkronisasi terhadap landasan di atas agar dalam langkah gerak yang semakin cepat ini negara atau daerah tidak salah melangkah atau terjadi disorientasi dari kerangka landasan ini.
Demikian pula upaya dalam rangka perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Pajak Parkir perlu dilakukan terutama untuk menyesuaikan tarif pajak parkir yang selama ini berlaku. Penyesuaian tarif ini diperlukan karena Pemerintah Daerah membutuhkan sumber-sumber keuangan yang memadai untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang terus meningkat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Namun demikian, penyesuaian tarif ini tentu harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti aspek sosial, ekonomi, dan lain-lain, sehingga di satu sisi Pemerintah Daerah dapat memperoleh sumber keuangan yang memadai, namun di sisi lain rasa keadilan masyarakat juga harus dipenuhi.
B. Landasan Sosiologis
Dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan pemerintah daerah dalam bentuk pelaksanaan kewenangan fiskal, setiap daerah harus dapat mengenali potensi dan mengidentifikasi sumber-sumber daya yang
43
dimilikinya. Pemerintah daerah diharapkan lebih mampu menggali sumber-sumber keuangan, khususnya untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pemerintahan dan pembangunan di daerahnya melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tuntutan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) semakin besar seiring dengan semakin banyaknya kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada daerah disertai pengalihan personil, peralatan, pembiayaan dan dokumentasi (P3D) ke daerah.
Sumber-sumber penerimaan daerah yang potensial harus digali secara maksimal di dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk diantaranya adalah pajak daerah yang sudah sejak lama menjadi salah satu unsur Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang utama.
Salah satu jenis pajak daerah yang potensial adalah pajak parkir. Pajak parkir, merupakan kontribusi wajib masyarakat kepada daerah yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan akan dipergunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sebagai sumber pendapatan asli daerah, penerimaan yang bersumber dari pajak parkir dimanfaatkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah, dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, dan kekhasan suatu daerah.
Disamping untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, pajak parkir dapat berfungsi sebagai instrumen untuk pembatasan kendaraan dalam rangka pengendalian lalu lintas. Dengan jumlah penduduk Kabupaten Badung yang cukup padat akan berdampak pada permasalahan infrastruktur jalan yang tidak seimbang bila dibandingkan dengan kenaikan jumlah pemilikan kendaraan bermotor. Hal ini bisa menjadi solusi agar memaksa warga masyarakatnya untuk lebih menggunakan transportasi publik.
Pembentukan suatu peraturan daerah, perubahan ataupun penggantian perlu dilakukan disesuaikan dengan perkembangan dan dinamika masyarakat.
Manakala sebuah ketentuan peraturan perundang-undangan dirasa sudah tidak sesuai dengan dinamika masyarakat maka ketentuan tersebut dapat segera diubah
44 dan diperbaiki dengan tetap mengacu dan berorientasi kepada tujuan utama negara yaitu menciptakan kesejahteraan bagi warga negaranya.
C. Landasan Yuridis
Yang dimaksud dengan landasan yuridis adalah pertimbangan atau alasan yang menggambarkan bahwa peraturan yang dibentuk untuk mengatasi masalah hukum atau mengisi kekosongan hukum dengan mempertimbangkan aturan yang ada, yang akan diubah, atau yang akan dicabut guna guna menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat. Landasan yuridis menyangkut persoalan hukum yang berkaitan dengan substansi atau materi yang diatur sehingga perlu dibentuk peraturan perundang-undangan yang baru. Landasan yuridis dibedakan ke dalam landasan yuridis formal dan landasan yuridis material.
Landasan yuridis formal melihat apakah pejabat atau badan mempunyai dasar hukum kewenangan dalam membentuk peraturan perundang-undangan. Sedangkan landasan yuridis material menunjuk pada materi muatan tertentu yang harus dimuat dalam suatu peraturan perundang-undangan.
Terkait kewenangan pemerintah daerah dalam dalam menyelenggarakan pemerintahan, maka kewenangannya diatur pada Pasal 18 UUD NRI 1945 yang menyatakan bahwa :
(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan undang-undang.
(2) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
Selanjutnya kewenangan pembentukan peraturan daerah diatur dalam Pasal 18 ayat (6) yang menyebutkan bahwa ―pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan‖. Guna melaksanakan
45
ketentuan Pasal 18 tersebut dikeluarkanlah UUU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan UU No. 2 Tahun 2015 dan terakhir dengan UU No. 9 Tahun 2015. Dalam Pasal 236 ayat (2) UU tersebut ditentukan bahwa Peraturan Daerah dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama Kepala Daerah.
Disamping UU No.23 Tahun 2014, landasan yuridis kewenangan daerah untuk memungut pajak khususnya pajak parkir telah diatur dalam UU No. 28 tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi daerah. Undang-undang ini telah membuka ruang bagi Pemerintah Kabupaten Kabupaten/Kota untuk menggunakan Pajak Parkir sebagai salah satu instrumen untuk pengendalian lalu lintas di wilayahnya masing-masing.
Hal ini dapat terlihat pada kenaikan tarif yang semula tercantum dalam UU Nomor 34 Tahun 2000 sebesar 20%, sedangkan dalam UU 28/2009 tarif dinaikkan maksimal menjadi 30%. Kenaikan dimaksudkan memberi ruang bagi Pemerintah Daerah dapat memberlakukan tarif tinggi pada jasa parkir sehingga terjadi disinsentif bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi.
Apabila kenaikan tarif parkir tidak disertai kenaikan tarif Pajak Parkir, maka kenaikan tarif parkir hanya akan menguntungkan pengusaha pengelola jasa parkir. Bila kenaikan tarif parkir juga disertai pembelakuan kenaikan tarif Pajak Parkir, maka perolehan pendapatan dari pajak parkir juga akan masuk dalam Kas Pemerintah Daerah.
46
BAB V
JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH PAJAK PARKIR
Bab ini akan menguraikan ruang lingkup materi muatan, sebelumnya akan dirumuskan sasaran, arah dan jangkauan pengaturan. Materi didasarkan pada ulasan yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya
A. Sasaran, Jangkauan, Dan Arah Pengaturan
Berdasarkan keseluruhan uraian dalam bab-bab sebelumnya dapat dirumuskan sasaran, jangkauan, dan arah pengaturan. Yang dimaksud dengan sasaran pengaturan adalah kelompok masyarakat yang disasar atau dituju oleh pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Parkir. Yang dimaksud dengan jangkauan pengaturan adalah kegiatan-kegiatan yang hendak diatur dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Parkir. Yang dimaksud dengan arah pengaturan adalah garis kebijakan untuk menuntun pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Parkir.
Sasaran, jangkauan, dan arah pengaturan dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Parkir, sebagaimana dikemukakan dalam tabel berikut:
Tabel 3 Sasaran, jangkauan, dan arah pengaturan dalam pembentukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Parkir
KATEGORI URAIAN
Sasaran pengaturan
ditujukan kepada orang pribadi atau Badan yang dapat dikenakan Pajak, serta orang pribadi atau Badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
Jangkauan pengaturan
menjangkau penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
Arah
pengaturan
terwujudnya pemungutan Pajak Parkir yang memberikan jaminan keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum bagi orang pribadi atau Badan yang dapat dikenakan Pajak.
Sumber : diolah dari berbagai sumber
47
B. Ruang Lingkup Materi Muatan Pengaturan 1. Nama Peraturan Daerah dan Nama Pajak
Sesuai Pasal 95 ayat (3) huruf a UU 28/2009, Peraturan Daerah tentang Pajak paling sedikit mengatur ketentuan mengenai nama Pajak. Terkait dengan nama Pajak, dalam Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan (TP3U), pada angka 2 dan 3 Lampiran II UU 12/2011 menentukan:
a. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan.
b. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dengan hanya menggunakan 1 (satu) kata atau frasa tetapi secara esensial maknanya telah dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan.
Contoh nama Peraturan Perundang-undangan yang menggunakan1 (satu) kata:
- Paten;
- Yayasan;
- Ketenagalistrikan.
Contoh nama Peraturan Perundang-undangan yang menggunakan frasa:
- Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum;
- Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;
- Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.
Berdasarkan atas ketentuan-ketentuan tersebut, maka nama Pajak seharusnya diintegrasikan ke dalam nama Peraturan undangan, yang merupakan bagian dari Judul Peraturan Perundang-undangan. Dengan demikian, nama Peraturan Daerah yang sedang dirancang sekaligus memuat nama Pajak, yakni: Pajak Parkir.
Kebiasaan dalam perancangan Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah, nama Pajak dicantumkan dalam BAB II NAMA, OBJEK, DAN
48
SUBJEK PAJAK, sebagaimana ditemukan antara lain dalam Peraturan Daerah
Kebiasaan perancangan tersebut tidak ditemukan rujukannya dalam peraturan perundang-undangan, khususnya dalam teknik penyusunan peraturan perundang-undangan. Namun, apabila Pemerintah Kabupaten Badung tetap mengikuti kebiasaan tersebut, maka salah satu pola rumusan nama Pajak tersebut dapat menjadi acuan.
2. Ketentuan Umum
Penting mengingat kembali sejumlah ketentuan dalam perumusan Ketentuan Umum. Angka 98 Lampiran II UU 12/2011 menentukan Ketentuan Umum berisi:
a. batasan pengertian atau definisi;
b. singkatan atau akronim yang dituangkan dalam batasan pengertian atau definisi; dan/atau
c. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal atau beberapa pasal berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas, maksud, dan tujuan tanpa dirumuskan tersendiri dalam pasal atau bab.
Berdasarkan atas ketentuan tersebut, maka dalam Ketentuan Umum penting dirumuskan batasan pengertian atau definisi, antara lain:
1. Pajak Parkir, yang selanjutnya disebut Pajak, adalah kontribusi wajib kepada Daerah atas penyelenggaraan tempat parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
2. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara.
3. Subjek Pajak adalah orang pribadi atau Badan yang dapat dikenakan Pajak.
4. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau Badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.
49
3. Objek dan Subjek Pajak
Tanpa ada objek Pajak, maka tidak akan ada pemungutan Pajak.
Objek Pajak merupakan materi muatan wajib (paling sedikit) Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah (Pasal 95 ayat (3) huruf a UU 28/2009).
Rujukan materi muatan Objek Pajak Parkir adalah Pasal 62 ayat (1) UU 28/2009, dan pengecaliannya merujuk pada Pasal 62 ayat (2) UU 28/2009.
Dalam Peraturan Daerah tentang Pajak Parkir yang hendak dibentuk ini, ketentuan tentang Objek Pajak meliputi:
(1) Objek Pajak meliputi penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor.
(2) Tidak termasuk objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1):
a. penyelenggaraan tempat Parkir oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
b. penyelenggaraan tempat Parkir oleh perkantoran yang hanya digunakan untuk karyawannya sendiri; dan
c. penyelenggaraan tempat Parkir oleh kedutaan, konsulat, dan perwakilan negara asing dengan asas timbal balik.
Subjek Pajak merupakan materi muatan wajib (paling sedikit).
Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah (Pasal 95 ayat (3) huruf a UU 28/2009). Rujukan materi muatan Subjek Pajak Parkir adalah Pasal 63 ayat (1) UU 28/2009. Ketentuan tentang Subjek Pajak memuat: Subjek Pajak meliputi orang pribadi atau Badan yang melakukan parkir kendaraan bermotor.
4. Dasar Pengenaan, Tarif, dan Cara Penghitungan Pajak
Dasar pengenaan, tarif, dan cara penghitungan pajak merupakan materi muatan wajib (paling sedikit) Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah (Pasal 95 ayat (3) huruf b UU 28/2009).
Dasar Pengenaan Pajak merujuk pada Pasal 64 UU 28/2009.
Ketentuan tentang Dasar Pengenaan Pajak dalam Peraturan Daerah yang hendak dibuat ini memuat:
(1) Dasar pengenaan Pajak meliputi jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggara tempat Parkir.
50
(2) Jumlah yang seharusnya dibayar termasuk potongan harga Parkir dan Parkir cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Parkir.
(3) Jumlah pembayaran sebagai dasar pengenaan Pajak merupakan jumlah pembayaran Parkir dari penyelenggaraan tempat Parkir yang melaksanakan pemungutan biaya Parkir.
(4) Jumlah yang seharusnya dibayar merupakan jumlah yang seharusnya dibayar dari penyelenggaraan tempat Parkir yang tidak melaksanakan pemungutan biaya Parkir.
(5) Dasar pengenaan Pajak pada penyelenggaraan tempat Parkir yang melaksanakan pemungutan biaya Parkir terdiri dari: a. kendaraan bermotor roda dua sebesar Rp []; b. kendaraan bermotor roda empat sebesar Rp []; dan c. kendaraan bermotor roda lebih dari empat sebesar Rp [].
(6) Dasar pengenaan Pajak pada penyelenggaraan tempat Parkir yang tidak melaksanakan pemungutan biaya Parkir memperhatikan jumlah rata-rata kendaraan yang diparkir setiap hari.
Tarif Pajak merujuk pada Pasal 65 UU 28/2009. Ketentuan tentangTarif Pajak dalam Peraturan Daerah yang hendak dibuat ini memuat:
Tarif Pajak sebesar:
a. 30% (tiga puluh persen) untuk tempat penyelenggaraan parkir yang melaksanakan pemungutan biaya Parkir; dan
b. Tarif Pajak Parkir ditetapkan dengan Peraturan Daerah..
Besaran pokok pajak merujuk pada Pasal 66 ayat (1) UU 28/2009.
Ketentuan tentang besaran pokok pajak dalam Peraturan Daerah yang hendak dibuat ini memuat : Besaran pokok Pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak.
Tarif pajak parkir Kabupaten Badung berdasarkan Perda No 14 Tahun 2011 tentang Pajak Parkir Pasal 6 ditetapkan sebesar 25 % berdasarkan fakta empris dan kajian filosofis , yuridis dan sosiologis sebagaimana ditampilkan pada bab-bab sebelumnya, maka tariff pajak parker yang semula 25 % layak dinaikan sebesar 5 % sehingga menjadi 30 %
51
5. Wilayah Pemungutan dan Masa Pajak
Wilayah Pemungutan dan Masa Pajak merupakan materi muatan wajib (paling sedikit) Peraturan Daerah tentang Pajak Daerah (Pasal 95 ayat (3) huruf c dan UU 28/2009).
Wilayah Pemungutan merujuk pada Pasal 66 ayat (2) UU 28/2009.
Ketentuan tentang Wilayah Pemungutan dalam Peraturan Daerah yang
Ketentuan tentang Wilayah Pemungutan dalam Peraturan Daerah yang