• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

D. Kampung Batik Pajangan, Bantul

Keputusan peneliti untuk mencoba melakukan observasi di daerah Pajangan, Bantul adalah rekomendasi dari salah satu karyawan Radio Geronimo FM di bagian teknisi bernama Andri. Tidak banyak informasi yang didapatkan, hanya saja dari keterangan awal, kawasan tersebut memang mayoritas memproduksi dan menjual batik. Peneliti juga mendapatkan key informan yaitu bapak Heru yang merupakan ketua salah satu bidang di Universitas Negeri Yogyakarta. Dari informasi yang diberikan pak Heru, Desa Pajangan, pantul memang merupakan kawasan pembatik sejak lama. Beberpaa diantaranya merupakan pembatik Kraton Yogyakarta yang kemudian pindah ke Desa Pajangan untuk meneruskan kegiatan

Topo, yang merupakan pemilik batik Topo memberikan informasi bahwa alasan lain yang menyebutkan bahwa produksi batik berpindah ke kawasan Pajangan, Bantul adalah karena di wilayah Kota Yogyakarta harus bebas limbah bahan kimia dari hasil pewarnaan batik. Sedangkan informasi dari key informan, menuntun peneliti untuk melakukan pendekatan pada salah satu perusahaan batik tertua yang ada di Desa tersebut yaitu Batik Dirjo Sugito. Menurut informasi dari key informan, Batik Dirjo Sugito saat ini sudah dikelola oleh generasi ketiga keluarga tersebut. Kegiatan kaderisasi yang dilakukan oleh generasi pertamanya sudah dilakukan sejak lama. Key informan juga menunjukkan secara detail dimana letak galeri dan rumah pengelola Batik Dirjo Sugito tersebut. Juga banyak bercerita mengenai sejarah keluarga Dirjo Sugito yang sudah menjadi Juragan Batik di Desa Pajangan, Bantul sejak lama. Menurut cerita key informan, batik Dirjo Sugito adalah produsen bati terbesar sejak lama, meskipun orang kaya dan terpandang, namun seluruh anggota keluarganya sangat ramah terhadap masyarakat sekitar.

Mengantongi informasi tersebut, peneliti memutuskan untuk melakukan pendekatan lanjutan terhadap Batik Dirjo Sugito. Sedangkan perusahaan batik lain yang juga direkomendasikan adalah Batik Topo.

1. Batik Topo

Hari/Tanggal : 5 Maret 2016

Hasil : Batik Topo sudah berdiri sejak tahun 80-an, dimulai karena pemilik batik tersebut, Pak Topo merupakan pembatik kraton di Kota Yogyakarta

yang kemudian memulai usaha di Bantul karena alasan limbah pewarna kimia yang harus berkurang di Kota Yogyakarta. Sampai saat ini usaha Batik Topo masih menerima pesanan batik dari Kraton Yogyakarta. Saat peneliti pergi ke lokasi, pembatik di Batik Topo sedang melakukan proses pembuatan 3000 kain batik yang merupakan pesanan dari Kraton Yogyakarta. Sampai saat ini, usaha Batik Topo masih dikelola oleh Ibu dan Bapak Topo yang juga founder dari usaha tersebut. Sedangkan anak dari keduanya saat ini masih sekedar membantu, karena memiliki pekerjaan di bidang lain.

2. Batik Dirjo Sugito

Hari/Tanggal : 7 & 9 Maret 2016

Hasil : Diawali dari informasi yang didapat peneliti dari dosen pembimbing skripsi yang memberitahukan bahwa salah satu ketua bidang di LPPMP Universitas Negeri Yogyakarta yaitu bapak Heru, berdomisili di daerah Bantul, tepatnya di desa Pajangan. Diketahui bahwa desa tersebut aktif memproduksi batik tulis sejak puluhan tahun silam. Pak Heru kemudian menjadi key informan peneliti guna menggali informasi lebih banyak tentang Batik Dirjo Sugito, yaitu salah satu produsen batik dan juga yang termasuk “Juragan” batik di jamannya hingga sekarang. Pada puluhan tahun silam Batik Dirjo Sugito dikelola oleh pendiri sekaligus pemiliknya yaitu bu Dirjo. Memiliki modal yang cukup banyak untuk memproduksi bati secara berkala, Batik Dirjo Sugito sukses bertahan di tengah persaingan dengan batik printing yang jauh lebih ekonomis hingga saat ini. Dari keseluruhan anak Bu Dirjo, ada dua orang yang kemudian

meneruskan usaha batik tersebut, yaitu Mirna dan Yuli. Tapi seiring berjalannya waktu, kedua anak Bu Dirjo memiliki banyak kesibukan lain ditambah lagi keduanya sudah berkeluarga. Kemudian, disetiap urusan produksi batik, Bu Dirjo mengajak cucunya yang paling besar bernama Ika untuk membantunya dalam mengurus usaha batik. Pada wawancara langsung bersama mbak Ika di galeri Batik Dirjo Sugito, peneliti mendapatkan infromasi bahwa mbak Ika, cucu dari Bu Dirjo merupakan generasi ketiga dan sudah sejak duduk di bangku kuliah semester pertama membantu Bu Dirjo dalam mengelola usaha batik. Dari keterangan yang disampaikan mbak Ika, sejak awal beliau membantu Bu Dirjo dalam mengurus pesanan batik atau keperluan bahan produksi. Mulai dari mengurus order pewarna, kain, bahkan membuat perhitungan biaya produksi. Dari keterangan-keterangan tersebut, maka peneliti memutuskan akan melakukan penelitian di tempat batik Dirjo Sugito karena sudah memenuhi kriteria yaitu perusahaan batik yang dikelola selama tiga generasi.

E. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM DIY 1. Divisi Sandang & Kulit

Hari/Tanggal : Rabu, 23 Maret 2016

Hasil : Kedatangan peneliti mengunjungi Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM DIY adalah untuk mengetahui pengusaha batik yang sudah tergolong lama di DIY. Dari wawancara yang dilakukan bersama salah satu staf di Divisi Sandang & Kulit berinisial Y, diketahui terdapat beberapa tempat yang di rekomendasikan. Yaitu batik Sekar Kedaton di Giriloyo, kemudian

batik Gajah Oya di jalan Panembahan Kota Yogyakarta, sedangkan untuk wilayah Gunung Kidul, beliau merekomendasikan batik Ganis yang berada di dusun Banteng Wareng Kecamatan Ngawen Kelurahan Tancep. Beralih ke wilayah Kulon Progo, peneliti direkonedasikan untuk mendatangi Yoga Batik yang berada di kelurahan Lendak dusun Mendiro. Beliau menuturkan bahwa batik di Giriloyo, Kulon Progo dan Sleman, pada saat ini masih apda masa pengembangan. Daerah yang sudah memiliki ciri khas batik yang kuat menurut beliau adalah Kota Yogyakarta dan Bantul. Sedangkan Kulon Progo memang diketahui menyusul dalam mengembangkan batik. Begitu juga dengan Sleman dan Gunung Kidul.

Selain merekomendasikan beberapa tempat usaha batik di Daerah Istimewa Yogyakarta, staf divisi Sandang & Kulit tersebut juga menceritakan banyak hal. Yaitu pengembangan batik tulis di DIY merupakan salah satu upaya pelestarian yang dilakukan pemerintah daerah pada tahun 2013 melalui dana IS atau dana Istimewa. Kegiatan tersebut digalakan dengan kegiatan promosi batik Jogja. Salah satu rencana yang akan direalisasikan adalah Welcome Gate di 7 akses masuk wilayah DIY yang akan dibuat bernuansa batik dan akan direalisaskian pada tahun 2018-2022. Dari keterangan beliau juga diketahui bahwa batik printing memang tidak termasuk kategori batik, namun merupakan kain yang bermotif batik.

F. Kawasan Kraton Yogyakarta