HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2.4 Kandungan Karbon Terikat
5.2.4.1 Kandungan Karbon Terikat Tegakan di Hutan Gambut Merang Bekas Terbakar
Total kandungan karbon terikat tegakan di hutan gambut merang bekas terbakar adalah sebesar 11,82 ton/ha sedangkan kandungan karbon terikat pada hutan rawa gambut primer (virgin forest) adalah sebesar 172,16 ton/ha (Perdhana 2009). Kebakaran yang terjadi di hutan gambut dapat menyebabkan terjadi penurunan potensi karbon terikat sebesar 93,13% bila dibandingkan dengan hutan gambut primer (Perdhana 2009) sehingga bisa dikatakan tingkat kebakaran yang terjadi dilokasi penelitian dalam intensitas yang tinggi karena banyaknya tegakan yang hilang di hutan gambut.
Berdasarkan kandungan karbon terikat bagian pohon (batang, cabang, ranting dan daun) di atas tanah (Tabel 20) menunjukkan bahwa seperti halnya dengan distribusi biomassa bagian pohon bahwa kandungan karbon terikat tertinggi terdapat pada bagian batang yaitu antara 61,25 – 78,32%, kemudian
diikuti daun berkisar antara 5,73% - 18,81%, ranting berkisar antara 8,42% - 12,56% dan paling rendah terdapat pada bagian cabang yaitu berkisar antara 7,38% - 7,66%.
Tingginya kandungan karbon terikat pada batang karena unsur karbon merupakan bahan organik penyusun dinding sel batang. Selain itu, batang merupakan bagian yang memiliki potensi kandungan biomassa terbesar karena pada bagian tersebut cadangan makanan paling banyak disimpan sehingga memiliki kandungan karbon terikat yang lebih besar pula dibandingkan dengan bagian pohon yang lain (cabang, ranting dan daun).
Berdasarkan potensi karbon terikat total dari seluruh bagian pohon dapat diketahui bahwa potensi simpanan karbon terikat pada daun merupakan potensi terbesar kedua dimana memiliki simpanan karbon terikat yang lebih besar dibandingkan dengan bagian ranting dan cabang. Namun apabila dilihat berdasarkan kelas diameter terlihat bahwa kandungan karbon terikat terbesar terdapat pada kelas diameter 2 – 10 cm, sedangkan pada kelas 10,01 - 20 cm dan
kelas ≥ 20,01 cm memiliki kandungan karbon terikat yang lebih kecil
dibandingkan dengan bagian ranting dan cabang. Besarnya kandungan karbon terikat pada kelas diameter 2 – 10 cm diduga karena daun sebagai sumber utama penghasil fotosintat mengalami pertumbuhan yang cepat di awal-awal masa pertumbuhannya serta tegakan lebih dulu mengalami perkembangan pada bagian daun di awal pertumbuhannya sehingga memiliki kandungan karbon terikat yang lebih besar.
Hasil perhitungan potensi karbon terikat pada hutan gambut merang bekas terbakar berbanding lurus dengan diameter pohon, semakin besar diameter pohon maka kandungan karbon terikat akan semakin besar pula. Batang merupakan kayu dimana 40 - 45% kayu tersusun oleh selulosa. Selulosa merupakan molekul gula linear yang berantai panjang yang tersusun oleh karbon, sehingga semakin tinggi selulosa maka kandungan karbon akan semakin tinggi. Adanya variasi horizontal mengakibatkan adanya kecenderungan variasi dari kerapatan dan juga komponen kimia penyusun kayu. Makin besar diameter pohon diduga memiliki potensi selulosa dan zat penyusun kayu lainnya akan lebih besar. Faktor tersebut
menyebabkan kelas diameter yang lebih besar akan memiliki kandungan karbon yang lebih tinggi pula.
Karbon merupakan suatu unsur yang diserap dari atmosfer melalui proses fotosintesis dan disimpan dalam bentuk biomassa. Tingkat penyerapan karbon di hutan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antaralain iklim, topografi, karakteristik lahan, umur dan kerapatan vegetasi, komposisi jenis serta kualitas tempat tumbuh. Tempat penyimpanan utama karbon adalah terdapat dalam biomassanya (termasuk bagian atas yang meliputi batang, cabang, ranting, daun, bunga, dan buah serta bagian bawah yang meliputi akar), bahan organik mati, tanah dan yang tersimpan dalam produk kayu yang nantinya dapat diemisikan untuk produk jangka panjang.
5.2.4.2 Kandungan Karbon Terikat Tumbuhan Bawah dan Serasah
Kandungan karbon terikat pada tumbuhan bawah tidak berkayu lebih besar dibandingkan dengan tumbuhan bawah berkayu karena akibat adanya kebakaran hutan maka tajuk pohon menjadi lebih terbuka sehingga mendukung pertumbuhan tumbuhan tidak berkayu. Sedangkan rendahnya kandungan karbon terikat pada tumbuhan bawah berkayu disebabkan oleh kurangnya kesempatan anakan mendapatkan cahaya matahari karena pesatnya pertumbuhan tumbuhan tidak berkayu sehingga anakan menjadi tertekan dan akhirnya tidak bisa tumbuh dengan baik, hanya beberapa jenis tumbuhan bawah berkayu yang mampu bertahan sehingga kandungan karbon terikat pun akan lebih kecil.
Selain itu, kejadian kebakaran hutan juga dapat mengakibatkan terjadinya penurunan jenis tumbuhan bawah berkayu karena kondisi tajuk hutan lebih terbuka sehingga dapat mendukung pertumbuhan tumbuhan bawah tidak berkayu, sementara kondisi tumbuhan bawah berkayu pertumbuhannya menjadi tertekan karena pengaruh persaingan dalam memperoleh hara maupun cahaya matahari. Fenomena tersebut selain dapat mempengaruhi komposisi jenis tumbuhan bawah berkayu dimana pada masa mendatang dapat berpotensi menjadi pohon di hutan tersebut juga dapat mengurangi potensi kandungan biomassa dan karbon terikat dari areal tersebut.
Kandungan karbon terikat terbesar kedua adalah pada serasah yaitu sebesar 1.795,75 kg/ha (40,99%), hal tersebut disebabkan karena setelah terjadi gangguan berupa kebakaran hutan biasanya banyak menyisakan limbah pohon berupa serasah sehingga kandungan biomassa akan besar begitupula pada kandungan karbon terikatnya. Besarnya kandungan biomassa pada serasah menggambarkan secara tidak langsung CO2 yang tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran dan hal ini berarti bahwa jumlah karbon tersimpan pada tegakan di areal tersebut berkurang.
5.2.4.3 Kandungan Karbon Terikat Nekromasa
Pada Tabel 22 menunjukkan bahwa yang memiliki kandungan karbon terikat terbesar adalah pada nekromasa batang. Hal ini disebabkan produksi nekromasa batang yang tinggi karena terdapat banyak tunggak-tunggak batang di areal penelitian sehingga menyebabkan kandungan karbon terikat pun semakin besar. Pengukuran karbon yang masih tersimpan dalam bagian tumbuhan yang telah mati (nekromasa) secara tidak langsung menggambarkan CO2 yang tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran (Hairiah dan Rahayu 2007).
Total potensi karbon terikat pada nekromasa lebih besar dibandingkan dengan pada tegakan di atas permukaan tanah yang ada di lokasi penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah karbon yang tidak dilepaskan ke udara lewat pembakaran adalah sebesar kandungan biomassanya. Adapun total kandungan biomassa nekromasa (batang, cabang dan ranting) sebesar 64.366,98 kg/ha yang berarti bahwa sekitar 64.366,98 kg/ha tegakan kehilangan biomassanya meski tanpa pembakaran dan hal itu berarti bahwa secara tidak langsung telah melepaskan CO2 ke udara tanpa pembakaran dan hal ini berarti pula bahwa jumlah karbon tersimpan pada tegakan di areal tersebut berkurang dengan banyaknya kandungan biomassa pada nekromasa.
5.2.5 Hubungan antara Kandungan Karbon Terikat dan Biomassa Pohon
Berdasarkan data biomassa serta kandungan karbon terikat pada setiap bagian pohon menunjukkan bahwa hubungan keduanya adalah linear positif, yaitu kandungan karbon terikat akan meningkat secara linear seiring dengan meningkatnya biomassa pohon. Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa
besarnya kandungan karbon terikat pada biomassa pohon di hutan gambut bekas terbakar yang diduga berdasarkan kelas diameter 2 – 10 cm, 10,01 – 20 cm dan ≥ 20,01 cm berkisar antara 16,49 – 17,70%.
Hal tersebut berbeda dengan pernyataan Brown (1997) yang menyatakan bahwa 50% dari biomassa adalah karbon. Perbedaan ini diduga karena karbon yang diukur Brown (1997) belum dikurangi dengan kadar abu dan zat terbang. Sedangkan dalam penelitian ini merupakan karbon terikat yang telah dikurangi kadar abu dan zat terbang. Hal ini dapat didukung oleh penelitian sebelumnya yang tidak menunjukkan kadar karbon 50% adalah hasil penelitian Hilmi (2003) di lahan mangrove, Indragiri Hilir Riau menunjukkan karbon terikat dari biomassa berkisar antara 19 – 47%, Onrizal (2003) di hutan kerangas Kalimantan Barat menunjukkan karbon terikat dari biomassa berkisar antara 19 – 27%, Yuliana (2005) pada tanaman karet di Bengkulu Utara menunjukkan bahwa karbon terikat dari biomassa pohon berkisar antara 16,63 – 20,96%, Ismail (2005) pada tanaman A.mangium di PT. MHP menunjukkan bahwa karbon terikat dari biomassa berkisar antara 14,38 – 28,44%, Salim (2005) pada tanaman Puspa di areal PT. Musi Hutan Persada Sumatera Selatan bahwa kandungan karbon terikat yang berasal dari biomassa berkisar antara 28,51 – 33,84%, Limbong (2009) pada tanaman Acacia crassicarpa PT. SBAWI Sumatera Selatan bahwa kandungan karbon terikat yang berasal dari biomassa berkisar antara 15,21 – 18,69% dan Novita (2010) pada hutan gambut bekas tebangan Sumatera Selatan bahwa kandungan karbon terikat yang berasal dari biomassa berkisar antara 13,70 – 22,99% (Tabel 25).
Besarnya kandungan karbon terikat dipengaruhi oleh kandungan biomassa, sehingga kadar karbon terikat berkorelasi positif dengan biomassa, dimana semakin besar potensi biomassa maka semakin besar pula potensi karbon terikat. Hal tersebut disebabkan karena potensi biomassa dapat mempengaruhi besarnya potensi selulosa, lignin, zat ekstraktif dan hemiselulosa yang nantinya dapat mempengaruhi potensi karbon terikat.