• Tidak ada hasil yang ditemukan

A KAR P ERANG D INGIN

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 41-44)

SIKAP Truman yang sangat tangguh anti komunisme dipaparkan lagi lebih jelas dalam pidato inauguralnya, 20 Januari 1949, saat mau menjabat Presiden Amerika Serikat, untuk masa jabatan kedua.

Truman menyatakan, “Rakyat-rakyat di dunia menghadapi masa depan dengan ketidak-pastian yang gawat, yang terdiri dari menghadapi harapan besar yang sama juga dengan ketakutan besar. Dalam kebimbangan itu, melebihi dari masa lalu, mereka memandang Amerika Serikat dengan kemauan baik, harapan, kekuatan dan pimpinan yang bijaksana. ... Kita percaya, bahwa semua orang mempunyai hak untuk keadilan yang sama di depan hukum dan kesempatan yang sama untuk kebaikan. Kita percaya bahwa semua orang mempunyai hak kebebasan untuk berpikir dan menyatakan pendapat. Kita percaya bahwa manusia diciptakan sama, karena mereka adalah ciptaan Tuhan. Kita tidak akan bergeser dari keyakinan ini.”

“Rakyat Amerika menginginkan, dan bertekad bulat bekerja untuk satu dunia yang di dalamnya semua bangsa dan semua rakyat adalah bebas untuk memerintah dirinya sendiri sesuai dengan keinginan sendiri, dan ingin mencapai penghidupan yang layak dan memuaskan. Di atas segala- galanya, rakyat kita menginginkan dan bertekad untuk berbuat demi perdamaian di dunia – satu perdamaian yang adil – berdasarkan persetujuan sejati yang dicapai dengan kesamaan.”

“Untuk mencapai tujuan ini, Amerika Serikat sebagaimana bangsa- bangsa lainnya menempatkan dirinya secara langsung bertentangan dengan rezim yang mempunyai tujuan sebaliknya dan secara keseluruhan berbeda

&% , .

dalam gagasan hidup. Negara tersebut menganut filsafat palsu yang mengaku memberikan kebebasan, keamanan, dan kesempatan yang lebih besar bagi kemanusiaan. Disesatkan oleh filsafat ini, banyak rakyat sudah mengorbankan kebebasan mereka yang hanya diimbali dengan kesedihan, kebohongan, kemiskinan, dan tirani.”

“Filsafat palsu tersebut adalah komunisme.

Komunisme didasarkan pada kepercayaan bahwa manusia adalah lemah, tidak sempurna dan tidak mampu mengatur diri sendiri, oleh karena itu diperlukan pengaturan penguasa-penguasa yang kuat.

Komunisme membolehkan seseorang ditangkap ditahan tanpa hukuman yang memenuhi hukum, tanpa pengadilan, dan kerja paksa dipakai sebagai alat kekuasaan negara. Negaralah yang menetapkan informasi apa yang bisa diterima, karya seni apa yang boleh dihasilkan, pemimpin mana yang harus diikuti, dan pandangan apa yang harus dipikirkan.

Komunisme berpendapat bahwa dunia sudah terbagi demikian dalam menjadi kelas-kelas yang bertentangan hingga peperangan adalah tak dapat dihindarkan.”

Saya memaparkan ini bukanlah hanya untuk sekedar mempercayainya, tetapi karena tindakan-tindakan akibat dari filsafat komunis adalah satu ancaman terhadap usaha bangsa-bangsa merdeka untuk mewujudkan pemulihan dunia dan

perdamaian yang abadi.” [Harry S. Truman, Inaugural Address, Thursday,

January 20, 1949].

Truman tidak ragu-ragu memalsu bahkan memfitnah tentang pengertian akan komunisme. Tanpa menggubris filsafat Marxis Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis yang ilmiah dan Ekonomi Politik Marxis yang bertujuan melenyapkan penindasan manusia oleh manusia, melenyapkan l’exploitation de l’homme par l’homme, Truman menuduh filsafah Marxis itu menyesatkan.

Yang menyesatkan bukanlah filsafat komunisme, tapi pemahaman

Truman tentang komunisme. The policy of containment–Doktrin Truman– dimaksudkan bukan hanya untuk membendung tapi malah untuk membasmi komunisme sejagat. Di mana saja muncul komunisme haruslah

dibasmi. Inilah akar Perang Dingin. Itulah yang terjadi, yang melanda dunia,

termasuk Indonesia.

Pandangan anti-komunisme bukan hanya dikumandangkan Truman. John Foster Dulles juga tampil sebagai tokoh anti komunis yang tangguh. Semua Presiden Amerika menyusul Truman: Dwight Eisenhower, Richard Nixon, J.F. Kennedy, Lyndon B. Johnson, Ronald Reagan, dan seterusnya, adalah anti-komunis. Di samping itu terdapat Joseph McCarthy, Allen W. Dulles, Barry Goldwater, James Burnham, ... tokoh-tokoh tangguh anti komunisme.

, &"

Dalam tahun 1956 di Hongaria terjadi perubahan politik yang dianut pimpinan Partai Komunis Hongaria, Imre Nagy. Imre Nagy ingin membebaskan diri dari ikatan Pakta Warsawa. Berbeda dengan Eisenhower, Barry Goldwater berpendapat menghadapi peristiwa Hongaria itu, Amerika seharusnya terjun mengintervensi, kalau perlu siap dengan menggunakan senjata nuklir. Dia mengkritik Eisenhower, karena ingin dan bersedia bertemu dan berunding dengan Khrusycyov. Dia menentang pemilikan umum atas alat-alat produksi, karena itu dianggapnya adalah sistem sosialis.

Pembantu Goldwater, melukiskan Goldwater dalam buku-bukunya sebagai konservatif yang sadar, Goldwater dinilai sebagai pembawa panji politik anti-komunis yang tak kenal kompromi. Dia menganggap, kaum komunis mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menguasai setiap jengkal bumi raya. Menurut dia “ancaman komunis tumbuh setiap hari”, dia menuduh sementara pimpinan Amerika “secara sia-sia mencari cara untuk berbaik- baik dengan Uni Sovyet dengan mengorbankan nilai kebanggaan nasional.” Goldwater mengumumkan, bahwa Amerika sedang berperang melawan

“musuh yang tak pernah menyembunyikan tujuannya untuk

menghancurkan kita dan semua rakyat yang cinta damai.”

Dinyatakannya, bahwa “kemenangan adalah kunci untuk semua problem,” dan, “pilihan lainnya adalah kekalahan.”

Ditambahkannya lagi: “Strategi kita haruslah pertama-tama berwatak ofensif. Kita harus menyatakan, bahwa gerakan komunis dunia adalah di luar hukum dalam masyarakat bangsa-bangsa berbudaya. Oleh karena itu, kita harus mencabut pengakuan diplomatik terhadap semua negara komunis, termasuk Uni Sovyet.

Dan ditulisnya: “Kita harus,—kita sendiri—siap melancarkan operasi militer melawan rezim komunis yang mudah diserang.” [Macrohistory and World Report].

Menurut buku Francis P. Sempa, The Firfst Cold-Warrior, John Foster Dulles dan George Kennan mempercayai strategi James Burnham (1905— 1987) pada awal Perang Dingin. James Burnham adalah salah seorang tokoh anti-komunis yang tangguh, yang semula pengikut aliran Trotskis Amerika. James Burnham banyak menulis buku dan artikel anti komunis yang analitis dan bersifat teori. Tulisan-tulisannya diikuti oleh Dulles dan Kennan.

Sesudah diperkenalkan the policy of containment—Doktrin Truman, sebelum dan sesudah masa kekuasaan Eisenhower, Dulles menampilkan politik rollback terhadap kekuasaan Sovyet. Kennan secara rahasia mengusulkan kepada pemerintah Truman suatu program ambisius untuk melangsungkan perang politik terorganisasi melawan Uni Sovyet, termasuk

&# , .

melakukan operasi-operasi sabotase, subversif, propaganda, dan membantu kekuatan perlawanan di seluruh negeri yang dikuasai Uni Sovyet.

Dulles meninggalkan operasi rollback sesudah kebangkitan

pemberontakan di Jerman Timur, Polandia, dan Hongaria tidak mendapat sambutan dari Amerika. Tapi Kennan dan Dulles mengenal baik tulisan- tulisan James Burnham. Para anti-komunis yang liberal seperti Arthur Schlesinger menerima analisa Burham mengenai adanya ancaman Sovyet, tapi tidak menerima seruannya untuk menjalankan politik ofensif. Bagi para anti-komunis yang konservatif, karya-karya James Burnham, trilogi Perang Dingin dinilai sangat tinggi. Seperti George Nash menunjukkan bahwa “Burnham adalah satu-satunya yang menyuplai gerakan intelektual konservatif dengan rumusan-rumusan teoretis untuk mencapai kemenangan dalam Perang Dingin.”

Tulisan-tulisan Burnham yang sangat anti-komunis mendapat kritikan dari berbagai kalangan. Misalnya Charles Clayton Morrison menilai The

Struggle for the World adalah suatu “blueprint untuk penghancuran”. Harry

Elmerf Barnes menyebutnya, satu “buku anti-Amerika yang paling berbahaya”. George Orwell menuding Burnham seorang yang memuja kekuasaan.

Karyanya The Coming Defeat of Communism mendapat tentangan dari James Reston, David Spitz, R.H.S. Crossman, dan Louis Fisher. Burnham mengutamakan perhatiannya pada perkembangan komunisme di Amerika. Dia adalah penganut “McCarthyism”. Dia menyerukan untuk pelarangan Partai Komunis di Amerika.

Di samping menulis buku-buku dan artikel mengenai Perang Dingin, Burnham memberi kuliah pada National War College, the Naval War College, the School for Advanced International Studies, dan the Air War College. Dia adalah konsultan pada lembaga CIA dan mempunyai peranan dalam merencanakan penggulingan Mohammad Mossadegh yang sukses serta memulihkan kekuasaan Shah di Iran pada awal tahun 1950-an.

Burnham mempunyai kemampuan menunjukkan perkembangan situasi dunia dari segi pandangan komunis Sovyet. Di sini, dia bisa memanfaatkan masa lampaunya sebagai seorang penganut aliran Trotskis. Burnham adalah salah satu contoh bagaimana seorang eks-komunis mengajukan pandangan anti-komunis yang paling intelijen dan realistik.

Yang paling penting adalah pandangan strategis Burnham untuk memenangkan Perang Dingin. Inti dari strategi itu adalah melancarkan perang politik, psikologi, dan ekonomi terhadap Uni Sovyet dengan tujuan memperlemah bahkan memecah pengawasannya atas Eropa Timur dan Tengah.

, &!

Unsur-unsur pokoknya adalah sebagai berikut:

1. Ofensif ideologi dan propaganda melawan kekuasaan Sovyet. 2. Membantu para pembangkang dan grup-grup perlawanan di dalam

daerah kekuasaan Sovyet.

3. Menggunakan kekuatan ekonomi dan teknologi untuk menimbulkan ketegangan dalam ekonomi Sovyet yang lemah.

4. Menggunakan perang psiko-politik untuk mendorong ketakutan dan perpecahan di antara para tokoh-tokoh pimpinan Sovyet.

5. Menggunakan perdagangan dan senjata-senjata ekonomi lainnya untuk memperlemah perekonomian Sovyet dan

6. Memaksa Sovyet untuk terjerumus ke dalam defensif geopolitik. Ofensif Pemerintah Reagan di tahun 80-an adalah sehaluan persis dengan strategi Burnham, yaitu melancarkan ofensif ideologi dan propaganda yang seru melawan Sovyet, menyatakan pemimpin-pemimpin Sovyet pembohong dan penipu, meramalkan kehancuran Sovyet dalam waktu dekat, dan menantang pemimpin Sovyet untuk merobohkan Tembok Berlin. Reagan memberikan bantuan dan mendorong gerakan Solidaritas Polandia dan pemberontak Afganistan. Reagan membangun kekuatan militer Amerika Serikat, sedia menggunakan peluru kendali berkepala nuklir di Eropa, dan mengumumkan plan Strategic Defense Initiative (SDI), jadi memberikan tekanan tambahan pada ekonomi Sovyet yang sudah keropos. Dengan demikian berusaha meyakinkan Sovyet, bahwa mereka tak akan menang dalam perlombaan senjata dengan Amerika Serikat.

John Foster Dulles yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dalam Pemerintahan Eisenhower menganggap the policy of containment itu adalah defensif. Dia berpendapat, menghadapi perkembangan komunisme haruslah aktif dan ofensif. Tidak hanya dibendung, tapi harus dibasmi. Dia tampil dengan gagasan rollback.

( $( (1 1 * , '

VII

CARA-CARA CIA

Dalam dokumen Suar Suroso – Akar dan Dalang (Halaman 41-44)