• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2. Karakteristik Core habitat

Hasil dari Analisis Komponen Utama adalah tujuh Principal Component (PC) atau Komponen Utama (KU) dapat menjelaskan 76,208 % dari variasi data bagi karakteristik lanskap core habitat musim dingin SMA (Tabel 4). Setiap karakteristik lanskap memiliki struktur lanskap yang tersusun oleh variabel lingkungan. Pada core habitat, karakteristik pertama (KU1c) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang memiliki jarak terdekat ke elevasi lebih dari 300 m dan jarak terdekat ke hutan lahan kering dengan rata-rata jarak sebesar 1,73 km.

Eigenvalue adalah suatu nilai yang menunjukkan seberapa besar pengaruh dalam formasi karakteristik variabel dari suatu vektor atau matriks. Semakin besar nilai dari eigenvalue maka semakin besar pengaruhnya terhadap variabel (Nuvitasari, 2008). Variabilitas menunjukkan seberapa besar penyebaran data.

KU1 memiliki varians dan eigenvalue tertinggi masing-masing sebesar 20,323%

dan 9,311. Artinya, KU1 dapat menjelaskan sebesar 20,323% dari variasi data yang menjadi karakteristik lanskap habitat SMA ini dan memiliki pengaruh sebesar 9,311.

Tabel 4. Hasil Analisis Komponen Utama untuk Core habitat Metode Ekstraksi :: Analisis Komponen Utama. Metode Rotasi : Varimax with Kaiser Normalization

JTST : Jarak Terdekat ke Perkebunan

Karakteristik ini menunjukkan bahwa SMA cenderung memilih hutan lahan kering pada ketinggian lebih dari 300 meter. Hutan lahan kering ini diidentifikasi sebagai habitat yang memiliki jenis-jenis pohon inang yang disukai koloni lebah.

Habitat lebah berupa sarang umumnya berada pada pohon-pohon yang termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Dipterocarpaceae ini adalah famili yang terdiri dari pohon-pohon kayu keras tropis yang berumur panjang dan dapat tumbuh hingga ukuran yang sangat besar. Hutan dataran rendah (lowland forest) mengalami penurunan kuantitas (WWF, 2006). Dataran rendah mengalami perubahan penutupan lahan yang lebih cepat dikarenakan oleh pemanfaatan areal tersebut oleh manusia. Selain itu, elevasi memberikan pengaruh terhadap jenis vegetasi yang terkait pada jenis penutupan lahan.

Karakteristik kedua (KU2c) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait dengan jarak terdekat dengan kemiringan lahan 3-8% (agak datar) dan 8-15% (bergelombang). Karakteristik ini terkait pada preferensi SMA dalam mencari makanan. Selain itu, faktor kemiringan lahan memiliki kaitan dengan variasi bentuk lahan (landform). Variasi bentuk lahan yang beragam menimbulkan pengaruh terhadap angin yang dihasilkan. Angin ini sangat dibutuhkan oleh SMA untuk terbang dengan baik.

Karakteristik ketiga (KU3c) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait dengan aktivitas manusia di antaranya jarak terdekat ke lahan terbuka, jarak terdekat ke sawah, dan semak belukar rawa. Rata-rata jarak terdekat dari variabel lingkungan JTBG, JTSH dan JTSB masing-masing sebesar 5,82 km, 4,98 km, dan 2,05 km. Karakteristik lanskap ini terkait pada lokasi SMA mencari larva lebah. Habitat lebah umumnya berada di hutan dekat areal yang memiliki aktivitas manusia seperti sawah dan lahan terbuka. Hal ini dikarenakan lebah membutuhkan nektar dari bunga yang dihasilkan oleh tanaman berbunga dan tanaman liar. Jenis tanaman ini dapat ditemukan di areal persawahan, lahan terbuka, dan semak belukar rawa.

Karakteristik keempat (KU4c) diinterpretasikan sebagai karakteristik yang terkait dengan jarak terdekat terhadap kebutuhan air. Hal ini ditunjukkan oleh jarak terdekat dengan badan air. Rata-rata jarak terdekat dengan badan air sebesar 30,28 km. Badan air merupakan salah satu karakteristik core habitat SMA karena spesies ini membutuhkan air sebagai kebutuhan primer bagi makhluk hidup selain mencari makanan. Badan air ini dapat berupa sungai, rawa ataupun danau. Badan air berasosiasi dengan penutupan lahan lainnya, seperti hutan rawa gambut dan hutan lahan kering dalam menopang kebutuhan air. Danau Riam Kanan dan beberapa sungai di Kalimantan Selatan merupakan badan air yang berada di core habitat.

Karakteristik kelima (KU5c) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait dengan jarak terdekat ke hutan rawa gambut (JTHR). Rata-rata jarak terdekat ke hutan rawa gambut sebesar 1,98 km. Hutan rawa gambut merupakan salah satu hutan yang memiliki pepohonan dipterokarpa (Mansor M, Mansor A, 2001). Salah satu tipe struktur hutan rawa gambut adalah hutan rawa campuran.

Hutan rawa campuran ini merupakan area marjinal yang digenangi oleh sungai.

Hutan ini memiliki banyak ekosistem dan secara kuat berasosiasi dengan ekosistem lainnya. Shorea sp. adalah salah satu spesies pohon penting yang berada pada area ini. Shorea sp. merupakan salah satu spesies yang menjadi habitat lebah madu (Mansor et al., 2001).

Karakteristik keenam (KU6c) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait pada jarak terdekat ke kemiringan lahan 15-25% (berbukit), 25-40%

(pegunungan), dan lebih dari 40% (pegunungan). Faktor kemiringan lahan terkait pada sarang dari individu SMA. Menurut MacKinnon (1990), Sikep Madu Asia sering mendatangi bukit berhutan. Oleh karena itu, karakteristik kemiringan lahan dari berbukit hingga pegunungan dapat diidentifikasi sebagai habitat yang disukai SMA. Variasi bentukan lahan yang beragam ini dapat menimbulkan thermal wind yang mana jenis angin ini disukai oleh SMA.

Karakteristik ketujuh (KU7c) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait dengan elevasi 0-300 meter. Karakteristik ini terkait pada kawasan hutan dataran rendah (lowland forest). Hutan dataran ini memiliki sekitar 22%

jenis tanaman yang termasuk dalam famili Dipterocarpaceae.

5.3. Karakteristik Edge habitat

Hasil dari Analisis Komponen Utama adalah delapan Principal Component (PC) atau Komponen Utama (KU) yang dapat menjelaskan 76,716 % dari variasi data bagi karakteristik lanskap edge habitat musim dingin SMA (Tabel 5). Pada edge habitat, karakteristik pertama (KU1e) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait pada elevasi lebih dari 300 meter dan jarak terdekat ke hutan lahan kering. JTHK memiliki jarak rata-rata sebesar 2,29 km. Sama halnya dengan KU1e pada core habitat, karakteristik ini terkait dengan lokasi habitat koloni lebah sebagai makanan SMA berada.

Karakteristik kedua (KU2e) diidentifikasi sebagai karakteristik lanskap yang terkait dengan jarak terdekat dengan kemiringan lahan 3-8% (agak datar) dan 8-15% (bergelombang). Karakteristik ini terkait pada preferensi bagi SMA dalam mencari makanan. Karakteristik ketiga (KU3e) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap terkait dengan aktivitas manusia di antaranya terkait dengan jarak terdekat ke lahan terbuka (JTBG), jarak terdekat ke sawah (JTSH), dan perkebunan/pertanian/sawah (JTPS). Rata-rata jarak terdekat dari variabel lingkungan JTBG, JTSH dan JTPS masing-masing sebesar 5,76 km, 5,24 km, dan 2,39 km. Sama halnya dengan KU3e pada core habitat, struktur lanskap ini terkait pada kebutuhan lebah dalam mencari nektar dari tanaman berbunga.

Tabel 5. Hasil Analisis Komponen Utama untuk Edge habitat

Metode Ekstraksi :: Analisis Komponen Utama. Metode Rotasi : Varimax with Kaiser Normalization

JTST : Jarak Terdekat ke Perkebunan

Karakteristik keempat (KU4e) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait pada jarak terdekat ke kemiringan lahan 15-25% (berbukit), 25-40%

(pegunungan) dan lebih dari 40% (pegunungan). Karakteristik ini memiliki persamaan dengan KU6c. Karakteristik kelima (KU5e) adalah jarak terdekat ke hutan rawa gambut (JTHR). Rata-rata jarak terdekat ke hutan rawa gambut sebesar 1,93 km. Karakteristik lanskap ini memiliki persamaan dengan core habitat.

Karakteristik keenam (KU6e) adalah karakteristik lanskap lahan basah (wetland) dengan jarak terdekat dengan hutan mangrove. Rata-rata jarak terdekat ke hutan mangrove adalah 7,56 km. Karakteristik ini diidentifikasi sebagai lokasi SMA mencari makanan. Sumber pakan SMA adalah larva lebah. Hutan mangrove merupakan salah satu hutan yang memilki spesies famili Dipterocarpaceae.

Rambai laut (Soneratia casseolaris) merupakan pohon inang untuk koloni lebah yang termasuk dalam famili Dipterocarpaceae yang berada di sekitar daerah pesisir terutama kawasan dengan tipe hutan bakau atau mangrove (Harmonis et al., 2006). Karakteristik ketujuh (KU7e) diinterpretasikan sebagai karakteristik lanskap yang terkait dengan jarak terdekat elevasi 0-300 meter dan kemiringan lahan 0-3% (datar). Karakteristik ini terkait pada hutan dataran rendah (lowland forest).

Karakteristik kedelapan (KU8e) adalah karakteristik lanskap yang terkait dengan kebutuhan air. Hal ini ditujukan pada jarak terdekat ke badan air dengan rata-rata jarak 28,39 km. Sumber air merupakan salah satu kebutuhan utama makhluk hidup. Badan air ini dapat ditemukan di Danau Riam Kanan yang dimana danau ini menjadi core dan edge habitat SMA. Selain itu, badan air dapat ditemukan pula di sungai Barito dimana sungai hanya berfungsi sebagai edge habitat bagi SMA.

5.4. Perbandingan Karakteristik Core dan Edge habitat

Berdasarkan hasil AKU, core dan edge habitat memilki persamaan dan perbedaan karakteristik. Persamaan karakteristik ini dinilai menjadi prasyarat utama keberadaan habitat musim dingin SMA, sedangkan perbedaan karakteristik dinilai menjadi komponen khusus yang menyusun kedua tipe habitat tersebut.

Diagram persamaan dan perbedaan karakteristik lanskap habitat musim dingin SMA tersaji pada Gambar 22.

Keterangan :

KUnce : Komponen n untuk core dan edge habitat KUnc : Komponen n untuk core habitat

KUne : Komponen n untuk edge habitat

Gambar 22. Diagram Persamaan dan Perbedaan Karakteristik Lanskap Habitat Musim Dingin SMA

5.3.1 Persamaan Karakteristik

Komponen pertama (KU1) yaitu jarak terdekat ke elevasi lebih dari 300 meter dan jarak terdekat ke hutan lahan kering, komponen kedua (KU2) yaitu

kemiringan lahan dari agak datar ke bergelombang, dan komponen kelima (KU5) yaitu jarak terdekat ke hutan rawa gambut merupakan persamaan karakteristik yang ditemukan pada core dan edge habitat. Ketiga karakteristik utama ini merupakan karakteristik dasar yang menentukan keberadaan habitat musim dingin SMA. Ketiga persamaan karakteristik ini memiliki tingkat kepentingan yang sama dalam menyusun karakteristik baik pada core maupun edge habitat.

Hutan lahan kering dan hutan rawa gambut memiliki peranan penting bagi SMA karena struktur lanskapnya yang terdiri dari spesies-spesies tanaman yang menjadi habitat lebah madu. Sebagai contoh, Koompassia excelsa, Koompassia malaccensis, dan Shorea sp. adalah jenis spesies penting bagi SMA yang berada pada kawasan tersebut. Spesies ini disebut sebagai pohon madu (bee tree). SMA umumnya menyerang sarang lebah yang berada di pohon-pohon yang terletak di hutan untuk memakan lebahnya secara langsung. Selain itu, faktor kemiringan lahan juga menjadi karakteristik utama yang berada pada core maupun edge habitat. Kemiringan lahan mempengaruhi variasi bentukan lahan yang kemudian akan mempengaruhi pergerakan angin.

5.3.2 Perbedaan Karakteristik

Karakteristik ketiga (KU3), keempat (KU4), keenam (KU6), ketujuh (KU7), dan kedelapan (KU8) mempunyai perbedaan karakterististik dilihat dari komponen variabel lingkungannya pada core dan edge habitat. Perbedaan ini secara utama ditunjukkan pada perbedaan posisi dari KU, yang berhubungan erat dengan tingkat kepentingan dari masing-masing KU yang menyusun karakteristik lanskap core dan edge habitat. Perbedaan karakteristik ini dibagi menjadi dua tipe perbedaan.

a. Karakteristik yang sama tetapi memiliki urutan KU yang berbeda.

Badan air ditemukan pada KU4 di core habitat sedangkan badan air di edge habitat ditemukan pada KU8. Hal ini menunjukkan bahwa badan air memiliki tingkat kepentingan yang lebih tinggi pada core dibanding edge habitat. Adapula, karakteristik kemiringan lahan 15-25% (berbukit), 25-40% , dan >25-40% (pegunungan) ditemukan pada KU6 di core habitat sedangkan karakteristik ini ditemukan pada KU4 di edge habitat.

b. Karakteristik yang berbeda tetapi memiliki urutan KU yang sama.

KU3 pada core habitat terkait pada jarak terdekat ke lahan terbuka, sawah dan semak belukar rawa sedangkan KU3 pada edge habitat adalah karakteristik dengan jarak terdekat ke lahan terbuka, sawah, dan pertanian/perkebunan/semak. KU7 pada core habitat berhubungan dengan karakteristik elevasi rendah (kurang dari 300 meter), sedangkan KU7 pada edge habitat adalah kombinasi antara jarak terdekat ke elevasi rendah (kurang dari 300 meter) dan kemiringan datar. Hal ini menunjukkan bahwa struktur lanskap yang ditunjukkan oleh komposisi penutupan lahan pada core habitat yang lebih rendah dari edge habitat dikarenakan oleh tipe penutupan lahan yang berada pada edge habitat yang lebih bervariasi dibanding core habitat.

Karakteristik lanskap dari jarak terdekat ke hutan mangrove (KU8) ditemukan hanya pada edge habitat dikarenakan oleh perbedaan jumlah KU antara core dan edge habitat. Oleh karena itu, satu karakteristik akan ditemukan pada edge habitat, yaitu hutan mangrove. Hutan ini digunakan sebagai habitat musim dingin karena hutan ini memiliki pohon Sonneratia caseolaris yang menjadi pohon inang bagi koloni lebah (Harmonis et al., 2006). Alasan utama dari migrasi SMA ini adalah untuk mencari tempat dengan ketersediaan makanan yang cukup. SMA memakan lebah dan tawon (MacKinnon 1990). Habitat musim dingin SMA mengacu pada preferensi habitat lebah, khususnya habitat dimana ditemukannya pohon untuk sarang lebah.

Alasan utama dari migrasi SMA ini adalah untuk mencari tempat dengan ketersediaan makanan yang cukup. Pakan SMA adalah lebah dan tawon (MacKinnon 1990). Habitat musim dingin SMA mengacu pada preferensi habitat lebah, khususnya habitat dimana terdapat pohon untuk sarang lebah. Salah satu spesies lebah yang umumnya dapat ditemukan di Kalimantan adalah Apis dorsata.

Koloni lebah jenis Apis dorsata didapati bersarang pada beberapa jenis pohon seperti Banggeris (Koompassia exelsa), Rambai Laut (Sonneratia caseolaris), Lomu/Jelemu (Canarium dichotomum), Nyawai (Ficus variegata), Meranti (Shorea sp.), Kapur (Dryobalanops sp.), Keruing (Dipterocarpus sp.), Bangkirai (Shorea laevifolia), Rengas (Gluta renghas), Kapuk (Ceiba petandra), Karet

(Hevea brasiliensis), Laban (Vitex pubescens), Perupuk (Lophopetalum sp.), Putat (Planchonia valida), Damar (Agathis sp.), Kayu Ipo‟ (Antiaris toxicaria), Bekai (Pycnarrhena sp.), Nyeliwai (Quercus gemelliflora), Jelutung (Alstonia anqustiloba), Kejawi dan panggang (Harmonis et al., 2006). Berdasarkan hasil survei, kebanyakan jenis vegetasi ini berada di dalam core dan edge habitat di Kalimantan Selatan.

Umumnya lebah dan tawon hidup di daerah hutan yang dekat dengan aktivitas manusia seperti pertanian dan perkebunan (Gambar 22). Hal ini dikarenakan kebutuhan lebah dalam mencari nektar yang digunakan untuk memproduksi madu di sarangnya. Nektar dapat ditemukan di perkebunan dan lahan pertanian yang umumnya memiliki vegetasi berbunga.

Selain itu, studi pada Mate‟-mate‟ (masyarakat Dayak) melaporkan bahwa ada enam spesies pohon yang menjadi habitat bagi lebah madu termasuk beberapa tanaman dipterocarpus seperti Shorea laevifolia, tetapi spesies pohon yang paling penting adalah Koompassia excelsa dan Kompassia malaccensis (De Jong, 2000).

Kedua spesies ini secara luas disadari sebagai pohon yang dominan yang bisa ditemukan di Kalimantan dan banyak masyarakat yang tinggal di hutan melindungi dan bergantung pada pohon madu ini. Banggeris merupakan pohon inang yang paling dominan dan pohon ini dikenal sebagai pohon madu (bee trees). Rambai laut merupakan pohon inang untuk koloni di sekitar daerah pesisir terutama kawasan dengan tipe hutan bakau atau mangrove (Harmonis, 2006).

Hutan mangrove juga menjadi salah satu penutupan lahan yang cukup penting untuk dijaga (Gambar 23).

Gambar 23. Sketsa dan Foto Lanskap Core Habitat SMA : Kombinasi Lahan Pertanian dengan Hutan Lahan Kering

Gambar 24. Sketsa dan Foto Lanskap Edge Habitat SMA : Hutan Mangrove

Menurut Ferguson et al. (2005), habitat dari SMA ini berada di tepi hutan ekuatorial dan lahan terbuka. Habitat ini juga kaya vegetasi berkanopi pada hutan tropis, subtropis, hutan kayu, dan savana dengan kerapatannya yang tidak terlalu padat. Habitat ini memiliki ketinggian sekitar 1.000 meter, 1.500 meter sampai 2.000 meter di atas permukaan laut.

Karakteristik lanskap habitat musim dingin Sikep Madu Asia ini memiliki persamaan dengan karakteristik Satoyama. Satoyama merupakan istilah kata yang berasal dari Jepang, dalam bidang kehutanan berarti hutan sekunder bersamaan dengan pemukiman penduduk yang memanfaatkan pertanian secara berkelanjutan.

Istilah ini tidak hanya digunakan di Jepang saja, namun telah menyebar ke berbagai negara yang memiliki lanskap perdesaan yang terdiri dari beberapa ekosistem di antaranya: hutan sekunder, lahan pertanian, kolam irigasi, dan padang rumput, sekaligus pemukiman (Takeuchi K. Brown RD, Washitani I, Tsunekawa A, Yokohari M, 2003). Bentuk satoyama ini dapat ditemukan di Jepang yang menjadi breeding habitat bagi SMA. Tujuan dari SMA bermigrasi musim dingin adalah mencari kawasan yang memiliki ketersediaan pakan baginya selama musim dingin. Habitat musim dingin SMA memiliki kesamaan karakteristik dengan habitat asalnya (breeding habitat) yang didasari oleh preferensi makanan bagi SMA.

5.5. Perbandingan Variabel Core Habitat dan Edge Habitat

Hasil perbandingan variabel lingkungan tersaji pada Tabel 6. Berdasarkan hasil uji perbandingan variabel, disimpulkan bahwa seluruh variabel yang digunakan dalam studi ini adalah berbeda nyata antar variabel pada core dan variabel pada edge habitat. Uji ini dilakukan untuk membuktikan bahwa jarak terdekat pada variabel tertentu adalah berbeda nyata sehingga dalam pengelolaan lanskapnya tidak seluruh aspek pengelolaannya dapat diseragamkan antara core dan edge habitat.

Tabel 6. Hasil Uji T-Student Variabel Lingkungan Core dan Edge habitat

Hipotesis :

Ho : Variabel tidak berbeda nyata H1 : Variabel berbeda nyata

5.6. Rekomendasi Pengelolaan Lanskap Habitat Musim Dingin SMA

Adanya migrasi SMA ke provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa provinsi ini memiliki nilai ekologis yang cukup penting bagi burung pemangsa khususnya SMA. Nilai ekologis ini menjadi suatu indikator bahwa kawasan tersebut memiliki kondisi lingkungan yang baik, seperti kualitas udara, air, dan ketersediaan sumber daya alam. Kondisi lingkungan ini juga memberikan keuntungan bagi masyarakat setempat, misalnya masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk kebutuhan ekonominya. Nilai ekologis ini perlu

dilestarikan dengan memperhatikan karakteristik lanskap penting yang menjadi core dan edge habitat SMA.

Karakteristik lanskap habitat musim dingin SMA baik pada core maupun edge habitat ini perlu dijaga agar SMA dapat terus bermigrasi ke kawasan ini.

Seiring dengan perubahan kondisi lanskap yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia, tindakan pengelolaan lanskap perlu dilakukan. Pengelolaan lanskap ini bertujuan agar karakter dari lanskap habitat musim dingin SMA tidak hilang.

Pihak-pihak pengelola seperti masyarakat lokal, pengelola kawasan dan pemangku kebijakan di Kalimantan Selatan dapat mengambil tindak lanjut dalam pengelolaan lanskap berbasis burung pemangsa migrasi.

Dengan diketahuinya karakterisitik core dan edge habitat SMA, maka diperlukan suatu rencana pengelolaan lanskap di masing-masing habitat tersebut.

Hasil dari studi ini memberikan informasi dasar dalam rencana pengelolaan lanskap habitat musim dingin SMA. Pengelolaan lanskap dapat dilakukan berdasarkan pada jangka waktu (jangka panjang dan jangka pendek) dan lokasi (core habitat dan edge habitat).

5.6.1 Jangka Pendek

Pengelolaan jangka pendek dapat difokuskan pada aspek pelestarian habitat musim dingin SMA di Kalimantan Selatan dengan mempertimbangkan karakteristik core dan edge habitat. Karakteristik lanskap core dan edge habitat yang sudah ada di Kalimantan Selatan perlu dipertahankan dan ditingkatkan agar fungsinya dapat terus terjaga. Persamaan karakteristik dapat digunakan untuk rencana pengelolaan lanskap yang dapat diseragamkan baik pada core maupun edge habitat. Hal ini dikarenakan persamaan karakteristik ini merupakan karakteristik dasar yang menjadi persyaratan utama untuk keberadaan habitat musim dingin SMA. Karakteristik ini dapat menjadi prioritas utama dalam aspek pengelolaan lanskapnya agar habitat SMA dapat terus terjaga. Upaya yang dapat dilakukan untuk pengelolaan lanskap jangka pendek pada core dan edge habitat sebagai berikut.

a. Pelestarian hutan lahan kering dengan elevasi lebih dari 300 meter.

Persamaan karakteristik yang memiliki proporsi variasi dan pengaruh terbesar yang menunjukkan bahwa SMA cenderung memilih hutan lahan kering dengan elevasi lebih dari 300 meter. Hal ini berdasarkan pada kondisi saat ini bahwa hutan pada dataran rendah (lowland forest) semakin berkurang karena besarnya alih fungsi lahan. Dataran rendah umumnya telah diubah menjadi kawasan pemukiman dan industri oleh manusia. Oleh karena itu, hutan lahan kering pada elevasi lebih dari 300 meter yang memiliki dominasi pohon-pohon Dipetrocarpaceae perlu mendapat perlindungan dari aktivitas manusia yang dapat mengurangi kualitas dan kuantitas hutan tersebut.

b. Penanaman pohon-pohon inang yang disukai koloni lebah.

Penanaman pohon-pohon inang yang disukai koloni lebah dapat meningkatkan habitat lebah madu sehingga ketersediaan pakan SMA dapat terus ada. Jenis tanaman yang dapat ditanam adalah Koompassia excelsa, Koompasia malaccensis, dan Shorea sp. Tanaman ini banyak tumbuh di hutan lahan kering dan hutan rawa gambut. Kedua tipe hutan ini merupakan karakteristik lanskap habitat baik pada core maupun edge habitat SMA. Untuk skala yang lebih besar, kegiatan penghijauan yang dapat memperluas area core dan edge habitat SMA di Kalimantan Selatan bisa dilakukan melalui pembangunan hutan kota berbasis habitat burung migrasi.

c. Konservasi bentuk lahan (landform) agak datar hingga bergelombang.

Setiap provinsi umumnya melakukan pembangunan kawasan seperti bangunan, infrastruktur, dan lain-lain. Akan tetapi, pembangunan ini umumnya mengakibatkan perubahan bentuk lahan (landform). Karakteristik bentuk lahan dengan jarak terdekat ke kemiringan lahan 3-8% (agak datar) hingga 8-15%

(bergelombang) memiliki pengaruh pada terbentuknya angin yaitu thermal wind. Angin ini dibutuhkan SMA untuk terbang dengan baik. Oleh karena itu, karakteristik ini memiliki pengaruh pada habitat musim dingin SMA baik pada core maupun edge habitat. Oleh karena itu, pembangunan kawasan hendaknya tidak mengubah bentuk lahan yang sudah menjadi karakteristik lanskap habitat musim dingin SMA.

d. Sosialisasi tentang keberadaan SMA kepada petani budidaya lebah madu.

Salah satu tujuan SMA bermigrasi adalah untuk mencari makanan. Makanan SMA adalah lebah (MacKinnon, 1990). Habitat lebah umumnya dapat berupa habitat alami dan habitat buatan. Fakta menunjukkan bahwa telah terjadi penyempitan habitat lebah jenis Apis dorsata yang merupakan habitat alami di Kalimantan (Harmonis, 2006). Solusi penanganannya dapat dilakukan dengan aplikasi budidaya lebah madu khususnya Apis mellifera dan Apis cerana (Harmonis, 2006). Hal ini perlu diketahui oleh pengelola peternakan lebah madu, bahwa SMA mungkin saja akan mengambil larva lebah di areal budidaya tersebut. Supaya tidak terjadi konflik yang mengancam keberadaan SMA, makan perlu diadakan sosialisasi tentang hal tersebut.

Perbedaan karakteristik antara core dan edge habitat memerlukan perhatian khusus pada tingkat kepentingan untuk pengelolaan lanskapnya. Core habitat memiliki tingkat intensitas yang lebih tinggi dalam aktivitas atau kunjungan SMA dibandingkan dengan edge habitat. Oleh karena itu, core habitat memerlukan perhatian yang lebih besar agar SMA dapat terus bermigrasi. Karakteristik khusus yang dimiliki oleh core habitat memerlukan perhatian khusus dalam aspek

Perbedaan karakteristik antara core dan edge habitat memerlukan perhatian khusus pada tingkat kepentingan untuk pengelolaan lanskapnya. Core habitat memiliki tingkat intensitas yang lebih tinggi dalam aktivitas atau kunjungan SMA dibandingkan dengan edge habitat. Oleh karena itu, core habitat memerlukan perhatian yang lebih besar agar SMA dapat terus bermigrasi. Karakteristik khusus yang dimiliki oleh core habitat memerlukan perhatian khusus dalam aspek

Dokumen terkait