• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

4.2. Karakteristik Informan

4.2.1. Karakteristik Debitur

Metode pendekatan dengan masyarakat memerlukan pola-pola dan berbagai cara untuk bisa diterima dalam komunitas yang berbeda. Apalagi bila tujuan pendekatan itu sudah menyangkut kewajiban masyarakat yang didekati, maka sering sekali terjadi resistensi. Kredit perbankan adalah “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Pemahaman istilah “kredit” sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh informan N. Batubara (manager bagian penagihan NPL) sebagai berikut.

Kredit mikro yang kita berikan kepada debitur adalah kepercayaan. Kita percaya bahwa debitur bisa bertanggungjawab terhadap kepercayaan yang kita berikan dalam bentuk uang. Atas kepercayaan itu, debitur terikat dengan kewajiban untuk membayar bunga sesuai yang sudah ditetapkan. Maka pola yang sering kita terapkan adalah pola pendekatan 5 nilai budaya (trust, integrity, profesionalism, customer focus, dan excellence). Itu sebabnya, kami tidak diperkenankan melakukan kekerasaan atau pemaksaan kepada debitur. Pelayanan harus berlandaskan kemanusiaan.

Keterangan dari informan di Bank X, awalnya tidak sependapat karena berbagai kasus kekerasan diberbagai lokasi yang dilakukan oleh collector terhadap debitur yang bermasalah, artinya tidak mampu mencicil kredit pada waktu yang sudah ditetapkan. Pendapat ini dibantah oleh meneger collector yang sudah lama bekerja di Bank X, ia melanjutkan pernyataannya sebagai berikut:

Dalam sistem pelayanan kita kepada debitur atau nasabah, tidak diperkenankan sesekali menggunakan kekerasan. Jika itu terjadi, maka pihak managemen bank, bisa melakukan pemecatan terhadap oknum atau pegawai yang melakukan kekerasan kepada debitur dan bahkan sudah ditandatangani oleh yang bersangkutan sebelum mengadakan kontrak kerja dengan pihak managemen bank. Saya kira kejadian itu terjadi, sebagian besar dari bank swasta yang sering menggunakan jasa debt collector. Inilah bedanya dengan bank BUMN, kita tidak diperkenankan menggunakan pihak ketiga dalam urusan penagihan kepada debitur, sementara swasta tak jarang memakai jasa debt collector.

Menanggapi hal tersebut, peneliti melakukan wawancara dengan salah satu pegawai bank swasata di Kota Medan, bagian debt Collection yang sudah bekerja selama lima (5) tahun di Bank tersebut.

Selama ini bang, dapat kasus tertentu, kita menggunakan debt collector terhadap debitur yang bermasalah, pada awalnya kita tidak menggunakan itu, tetapi karena debitur tidak punya niat baik untuk membayar cicilan kreditnya, malah ia pernah menggunakan preman untuk mengusir kami. Ya, akhirnya kita mencari ormas setempat/OKP untuk meminta bantuan dengan perjanjian akan membayar jasanya, apabila debitur itu melunasi uang tersebut. Kalau kita tidak menggunakan debt collector maka sangat sulit dilunasin, kalau kita hanya menunggu dan menunggu, kita mendapatkan tekanan dari kantor.

Inilah cara bertahan hidup bang.

Beberapa langkah yang harus dipahami oleh pihak first collection, pertama adalah memahami karakteristik debitur. E.B. Tylor (1871), memberikan definisi mengenai kebudayaan sebagai berikut (terjemahanya):

Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain

kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Berdasarkan pengertiankebudayaantersebut, terdapat hubunganantara karakteristik dengan kebudayaan. Misalnya karakter orang Jawa sangatlah berbeda dengan orang Batak. Ada debitur yang benar-benar bertanggungjawab, mempunyaiitikadbaikuntuk menyelesaikantagihan. Ada pula debitur yang memang tidak mau menyelesaikan kredit macetnya.

Kegagalan pembayaran tagihan

hutangdikarenakanpadaawalmelakukanpeminjamantidakada agunan. Karena tidak adanya agunan debitur menganggaptidaklah akan ada kerugian jika dilakukan penyitaan aset karena tidak diatur di awal perjanjian. Situasi demikian merugikan pihak bank karena di anggap tidak berhasilmengelolakeuangan.Bagi debiturberisikomendapatcatatankredit macet diBankIndonesia(BI)sehinggaakan kesulitanmendapatkanpinjaman dibeberapa bank.

Berikut wawancara dengansalah satu staffBankIndonesia dalammonitoring di Bank XAreaMedan:

“Kredit atau pembiayaan yang diberikan oleh bank, baik dengan system konfensional ataupun syari’ah, keduanya berakar pada suatu perjanjian yang merujuk pada ketentuan yang di atur dalam buku III KUH perdata. Berdasarkan persetujuan dan kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yangmewajibkanpihakpeminjamuntukmelunasiuangnyasetelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Ketika debitur tidakmelakukanangsuransesuaikesepakatanawalmakadebitur

dinyatakan melakukan pengingkaran janji maka yang dilakukan pihak bank yang bekerja sama dengan bank Indonesia (BI) melakukan pemblokiran sehingga debitur tidak bisa melakukan peminjaman di banyakbank”.

Temuan ini dapat dipahami bahwa interaksi sosial dalam sistem perbankan tetap memperhatikan aspek sosial dengan berbagai pendekatan komunikasi yang

baik dengan pihak debitur. Pada dasarnya, tindakan kekerasan yang sering terjadi antara debitur dengan debt collector “pihak penagih”, karena menyalahi prosedur yang sudah ditetapkan oleh pihak bank dalam hal ini “oknum penagih”. Artinya, penagih harus mampu memahami karakteristik debitur tanpa menggunakan pihak ketiga.

Character debitur Bank X dalam memenuhi kewajiban mempunyai kaitan agama untuk berperilaku lebih baik. Weber dalam bukunya, The Protestan Ethic and The Spirit Of Capitalism, berkesimpulan adanya keterkaitan antara agama dengan perilaku berekonomi. Perkembangan kapitalisme modern di Eropa Barat dan Amerika merupakan akibat dari etika protestan (Calvinisme) yang melahirkan nilai-nilai mendasar baru. Hal ini mendorong usaha-usaha untuk menggiatkan ekonomi. Salah satu nilai baru tersebut adalah sikap berperilaku rasional yang dapat dihubungkan dengan kepatuhan membayar hutang sehingga menghasilkan citra dirinya yang positif. Penilaian positif tersebut membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan kepercayaan bank untuk mendapatkan kredit lebih besar dalam mengembangkan usahanya (Siregar, 2013:77).

Berikut adalah jenis-jenis usaha yang dimiliki debitur Bank X yaitu:

Tabel 5.1

Daftar Jenis Usaha Debitur tahun 2019

No Jenis Usaha Jumlah

1 Kedai/grosir 105

2 Foto copi dan warnet 45

3 Bengkel kendaraan 55

4 Jual Pakaian 50

5 Lain-Lain 30

Berdasarkan tabeltersebut bahwa jumlahtotaldebiturdi bulan Juni 2019 ada 285orang. Selanjutnya jenis pekerjaan tersebut dikategorikan sebagai jenis usaha peracangan yaitu sebuah bentuk usaha yang menyediakan keperluan rumah tangga seperti beras, gula, sabun, sikat gigi, minyak, dan sumbu kompor dan lain-lain. Selanjutnya terdapat jenis usaha yang tidak masuk

kriteria dalam pengajuan kredit yaitu seperti penjualan minuman keras, usaha kredit barang. Untuk jenis usaha yang sudah mempunyai paten merk berpeluang mendapatkan pembiayaan lebih besar dari bank.

Sebagai pertimbangan peminjaman di Bank X wilayah Medan, bahwa usaha adalah salah satu faktor utama untuk diberikannya syarat pinjaman kredit, terutama usaha yang sudah berjalan di atas 3 tahun.

Berikutpernyataanseorang debitur nama samaran Suparmiyaitu:

“Saya bersama suami saya sudah 5 tahun mempunyai usaha benkel sepeda motor dan 1 tahun yang lalu saya meminjam uang di Bank X wilayah Medan dengan tambahan modal tersebut saya bisa menambah barang isi bengkel seperti jual oli, atauaksesorissepedamotor.Kalausayatidakmendapatpinjaman

uangdaribanksayamaupinjamsama siapalagi.Dengancarapinjaman di bank inilah saya bisa mengembangkan usaha saya, meski saya kadangterlambatmembayarangsuran,yaemanguangnyadibuat beli barang-barangbengkel”.

Usaha yang masih baru sama- sekali belum bisa mengajukan pinjaman di Bank X, untukpengajuanpinjamansetidaknya usahanya sudah berjalan 3tahun. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir risiko kredit macet akibat kegagalan dalam berusaha. Karena pada prinsipnya bagi pihak bank bahwa usaha yang sudah berjalan lama membuktikan bahwa debitur sudah dapat mengatur perputaran keuangan dari usahanya.

Dokumen terkait