• Tidak ada hasil yang ditemukan

Defenisi konsep yang dikembangkan dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Implementasi kebijakan merupakan salah satu tahapan kebijakan, yaitu tahapan setelah kebijakan (dalam hal ini undang-undang) ditetapkan. Pada tahapan ini, kebijakan publik dilaksanakan dalam rupa program-program pemerintah oleh beberapa aktor, dalam hal ini para birokrat, dengan mendapat dukungan pembiayaan, ditujukan untuk memenuhi kepentingan masyarakat, dan outputnya dapat diukur serta memberikan manfaat (outcomes) yang sebesar-besarnya dalam kerangka pemenuhan kebutuhan warga negara.

2. Kebijakan stelsel aktif pada pelayanan administrasi kependudukan yaitu suatu kebijakan yang mewajibkan sistem penyelenggara pelayanan administrasi kependudukan untuk memiliki aksi dan reaksi yang dinamis dan aktif dalam penyelenggaraan pelayanan tersebut yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Implementasi kebijakan tersebut dilihat dari:

a. Perspektif kepatuhan (compliance) implementator (baik kepatuhan bawahan kepada atasan maupun kepatuhan implementator terhadap peraturan) dalam mengimplementasikan sebuah program kebijakan.

Untuk menilai pendekatan ini, dapat dilihat dari dua indikator yaitu : 1) Perilaku implementator adalah sikap yang dimiliki oleh pelaksana

kebijakan seperti respon, komitmen, sikap kemauan, keinginan dan

kecenderungan para pelaku kebijakan untuk melaksanakan kebijakan secara sungguh-sungguh sehingga apa yang menjadi tujuan kebijakan dapat diwujudkan.

2) Pemahaman implementator adalah sejauhmana implementator memahami dan mengerti tentang kebijakan yang telah dibuat, termasuk proses sosialisasi dan komunikasi antar pelaksana kebijakan.

b. What‟s Happening and Why? (Apa yang terjadi dan mengapa?) yaitu suatu perspektif yang akan melihat perubahan yang terjadi setelah program dilaksanakan dan apabila tidak terjadi perubahan, mengapa?.

Variabel ini dapat dilihat dari indikator:

1) Banyaknya aktor yang terlibat, artinya adanya kewenangan yang menjamin bahwa program dapat diarahkan sebagaimana yang diharapkan. Apakah ada fasilitas-fasilitas pendukung yang dapat dipergunakan dalam program seperti dana dan sarana prasarana.

2) Kejelasan program; semakin jelas dan terperinci isi (content) sebuah kebijakan, maka kebijakan tersebut akan mudah diimplementasikan karena akan lebih mudah dipahami dan diterjemahkan oleh pelaksananya.

3) Kerumitan program terkait dengan dinamisnya petunjuk pelaksanaan yang dibuat, termasuk didalamnya pembagian tugas dan pembuatan standar operasional prosedur (SOP) yang dapat mempengaruhi berhasil tidaknya implementasi program.

4) Peran unit-unit pemerintah adalah terkait bagaimana partisipasi dari semua aktor yang terlibat dalam implementasi kebijakan tersebut.

5) Faktor-faktor kendala merupakan faktor-faktor yang tidak terkendali atau faktor-faktor yang terjadi di luar teknis implementasi (yang melampaui batas kontrol dari implementator) dan dapat secara langsung ataupun tidak langsung memberi pengaruh pada implementasi, menghambat atau bahkan menggagalkan pelaksanaan program yang telah dirancang.

3. 7. Metode Analisa Data

Metode analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data kualitatif. Menurut Bogdan dan Biklen seperti dikutip Moleong61, analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan.

Tahapan analisis data yang dilakukan mengacu pada tahapan analisis data yang dikemukakan Miles dan Huberman62 yang terdiri dari:

1. Tahap reduksi data, yang dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi

61 Lexy J. Moleong, “Metodologi Penelitian Kualitatif”, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005, hlm. 248

62 Muhammad Idrus, op.cit., hlm. 147-148

data kasar yang muncul dari catatan-catatan dilapangan yang berlangsung secara terus menerus sejalan pelaksanaan penelitian berlangsung.

2. Tahap penyajian data (display data), yang dimaknai sebagai penyajian sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Namun data yang diperoleh selama penelitian tidak mungkin dipaparkan secara keseluruhan. Untuk itu dalam penyajian data, peneliti akan menganalisis untuk selanjutnya disusun secara sistematis atau simultan sehingga data yang diperoleh dapat menjawab atau menjelaskan masalah yang diteliti. Dalam penelitian ini, penyajian data dapat diwujudkan dalam bentuk uraian deskriptif, foto dan gambar sejenisnya 3. Tahap penarikan kesimpulan, yaitu tahapan analisa selanjutnya setelah

reduksi dan display data dimana dilakukan verifikasi secara terus menerus dari data yang telah diperoleh. Dalam tahapan ini, peneliti berusaha menganalisa dan mencari pola, tema, hubungan persamaan dan sebagainya.

Kemudian akan disinkronkan dengan teori yang ada dan dianalisa secara kualitatif sehingga dapat diperoleh gambaran terkait tema penelitian dan dapat menjadi jawaban atas rumusan masalah penelitian yang disajikan secara deskriptif.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4. 1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4. 1. 1. Gambaran Kabupaten Nias

Kabupaten Nias merupakan salah satu daerah otonom yang berada di wilayah Propinsi Sumatera Utara dan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956 tetang Pembentukan Daerah Otonom Kabupaten-Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Utara. Secara geografis Kabupaten Nias terletak pada 0°53‟1,5‟‟-1°17‟16,6‟‟LU dan 97°29‟0,7‟‟-97°58‟29‟‟ BT. Letak geografis ini membuat Kabupaten Nias memiliki posisi strategis dalam wilayah Kepulauan Nias karena berada diantara jalur-jalur penghubung wilayah Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Selatan Kepulauan Nias serta wilayah Kabupaten Nias Utara dan Nias Barat.

Wilayah administrasi Kabupaten Nias memiliki batas wilayah sebagai berikut:

a. Sebelah utara berbatasan dengan Kota Gunungsitoli dan Kabupaten Nias Utara;

b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Nias Selatan;

c. Sebelah timur berbatasan dengan Kota Gunungsitoli dan Samudera Indonesia;

d. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Nias Barat dan Kabupaten Nias Utara.

Kabupaten Nias memiliki sepuluh kecamatan dan 170 desa dengan luas wilayah administratif 1.004,06 km2. Wilayah kecamatan terluas Kecamatan Idanogawo dengan luas 231,61 km2 (23,07%) dan Kecamatan Botomuzoi merupakan kecamatan terkecil dengan luas 52,06 km2 (5,18%), seperti terlihat dalah tabel berikut ini:

Tabel 4.1. Luas Wilayah Kecamatan dan Jumlah Desa per Kecamatan di Kabupaten Nias

*Diolah dari data BPS Kabupaten Nias

Kondisi alamnya atau topografi wilayahnya berbukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan dimana tinggi dari permukaan laut bervariasi antara 0 – 800 meter, terdiri dari dataran rendah sampai tanah bergelombang mencapai 24%, dari tanah bergelombang sampai berbukit-bukit 28,8% dan dari berbukit sampai pegunungan 51,2% dari keseluruhan luas daratan. Mempunyai kemiringan lereng rata-rata 8% sampai 25%. Sedangkan daerah dataran dapat dijumpai sepanjang pantai barat dan pantai timur dengan kemiringan 0-8%.

Kabupaten Nias terletak di daerah khatulistiwa sehingga curah hujan cukup tinggi. Curah hujan dalam setahun 2000 - 2800 mm atau rata-rata 274 mm per bulan, dengan banyaknya hari hujan dalam setahun 271 hari atau rata-rata 22

hari per bulan. Akibat tingginya curah hujan menyebabkan kondisi alamnya sangat lembab dan basah. Musim kemarau dan hujan silih berganti sepanjang tahun.

Di kabupaten ini terdapat sungai-sungai besar dan kecil yang berfungsi sebagai sumber air bagi pertanian dan sarana air bersih bagi masyarakat. Namun struktur batuan dan susunan tanah yang labil sering mengakibatkan banjir bandang yang mengakibatkan patahan jalan-jalan aspal dan longsor disana sini, bahkan sering ditemui daerah aliran sungai yang berpindah-pindah.

4. 1. 2. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias

Untuk menyelenggarakan kewenangan di bidang pelayanan administrasi kependudukan, Pemerintah Kabupaten Nias membentuk Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sebagai salah satu Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Nias Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas-dinas Daerah Kabupaten Nias. Selain mengemban amanah konstitusional, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesatuan Pemerintah Kabupaten Nias dalam mewujudkan Visi Kabupaten Nias Tahun 2011 – 2016 yaitu “Mewujudkan Masyarakat Yang Berkeadilan, Sejahtera dan Mandiri di Kabupaten Nias Yang Nyaman Didiami, Karena Dilayani Oleh Pemerintah Yang Bersih dan Responsif”. Selaras dengan itu, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias telah menetapkan visi dalam

menyelenggarakan urusan administrasi kependudukan yaitu “Terwujudnya Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil yang berbasis SIAK”.

Berdasarkan Peraturan Bupati Nias Nomor 17 Tahun 2008 tentang Rincian Tugas, Fungsi dan Tata Kerja Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Nias, disebutkan bahwa Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang kependudukan dan pencatatan sipil berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.

Adapun fungsi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias, adalah:

a. Perumusan kebijakan teknis di bidang Kependudukan dan Pencatatan sipil;

b. Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil;

c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas bidang Kependudukan dan Pencatatan Sipil;

d. Pengelolaan urusan ketatausahaan;

e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati Nias sesuai dengan tugas dan fungsinya. di bidang kependudukan.

Dalam struktur organisasinya, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias dipimpin oleh seorang Kepala Dinas (setingkat eselon IIb) dan berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah. Kepala Dinas dibantu oleh seorang Sekretaris (eselon IIIa) dan tiga orang Kepala Bidang (eselon IIIb). Pada jabatan setingkat eselon IVa, terdapat enam

orang Kepala Seksi dan tiga orang Kepala Sub Bagian. Secara keseluruhan, terdapat 24 orang PNS (termasuk pejabat eselon) dan 16 orang tenaga operator entry data. Struktur organisasi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias seperti pada bagan berikut:

Gambar 4.1. Bagan Struktur Organisasi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias Berdasarkan Perda Kab. Nias Nomor 7 Tahun 2008

Adanya tiga bidang dalam struktur organisasi tersebut memperlihatkan pembagian pengelolaan tugas-tugas pokok administrasi kependudukan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang kemudian diubah dengan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang

Administrasi Kependudukan. Di dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 diuraikan bahwa penyelenggaraan pelayanan administrasi kependudukan terdiri dari dua kegiatan pelayanan yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kedua bidang pelayanan tersebut adalah pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil. Kegiatan pendaftaran penduduk adalah kegiatan pencatatan biodata penduduk, pencatatan atas peristiwa kependudukan, dan pendataan penduduk rentan administrasi kependudukan serta penerbitan dokumen kependudukan berupa kartu identitas atau surat keterangan kependudukan. Output dari kegiatan pelayanan ini adalah penerbitan atau perubahan kartu keluarga, kartu tanda penduduk dan atau surat keterangan kependudukan.

Pelayanan pencatatan sipil merupakan kegiatan pencatatan peristiwa penting yang dialami oleh seseorang dalam register pencatatan sipil pada instansi pelaksana. Peristiwa penting adalah kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan. Produk atau hasil dari pelayanan pencatatan sipil adalah dokumen kependudukan berupa akta.

Di dalam struktur organisasi Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias, kegiatan pelayanan pendaftaran penduduk menjadi tugas pokok dari Bidang Pengendalian Penduduk sedangkan kegiatan pelayanan pencatatan sipil tersentralisasi di Bidang Pencatatan Sipil. Kedua bidang pelayanan ini terintegrasi dengan Sistem Informasi dan Administrasi Kependudukan yang

dioperasikan secara on-line yang pengelolaannya ditangani oleh Bidang Sistem Informasi dan Administrasi Kependudukan (SIAK).

Penyelenggaraan pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil merupakan dua kegiatan pelayanan yang berbeda namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Artinya, pelayanan pencatatan sipil tidak dapat berjalan baik apabila disaat yang bersamaan pelayanan di bidang pendaftaran kependudukan juga tidak terproses dengan baik mengingat pelayanan ini dilaksanakan dengan program yang dinamakan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang dioperasikan secara on-line. Sebelum melaksanakan pelayanan dokumen kependudukan dan akta-akta catatan sipil harus diketahui terlebih dahulu apakah data penduduk atau keluarga yang akan dilayani sudah ada pada database/server, dan jika belum ada maka harus dilaksanakan entry data terlebih dahulu, setelah itu baru kegiatan pelayanan dapat dilaksanakan. Dan urutannya jelas, yaitu dimulai dari pendaftaran penduduk.

Awal mula proses pelayanan administrasi kependudukan adalah entry data penduduk atau dikenal juga dengan istilah perekaman data penduduk. Setelah data penduduk terekam dan tersimpan dalam data base SIAK, maka yang bersangkutan akan lebih mudah mendapatkan pelayanan dalam pengurusan Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) dan akta kependudukan.

Untuk melayani warga masyarakat yang mengurus dokumen kependudukannya, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias menyediakan sebuah ruangan yang difungsikan sebagai loket penerimaan berkas

pengurusan dokumen kependudukan dari masyarakat. Melalui loket ini juga, produk pelayanan administrasi kependudukan didistribusikan kepada masyarakat.

Di loket ini, bidang yang menangani pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil memiliki peran yang dominan. Staf dari kedua bidang ini ditugaskan di loket untuk menerima dan menverifikasi berkas pengurusan dokumen kependudukan yang diserahkan oleh masyarakat.

4. 1. 3. Anggaran Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias Sebagai salah satu satuan kerja perangkat daerah yang bertanggung jawab terhadap pelayanan administrasi kependudukan memiliki anggaran pembiayaan kegiatan yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanjda Daerah (APBD) Kabupaten Nias dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dengan besaran seperti dalam tabel dibawah ini:

Tabel 4.2. Anggaran Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias

No. Sumber Anggaran Jumlah (Rp)

Tahun 2015 Tahun 2016

1. APBD 2.020.000.000 2.300.000.000

2. P-APBD (Pagu Anggaran Setelah Perubahan)

2.353.000.000 2.110.000.000

3. APBN 1.110.723.000 671.853.000

* diolah dari data Sub Bagian Keuangan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias

Pendanaan yang berasal dari APBN merupakan tindak lanjut dari Pasal 89 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 470/327/SJ tanggal 17 Januari 2014 tentang Perubahan Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan yang salah satu isinya

menyebutkan bahwa pendanaan untuk penyelenggaraan program dan kegiatan administrasi kependudukan, baik di provinsi maupun di kabupaten/kota dianggarkan dalam APBN dan dimulai pada APBN-P Tahun Anggaran 2014.

4. 1. 4. Persyaratan Dan Tata Cara Pengurusan Dokumen Kependudukan Persyaratan dan tata cara pengurusan dokumen kependudukan dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.

Persyaratan yang tercantum dalam peraturan ini disosialisasikan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat maupun melalui aparat desa dalam berbagai kesempatan sosialisasi langsung maupun melalui sosialisasi menggunakan spanduk atau poster.

Persyaratan dan tata cara pengurusan dokumen kependudukan ini menjadi pedoman bagi instansi pelaksana pelayanan dalam melaksanakan penerimaan dan verifikasi berkas pengurusan dokumen kependudukan. Selain peraturan presiden diatas, terdapat pula persyaratan lainnya yang diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 tahun 2010 tentang Formulir dan Buku Yang Digunakan Dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. Selain melengkapi segala persyaratan yang terdapat dalam Perpres Nomor 25 tahun 2008, masyarakat juga diwajibkan mengisi formulir sesuai dengan kegunaannya sebagaimana dimaksud dalam Permendagri Nomor 19 Tahun 2010.

Selain Perpres Nomor 25 Tahun 2008 dan Permendagri Nomor 19 Tahun 2010, terdapat pula beberapa peraturan perundang-undangan lainnya yang

mengatur persyaratan pendaftaran penduduk dan pengurusan dokumen kependudukan, diantaranya:

a. Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2009 tentang Penerapan Kartu tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional, beserta dengan perubahannya;

b. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pedoman Pendataan dan Penerbitan Dokumen Kependudukan Bagi Penduduk Rentan Administrasi Kependudukan;

c. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pedoman Penerbitan Kartu Tanda Penduduk Berbasis Nomor Induk Kependudukan Secara Nasional;

d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 2015 tentang Pedoman Pendataan Penduduk Non Permanen;

e. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2016 tentang Kartu Identitas Anak;

f. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2016 tentang Peningkatan Cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran;

g. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 470/296/SJ tanggal 29 Januari 2016 tentang KTP Elektronik (KTP-el) Berlaku Seumur Hidup;

h. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 472.12/2701/DUKCAPIL tanggal 17 Maret 2016 tentang Peningkatan Pencatatan Peristiwa Kematian;

i. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 471/1768/SJ tanggal 12 Mei 2016 tentang Percepatan Penerbitan KTP-el dan Akta Kelahiran;

j. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 417.13/9686/DUKCAPIL tanggal 14 September 2016 tentang Pelayanan Perekaman dan Pencetakan KTP Elektronik.

Diterbitkannya berbagai peraturan perundang-undangan bahkan dalam bentuk surat edaran merupakan upaya pemerintah untuk mempermudah prosedur, tata cara dan persyaratan pengurusan dokumen kependudukan yang senantiasa disesuaikan dengan kondisi dan situasi terkini masyarakat.

4. 2. Karakteristik dan Identitas Informan

Sebagaimana telah dipaparkan dalam bab sebelumnya bahwa dalam penelitian ini melibatkan beberapa informan sebagai narasumber yang dapat memberikan penjelasan dan pemahaman mengenai tema penelitian yang ditentukan secara purposive. Key informan adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias dengan deskripsi identitas sebagai berikut:

Tabel 4.3. Identitas Informan Kunci

No. Nama Umur

(Tahun)

Pendidikan

Terakhir Jabatan Masa Kerja 1. Yanueli Nazara, BA 56 Diploma

III

Kepala Dinas

33 tahun

Selanjutnya adalah informan utama yang berperan sebagai implementator dan terlibat secara langsung dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan pelayanan administrasi kependudukan. Informan dalam kategori ini adalah sebagai berikut:

Tabel 4. 4. Identitas Informan Yang Terlibat Dalam Teknis Pelaksanaan

Penelitian ini juga melibatkan informan tambahan yaitu mereka yang tidak terlibat dalam implementasi kebijakan stelsel aktif pada pelayanan administrasi kependudukan namun memiliki informasi yang dibutuhkan untuk meguatkan data-data mengenai tema penelitian. Informan tersebut adalah masyarakat Kabupaten Nias yang mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan. Dalam hal ini, peneliti sebisa mungkin mendapatkan informan yang tidak berasal dari desa atau kecamatan yang sama. Pemilihannya mempertimbangkan faktor geografi dan topografi wilayah, yang diwakili oleh masyarakat dari Kecamatan Idanogawo dan Bawolato sebagai kecamatan yang berada di dataran rendah atau pesisir pantai serta masyarakat dari Kecamatan Ma‟u dan Kecamatan Ulugawo yang karakteristik wilayahnya berada di dataran

tinggi. Informan ditemui saat pelaksanaan pelayanan langsung administrasi di kecamatan dan secara aksidental di loket pelayanan kantor. Selain masyarakat, terdapat juga unsur DPRD kabupaten Nias, Camat, personil Polres dan Koramil yang turut menjadi informan walau tidak terlibat dalam implementasi kebijakan stelsel aktif pada pelayanan administrasi kependudukan namun memiliki informasi yang dibutuhkan untuk menguatkan data-data mengenai tema penelitian. Deskripsi informan dalam kategori ini adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5. Identitas Informan Yang Berasal Dari Masyarakat, Unsur DPRD Kabupaten Nias, Camat, Personil Polsek dan Koramil

No. Nama Umur

4. 3. Implementasi Kebijakan Stelsel Aktif pada Pelayanan Administrasi Kependudukan di Dinas Kependudukan Catatan Sipil Kabupaten Nias

Mengacu pada rumusan permasalahan yang menjadi tema penelitian ini yaitu bagaimana upaya implementasi kebijakan stelsel aktif pada pelayanan administrasi kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias berdasarkan perspektif yang dikemukakan oleh Ripley dan Franklin, maka pada bagian ini akan diuraikan beberapa kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias sebagai bentuk kepatuhan (compliance) terhadap amanah peraturan perundang-undangan sekaligus usaha untuk meningkatkan output pelayanan administrasi kependudukan.

4. 3. 1. Kepatuhan (Compliance) Implementator Kebijakan

Kepatuhan adalah upaya perilaku yang timbul akibat adanya keinginan untuk mencapai suatu hasil yang baik yang sesuai dengan aturan. Kepatuhan dari implementator dapat dilihat dari perilaku dan pemahamannya terhadap pelaksanaan suatu kebijakan.

4. 3. 1. 1. Pemahaman Implementator

Untuk mengetahui pemahaman implementator terhadap kebijakan stelsel aktif pada pelayanan administrasi kependudukan di Kabupaten Nias, peneliti melakukan wawancara terhadap pemangku kepentingan di bidang pelayanan administrasi kependudukan. Berikut petikan wawancara dengan Yanueli Nazara, BA, yang mengatakan:

“ kita paham, adanya UU Nomor 24 itu mewajibkan penyelenggara pelayanan administrasi kependudukan yang aktif memberi pelayanan.

istilahnya, kita jemput bola. Tidak mesti menunggu masyarakat datang ke sini. Sudah beberapa kali kita rakor dengan Kemdagri. Pasti paham.

Teman-teman yang juga paham soal kebijakan ini. Hanya, teknis pelaksanaannya ini yang mesti dipikirkan. Seperti yang saya katakan tadi, Disdukcapil Kabupaten Nias pernah mengadopsi model jemput bola itu, namun tidak efektif. Saat ini, kegiatan pelayanan langsung di kecamatan sedang jalan...” (Wawancara tanggal 27 Juni 2016)

Penggalan wawancara dengan Tehesokhi Hulu, S.IP., yang mengatakan

“...jelas, Disdukcapil di seluruh Indonesia diwajibkan untuk memberi pelayanan langsung kepada masyarakat tanpa menunggu. Tinggal bagaimana masing-masing daerah mewujudkannya dalam bentuk program kegiatan. Sesuai kebutuhan dan kemampuan serta kondidi daerah...” (wawancara tanggal 28 Juni 2016)

Penggalan wawancara dengan Martahani Matondang, SH, yang mengatakan:

“...aahhhh, kamu ini, pasti paham lah. Udah beberapa kali kita rapat sama Adminduk (Dirjen Administrasi Kependudukan). baik seluruh Indonesia maupun tingkat regionalnya. Maksud pemerintah itu kita sudah paham.

dan kembali ke kita di daerah, bagaimana menyikapinya..melalui program kegiatan. Kalau kita di Nias, kita sudah memprogramkan pelayanan langsung di kecamatan sejak tahun lalu...” (wawancara tanggal 30 Juni 2016)

Nisman S. Zalukhu, SH, mengatakan:

“...kita tahu stelsel aktif ini mewajibkan Instansi Pelaksana pelayanan administrasi kependudukan pro aktif mendatangi warga. Entah di daerah mana itu, mereka menyebutnya pelayanan keliling. Tapi itu tergantung daerahlah. Sesuai program disduknya. Di Disdukcapil ini, turun lapangan itu perlu. Selama ini kan kita cuma duduk aja seharian di kantor terima dan verifikasi berkas. Kalo turun ke masyarakat ke desa gitu, ada variasi, biar tubuh kita tidak kaku. Sekalian refreshinglah...hahahahah...”

(wawancara tanggal 29 Juni 2016)

Agusniar Harefa, A.Md memberi jawaban ketika peneliti menanyakan pemahaman dan tanggapannya tentang kebijakan stelsel aktif pada pelayanan administrasi kependudukan, kutipannya sebagai berikut:

“...teman-teman sering bercanda dengan menyebutnya sel-sel aktif...hahahaha... paham, saya sendiri paham. Intinya, Disdukcapil yang

“...teman-teman sering bercanda dengan menyebutnya sel-sel aktif...hahahaha... paham, saya sendiri paham. Intinya, Disdukcapil yang