• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

8. Karakteristik Informan

Berikut adalah karakteristik menurut jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan dan pendapatan.

a. Karakteristik informan berdasarkan jenis kelamin

Karakteristik informan yang menjadi subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin ditunjukkan pada tabel dibawah ini:

Tabel 2. Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin

Keterangan Frekuensi Persentase

Laki-Laki 2 28,57

Perempuan 5 71,42

Jumlah 7 100

Sumber: diolah dari data primer, Juni 2017

Distribusi informan tentang jenis kelamin berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 2 orang berjenis laki-laki atau sebesar 28,57 persen dan 5 orang berjenis kelamin perempuan atau sebesar 71,42 persen dari keseluruhan informan yang ada.

b. Karakteristik informan berdasarkan umur

Penelitian ini menggunakan karakteristik informan berdasarkan umur.

Karakteristik informan ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 3. Karakteristik Informan Berdasarkan Umur.

Keterangan Frekuensi Persentase

26 – 36 2 28,57

37 – 46 2 28,57

47 – 56 2 28,57

57 tahun ke atas 1 14,28

Jumlah 7 100

Sumber: diolah dari data primer, Juni 2017

Tabel tersebut di atas memperlihatkan distributor informan berdasarkan umur dimana menerangkan bahwa kebanyakan informan memiliki umur yang berkisar 37-46 tahun yang menunjukkan sebanyak 2 orang informan atau 28,57 persen dari jumlah informan, informan yang memiliki umur sekitar 26-36 tahun

sebanyak 2 orang atau 28,57 persen, informan yang berumur 47-56 tahun sebanyak 2 orang atau 28,57 persen serta informan yang berusia 57 tahun ke atas sebanyak 1 orang atau 14,28 persen dari keseluruhan jumlah informan yang ada.

c. Karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan

Karakteristik informan yang menjadi subyek penelitian menurut tingkatpendidikannya dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4. Karakteristik Informan Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Keterangan Frekuensi Persentase

S1 2 28,57

D3 3 42,85

SMA 1 14,28

SMP 1 14,28

Jumlah 7 100

Sumber : diolah dari data primer, Juni 2017

Distribusi informan berdasarkan tingkat pendidikannya menerangkan bahwa 2 orang berpendidikan S1 atau sebanyak 28,57 persen dari jumlah informan. 3 orang berpendidikan D3 atau sebanyak 42,85 persen dari jumlah informan, tingkat pendidikan SMA sebanyak 1orang atau 14,28 persen dan jumlah tingkat pendidikan informan yang SMP sebanyak 1 orang atau 14,28 persen dari jumlah informan yang ada.

d. Karakteristik informan berdasarkan pekerjaan

Karakteristik informan yang menjadi subjek penelitian menurut pekerjaan yang dapat ditunjukkan pada table dibawah ini:

Tabel 5. Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan.

Keterangan Frekuensi Persentase

PNS 2 28,57

PTT 1 14,28

Volunter 2 28,57

IRT 2 28,57

Jumlah 7 100

Sumbe : diolah dari data primer, Juni 2017

Distribusi informan tentang pekerjaannya berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa 2 orang memiliki pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil atau 28,57 persen dari jumlah informan, 1 orang informan berprofesi sebagai pegawai tidak tetap atau 14,28 persen dari jumlah informan, berprofesi sebagai pegawai volunter yaitu sebanyak 2 orang atau 28,57 persen dari jumlah informan, dan sisanya IRT Jumlahnya 2 orang atau 28,57 persen dari jumlah keseluruhan informan yang ada.

e. Karakteristik informan berdasarkan pendapatannya

Karakteristik informan yang menjadi subjek penelitian berdasarkan pendapatan perbulan juga sangat dibutuhkan dalam pngolahan data.

Karakteristik informan berdasarkan pendapatan perbulan dapat ditunjukan pada tabel sebagai Berikut:

Tabel 6. Karakteristik Informan Berdasarkan Pendapatannya

Keterangan Frekuensi Persentase

Rp.300.000 -Rp. 1.000.000 4 57,14

Rp. 1.100.000-Rp.3.500.000 2 28,57

Rp.3.600.000-Rp.4.000.000 1 14,28

Jumlah 7 100 Sumber: diolah dari data primer, Juni 2017

Distribusi informan tentang pendapatan perbulan berdasarkan tabel diatas yaitu menunjukkan bahwa informan yang berpenghasilan sebesar Rp.300.000-Rp.1.000.000 sebanyak 4 orang atau 57,14 persen dari jumlah informan, Rp.1.100.000-Rp.3.500.000 sebanyak 2 orang atau 28,57 persen dari jumlah informan, dan informan yang berpenghasilan sebanyak Rp.3.600.000-Rp 4.000.000 sebanyak 1orang atau 14,28 persen dari jumlah informan yang ada.

B. Kinerja Pegawai Tidak Tetap Dipuskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa

Kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Kerja perusahaan adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu.

Kinerja lembaga adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tgas tertentu.

Kinerja lembaga adalah tongkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga, manajemen kinerja adalah keseluruhan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja suatu lembaga termasuk kinertja masing-masing individu dan kelompok kerja perusahaan tersebut. Kinerja pegawai tidak tetap di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa, dapat dilihat dengan menggunakan indicator yaitu:

1. Kualitas

Kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan mutu karyawan dalam hal melaksanakan tugas-tugasnya. Kualitas kerja merupakan salah satu unsur yang dievaluasi dalam menilai kinerja karyawan selain perilaku

seperti dedikasi, kesetiaan, kepemimpinan, kejujuran, kerjasama, loyalitas, dan partisipasi karyawan.

Kualitas kerja yang rendah akan membuat produktivitas menurun, dan sebaliknya jika kualitas kerja karyawan yang tinggi maka hal tersebut akan meningkatkan tingkat produktivitas. Kualitas pelayanan (service quality) dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi para konsumen atas pelayanan yang nyata-nyata mereka terima / peroleh dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan / inginkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan.

Jika jasa yang diterima atau dirasakan (perceived service) sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan memuaskan, jika jasa yang diterima melampaui harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dipersepsikan sangat baik dan berkualitas.Sebaliknya jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk.

Hal yang dapat memicu peningkatan kualitas tenaga kerja antara lain dengan memberikan pelatihan atau training, memberikan insentif atau bonus dan menerapkan teknologi yang dapat menunjang peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja berdasarkan kualitas pegawai dapat dilihat dari indikator berikut.

a. Loyalitas

Loyalitas dipandang sebagai suatu sarana untuk dapat mengikat sebuah kesetiaan, kepatuhan, dan ketaatan, loyalitas sering diidentikkan dengan pengabdian akan seseorang terhadap sebuah lembaga mempunyai kesamaan visi dan orientasi untuk meraih tujuan bersama. Seseorang yang sudah loyal kepada lembaga, maka ia akan bekerja terlebih tanpa terlebi dahulu ada komando, ada

instruksi, ia lebih inisiatif untuk melakukan berbagai hal demi kepentingan lembaga. Seseorang yang memelikin kesetiaan biasanya juga lebih reaktif, banyak melakukan kritik, saran dan hal-hal lainnya kedalaman substansi dalam suatu program atau dalam kebijakan organisasi lembaga. Loyalitas dipahami sebagai bentuk kesetiaan dan keberpihakan seseorang di tempat ia beraktivitas. Kesetiaan mengandung pengertian bahwa seseorang telah merasakan bahwa di samping kita telah memberikan kontribusi, organisasi juga telah memberikan kompensasi.

Hubungan kausalitatif inilah yang memberikan reward bagi kedua belah pihak.

Reward dari organisasi kepada karyawan berupa legitimasi dari berbagai aspek, termasuk kompensasi.

Reward dari karyawan kepada organisasi adalah berupa loyalitas. Seseorang yang telah memiliki kesetiaan, biasanya terefleksikan ke dalam aktivitas sehari-hari dalam pekerjaan. Misalnya ia cenderung lebih aktif, lebih reaktif, dan memiliki filterisasi organisasi yang tinggi. Kecenderungan lebih aktif dapat dipahami bahwa biasanya orang tersebut memiliki daya inisiatif dan kreatifitas yang tinggi. Seseorang yang sudah loyal kepada organisasi, maka ia akan bekerja tanpa terlebih dahulu ada komando atau instruksi, ia lebih berinisiatif melakukan berbagai hal demi kepentingan organisasi. Seseorang yang memiliki kesetiaan biasanya juga lebih reaktif, banyak melakukan kritik, saran dan hal-hal lainnya yang bersifat menakar kedalaman substansi dari suatu program atau kebijakan organisasi. Jadi sesungguhnya seseorang yang banyak melakukan kritik dan saran kepada organisasi, jangan dipahami sebagai bentuk kecintaannya (sense of belonging) terhadap organisasi tempat di mana ia bekerja. Lain soal memang jika

kritik, masukan dan berbagai kontribusi yang lain dilakukan secara destruktif. Hal itu bukanlah menunjukkan keadaan di mana orang tersebut memiliki loyalitas terhadap organisasi di tempat ia bekerja, justru orang tersebut adalah merupakan kanker bagi organisasi. Organisasi harus tegas ketika menghadapi orang-orang seperti ini, jika perlu dikeluarkan.

Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan LM selaku kepala puskesmas mengatakan bahwa:

“Jika berbicara mngenai loyalitas itu bahwa para pegawai tidak tetap di puskesmas ini mereka sebagian besar belum dikatakan loyal yah karena masih banyak dari mereka yang belum patuh kepada peraturan yang telah ditetapkan bahkan mereka sering melanggar aturan terutama mngenai aturan jam kerja.” (Hasil Wawancara LM, 22 Juni 2017)

Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa, pegawai tidak tetap belum dikatakan loyal terhadap puskesmas samaturu kerena sebagian besar pegawai tidak tetap masih banyak melanggar dan tidak patuh terhadap aturan yang berlaku terutama tentang aturan waktu yang ada di Puskesmas Samaturu Tondong, Sinjai Balannipa,

Hasil observasi peneliti menunjukan bahwa memang benar adanya loyalitas para pegawai masih kurang di lapangan peneliti melihat masih banyak ada pegawai yang melanggar aturan jam kerja seperti keluar makan pada saat blm jam istirahat .

Lanjutan hasil wawancara bersama HD selaku pegawai di Puskesmas Samaturu Tondong,Sinjai,Balannipa mengatakan bahwa :

“Banyaknya pegawai yang sering keluar dan pulang pada saat jam piket, ada juga pegawai yang datang hanya mengisi absen, ada juga pegawai yang membiarkan pasien”. (Wawancara HD, 22 Juni 2017)

Hasil observasi peneliti dilapangan menunjukan bahwa benar adanya seorang pegawai banyak yang sering bolos pada saat masih jam kerja , mereka hanya datang mengisi absen setelah itu mereka pulang atau ngerumpi di suatu tempat, karena pada saat peneliti pulang dari tempat penelitian peneliti sering melihat pegawai berkeliaran di luar kantor sementara saat itu belum waktunya jam istrihat

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa kinerja pegawai tidak tetap di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa Kolaka masih banyak pegawai yang sering bolos pada jam kerja, hanya ada juga yang datang hanya mengisi absen dan malas menangani pasien.

Lanjut, hasil wawancara dengan EL selaku pegawai tidak tetap di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa Kolaka yang memberikan pernyataan berbeda dari informan sebelumnya, mengatakan bahwa:

“Mengenai loyalitas kan berbicara tentang hubungan antar pribadi dan juga apakah kita suka dengan pekerjaan kita jadi, Saya disini sebagai pegawai tidak tetap melihat hubungan antar pegawai tidak tetap di puskesmas ini masih sangat kurang dalam hal kerjasama karena para pegawai di sini masih ada yang selalu bersifat acuh tak acuh dalam melaksanakan tugasnya sedangkan untuk kesukaan terhadap pekerjaan saya sangat menyukai pekerjaan saya di puskesmas ini.” (wawancara EL 22 Juni 2017).

Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pegawai tidak tetap di puskesmas Samaturu tidak menjalin hubungan antar pribadi dengan baik pasalnya masih ada pegawai tidak tetap yang acuh tak acuh terhadap pekerjaannya dan hal ini menunjukkan bahwa masih ada juga pegawai yang masih kurang dalam hal kesukaan terhadap pekerjaan.

Hasil observasi dilapangan membuktikan bahwa benar adanya hubungan antar pegawai masih kurang peduli terhadap pasien dimana peneliti melihat para pegawai saling mengharapkan satu dengan yang lainnya antar pegawai tidak tetap dan pegawai honorer dalam pembagian tugas , dan hubungan pegawai antar sesama pegawai tidak tetap juga seperti itu dimana mereka saling mengharapkan satu sama lain pada saat dinas.

Hasil wawancara bersama informan MR selaku pegawai kesehatan di Puskesmas yang mengatakan bahwa:

“Pegawai di sini datang tidak tepat waktu dan pulang semaunya biasanya juga ada pasien yang lama dilayani karena jarang pegawai yang tidak tinggal pada saat jam kerja.” (wawancara MR, 22 juni 2017)

Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti dapat simpulkan bahwa pegawai tidak tetap di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa masih banyak pegawai yang datang sesuka hati dan pulang semaunya. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa loyalitas dalam hal tanggung jawab dan sikap kerja para pegawai yang masih sangat kurang sehingga dapat dikatakan bahwa loyalitas para pegawai tidak tetap di puskesmas Samaturu yang belum tercapai.

Hasil observasi peneliti membuktikan adanya hampoir semua pegawai tidak tinggal di puskesmas pada saat jam kerja , akibatnya pasien yang biasa datangf ke puskesmas tidak mendapati seorang pun pegawai di puskesmas , pasien pun memilih untuk berkunjung segera ke rumah kepala puskesmas untuk periksa .

Senada dengan wawancara bersama informan UU selaku staf Yankesmas di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa yang mengatakan bahwa:

“Kalau membahas tentang loyalitas itu kan ada beberapa indikator salah satunya yaitu kemauan untuk bekerja sama, namun dalam hal ini jika

melihat para pegawai tidak tetap di puskesmas ini masih ada sebagian para pegawai tidak tetap di sisni yang tidak mau kerja sama dengan pegawai yang lain karena alasan mereka masih belum kenal baik satu sama lain.”

(wawancara UU 22 Juni 2017)

Berdasarkan hasil wawancara bersama informan di atas dapat disimpulkan bahwa bahwa loyalitas dalam kemauan bekerja sama antar pegawai di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa masih kurang bagus, dimana masih banyak pegawai tidak tetap yang tidak bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan maupun masalah di puskesmas Samaturu, dalam hal ini jika keja sama yang kurang dalam suatu organisasi yang kurang akan mempengaruhi kinerja para pegawai dan seharusnya kepala puskesmas memberikan arahan kepada mereka agar bekerjasama dengan baik sehingga pelayanan di Puskesmas ini menjadi efektif dan efisien.

Hasil observasi yang membuktikan bahwa adanya pegawai tidak tetap yang tidak mau bekerja sama seperti merujuk pasien ke RS umum peneliti mendapatin seorang pegawai puskesmas yang tidak ingin mengantar pasiennya untuk di rujuk kekolaka dengan alasan teman dinasnya mereka belum saling kenal sehingga pegawai tersebut merasa malas untuk mengantar pasien dan memilih untuk tinggal jaga di puskesmas saja dan dia mempercyakan kepada temannya saja, saat kejadian itu kepala puskesmas tidak di tempat sehingga tidak melihat perlakuan pegawai dan tidak menegur.

Berdasarkan hasil observasi peneliti juga mengambil data dari hasil wawancara dengan SK selaku masyarakat yang mengatakan bahwa:

“Sebenarnya di Puskesmas ini cara memberikan pelayanan para pegawainya sudah bagus. Akan tetapi, saya biasa melihat para pegawai yang terlambat datang ke puskesmas terutama pada pagi hari yang aturannya jam 07.30 pelayanan namun, biasanya puskesmas memberikan pelayanan pada jam 08.30 dan saya pikir para petugas di sini tidak patuh pada aturannya.” (wawancara SK, 22 Juni,2017)

Berdasarkan hasil wawancara maka penulis menyimpulkan bahwa dalam hal memberikan pelayanan sudah baik namun, mengenai peraturan yang ada di puskesmas Samaturu sering terjadi pelanggaran dimana para pegawai yang sering datang terlambat dan mereka memberikan pelayanan tidak sesuai dengan aturan yang ada.

Hasil observasi membuktikan adanya , pada saat peneliti berkunjung ke puskesmas pada pukul 07-00 karena pada saat itu sehari sebelum peneliti ke puskesmas , kepala puskesmas menghimbau utnuk dating pagi untuk ikut apel pada karena apel pagi di puskesmas di laksanakan pada piukul 07-15 , pada saat peneliti di puskesmas jam 07-00 peneliti mendapati Puskesmas masih dalam keadaan kosong belum ada orang- orang yang datang , para pegawai datang satu persatu pada pukul 08-15 , setelah apel [pagi barulah pegawai di puskesmas lengkap

Senada dengan yang dikatakan informan SM selaku masyarkat bahwa:

“Pegawai tidak tertib sering dilihat paginya mulai jam 08.30 rame, dan jika sudah lewat dari jam 11 puskesmas sudah sepi, puskesmas ramai kalau adami pasien darurat dan menurut sya ini tidak adil bagi masyarakat karena meskipun pasien yang datang tidak darurat dan misalnya mau

konsultasi para petugas di puskesmas ini harus memberikan pelayanan dengan baik.”

(wawancara SM, 22 Juni 2017)

Berdasarkan hasil wawancara di atas maka dapat disimpulkan bahwa pegawai sering tidak tertib untuk datang ke puskesmas. Hal ini menunjukkan bahwa para pegawai yang hanya menggugurkan kewajibannya untuk dating dan tidak loyal terhadap tugasnya sebagai petugas terminal yang seharusnya 24 jam melayani pasien yang ada di puskesmas.

Hasil observasi peneliti membuktikan puskesmas ramai jika ada pasien yang gawat darurat , saat itu di UGD puskesmas di banjiri pegawai dengan adanya pasien yang kecelakaan cukup parah , sebelum pasien tersebut ke puskesmas puskesmas nampak sepi maupun di ruangan UGD karena pegawai memiklih untuk ngerumpi di perumahan dinas.

b. Dedikasi

Dedikasi adalah sebuah pengorbanan tenaga, pikiran dan waktu demi keberhasilan suatu usaha yang mempunyai tujuan yang mulia, dedikasi ini bias juga berarti pengabdian untuk melaksanakan cita-cita yang luhur dan diperlukan adanya sebuah keyakinan yang teguh.

Berdasarkan hasil wawancara bersama HM selaku Kepala Puskesmas yang mengatakan bahwa:

“Kalau berbicara tentang dedikasi Yah sudah lumayan , karena mereka juga sudah lama mengabdi di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa “ ( wawncara HM, 03 Juli, 2017)

Dari hasil wawancara diatas peneleti dapat mengetahui bahwa dedikasi pegawai tidak tetap di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa cukup baik karena mereka sudah lama mengabdi di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa.

Hasil observasi peneliti membuktikan benar adanya pegawai yang sudah cukup lama mengabdi di puskesmas.

Lanjutan wawancara bersama EL selaku pegawai di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa yang mengatakan bahwa:

“Kalau mau bicara soal dedikasi namanya juga profesi seorang bidan dan perawat harus banyak pengorbanan yang diberikan termasuk saya juga sudah banyak mendedikasikan waktu dan tenaga di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa dimana seorang pegawai kesehatan waktunya jauh lebih banyak untuk pasien dibanding waktu untuk keluarga ” (wawancara EL, 03 Juli,2017)

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengetahui bahwa dedikasi yang di lakukan oleh pegawai tidak tetap di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa sudah banyak mendedikasikan baik waktu maupun tenaga, waktu mereka lebih banyak untuk pasien dari pada untuk keluarga.

Hasil observasi peneliti di lapangan sudah memeberikan dedikasinya sebagaimana pegawai puskesmas dimana pegawai tidak mengenal waktu jika ada pasien yang inngin melahirkan pada saat jam tidur atau di luar jam kantor mereka tidak mengenal waktu jika situasi seperti ini yang memanggil dan waktu untuk berkumpul bersama keluarga kurang.

Lanjutan wawancara diatas dengan HD selaku pegawai di puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa mengatakan bahwa :

“Kalau soal dedikasi sudah tidak bisa dipingkiri lagi karena kita lihat bagaimana pekerjaan kita jika ada pasien yang harus dilarikan kerumah sakit umum pada jam tidur yang seharusnya kita tidur tapi meluangkan waktu untuk orang lain. “(Wawancara HD, 04 Juli,2017)

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengetahui bahwa dedikasi pegawai puskesmas sudah tidak bisa dipungkiri lagi karena sebagaimana yang kita lihat jika ada pasien yang di rujuk tengah malam mereka rela meluangkan waktunya.

Hasil observasi peneliti dilapangan membuktikan benar adanya pegawai merujuk pasien untuk ke RS UMUM saat tengah malam .

Lanjutan hasil wawancara dari informan UU selaku Yankesmas yang mengatakan bahwa:

“Berbicra soal dedikasi perawat dan bidan dipuskesams sudah luar biasa karena mereka dalam menangani pasien tidak mengenal waktu

“(wawancara UU, 04 Juli,2017)

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengetahui bahwa dedikasi pegawai puskesmas sudah luar biasa mereka tidak mengenal waktu dalam menangani pasien.

Hasil observasi di lapangan membuktikan benar adanya tanggung jawab seorang pegawai sudah luar biasa di mana saat itu peneliti melihat langsung pegawai pada saat hari Raya Idul Fitri mereka tetap menjaga pasiennya yang sementara dirawat di UGD

Lanjutan dari hasil wawancara bersama SK selaku masyarkat mengatakan bahwa :

“Kalau soal pengorbanan terhadap pekerjaanya sudah luar biasa apa lagi pekerjanya mereka sebagai bidan dan perawat tugasnya menolong nyawa seseorang. “(Wawancara SK, 04 Juli, 2017)

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengetahui bahwa pekerjaan pegawai sudah luar biasa mereka, sebagai bidan dan perawat sudah mejalankan tugasnya menelong nyawa seseorang.

Hasil observasi peneliti di lapangan membuktikan mereka sangat bertanggung jawab dalam menangani pasien jika pasiennya cukup parah dan kemungkinan kecil untuk hidup dengan memberikan segenap usaha mereka untuk memberikan pengobatan yang terbaik

Lanjut dari hasil wawancara bersama SM selaku masyarakat mengatakan bahwa:

“Sebagai tenaga medis sudah harusnya begitu harus siap dan rela mengorbankan waktunya.”(Wawancara SM,22 Juli 2017)

Dari hasil wawancara diatas peneliti dapat mengetahui bahwa sudah menjadi tugas sebagai tenaga medis harus siap dan rela mengorbankan waktunya untuk orang lain.

c. Partisipan

Partisipan adalah pengikutsertaan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab didalamnya. peran masyarakat dalam mengambil bagian, atau turut serta menyumbang tenaga dan pikiran ke dalam suatu kegiatan, berupa keterlibatan ego atau diri sendiri atau pribadi yang lebih dari pada sekedar kegiatan fisik semata.

Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan LM selaku kepala puskesmas mengatakan bahwa:

“Kalau berbicara partisipan antar pegawai disini sudah bgus, mereka sangat antusias dalam berpartisipasi jika ada kegiatan semacam penyuluhan kemasyarakat” (Wawancara LM, 06 Juli,2017)

Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti dapat mengetahui bahwa partisipan para pegawai sudah bagus mereka sangat antusias dalam kegiatan penyuluhan kemasyarakat.

Hasil observasi peneliti membuktikan benar adanya partisipasi pegawai kepada masyarakat dengan melakukan penyuluhan ke desa-desa`

Lanjut hasil penelitian bersama EL selaku pegawai di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa yang mengatakan bahwa

“Kami senang mengikuti penyuluhan-penyuluhan yang di selenggarakan puskesmas karena kita mendapatka uang saku meskipun tidak seberapa”

(Wawancara EL, 06 Juli 2017).

Berdasarkan hasil wawancara bersama informan peneliti dapat mengetahui bahwa para pegawai di Puskesmas Samaturu Tondong Sinjai Balannipa merasa senang mengikuti kegiatan-kegiatan partisipan yang dilakukan oleh puskesmas karena mereka mendapatkan insentif meskipun tidak banyak.

Hasil observasi peneliti di lapangan melihat antusias dalam melakukan

Hasil observasi peneliti di lapangan melihat antusias dalam melakukan

Dokumen terkait