BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Karakteristik informan
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara terhadap informan yang dijadikan narasumber penelitian. Jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang, yaitu petugas puskesmas dan masyarakat yang terkait dengan kegiatan imunisasi di wilayah kerja puskesmas Tukka. Adapun informan tersebut adalah : 1 orang kepala puskesmas, 3 orang bidan desa, 1 orang kooordinator imunisasi, 2 orang petugas imunisasi dan 3 orang kader
Adapun karakterisitik informan berdasarkan hasil penelitian dapat terlihat pada tabel 4.3 2 Pipin Azri Sibuea Laki-laki D3 Koordinator
imunisasi,
S. Kalangan
10 Roslinawati Perempuan SMA Kader Desa S. Kalangan II
Informan 10
4.3 Analisis Manajemen Program Imunisasi dalam Pencapaian Cakupan Universal Child Immunization (UCI)
4.3.1 Masukan (Input)
Masukan (input) merupakan semua hal yang diperlukan untuk terselenggaranya pelaksanaan program imunisasi yang dalam hal ini meliputi sumber daya manusia, dana, sarana dan prasarana yang merupakan penunjang dalam pelaksanaan program imunisasi yang dapat dilihat pada uraian berikut : 4.3.1.1 Ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM)
Sumber daya manusia adalah salah satu faktor yang sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi. Menurut Werther dan Davis (1996) yang dikutip oleh Sutrisno (2015) menyatakan bahwa sumber daya manusia adalah pegawai yang siap, mampu dan siaga dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Oleh karena itu adapun yang dikatakan sebagai sumber daya manusia dalam organisasi puskesmas merupakan orang-orang yang mengabdikan diri dalam bidang tertentu di wilayah kerja puskesmas serta harus mempunyai wewenang untuk melakukan upaya jenis tertentu dalam bidang yang digelutinya dalam penyelenggaraan program di puskesmas.
Berikut hasil kutipan penelitian wawancara terkait petugas imunisasi di Puskesmas Tukka:
“petugas imunisasi disini ada korim nya 1 orang dan dibantu 2 orang petugas dari puskesmas, terus ada 9 bidan desa karna kan ada 9 desa disini, ya ada kader juga yang bantu di posyandu, paling kalau dari luar kayak camat dan ibu pkk gitulah yang bantu-bantu mengajak masyarakat agar mau anaknya di imunisasi, saya rasa cuma itu aja” (Informan 1).
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari informan 1 yaitu dijelaskan bahwa pada pelaksanaan program imunisasi di Puskesmas Tukka diketahui tenaga atau petugas yang ikut serta dalam program imunisasi adalah tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. Tenaga kesehatan terdiri dari koordinator imunisasi, petugas imunisasi dan bidan desa sedangkan tenaga non kesehatan terdiri dari kader dan lintas sektoral. Hal yang sama juga dijelaskan oleh informan 2 dengan penjelasan berikut ini :
“ya kalau petugas imunisasi di puskesmas ada saya, ada 2 petugas yang bantu saya, kalau di posyandu nya ya ada bidan desa dan kader. Kalau khusus pengelola vaksin disini sebenarnya tidak ada, yang menjalankan tugas itu saya sendiri dan kadang-kadang dibantu sama ibu fitri dan ibu mardiah, kalau lintas sektoral juga berperan sih secara tidak langsung untuk ngajak ibu-ibu datang ke posyandu mengimunisasi anak nya”
(Informan 2).
Informasi dari informan 2 berdasarkan penjelasan di atas diketahui bahwa koordinator imunisasi memiliki tugas rangkap (double job) yaitu sebagai koordinator dan juga sebagai pengelola vaksin. Berikut penjelasan hasil wawancara yang menyebabkan double job tersebut:
“karna gini, kan pengelola vaksin itu berarti harus tau bagaiamana pengelolaan rantai vaksin seperti penyimpanannya, penjemputannya ke dinkes, penyediaannya, pengecekan suhu nya, dan untuk pengelola vaksin kan harus sudah pernah mendapatkan pelatihan juga. Sedangkan petugas
cuma pak pipin aja lah, ada juga kmarin itu yang pernah mendapat pelatihan pengelolaan rantai vaksin tapi bapak itu sudah pindah tugas tahun lalu. Lagian juga kan tugas pengelola vaksin bisanya dikerjakan sama korim, kan sejalan nya tugas nya itu jadi gak ada masalah lah menurut saya kalo dirangkap tugasnya, gak pernah pula lah ada keluhan dari si pipin karna tugas rangkapnya soalnya dibantu nya dia sama 2 petugas di puskesmas, si fitri dan si mardiah”(Informan 1).
Informasi dari informan 1 berdasarkan penjelasan diatas diketahui bahwa penyebab double job tersebut dikarenakan petugas pengelola vaksin harus mempunyai pengetahuan terkait pengelolaan rantai vaksin yaitu penyediaan, pendistribusian, pemeliharaan dan penyimpanan vaksin selain itu petugas pengelola vaksin juga harus mendapat pelatihan terlebih dahulu, sedangkan dari petugas imunisasi di Puskesmas Tukka yang telah mendapatkan pelatihan terkait pengelolaan rantai vaksin hanya Bapak Pipin yaitu selaku koordinator imunisasi.
Berdasarkan kutipan dari beberapa informan di atas diketahui bahwa ketersediaan sumber daya manusia terkait penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas Tukka belum mencukupi atau masih kurang dikarenakan tidak adanya petugas pengelola rantai vaksin. Oleh sebab itu tugas dari pengelola rantai vaksin dikerjakan oleh koordinator imunisasi sehingga menyebabkan adanya tugas rangkap di Puskesmas Tukka, akan tetapi adanya tugas rangkap tersebut tidak mempengaruhi pekerjaan dari koordinator imunisasi. Sedangkan penyebab dari tugas rangkap tersebut dikarenakan tidak adanya pelatihan yang didapatkan oleh petugas baik dari puskesmas maupun dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah.
Pelatihan tenaga imunisasi perlu dilaksanakan untuk mendukung proses berlangsungnya penyelenggaraan program imunisasi yang sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure). Berikut hasil wawancara terkait dengan pelatihan program imunisasi:
“pernah saya mendapat pelatihan di dinkes, itu kira-kira satu tahun yang lalu. Pelatihan itu perlu sekali ya menurut saya untuk mengembangkan kinerja petugas tapi sayangnya pelatihan itu sangat jarang dilakukan di tapteng ini. Harusnya kan pelatihan itu minimal sekali setahun dilaksanakan, sedangkan ini tidak. Baru tahun lalu lah kira-kira ada pelatihan nya. Tahun ini sepertinya tidak ada ya” (Informan 2).
Berdasarkan penjelasan dari informan 2 dapat diketahui bahwa pelaksanaan pelatihan petugas imunisasi hanya satu tahun yang lalu sedangkan sebelumnya tidak ada. Adapun hasil wawancara dengan informan 3 dan informan 4 yaitu:
“saya sih belum pernah ya dek dapat pelatihan imunisasi itu, harusnya kan perlu ya. Tapi mau gimana dari pihak dinkes tidak ada mengadakan”(Informan 3).
“gak ada aku dapat pelatihan, seingatku dulu tahun lalu ada itu dilaksanakan tapi aku gak ikut itupun cuma tahun lalu aja nya yang dilaksanakan, sebelum-sebelumnya mana ada”(Informan 4).
Hal yang sama juga dijelaskan oleh informan 5, informan 6 dan informan 7:
“tidak ada saya ikut pelatihan program imunisasi, pelatihannya biasanya sih di dinkes. Tapi dinkes sini kayaknya jarang membuat pelatihan-pelatihan gitu”(Informan 5).
“Enggak, saya gak ada ikut pelatihan. Karna disini memang jarang ada pelatihan kayak gitu dibuat”(Informan 6).
Berdasarkan kutipan dari beberapa informan di atas diketahui bahwa masih banyak petugas imunisasi tidak mendapatkan pelatihan tentang pelaksanaan imunisasi dan pengelolaan vaksin, penyebabnya dikarenakan pelaksanaan pelatihan di Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah tidak rutin dilaksanakan yang seharusnya dilaksanakan sekali dalam 1 tahun. Pelaksanaan pelatihan imunisasi yang tidak rutin, dapat berdampak pada proses penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12 Tahun 2017 tenaga pelaksana imunisasi adalah petugas atau pengelola yang telah memenuhi standar kualifikasi sebagai tenaga pelaksana di setiap tingkatan dan telah mendapat pelatihan sesuai dengan tugasnya. Pelatihan merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan petugas atau pengelola imunisasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan kualitas petugas.
Berdasarkan penelitian Dewi (2009) tentang pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan petugas dalam pengelolaan vaksin program imunisasi di unit pelayanan kesehatan Kabupaten Karanganyar menyatakan bahwa pelatihan mempunyai pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan peningkatan keterampilan.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sumber daya manusia dalam penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas Tukka belum mencukupi, yaitu kurangnya tenaga pengelola rantai vaksin. Pengelola rantai vaksin memiliki peran penting dalam kegiatan manajemen program imunisasi yaitu bertugas untuk pengadaan, pendistribusian, penyimpanan dan pemeliharaan vaksin. Hasil
penelitian Lestari (2014) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kurangnya jumlah tenaga kesehatan di puskesmas menjadikan beban kerja tenaga kesehatan puskesmas semakin tinggi sehingga pada akhirnya akan berdampak dengan menurunnya kualitas pelayanan di puskesmas . Petugas imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Tukka terdiri dari 1 orang koordinator imunisasi yang dibantu oleh 2 orang petugas imunisasi, 9 bidan desa dan 90 kader. Pelatihan terkait imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Tukka tidak dilaksanakan setiap tahun sebagaimana yang disebutkan didalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 12 tahun 2017 bahwa pelatihan tenaga pelaksana dan pengelola imunisasi dilaksanakan satu tahun sekali.
4.3.1.2 Ketersediaan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah segala sesuatu yang mendukung proses penyelenggaraan program imunisasi. Sarana dan prasarana dalam program imunisasi berupa buku pedoman imunisasi, vaksin, ADS (Auto Disable Syringe), dan safety box. Hasil wawancara mendalam dengan beberapa informan tentang sarana dan prasarana yang mendukung program imunisasi sebagai berikut:
“peralatan disini sudah memadai dan sudah cukup juga seperti sudah tersedianya kulkas khusus penyimpanan vaksin yang berwarna biru disana, vaksin disini mencukupi karna kan langsung diambil ke dinkes, buku pedoman juga sudah ada disini, safety box nya ada, vaccine carrier juga ada, alat-alat suntik juga tersedia, komputer untuk mengolah datanya juga sudah ada, tidak ada kendala selama ini kalau masalah sarana prasarana saya rasa”(Informan 1).
Berdasarkan penjelasan dari informan 1 diketahui bahwa sarana dan
imunisasi, vaksin, alat suntik, safety box, kulkas khusus penyimpanan vaksin, vaccine carrier dan komputer pengolah data. Hal yang sama juga dijelaskan oleh informan 5 dan informan 6 yaitu:
“kalau di desa Tukka sih paling ya posyandu nya masih numpang di rumah warga, kalau dari alat-alatnya sudah mencukupi gitulah. Kayak vaksin, alat suntik, termos vaksin, safety box dan buku kohort bayi”
(Informan 5).
“sarana prasarana untuk pelaksanaan imunisasi di desa saya desa Bonalumban sudah lengkap, yang dibutuhkan itu vaksin, pelarut dan penetes,alat suntik, safety box, buku kohort, kartu-kartu imunisasinya dan alat tulis, alat mengantar vaksin nya, dan sabun untuk cuci tangan juga perlu” (Informan 6).
Berdasarkan penjelasan dari informan 5 dan informan 6 diketahui bahwa ketersediaan sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan kegiatan imunisasi di desa Bona Lumban dan desa Tukka sudah lengkap.
Sedangkan hasil wawancara dengan informan 2, yaitu:
“mungkin bisa dibilang cukup bisa dibilang nggak juga, vaksin setiap bulan kami ambil ke dinkes, alat suntik tersedia, safety box tersedia, vaccine carrier tersedia, pemantau suhu nya juga tersedia, buku pedoman tersedia, kulkas juga tersedia, untuk penyuluhan kami pakai LCD proyektor, akan tetapi akses kami untuk menuju ke desa yang jauh itu masih tidak ada, seperti ke desa Saidnihuta harus naik gunung dan itu harus pake mobil truk atau yang bergardan 2, ya seenggaknya dari pemerintah menyediakan untuk mempermudah kami kesana ataupun masyarakat dijemput pakai mobil itu menuju ke posyandu, karna ya gitu lah masyarakat gak mau imunisasi ke posyandu karna jauh kali tempatnya harus naik truk dan truk gak tiap saat juga lewat” (Informan 2).
Berdasarkan penjelasan dari Informan 2 diketahui bahwa akses menuju ke beberapa desa sangat sulit. Hasil wawancara dengan informan 7:
“kalo ditempat kakak udah lengkap, vaksin kami gak pernah kurang, alat suntik pun gitu, bukunya, safety box nya, alat pencatat nya udah lengkap
pokoknya, tapi posyandu gak dibuat di desa saidnihuta nya dek karna jarak kesana itu jauh kali jadi dibuat di desa sigiring-giring”(Informan 7).
Berdasarkan penjelasan dari informan 7 diketahui bahwa di desa S.Kalangan II tidak ada posyandu, akan tetapi posyandu S. Kalangan II dibuat di desa Sigiring-giring karena jarak tempuh ke desa tersebut sangat jauh.
Berikut hasil wawancara dengan informan 2 terkait desa yang tidak memiliki posyandu:
“Iya masih ada desa yang tidak memiliki posyandu jadi kami buat di desa yang dekat desa itu, itu seperti desa saidnihuta kami buat jadi di desa sigiring-giring, karna memang ya menuju kesana itu jauh sekali dan akses menuju kesana sangat sulit takut vaksin kurang atau ada bahan yang kurang susah bolak baliknya. Yang gak ada posyandu itu desa saidnihuta dan saur manggita” (Informan 2).
Berdasarkan penjelasan informan 2 diketahui bahwa ada 2 desa yang tidak memiliki posyandu yaitu desa S. Kalangan II dan Saur Manggita. Adapun penyebab nya karena jarak desa tersebut sangat jauh dan akses menuju desa tersebut sangat sulit.
Berdasarkan informasi dari beberapa informan diketahui bahwa sarana prasarana untuk penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas Tukka masih belum lengkap, yaitu masih ada desa yang tidak memiliki posyandu karena jarak tempuh menuju desa tersebut sangat jauh, yaitu desa S. Kalangan II dan desa Saur Manggita
Hasil penelitian Rahmawati (2007) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana penunjang mempengaruhi hasil kegiatan
imunisasi. Kondisi sarana dan prasarana yang baik antara lain lengkap, modern, berkualitas, dan jumlah cukup akan memberikan kepuasan karyawan yang kemudian dapat meningkatkan kinerjanya.
4.3.1.3 Ketersediaan Dana
Dana dibutuhkan dalam penyelenggaraan program imunisasi karena dana merupakan salah satu faktor penunjang keberhasilan program imunisasi. Menurut Azwar (2010) biaya kesehatan merupakan besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. Berikut hasil wawancara terkait dengan dana dalam penyelenggaraan program imunisasi:
“kan sekarang dana bantuan untuk puskesmas itu sudah ada namanya dana BOK yaitu Bantuan Operasional Kesehatan itu langsung dari pemerintah. Tetapi dana ini hanya bisa digunakan untuk pelayanan promotif dan preventif bukan untuk pengobatan dan rehabilitatif, kan imunisasi bagian dari preventif makanya dana imunisasi itu berasal dari BOK, kalau saya tidak salah BOK mulai berlaku pada tahun 2010 ya.
Untuk pencairan nya terlebih dahulu membuat POA, dari POA itu puskesmas mengusulkan kebutuhan dana untuk kegiatan imunisasi ke dinkes, trus bendahara dinkes akan mencairkan permintaan dana puskesmas”(Informan 1).
Berdasarkan penjelesan informan 1 dapat diketahui bahwa dana program imunisasi berasal dari dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Dana BOK digunakan untuk pelayanan promotif dan preventif yang berasal dari pemerintah.
Proses pencairan dana BOK terlebih dahulu membuat POA (Plan Of Action), berdasarkan POA tersebut puskesmas mengusulkan kebutuhan dana untuk kegiatan imunisasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, kemudian bendahara Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah akan
mencairkan permintaan dana puskesmas. Hal yang sama juga dijelaskan oleh informan 2:
“gimana ya, kalau berbicara dana takut salah juga. Dan kalau masalah dana yang lebih paham itu ibu kapus lah tanya, cuma dari yang saya tahu dana imunisasi sekarang itu berasal dari dana BOK. Dana BOK itu khusus buat dana puskesmas. Kalau adanya kegiatan imunisasi saya minta dana ke bendahara, seperti pembiayaan untuk kader, ongkos, bahan penyuluhan dan dana nya selalu mencukupi buat kegiatan kami”(Informan 2).
Hal yang sama juga dijelaskan oleh informan 3 dan 4:
“dana imunisasi itu dek berasal dari BOK, pokoknya semua kegiatan yang berhubungan dengan imunisasi kami minta lah dana nya,gak mungkin kan pake uang pribadi orang udah di biaya dari pemerintah kok. Selama ini gak pernah ada ke kurangan dana untuk kegiatan imunisasi disini”
(Informan 3).
“dari BOK, pokoknya semua kegiatan di puskesmas yang berkaitan sama promotif dan preventif dana nya dari BOK termasuklah ini imunisasi, misalnya biaya transport menuju posyandu atau biaya transport untuk antar atau menjemput vaksin, terus kalau ada peralatan yang kurang di posyandu ataupun untuk keperluan penyuluhan langsung kami minta ke bendahara dan kami pun tidak pernah kekurangan dana, dananya selalu ada dan cukup”(Informan 4)
Berdasarkan pernyataan dari beberapa informan dapat diketahui bahwa dana untuk penyelenggaraan imunisasi berasal dari dana BOK. Dana BOK hanya dapat digunakan untuk kegiatan pelayanan promotif dan preventif dan berasal dari pemerintah melalui kementerian kesehatan dalam membantu pemerintah kabupaten/kota melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai SPM (Standar Pelayanan Minimal) bidang kesehatan menuju MDGs (Millenium Deveploment Goals). Pemanfaatan dana BOK untuk penyelenggaraan program imunisasi
meliputi kegiatan sweeping imunisasi, pengadaan Alat Tulis Kantor (ATK) imunisasi, pelaksanaan penyuluhan dan pelaksanaan kegiatan lokakarya mini.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2017 menyatakan bahwa sumber pembiayaan untuk imunisasi dapat berasal dari pemerintah dan sumber pembiayaan lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 71 tahun 2016, BOK adalah dana dari pemerintah melalui kementerian kesehatan dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai SPM (Standar Pelayanan Minimal) bidang kesehatan menuju MDGs (Millenium Deveploment Goals) melalui peningkatan kinerja puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes dan Posyandu dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan promotif dan preventif seperti Kesehatan Ibu dan Anak, Keluarga Berencana, imunisasi, gizi masyarakat, promosi kesehatan, kesehatan lingkungan dan pengendalian penyakit.
Hasil penelitian Sondakh dkk (2017) tentang analisis pemanfaatan dan pengelolaan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di Puskesmas Sario Kota Manado menyatakan bahwa indikator keberhasilan dana BOK sangat mendukung realisasi program di puskesmas.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ketersediaan dana dalam penyelenggaraan program imunisasi di Puskesmas Tukka selalu mencukupi karena dana selalu disediakan oleh pemerintah berupa dana BOK. Berdasarkan wawancara dengan informan 2, informan 3, dan informan 4 pengambilan dana untuk kegiatan imunisasi langsung ke bendahara puskesmas. Sedangkan untuk
pencairan dana BOK terlebih dahulu membuat POA (Plan Of Action) yang merupakan satu kesatuan dengan POA puskesmas, berdasarkan POA tersebut puskesmas mengusulkan kebutuhan dana untuk kegiatan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah kemudian bendahara Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah akan mencairkan permintaan dana puskesmas berdasarkan persetujuan atas hasil verifikasi tim pengelola Jamkesmas dan BOK tingkat kabupaten/kota.
4.3.2 Proses
4.3.2.1 Perencanaan
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 12 tahun 2017 perencanaan merupakan kegiatan yang sangat penting sehingga harus dilakukan secara benar oleh petugas yang profesional. Ketidaktepatan dalam perencanaan akan mengakibatkan terhambatnya pelaksanaan program, tidak tercapainya target kegiatan, pemborosan keuangan negara serta hilangnya kepercayaan masyarakat.
Perencanaan dalam penyelenggaraan program imunisasi terdiri dari penentuan jumlah sasaran, perencanaan vaksin, perencanaan ADS, safety box dan cold chain.
1. Penentuan sasaran
Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting karena menjadi dasar dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring serta evaluasi dari suatu program. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan nomor 12 tahun 2017 menyatakan bahwa sebelum melakukan perencanaan kebutuhan vaksin, harus menentukan berapa jumlah sasaran imunisasi dalam satu tahun yang akan dilayani
di wilayah kerja masing-masing. Berikut hasil wawancara dengan informan 2 terkait penentuan sasaran di Puskesmas Tukka:
“penetuan jumlah sasaran itu langsung dari Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah, jadi kami hanya menerima langsung dan itu juga menjadi salah satu penyebab ya dek menurut saya, karena data di lapangan itu berbeda sekali dengan data yang sama mereka jadi itu biasanya data dimereka lebih besar dibanding data dilapangan makanya kadang itu penyebab dari rendahnya imunisasi disini“ (Informan 2).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 2 diperoleh informasi bahwa penentuan sasaran dilaksankan oleh Dinas kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah dan penetuan sasaran yang dilaksanakan oleh Dinkes Tapanuli Tengah sering ada kesalahan data yaitu data di Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah berbeda dengan data yang di lapangan dan umunya data sasaran di Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah lebih besar dari data sasaran sebenarnya yang ada di lapangan.
Hasil wawancara dengan informan 3:
“menentukan jumlah sasaran itu dek caranya membagi jumlah bayi desa tahun lalu dengan jumlah bayi kecamatan tahun lalu terus dikalin dengan jumlah bayi kecamatan tahun ini dan yang melaksanakan perhitungan itu langsung dari dinkes kami cuma nerima dari dinkes” (Informan 3).
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 3 diketahui bahwa penentuan jumlah sasaran imunisasi yaitu jumlah bayi di desa pada tahun lalu dibagi dengan jumlah bayi di kecamatan tahun lalu kemudian dikali dengan jumlah bayi di kecamatan tahun ini dan jumlah sasarannya diperoleh dari Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah. Adapun hasil wawancara dengan informan 4 yaitu:
“sasaran imunisasi itu kan bayi, jadi kami perlu data bayi di tiap desa dan kecamatan baru bisa kami tentukan berapa jumlah sasarannya” (Informan 4).
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan diperoleh informasi bahwa cara penentuan jumlah sasaran imunisasi yaitu jumlah bayi di desa pada tahun lalu dibagi dengan jumlah bayi di kecamatan tahun lalu kemudian dikali dengan jumlah bayi di kecamatan tahun ini.
Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 12 tahun 2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi yang menyebutkan bahwa sasaran untuk setiap jenis kegiatan pelayanan imunisasi dihitung berdasarkan angka jumlah penduduk, pertambahan penduduk serta angka kelahiran dari hasil sensus penduduk atau Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) yang dilakukan oleh BPS.
Hasil penelitian terkait penentuan sasaran tidak dilaksanakan oleh Puskesmas Tukka, akan tetapi penentuan sasaran dilaksankan oleh Dinas kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah dan penetuan sasaran yang dilaksanakan oleh Dinkes Tapanuli Tengah sering ada kesalahan data yaitu data di Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah berbeda dengan data yang ada di lapangan dan
Hasil penelitian terkait penentuan sasaran tidak dilaksanakan oleh Puskesmas Tukka, akan tetapi penentuan sasaran dilaksankan oleh Dinas kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah dan penetuan sasaran yang dilaksanakan oleh Dinkes Tapanuli Tengah sering ada kesalahan data yaitu data di Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah berbeda dengan data yang ada di lapangan dan