BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Karakteristik Kognitif Siswa Sekolah Dasar
Masa sekolah dasar sering disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Kematangan seorang anak untuk masuk dalam masa sekolah dasar tidak dapat ditentukan, namun biasanya anak masuk sekolah dasar pada umur 6-7 tahun. Pada masa keserasian bersekolah ini, anak lebih mudah untuk dididik dari pada masa prasekolah dan masa usia setelah masa sekolah dasar.
Piaget (dalam Santrock, 2010: 47) menyatakan bahwa perkembangan kognitif pada manusia terdapat empat tahap. Setiap tahap perkembangan terhubung oleh usia dan tersusun oleh jalan pemikiran yang berbeda-beda. Empat tahap perkembangan kognitif tersebut sebagai berikut:
29 1. Fase Sensorimotor
Tahap ini juga disebut tahap pertama. Tahap ini berlangsung sejak kelahiran sampai sekitar usia dua tahun. Bayi membangun pemahaman tentang dunia dengan mengoordinasikan pengalaman indra (sensory) mereka (seperti melihat dan mendengar) dengan gerakan motor (otot) mereka (menggapai, menyentuh).
2. Fase Pra-Operasional
Tahap Piaget kedua ini dimulai dari umur dua tahun sampai tujuh tahun. Pada tahap ini seorang anak mengalami tahap pemikiran yang lebih simbolis dari pada tahap sensorimotor, akan tetapi tidak melibatkan pemikiran operasional. Tahap ini lebih bersifat egosentis dan intuitif dari pada logis.
3. Fase Operasional Konkret
Tahap piaget ketiga ini berlangsung dari umur tujuh tahun samapai sebelas tahun. Pada tahap ini anak berpikir secara operasional dan penalaran logis menggantikan penalaran intuitif meski hanya pada situasi konkret. Pada tahap ini kemampuan klasikal sudah ada tetapi belum memahami problem abstrak.
4. Fase Operasional Formal
Tahap piaget ke empat ini berlangsung antara umur sebelas tahun sampai lima belas tahun. Pada tahap ini individu sudah mulai memikirkan pengalaman diluar pengalamn konkret, dan memikirkan secara lebih abstrak, idealis, dan logis. Kualitas abstrak dan pemikiran operasional formal tampak pada pemecahan
30
problem verbal. Remaja dapat mengembangkan hipotesis untuk memecahkan masalah dan menarik kesimpulan secara sistematis.
Sesuai dengan pendapat piaget di atas, maka anak masa sekolah dasar masuk dalam fase operasional konkret. Lebih lanjut Syah (2014:126) menambahkan bahwa dalam inteligensi operasional, anak pada tahap operasional konkret memiliki sistem operasi kognitif yang meliputi:
1. Conservation
Conservation (konservasi) merupakan kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume dan jumlah.
2. Addition of classes
Addition of classes (penambahan golongan benda) merupakan kemampuan anak dalam memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang dianggap berkelas lebih rendah. Misalnya mawar dan melati yang dihubungkan dengan golongan benda yang berkelas tinggi yaitu bunga.
3. Multiplication of classes
Multiplication of classes (pelipatgandaan golongan benda) merupakan kemmapuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda. Misalnya warna bunga dan tipe bunga untuk membentuk
31
gabungan golongan benda contohnya tipe bunga mawar berarti akan ada mawar merah, mawar putih, mawar kuning, dan seterusnya.
Slavin (2008: 106) menyatakan bahwa masa usia sekolah dasar merupakan peralihan dari tahap pemikiran praoperasional ke tahap operasional konkret. Perubahan ini memungkinkan anak-anak melakukan secara mental sesuatu yang sebelumnya dilakukan secara fisik dan membalik tindakan tersebut secara mental. Selain memasuki tahap operasional konkret, anak-anak pada usia sekolah dasar dengan pesat juga mengembangkan kemampuan daya ingat dan kognitif. Termasuk diantaranya ialah kemampuan kognitif. Kemmapuan meta-kognitif adalah kemampuan memikirkan pemikiran mereka sendiri dan memahami bagaimana cara belajar.
Berbeda dengan Slavin, Yusuf (2007: 178) berpendapat bahwa pada masa sekolah dasar dimulai dari umur enam sampai duabelas tahun, anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kognitif seperti membaca, menulis, menghitung dan lain-lain. Pada masa prasekolah, daya pikir anak masih sebatas berhayal dan imajinatif. Akan tetapi pada masa sekolah dasar daya pikir anak sudah kearah berpikir konkret dan rasional.
Perkembangna kognitif masa sekolah dasar ditandai dengan tiga kemampuan baru, yaitu mengklasifikasi (mengelompokan), menyusun, dan mengasosiasikan (menghitung atau menghubungkan) angka-angka atau bilangan.
32
Disamping itu pada akhir masa ini anak sudah mempunyai kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana (Yusuf, 2007:178). Pada usia SD anak sudah dapat diberikan dasar-dasar ilmu tentang membaca, menulis, dan berhitung. Selain itu anak juga diberikan pengetahuan tentang manusia, hewan, tumbuhan, lingkungan alam, lingkungan sosial dan sebagainya.
Sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar yang telah dijelaskan di atas, proses belajar mengajar harus bermakna. Artinya proses belajar mengajar harus mengkaitkan antara informasi yang baru atau akan didapatkan siswa dengan konsep yang ada dalam stuktur kognitif siswa. Sesuai dengan pendapat Ausubel (dalam Wilis, 1996: 112), menurut Ausubel pembelajaran harus bermakna, belajar bermakna merupakan suatu proses mengkaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Dibawah ini merupakan gambar mengenai belajar bermakna.
33
Gambar 1. The Role Meaningful Learning Continum (Dua Kontinum Belajar) (Novak, 1993)
Berdasarkan gambar di atas pembelajaran dikatakan bermakna sekali hanya terjadi pada pembelajaran dengan penelitian yang bersifat ilmiah. Pembelajaran penerimaan juga merupakan pembelajaran yang bermakna apabila dilakukan dengan cara menjelaskan hubungan antar konsep-konsep. Sedangkan pembelajaran dikatakan tidak bermakna apabila siswa memecahkan masalah hanya dengan coba-coba. Lebih lanjut Ausubel menyebutkan bahwa belajar bermakna menyangkut asimilasi informasi baru pada pengetahuan yang telah ada dalam stuktur kognitif siswa. Jadi dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevan yang telah ada dalam struktur
34
kognitif. Dalam menerapkan teori belajar bermakna Ausubel guru harus memperhatikan konsep-konsep sebagai berikut:
1. Pengaturan Awal
2. Diferensisasi Progresif
3. Belajar Superordinat
4. Penyesuaian Integratif (Ausubel dalam Wilis, 1996: 117-122)
Sesuai pendapat Ausubel, pembelajaran bermakna menyangkut asimilasi informasi baru pada pengetahuan yang telah ada dalam stuktur kognitif siswa. sehingga dalam pembelajaran bermakna terjadi pemprosesan informasi berupa asimilasi informasi. Pemprosesan informasi menurut Wilis (1996: 33) adalah penguraian peristiwa-peristiwa mental menjadi transformasi-transformasi informasi. Model pemprosesan Informasi menurut Gagne (dalam Wilis, 1996: 34) dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
35 Gambar 2. Model Pemprosesan Informasi
Dari gambar tersebut informasi dalam bentuk energi fisik tertentu (sinyal untuk bahan tetulis, bunyi untuk ucapan, tekanan untuk sentuhan, dan lain-lain) diterima oleh reseptor yang peka terhadap energi dalam bentuk-bentuk tertentu. reseptor-reseptor ini mengirimkan tanda-tanda dalam bentuk implis-implus elektrokimia ke otak. Implus-implus saraf dari reseptor masuk ke suatu registor pengindraan yang terdapat dalam sistem syaraf pusat. Informasi pengindraan disimpan dalam sistem syaraf pusat dalam waktu yang sangat singkat. Dari seluruh informasi, sebagian disimpan untuk selanjutnya diteruskan ke memori jangka pendek dan yang lainya hilang dari sistem. Proses reduksi atau menghilangnya informasi ini disebut perseptif selektif. Contoh memori jangka pendek adalah ketika mengingat nomor telpon. Umur memori jangka pendek sanagat pendek dan memilki kapasitas yang terbatas sehingga implikasinya sangat
36
penting terhadap pembelajaran. Memori jangka pendek dapat dikode yang kemudian disimpan dalam memori jangka panjang. Memori jangka panjang dapat bertahan lama. Informasi yang disimpan dalam memeori jangka panjang bila akan digunakan lagi harus dilakukan pemanggilan. Informansi yang telah dipanggil merupakan dasar generasi respon. Dalam kondisi sadar informasi dalam memori jangka panjang akan mengalir ke memori jangka pendek dan kemudian ke generator respond. Dan untuk kondisi otomatis, informasi dalam memori jangka panjang akan mengalir langsung ke generator respond. Generator respond akan mengatur urutan respons dan membimbing efektor-efektor. Efektor yang dimaksudkan adalah tangan untuk menulis dan alat suara untuk bicara.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa usia siswa SD berada pada tahap operasional kongkret. Pada tahap operasional kongkret ini, anak berpikir secara operasional dan penalaran logis menggantikan penalaran intuitif meski hanya pada situasi konkret. Selain itu anak belum memahami permasalahan yang bersifat abstrak.