III. METODE PENELITIAN
4.2 Karakteristik lingkungan perairan
Karakteristik kondisi perairan yang ditelaah meliputi parameter fisika (suhu, kedalaman, kekeruhan, kecerahan dan TSS) dan parameter kimia (salinitas, pH, oksigen terlarut, BOD5 dan H2S). Hasil analisis terhadap karakteristik kualitas
perairan ditunjukkan pada Gambar 5, 6 dan Lampiran 1.
Berikut adalah gambar hasil analisis terhadap parameter fisika perairan di Teluk Jakarta. Parameter-parameter tersebut disajikan pada Gambar 5.
Suhu (°C) 0 17 34 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun 0 17 34 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun Kedalaman (m) 0 20 40 60 80 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun Kekeruhan (NTU) 0 35 70 105 140 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun TSS (mg/l) 0 20 40 60 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun Kecerahan (%) (a) (b) (c) (d) (e)
Gambar 5. Hasil pengukuran parameter fisika perairan yang meliputi suhu (a), kedalaman (b), kekeruhan (c), kecerahan (d) dan TSS (e) di setiap stasiun pengamatan
Suhu pada suatu badan air dipengaruhi oleh waktu dalam hari, penutupan awan, musim, aliran serta kedalaman badan air (Effendi, 2003). Suhu dekat dasar di perairan Teluk Jakarta dapat dilihat pada Gambar 5a dan Lampiran 1. Secara keseluruhan suhu di Teluk Jakarta berkisar antara 29– 31oC. Suhu tertinggi terdapat pada stasiun 5 sebesar 31oC. Adanya perbedaan suhu antar stasiun diduga karena waktu pengukuran suhu dan kedalaman setiap stasiun berbeda sehingga mempengaruhi intensitas cahaya matahari yang dapat mencapai daerah dekat dasar dan mengakibatkan suhu lebih tinggi maupun lebih rendah. Namun demikian kisaran suhu yang diperoleh pada penelitian ini masih mendukung bagi kehidupan benthos, karena suhu berada di bawah batas toleransi tinggi untuk keseimbangan populasi benthos yaitu dibawah 32oC. Hal ini didukung dengan
dengan Kep MENLH No.51 tahun 2004 menetapkan ambang batas suhu bagi kehidupan biota laut adalah alami atau sekitar 28-32 oC.
Berdasarkan hasil pengukuran, nilai kedalaman perairan Teluk Jakarta di seluruh stasiun pengamatan berkisar antara 2–18 meter (Gambar 5b, Lampiran 1). Kedalaman terendah terdapat pada stasiun 5 dan 6, diduga karena posisi stasiun berada di muara sungai sehingga banyak mendapat masukan air tawar yang membawa partikel-partikel tanah dan lumpur akibatnya tingkat sedimentasi menjadi tinggi dan terjadinya pendangkalan. Kedalaman tertinggi terdapat pada stasiun 12 dan 13, diduga karena kelompok tersebut merupakan daerah tengah dan luar dari teluk sehingga tingkat sedimentasi lebih rendah dari daerah dekat daratan. Hal ini didukung oleh pernyataan Ongkosongo (1980) bahwa kedalaman perairan Teluk Jakarta di dekat daratan umumnya kurang dari 10 meter, namun lebih ke arah te ngah bisa mencapai 10–30 meter.
Kekeruhan berkorelasi positif dengan padatan tersuspensi. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi maka semakin tinggi juga nilai kekeruhan (Effendi, 2003). Nilai kekeruhan secara keseluruhan pada Teluk Jakarta berkisar antara 2,2– 90,7 NTU (Gambar 5c, Lampiran 1). Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 3 sedangkan terendah pada stasiun 12. Hal ini dikarenakan stasiun 3 dekat dengan daratan dan muara sungai yang terdapat banyak masukan partikel baik dari air tawar maupun dari kegiatan di sekitar teluk, sedangkan letak stasiun 12 lebih jauh dari daratan sehingga pengaruh dari daratan lebih sedikit. Berdasarkan Kep MENLH No.51 tahun 2004, ambang batas maksimum kekeruhan bagi kehidupan biota laut adalah kurang dari 5 NTU. Dengan demikian kekeruhan Teluk Jakarta khususnya daerah dekat daratan melebihi ambang batas sedangkan pada daerah di luar teluk masih dibawah ambang batas atau masih cukup baik untuk kehidupan biota laut.
Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan padatan tersuspensi (Effendi, 2003). Secara umum hasil pengukuran kecerahan di Teluk Jakarta (Gambar 5d, Lampiran 1) menunjukkan nilai kecerahan yang relatif rendah. Nilai persentase kecerahan tersebut dengan kisaran 9,6-50 %. Rendahnya nilai kecerahan hampir diseluruh stasiun diduga
karena memiliki kandungan tersuspensi yang cukup tinggi, sehingga mempengaruhi intensitas cahaya yang masuk ke perairan.
Kandungan total padatan tersuspensi terutama disebabkan karena kikisan tanah ataupun erosi tanah yang terbawa oleh badan air (Effendi, 2003). Hasil pengukuran total padatan tersuspensi secara keseluruhan di Teluk Jakarta berkisar antara 7-122 mg/l (Gambar 5e, Lampiran 1). Nilai terendah diperoleh pada stasiun 2 dan tertinggi pada stasiun 3. Tingginya nilai TSS diduga karena posisi stasiun 3 dekat dengan daratan dan mendapat masukan padatan tersuspensi lebih banyak akibat kikisan tanah atau erosi tanah yang terbawa ke badan air. Menurut Effendi (2003), kandungan TSS kurang dari 25 mg/l tidak berpengaruh buruk untuk kegiatan perikanan. Dengan demikian kandungan TSS di Teluk Jakarta secara keseluruhan lebih dari 25 mg/l tidak cukup baik untuk kegiatan perikanan.
Parameter kimia perairan yang diamati meliputi salinitas, pH, oksigen terlarut, BOD5 dan H2S. Nilai oksigen terlarut (DO) dan BOD5 bervariasi
sedangkan salinitas, pH dan H2S relatif sama antar stasiun.
Salinitas pada perairan pesisir, sangat dipengaruhi oleh banyak sedikitnya masukan air tawar (Effendi, 2003). Nilai salinitas di Teluk Jakarta berkisar antara 11– 32 psu (Gambar 6a, Lampiran 1). Nilai salinitas terendah terdapat pada stasiun 6 diduga karena posisi stasiun tersebut merupakan Muara Sungai Marunda sehingga mendapat pengaruh air tawar lebih besar. Nilai salinitas tertinggi terdapat stasiun 12 dan 13, hal ini diduga karena stasiun tersebut merupakan daerah terluar dari teluk sehingga pengaruh air tawar pada stasiun tersebut lebih sedikit jika dibandingkan dengan stasiun yang lain. Menurut Nybakken (1992), pada daerah estuari memiliki fluktuasi salinitas yang maksimum. Fluktuasi tersebut sangat bergantung pada musim, topografi estuari, pasang surut dan jumlah masukan air tawar.
Kisaran nilai pH secara keseluruhan di Teluk Jakarta sebesar 7,3– 8,56 (Gambar 6b, Lampiran 1). Nilai terendah terdapat pada stasiun 6 sedangkan tertinggi terdapat pada stasiun 12. Hal ini diduga karena kandungan bahan organik dan masukan air tawar pada stasiun 12 lebih rendah sehingga menyebabkan tingginya pH. Secara umum, nilai pH di perairan Teluk Jakarta masih dapat
0 3 6 9 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun pH 0 2 4 6 8 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun DO (mg/l) Salinitas (psu) 0 10 20 30 40 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun 0 2 4 6 8 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun BOD 5 (mg/l) 0 10 20 30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Stasiun H2 S (mg/l)
mendukung kehidupan makrozoobenthos. Hal ini juga didukung oleh Effendi (2003) bahwa sebagian besar biota akuatik, termasuk dalam hal ini makrozoobenthos sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH sekitar 7 – 8,5.
Berikut adalah gambar hasil analisis terhadap parameter kimia perairan di Teluk Jakarta. Parameter-parameter tersebut disajikan pada Gambar 6.
(a) (b)
(c) (d)
(e)
Gambar 6. Hasil pengukuran parameter kimia perairan yang meliputi salinitas (a), pH (b), oksigen terlarut (c), BOD5 (d) dan H2S (e) di setiap stasiun
pengamatan
Kadar oksigen terlarut dapat dipengaruhi oleh dekomposisi bahan organik dan oksidasi bahan anorganik (Effendi, 2003). Berdasarkan hasil penelitian, nilai oksigen terlarut Teluk Jakarta bervariasi (Gambar 6c, Lampiran 1). Kisaran secara keseluruhan kandungan oksigen terlarut di perairan antara 0,4–7 mg/l. Nilai DO terendah terdapat pada stasiun 6 diduga karena di stasiun tersebut merupakan
Muara Sungai Marunda sehingga mendapat masukan bahan organik akibat kegiatan dari industri dan rumah tangga. Kegiatan tersebut diduga membuang limbahnya ke sungai yang akhirnya bermuara di Teluk Jakarta dan menyebabkan bahan organik tinggi yang berdampak menurunkan oksigen terlarut dalam air karena proses dekomposisi yang relatif tinggi. Nilai DO tertinggi terdapat pada stasiun 11, diduga karena letak stasiun yang ke arah luar teluk mendapatkan suplai oksigen dari alam lebih besar dan kontinu.
Nilai BOD5 perairan dipengaruhi suhu, keberadaan mikroba serta kandungan
bahan organik (Effendi, 2003). Kisaran kebutuhan oksigen biokimia (BOD5)
untuk keseluruhan Teluk Jakarta adalah sebesar 3,31–11,12 mg/l (Gambar 6d, Lampiran 1). Nilai BOD5 tertinggi berada pada stasiun 6 diduga karena stasiun
tersebut merupakan muara sungai, sehingga banyak masukan bahan organik karena kegiatan di sekitar daratan tersebut baik langsung maupun dari masukan air tawar. Hal ini didukung dengan kandungan oksigen yang relatif rendah karena diperlukan dalam proses dekomposisi untuk menguraikan bahan organik menjadi anorganik. BOD5 terendah terdapat pada stasiun 8, diduga karena stasiun tersebut
lebih ke tengah teluk dan jauh dari daratan maupun gugusan pulau sehingga masukan bahan organik hanya diperoleh dari pergerakan arus yang membawa bahan organik dari daratan. Kep MENLH No.51 tahun 2004 menetapkan ambang batas maksimum kandungan BOD bagi kehidupan biota laut adalah 20 mg/l. Dari ketentuan tersebut maka Teluk Jakarta masih cukup baik untuk kehidupan biota laut tetapi karena kandungan oksigen yang rendah maka hanya biota yang mempunyai toleransi lingkungan tinggi yang bisa hidup pada Teluk Jakarta.
Berdasarkan hasil pengukuran kandungan H2S, hampir keseluruhan Teluk
Jakarta tinggi. Kisaran nilai kandungan H2S di perairan dekat dasar keseluruhan
teluk adalah sekitar 17,49–29,16 mg/l (Gambar 6e, Lampiran 1). Tingginya kandungan H2S dikarenakan kelarutan oksigen dalam air rendah dan kandungan
bahan organik tinggi, sehingga dengan keterbatasan oksigen terlarut yang tidak mencukupi untuk proses dekomposisi oleh bakteri menyebabkan proses dekomposisi dilaksanakan tanpa oksigen (anaerob). Dampak yang ditimbulkan karena proses anaerob tersebut adalah menghasilkan H2S yang berbahaya bagi
maksimum kandungan H2S bagi kehidupan biota laut adalah 0,01 mg/l. Hal ini
menyatakan bahwa kandungan H2S di Teluk Jakarta telah melebihi ambang batas
bagi kehidupan organisme karena kandungan H2S teluk diatas 0,01 mg/l.