BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Karakteristik Pemerintah
Karakteristik adalah ciri-ciri khusus sesuai dengan perwatakan tertentu yang membedakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Penelitian yang dilakukan Suhardjanto dan Miranti (2009) pada sektor swasta mendefinisikan karakteristik perusahaan sebagai ciri-ciri khusus yang melekat pada perusahaan, menandai sebuah perusahaan dan membedakannya dengan perusahaan lain.
Penelitian Lesmana (2010) menerangkan karakteristik daerah melalui beberapa variabel, yaitu ukuran pemda yang dihitung dari total aset dalam neraca, total kewajiban, pendapatan transfer yang diperoleh dari Laporan Realisasi Anggaran, umur pemda, jumlah SKPD, dan kemandirian keuangan daerah yang dihitung dari total Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibagi jumlah transfer dan pendapatan. Pada tahun 2010, Yulianingtyas juga melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan dengan mendefinisikan karakteristik daerah dengan lebih sedikit variabel yaitu ukuran daerah (size), jumlah SKPD, dan status daerah dimana lokasi pemda dan jumlah anggota DPRD dijadikan variabel kontrol.
Penelitian terbaru dilakukan Syafitri (2012) yang meneliti tentang pengaruh karakteristik daerah terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan, dimana karakteristik daerah dijelaskan melalui struktur organisasi dan lingkungan eksternal. Struktur organisasi dijelaskan lebih lanjut melalui ukuran pemerintah daerah, ukuran legislatif, umur administratif pemerintah daerah, kekayaan pemerintah daerah, diferensiasi fungsional, spesialisasi pekerjaan, rasio kemandirian keuangan daerah. Sementara untuk lingkungan eksternal menggunakan pembiayaan utang dan intergovernmental revenue. Penelitian ini menggunakan model karakteristik pemerintah yang di gambarkan dengan, ukuran pemda, intergovernmental revenue dan rasio kemandirian daerah.
2.5.1 Ukuran Pemda
Ukuran suatu entitas adalah skala dimana entitas tersebut dapat dikelompokan berdasar besar kecilnya dengan beberapa cara tolok ukur. Menurut Ferry dan Jones dalam Hartono (2014), tolak ukur yang bisa dijadikan dasar ukuran untuk menunjukkan besar kecilnya perusahaan antara lain: total penjualan, rata-rata tingkat penjualan, dan total aktiva. Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar memiliki akses yang lebih besar untuk mendapat sumber pendanaan dari berbagai sumber, sehingga untuk memperoleh pinjaman dari kreditur pun akan lebih mudah karena perusahaan dengan ukuran besar memiliki probabilitas lebih besar untuk memenangkan persaingan atau bertahan dalam industri. Pada sisi lain, perusahaan dengan skala kecil lebih fleksibel dalam menghadapi ketidakpastian,
karena perusahaan kecil lebih cepat bereaksi terhadap perubahan yang mendadak (Nirmala, 2012).
Terdapat banyak bukti yang mendukung ide bahwa ukuran sebuah organisasi secara signifikan mempengaruhi struktur organisasi. Pemerintah daerah yang besar relatif dikenal oleh publik dan sebagai wujud dari akuntabilitas publik salah satunya adalah melalui pengungkapan informasi yang lebih banyak sebagai upaya untuk mengurangi biaya keagenan (Lesmana, 2010). Semakin besar jumlah aset maka semakin besar sumber daya yang bisa digunakan untuk melakukan pengungkapan yang lebih besar (Hilmi, 2011). Kabupaten atau Kota dengan total aset yang lebih besar akan lebih kompleks dalam menjaga dan mengelola asetnya. Konsekuensinya, pemerintah daerah perlu mengungkapkan lebih lanjut tentang daftar aset yang dimiliki, pemeliharaan beserta pengelolaannya (Suhardjanto, 2010), sehingga hal tersebut akan mendorong pemerintah daerah untuk melakukan pengungkapan yang lebih tinggi dan sesuai dengan pengungkapan wajib berdasarkan standar akuntasnsi.
Nilai aset dalam pemerintahan suatu daerah bisa dilihat dari jumlah aset dalam neraca pemerintah daerah tersebut. Telah banyak studi yang mendukung pernyataan bahwa ukuran sebuah organisasi akan secara signifikan mempengaruhi struktur organisasi, dimana organisasi besar cenderung lebih banyak memiliki aturan dan ketentuan daripada organisasi kecil, Yulianingtyas (2010) dalam Khasanah (2014). Dengan adanya ukuran yang besar, pemerintah memiliki kewajiban untuk meningkatkan akuntabilitas. Akuntabilitas dapat ditunjukkan secara tidak langsung dengan perubahan kinerja keuangan kearah yang lebih baik.
Dengan begitu diharapkan bahwa semakin baik kinerja suatu pemerintah daerah maka akan diimbangi dengan pelaporan keuangan yang baik, termasuk melakukan pengungkapan wajib laporan keuangan pemerintah daerah.
2.5.2 Kemandirian Daerah
Kemandirian keuangan daerah menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah, (Halim, 2007 dalam Imawan, 2014). Tingginya tingkat kemandirian keuangan sangat dipengaruhi oleh jumlah PAD daerah tersebut. Pendapatan Asli Daerah (PAD) memiliki peranan penting dalam pembiayaan daerah, semakin besar PAD yang dimiliki suatu daerah maka semakin besar pula kemampuan daerah tersebut untuk mencapai tujuan otonomi daerah yakni dalam hal peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik, pengembangan kehidupan demokrasi keadilan dan pemerataan. Menurut UU No. 33 Tahun 2004, PAD adalah salah satu pendapatan daerah yang diperoleh dengan mengelola dan memanfaatkan potensi daerahnya. PAD dapat berupa pemungutan pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah.
Menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sumber pendapatan daerah terdiri dari Pendapatan asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, Lain-lain Pendapatan
Daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu pendapatan dari suatu daerah dimana pengelolaaannya diurus sendiri oleh rumah tangga/pemerintah daerah itu sendiri. Jenis penerimaan ini terdiri dari:
1. Pajak Daerah
Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada pemerintah daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah.
2. Retribusi Daerah
Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan merupakan hasil yang diperoleh dari pengelolaan kekayaan yang terpisah dari pengelolaan APBD. 4. Lain-lain PAD yang Sah
Lain-lain PAD yang sah merupakan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan daerah yang dipisahkan.
Lesmana (2010) menemukan adanya pengaruh positif antara kemandirian daerah terhadap tingkat pengungkapan LKPD, sedangkan pada penelitian Syafitri (2012) tidak menemukan adanya hubungan antara tingkat kemandirian daerah
terhadap tingkat pengungkapan LKPD. Begitu pula dengan Susbiyani (2014) yang menemukan bahwa kemandirian daerah berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin tinggi partisipasi masyarakat dalam membayar pajak dan semakin tinggi pula tuntutan transparansi atas pengungkapan dan pelaporan keuangan, Dengan demikian, semakin tinggi rasio kemandirian keuangan daerah maka pemerintah daerah cenderung untuk berusaha melakukan pengungkapan wajib pada laporan keuangannya.
2.5.3 Intergovernmental revenue
Lesmana (2010) mendefinisikan intergovernmental revenue jenis pendapatan daerah yang berasal dari transfer pemerintah pusat dan atau pemerintah provinsi kepada Pemda untuk membiayai kegiatan operasional pemerintah daerah. Sebagai timbal baliknya, Pemda membelanjakan pendapatan transfer antar pemerintah sesuai dengan alokasi dan petunjuk anggaran menurut Undang-Undang. Pendapatan pemerintah terdiri dari 3 jenis, yaitu pendapatan asli daerah, pendapatan transfer, dan lain-lain pendapatan yang sah (Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan). Dengan adanya era desentralisasi, pengawasan keuangan terhadap pemerintah daerah harus lebih efektif dilakukan oleh pemerintah pusat agar tercipta suasana pemerintahan daerah yang transparan dan akuntabel. Pengawasan yang dilakukan Pemerintah Pusat dengan membentuk Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
Lesmana (2010) tidak menemukan pengaruh antara pendapatan transfer atau
intergovernmental revenue terhadap pengungkapan wajib LKPD, sedangkan Darmastuti (2010) menemukan adanya pengaruh signifikan terhadap pengungkapan atas belanja bantuan sosial kemudian pada penelitian yang dilakukan Yulianingtyas (2011) dan Syafitri (2012) menemukan pengaruh negatif antara intergovernmental revenue terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.
Pemerintah daerah selaku agent diharuskan untuk melaksanakan pembelanjaan dana perimbangan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Meskipun pemerintah pusat sebagai penyedia dana perimbangan tidak secara langsung membutuhkan pelaporan keuangan dari pemerintah daerah, tetapi pemerintah pusat akan meminta suatu bentuk akuntabilitas dari pemerintah daerah. Sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah, pemerintah daerah akan berusaha mempertanggungjawabkan penggunaan dana yang bersumber dari pendapatan transfer yang digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah daerah. Hal ini berarti menunjukkan bahwa semakin besar intergovernmental revenue maka semakin besar pula tingkat pengungkapan yang dilakukan pemerintah daerah.