• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Penderita HIV/AIDS yang Memanfaatkan

5.1.1. Umur

Permasalahan HIV/AIDS sejak lama menjadi isu bersama yang terus menyedot perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Namun sesungguhnya masih banyak informasi dan pemahaman tentang permasalahan kesehatan yang masih belum diketahui lebih jauh oleh masyarakat. Bertambahnya umur seseorang dapat berpengaruh pada bertambahnya pengetahuan yang diperoleh, tetapi pada umur-umur tertentu atau menjelang usia lanjut kemampuan penerimaan atau pengingatan suatu pengetahuan akan berkurang (Notoatmodjo, 2006).

Hasil penelitian distribusi frekuensi penderita HIV/AIDS yang memanfaatkan Klinik VCT Pusyansus RSUD H. Adam Malik Medan terdapat variasi karakteristik berdasarkan kelompok umur, sebanyak 142 penderita (52,0%) pada kelompok umur 20-29 tahun yang melaksanakan kunjungan tidak teratur (rendah).

Distribusi umur penderita AIDS pada tahun 2007 di Indonesia memperlihatkan tingginya persentase jumlah usia muda. Penderita dari golongan umur 20-29 tahun mencapai 54,77% dan bila digabung dengan golongan sampai 49 tahun maka angka menjadi 89,37% (KPA, 2007). Bahkan saat ini di Propinsi Sumatera Utara penderita HIV dan AIDS dari tahun 1994 sampai bulan April tahun 2009 kelompok umur penderita terbanyak umur 20-29 tahun dimana 500 penderita

merupakan usia yang paling banyak menderita HIV/AIDS melalui hubungan seksual, dan penggunaan obat terlarang (Djoerban, 2001).

Penelitian yang dilakukan Trendo (2006) bahwa di Dinas Kesehatan Provinsi Papua per 31 Maret 2006 angka HIV/AIDS Papua 2.179 kasus. Sebanyak 1.226 kasus HIV dan 973 AIDS, dan 289 sudah meninggal. Kasus HIV/AIDS terbanyak justru pada kelompok usia produktif (15-39 tahun), yakni sekitar 75,2 persen. Jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi pada kelompok umur 20-29 tahun yaitu sebanyak 916 kasus, kelompok umur 30-39 tahun 544 kasus dan kelompok umur 40-49 tahun 203 kasus.

Hasil penelitian ini diperoleh penderita HIV/AIDS sebagian besar usia dewasa yang melakukan kunjungan tidak teratur. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan sebagian besar berpendidikan menengah (SMP/SMA) yang juga melakukan kunjungan tidak teratur, dengan demikian penderita usia dewasa yang memiliki latar belakang pendidikan menengah menyebabkan tidak memanfaatkan atau melakukan kunjungan tidak teratur (rendah) di Klinik VCT Pusyansus RSUP H. Adam Malik Medan. Untuk mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS supaya petugas kesehatan atau instansi terkait (komunitas HIV/AIDS) tidak saja melaksanakan penyuluhan bagi resiko tinggi tetapi juga melaksanakan penyuluhan pada usia remaja agar penyebaran HIV/AIDS dapat menurun.

5.1.2. Jenis Kelamin

Secara umum setiap penyakit dapat menyerang manusia, baik laki-laki maupun perempuan tetapi pada beberapa penyakit terdapat perbedaan frekuensi antara laki-laki dan perempuan. Ini disebabkan karena kebiasaan hidup dan prilaku hidup dan kondisi fisiologis (Rasmaliah, 2001).

Hasil penelitian penderita HIV/AIDS berdasarkan karakteristik jenis kelamin, 190 penderita (69,6%) berjenis kelamin laki-laki dan 83 penderita (30,4%) penderita perempuan yang melaksanakan kunjungan tidak teratur (rendah) Data tersebut dapat diartikan bahwa proporsi laki-laki lebih banyak menderita HIV/AIDS dibandingkan proporsi perempuan, karena laki-laki cenderung memiliki prilaku resiko sebagai pengguna jasa wanita pekerja seksual dan pengguna narkotika karena memiliki penghasilan dibandingkan wanita. Laki-laki yang berprilaku risiko tinggi cenderung terinfeksi melalui seksual dan IDU.

Menko Kesra, Aburizal Bakrie yang dikutip Trendo (2006) menyatakan di Jayapura pada Temu Regional dalam rangka Akselerasi Program Penanggulangan HIV/AIDS di Tanah Papua mengatakan bahwa secara nasional proporsi HIV/AIDS pada perempuan hanya sekitar 18 persen, tetapi di Papua justru berada pada angka yang cukup besar yaitu 48,5 persen. Sementara di Propinsi Sumatera Utara 70% penderita adalah laki-laki, sisanya 30% adalah perempuan.

Pendapat Djoerban (2001) bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perempuan lebih rentan tertular HIV/AIDS, yaitu faktor biologis dan faktor sosial ekonomi. Faktor biologis; risiko perempuan tertular HIV melalui hubungan seksual adalah 2-4 kali lebih besar dibandingkan dengan risiko pada laki-laki.

Selanjutnya pendapat Parikesit (2008) menyatakan lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90% terjadi dari ibu pengidap HIV. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah faktor sosiodemografi adalah jenis kelamin (Notoatmodjo, 2003).

Kunjungan pemeriksaan HIV di Klinik VCT Rumah Sakit Dr. Oen Kadangsapi Solo bahwa jika ternyata hasilnya testnya positif HIV, maka juga langsung memberikan pil ARV (anti retro viral) untuk pencegahan dini, agar tidak berkembang menjadi AIDS, semuanya gratis dan tidak dipungut biaya. Namun sebagian belum mengambil hasil tesnya, karena kebanyakan beralasan sibuk atau belum sempat (KKBKR, 2010).

Mengacu pada hasil penelitian bahwa jenis kelamin penderita HIV/AIDS melaksanakan kunjungan tidak teratur di Klinik VCT Pusyansus disebabkan jenis kelamin penderita berada pada usia dewasa. Pada umumnya kategori jenis kelamin berada pada umur dewasa yaitu 20-29 tahun, dimana pada usia ini penderita tidak melaksanakan kunjungan teratur (rendah) sehingga kategori jenis kelamin penderita juga tidak melaksanakan kunjungan teratur di Klinik VCT Pusyansus.

5.1.3. Pendidikan

Notoatmodjo (2003) menyatakan pendidikan adalah suatu kegiatan atau proses pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan tertentu sehingga sasaran pendidikan itu dapat berdiri sendiri. Selanjutnya Djoerban (2001) menyatakan penderita HIV/AIDS yang berobat di Pokdisus AIDS FKUI-RSCM menunjukkan asal dari berbagai jenis lapisan sosial masyarakat. Ada yang lulusan SD, SMP, SMA, Akademi bahkan beberapa lulusan S2.

Selanjutnya pendidikan penderita HIV/AIDS dari seluruh kategori yang yang melaksanakan kunjungan teratur hanya penderita yang memiliki latar belakang pendidikan tidak sekolah. Dari uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa keseluruhan kategori latar pendidikan penderita HIV/AIDS melaksanakan kunjungan tidak teratur di klinik VCT Pusyansus RSUD H. Adam Malik Medan Tahun 2008 sebagai sarana atau tempat visite untuk memperoleh informasi (konsultasi) dan juga melaksanakan pengobatan.

Sebagaimana pendapat Notoatmodjo (2006) menyatakan bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh. Pada umumnya, semakin tinggi pengetahuan seseorang maka semakin baik pula pengetahuannya.

Sebagaimana hasil penelitian dari Survei Perilaku HIV/AIDS Kota Yogyakarta 2005 bahwa responden berpendidikan SMA atau yang sederajat (49%), sebanyak 15% berpendidikan SMP atau yang sederajat dan 18% berpendidikan SD atau sederajat. Hanya 13% responden yang berpendidikan D1 atau lebih.

Faktor struktur sosial (social structur models) seperti pendidikan, pekerjaan, dan kebangsaan yang mencerminkan keadaan sosial dari individu atau keluarga di dalam masyarakat dapat mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Salah satu model atau upaya peningkatkan pemanfaatan Klinik VCT dengan melakukan pemaduan Klinik TB dengan beberapa layanan HIV, dengan merujuk pasien Klinik TB setelah berobat untuk memberikan layanan tes CD4 atau ART. Satu

klinik TB di daerah pelosok di Provinsi Gauteng adalah klinik mobil dengan staf dan apotek khusus (Spritia, 2009).

Mengacu pada hasil penelitian bahwa keseluruhan kategori pendidikan penderita tidak memanfaatkan VCT Pusyansus dengan baik. Sebagaimana pendapat Notoatmodjo (2003) penderita yang memiliki pendidikan tinggi seharusnya mempunyai pengetahuan dan kesadaran untuk melaksanakan kunjungan atau konsultasi tentang penyakitnya. Namun kunjungan yang dilaksanakan dalam penelitian ini justru sebaliknya, dimana penderita yang memiliki pendidikan tinggi tidak melakukan kunjungan teratur. Hal ini disebabkan latar belakang pendidikan penderita seperti SMA, SI dan S2 berada pada umur dewasa yang juga tidak melaksanakan kunjungan teratur. Untuk itu bagi tenaga kesehatan untuk dapat melaksanakan penyuluhan sedini mungkin misalnya pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama agar angka kesakitan dan kejadian HIV/AIDS dapat diturunkan.

5.1.4. Pekerjaan

Berbagai jenis pekerjaan akan berpengaruh pada frekuensi dan distribusi penyakit (Rasmaliah. 2001). Risiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS berdasarkan jenis pekerjaan antara lain orang yang bekerja di tempat hiburan, supir jarak jauh, nelayan, anak buah kapal, dan PSK (Zulkifli, 2004).

Djoerban (2001) menyatakan bahwa pada perempuan yang paling banyak terinfeksi HIV/AIDS adalah perempuan yang berpenghasilan rendah atau tidak memiliki penghasilan karena sebagian besar perempuan yang terkena adalah yang pekerjaannya sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Hasil penelitian di Klinik VCT Pusyansus RSUP H. Adam Malik Medan diperoleh bahwa status bekerja penderita HIV/AIDS hanya dikategorikan bekerja 181 penderita (66,3%). Dari keseluruhan kategori pekerjaan penderita HIV/AIDS sebagian besar melaksanakan kunjungan tidak teratur. Dapat diartikan bahwa penderita yang memiliki pekerjaan cenderung berperilaku risiko tinggi. Menurut Djoerban (2001) bahwa pada umumnya penderita terinfeksi akibat risiko tinggi dengan pekerjaan seperti pekerja seks komersial, supir jauh, dan anak buah kapal.

Menurut Notoadmodjo (2003) bahwa model struktur sosial (social structur

models) seperti pekerjaan dapat mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Kedudukan sosial seseorang mencerminkan gaya atau prilaku kehidupannya sehari-hari.

Mengacu hasil penelitian bahwa data yang diperoleh di Klinik VCT Pusyansus berdasarkan status bekerja penderita HIV/AIDS paling banyak kategori bekerja yang tidak melaksanakan kunjungan teratur, begitu juga penderita yang tidak bekerja. Hal ini disebabkan karena penderita yang memiliki pekerjaan berada pada usia produktif, dimana penderita pada usia ini juga tidak melaksanakan kunjungan teratur (rendah), demikian juga halnya penderita yang bekerja paling banyak tertular HIV/AIDS secara seksual (heteroseksual), dimana penderita tertular melalui heteroseksual juga tidak melaksanakan kunjungan teratur (rendah).

5.2 Cara Penularan Penderita HIV/AIDS yang Memanfaatkan Klinik VCT

Dokumen terkait