VI. TINGKAT KEPUASAN PENGUNJUNG
6.1. Karakteristik Pengunjung
Keberlanjutan usaha wana wisata tidak terlepas dari pelanggan atau pengunjung. Oleh karena itu pihak pengelola wana wisata dalam hal ini Perum Perhutani perlu mengetahui dan memahami karakteristik pengunjung agar dapat menentukan sistem pemasaran dan juga agar dapat lebih memperluas pasar. Macam-macam kegiatan yang dilakukan oleh pengunjung diantaranya jalan-jalan menikmati pemandangan alam, duduk-duduk santai, makan-makan, menikmati pemandangan, fotografi, dan lain-lain. Hal ini dapat dimengerti mengingat latar belakang daerah asal pengunjung sebagian besar berasal dari dataran rendah dengan udara yang cukup panas, sehingga mereka berupaya untuk menyegarkan jasmani dan rohani dari kepenatan aktifitas sehari-hari, dengan mereka mencari tempat rekreasi yang dapat memberikan kesegaran. Semua itu dapat mereka dapatkan dengan berwisata menikmati udara sejuk di udara terbuka.
Pengunjung yang menjadi responden dalam penelitian ini terdiri dari 57,5% laki-laki dan 42,5% perempuan. Berdasarkan hasil yang diperoleh tentang karakteristik pengunjung dapat diketahui bahwa kelompok pengunjung laki-laki yang datang lebih besar dari pada pengunjung perempuan. Hal ini mungkin disebabkan oleh sifat rekreasi yang ada lebih memerlukan stamina yang kuat dan bersifat petualangan sehingga lebih disukai oleh kaum laki-laki. Kecenderungan yang terjadi pada rombongan besar adalah laki-laki yang mengkoordinir perjalanan wisata sedangkan kecenderungan yang terjadi pada pengunjung keluarga adalah para laki-laki yang sebagai kepala keluarga.
Responden yang berkunjung ke Wana Wisata Kawah Putih dari segi umur berdasarkan kuisioner berusia antara 17 – 26 tahun sebanyak 51 orang (63,75%), usia 27 – 36 tahun sebanyak 17 orang (21,25%), usia 37 – 46 tahun sebanyak 7 orang (8,75%), usia 47 – 56 tahun sebanyak 4 orang (5%) dan usia lebih dari 56 tahun sebanyak 1 orang (1,25%). Sebagian besar responden berumur antara 17-26 tahun dan 27-36 tahun, yang merupakan usia kerja produktif sehingga lebih membutuhkan rekreasi untuk menghilangkan rasa jenuh di luar aktivitas rutin yang dilakukan sehari-hari. Selain itu banyaknya pengunjung yang berusia muda
tersebut juga dikarenakan mereka mempunyai waktu luang yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang bekerja atau telah berumah tangga.
Responden yang berkunjung di Wana Wisata Kawah Putih dikelompokkan dalam beberapa kelompok tingkat pendidikan terakhir yaitu : SD, SLTP, SMU, Diploma (D3), Sarjana, dan Pascasarjana. Responden sebagian besar memiliki tingkat pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 43.75% dan Sarjana (S1) sebanyak 30%, kemudian Diploma 21,25%, Pascasarjana 2,5%. Pada tingkat SD dan SLTP sebanyak 1 orang (1,25%) dari jumlah responden. Dari hasil wawancara dilapangan diperoleh persentase terbesar adalah pengunjung dengan pendidikan terakhir SMU. Jalil (2006) menyatakan bahwa kegiatan rekreasi dapat dilakukan oleh semua lapisan masyarakat dari berbagai tingkat pendidikan oleh karena itu, tampaknya pendidikan tidak berpengaruh terhadap jumlah permintaan wisata alam, tetapi pendidikan berpengaruh terhadap pemahaman seseorang tentang alam lingkungan, terutama tempat rekreasi termasuk juga peranan hutan dalam hubungan dengan kelestarian lingkungan. Pendidikan terakhir ini perlu dicermati karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin kritis pula penilaian responden terhadap kinerja Wana Wisata Kawah Putih.
Golongan pekerjaan responden dari yang terbesar sampai terkecil adalah karyawan swasta (32,5%), Pelajar (30%), Wiraswasta (15%), PNS (10%), Ibu Rumah Tangga (8,75%), Pensiunan (2,5%), dan belum bekerja (1,25%). Pengunjung sebagian besar berprofesi sebagai karyawan swata dan pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa di samping melakukan aktivitas rutin sehari-hari, para responden juga memerlukan suasana baru yang dapat menghilangkan kepenatan dan kejenuhan. Pengunjung yang sebagian pelajar pun menunjukkan bahwa di samping menuntut ilmu di bangku sekolah, pelajar tetap membutuhkan suasana baru seperti tempat wisata alam yang dapat menghilangkan kejenuhan belajar di sekolah untuk penyegaran pikiran.
Berdasarkan daerah asal yaitu berdasarkan lokasi tempat tinggal responden. Sebagian besar responden berasal dari Bandung (51,25%) dan Jakarta (27,5%), Purwakarta dan Bekasi (3,75%), Karawang dan Subang (2,5%), Garut, Solo, Tegal, Purworejo, Sukabumi, Sidoarjo dan Medan (1,25%). Secara umum sebaran responden masih berada disekitar Bandung, Jakarta, Bekasi, Karawang, Garut,
Purwakarta, Solo, Tegal, Subang, Sukabumi. Sebagian besar pengunjung yang datang bertujuan untuk piknik dan sekedar jalan-jalan sebagai tujuan utamanya. Penyebaran daerah responden ini dapat dijadikan sebagai suatu strategi pemasaran yang dilakukan. Daerah asal responden yang masih jarang berkunjung harus dilakukan promosi yang lebih gencar.
Pengunjung yang datang sebagian besar melakukan perjalanan rekreasi menggunakan bermacam-macam kendaraan, yang didominasi oleh kendaraan roda dua (motor). Selain karena secara umum pengunjung yang datang adalah usia pelajar yang sudah biasa menggunakan motor, juga menurut mereka menggunakan motor akan lebih murah dan hemat jika dibandingkan dengan kendaraan yang lainnya. Aksesibilitas yang cukup mudah untuk mencapai lokasi, menyebabkan pengunjung yang melakukan perjalanan tidak bermalam di kawasan wisata alam tersebut melainkan melakukan perjalanan pulang pergi.
Pada umumnya konsumen akan melalui tahapan-tahapan dalam proses pembelian suatu produk. Tahapan-tahapan tersebut antara lain pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian serta perilaku pasca pembelian. Berikut ini tahapan proses keputusan kunjungan responden Wana Wisata Kawah Putih.
1. Pengenalan Kebutuhan
Responden yang berkunjung ke Wana Wisata Kawah Putih sebagian besar menjawab bahwa motivasi yang paling menentukan berwisata ialah berlibur (81,25%). Sedangkan berdasarkan sebaran manfaat kunjungan yang dirasakan oleh responden, sebanyak 42,5% menjawab menambah wawasan tentang pariwisata di Indonesia, kemudian 41,25% menjawab hiburan sebagai manfaat ke Wana Wisata Kawah Putih.
Responden merasa tidak berpengaruh apa-apa jika berkunjung ke Wana Wisata Kawah Putih dalam suatu periode tertentu dengan persentase sebesar 75%. Ada pula sebagian responden lainnya yang menyatakan merasa ada yang kurang bila tidak berkunjung yaitu sebesar 20%. Saat ditanyakan responden mengenai tempat wisata lain yang sejenis yang pernah dikunjungi selain Wana Wisata Kawah Putih, 81,25% responden menjawab pernah ke Gunung Tangkuban Perahu dan sisanya menjawab belum pernah. Hasil wawancara dan pengisisan kuisioner
yang dilakukan, memberikan suatu gambaran bahwa kebutuhan akan berwisata dirasakan perlu oleh para responden.
2. Pencarian Informasi
Responden menyatakan bahwa mereka mendapatkan informasi mengenai Wana Wisata Kawah Putih dari temannya (46,25%) serta responden menyatakan bahwa mereka mendapatkan informasi dari anggota keluarga mereka (30%). Sebagian dari pengunjung mengetahui Wana Wisata Kawah Putih dari mulut ke mulut saja. Hal yang menjadi fokus perhatian dari informasi yang diperoleh responden adalah pemandangan alamnya yaitu sebanyak 96,25%. Hal inilah yang menjadi daya tarik yang begitu besar dari Wana Wisata Kawah Putih. Keindahan alam wana wisata ini merupakan fokus utama yang dijadikan perhatian oleh para responden. Hal ini menunjukkan bahwa berwisata di alam terbuka cukup membuat para responden merasa tertarik untuk berkunjung, sedangkan harga tiket tidak terlalu membuat pengunjung merasa keberatan untuk berkunjung karena harga tiket masuk yang masih terjangkau.
3. Evaluasi Alternatif
Keindahan alam Wana Wisata Kawah Putih merupakan modal yang kuat yang mampu menarik pengunjung. Sebesar 86,25% menyatakan bahwa keindahan alam merupakan suatu hal yang menjadi dasar pertimbangan seseorang untuk berkunjung ke Wana Wisata Kawah Putih. Hal inilah yang menjadi penentu utama saat responden mengevaluasi alternatif lokasi wisata yang akan mereka kunjungi. Sedangkan harga paket tidak menjadi salah satu hal yang menjadi dasar pertimbangan responden dalam mengevaluasi alternatif kunjungan. Perencanaan kunjungan yang dilakukan terencana oleh para pengunjung menunjukkan bahwa pengunjung sebelum memutuskan pergi tentu telah mengetahui informasi tentang Wana Wisata Kawah Putih.
4. Keputusan Pembelian
Keputusan yang dilakukan oleh responden untuk berkunjung ke Wana Wisata Kawah Putih merupakan hal yang terencana yakni sebesar 61,25% dan sebagian responden yang lain melakukan secara mendadak yakni sebesar 38,75%. Responden menyatakan bahwa teman mereka memiliki pengaruh yang cukup besar dalam proses keputusan kunjungan yaitu sebanyak 48,75%, sedangkan
sebesar 25% dan 15% responden menyatakan bahwa keluarga dan diri sendiri memiliki pengaruh besar dalam keputusan kunjungan ke Wana Wisata Kawah Putih.
Teman berkunjung yang dibawa oleh pengunjung ternyata sebagian besar responden berkunjung dengan teman (55%) dan anggota keluarga (38,75%) merupakan orang-orang yang diajak responden untuk mengunjungi Wana Wisata Kawah Putih. Hal ini sejalan dengan sumber pengaruh terbesar dalam memutuskan kunjungan ke Wana Wisata Kawah Putih. Keputusan pembelian yang dilakukan oleh pengunjung dipengaruhi oleh teman dan keluarga mereka. Hal ini sejalan dengan informasi yang diterima oleh mereka yaitu dari mulut ke mulut. Responden menjawab, umumnya mereka biasanya datang pada saat hari libur dan masa liburan sekolah.
5. Perilaku Pasca Pembelian
Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar pengunjung yakni sebesar 50% menyatakan bahwa mereka merasa biasa saja terhadap kinerja Wana Wisata Kawah Putih. Responden merasa biasa terhadap pelayanan serta fasilitas yang ditawarkan Wana Wisata Kawah Putih dan sebesar 38,75% menyatakan puas atas kinerja Wana Wisata Kawah Putih. Hal ini harus diperhatikan oleh pihak pengelola, karena tujuan dari suatu usaha wisata selain untuk mendapatkan keuntungan juga untuk memuaskan hati pengunjung.
Namun responden pada saat ditanyakan apakah akan kembali berkunjung, 96,25% menjawab akan kembali berkunjung ke Wana Wisata Kawah Putih. Diketahui alasan responden untuk melakukan kunjungan kembali adalah karena keindahan alam dan ingin menghilangkan kejenuhan dari rutinitas sehari-hari.
Sebagian pengunjung menjawab kinerja Wana Wisata Kawah Putih cukup baik, hal ini dibuktikan dengan kenyamanan dan keamanan pengunjung saat melakukan kegiatan wisatanya. Pengunjung mempunyai keinginan untuk mengunjungi kembali di waktu-waktu yang akan datang sehingga hal ini haruslah dijadikan sebagai strategi pengembangan oleh pihak perusahaan agar pengunjung yang datang dikemudian hari tidak merasa kecewa dan obejk wisata yang ditawarkan tidak monoton. Oleh karena itu pihak pengelola harus selalu senantiasa melakukan perbaikan dan peningkatan kinerjanya.