• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Petani Responden .1 Umur.1 Umur

V GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.2 Karakteristik Petani Responden .1 Umur.1 Umur

Umur merupakan salah satu kriteria yang termasuk ke dalam faktor internal yang dianggap bisa mempengaruhi motivasi petani dalam berusahatani tebu, sebaran umur responden petani tebu Desa Tonjong secara lengkap disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Sebaran Umur Responden Petani Tebu Desa Tonjong

Umur Jumlah Responden

(Orang)

%

15-24 0 0

25-34 7 23,3

35-44 6 20

45-54 9 30

55-64 7 23,3

≥ 65 1 3,3

Total Responden 30 100

Data mengenai sebaran umur responden di atas dibuat berdasarkan umur angkatan kerja (15-60 tahun). Dari Tabel 9. tersebut terlihat bahwa responden petani tebu Desa Tonjong yang terambil sebagian besar sekitar 30 persen berada pada interval umur 45-54 tahun. Sementara sisanya masing-masing: 0 persen berada pada interval 15-24; 23,3 persen berada pada interval 25-34; 20 persen berada pada interval 35-44; 23,3 persen berada pada interval 55-64; 3,3 persen berada pada interval≥ 65.

Komposisi di atas sangatlah wajar, mengingat tebu merupakan tanaman perkebunan yang pada dasarnya membutuhkan perawatan intensif, banyak petani yang berumur di bawah 54 tahun tergolong masih muda dan sehat untuk berusahatani tebu. Sementara petani yang berusia di atas 54 tahun kebanyakan bertindak sebagai kontrol dan mempekerjakan tenaga kerja luar keluarga selaku perwakilan para petani tersebut di lahan.

5.2.2 Pendidikan Formal

Pendidikan merupakan proses pembentukkan pribadi seseorang. Para petani di lapangan banyak mendapat manfaat dari pendidikan, baik itu pendidikan formal maupun informal. Pendidikan formal menjadi salah satu syarat penting bagi para petani untuk berkomunikasi serta mencari informasi terkait pertebuan secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun banyak bukti-bukti di lapangan bahwasanya petani banyak belajar langsung melalui praktek/realita, tapi tidak dapat dihindari pendidikan menjadi salah satu modal berharga bagi usahatani yang dilakukan. Namun khusus bagi responden petani tebu kali ini dapat dilihat pada Tabel 10. tingkat pendidikan formal yang telah ditempuh

sebelumnya sebagai gambaran umum tingkat pendidikan responden petani tebu Desa Tonjong yang ada.

Tabel 10 Sebaran Tingkat Pendidikan Formal Responden Petani Tebu Desa Tonjong

Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (orang)

%

Tidak Sekolah/ buta huruf 2 7

Pernah Sekolah (Tidak Tamat) 3 10

Tamat SD/ sederajat 10 33

SLTP/ sederajat 9 30

SLTA/ sederajat 4 13,3

D-3 1 3,3

S-1 1 3,3

Total 30 100

Dari Tabel 10 terlihat bahwa responden petani tebu di Desa Tonjong sebagian besarnya adalah tamat Sekolah Dasar (SD)/sederajat yaitu sebesar 33 persen. Sementara sisanya sebesar 7 persen tergolong ke dalam responden yang buta huruf, 10 persen tamat pernah sekolah (tidak tamat), 30 persen tamat SLTP/

sederajat, 13,3 persen tamat SLTA/sederajat, dan untuk D-3 hanya 3,3 persen begitu pula petani tebu tamatan S-1.

Sehingga bisa disimpulkan bahwasanya kebanyakan para petani yang memilih berusahatani tebu di Desa Tonjong sebagian besar tingkat pendidikannya berada pada tingkat SD/sederajat ke bawah. Data di atas sesuai dengan fakta yang diungkap di awal bahwa para petani banyak yang belajar langsung dari lapangan, dan kenyataan bagi mereka bahwa latar belakang pendidikan formal tidak menjadi suatu hal yang utama bagi usahatani tebu ini.

5.2.3 Pengalaman Berusahatani Tebu

Pengalaman menunjukkan kadar interaksi seseorang dengan hal yang biasa dia geluti. Pengalaman tidak hanya dilihat dari segi waktu namun juga kualitas kejadian yang dilalui seseorang dalam kehidupannya. Keberadaan pengalaman ini bagi seorang petani kemungkinan akan mematangkan berbagai keahlian yang ada khususnya mengenai realita perlakuan pada tanaman dan umumnya mengenai sistem tanaman yang bersangkutan. Pengalaman berusahatani tebu para responden petani Desa Tonjong dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Pengalaman Berusahatani Responden Petani Tebu Desa Tonjong Pengalaman Berusahatani

(Tahun)

Jumlah Responden (orang)

%

2-6 23 77

7-11 3 10

12-16 1 3

>16 3 10

Total 30 100

Dari Tabel 11 dapat kita amati bahwa sekitar 77 persen petani tebu baru melangsungkan usahanya selama kurun waktu 2-6 tahun. Sementara sisanya sekitar 10 persen memiliki pengalaman berusahatani 7-11 tahun; 3 persen memiliki pengalaman berusahatani 12-16 tahun; dan terakhir 10 Persen memiliki pengalaman berusahatani lebih dari 16 tahun. Kesimpulannya adalah banyak petani tergolong baru dalam berusahatani tebu, dan dalam penelitian juga ditemukan bahwa sebagian dari mereka banyak yang mulai berani berusahatani tebu dikarenakan adanya mekanisme harga dasar yang ditetapkan pemerintah di tahun 1998, serta mekanisme pembiayaan pengembangan tebu melalui Kredit Ketahan Pangan di tahun 2000.

5.2.4 Tanggungan Keluarga

Tentu saja ketika menyangkut penjalanan suatu usaha kita tidak lupa akan keberadaan tanggungan dari para pelaku usaha tersebut. Begitu pula dengan petani yang pada dasarnya banyak dari mereka menaruh harapan dari berusahatani tebu ini. Hal tersebut dikarenakan kepemilikan tanggungan keluarga yang secara materiil tentu saja harus dipenuhi kebutuhan ekonominya. Pada Tabel 12 berikut ini tersaji kepemilikan tanggungan keluarga dari responden petani tebu Desa Tonjong.

Tabel 12 Tanggungan Keluarga Responden Petani Tebu Desa Tonjong Tanggungan Keluarga

(orang)

Jumlah Responden (orang)

%

1-2 14 46

3-4 14 46

> 5 2 7

Total 30 100

Ternyata dari Tabel 12 terlihat bahwa kebanyakan petani sekitar 46 persen memiliki tanggungan 1-2 dan 3-4 orang. Sementara sisanya 7 persen responden petani memiliki tanggungan > 5 orang. Sehingga kenyataan yang ada bahwa keluarga petani pada dasarnya tidaklah selalu keluarga besar, namun ada juga yang memiliki jumlah tanggungan besar namun ada beberapa tanggungan yang sudah lepas dari keluarganya secara ekonomis (memiliki pencaharian sendiri).

Sementara itu untuk pengeluaran secara ekonomis (kebutuhan per bulannya), peneliti memperhitungkan pengeluaran kebutuhan primer-sekunder yang besarnya disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Rata-rata Pengeluaran Kebutuhan Ekonomis Responden Petani Tebu Desa Tonjong per Bulannya

Pengeluaran

0- 1.500.000 10 33,3

1.500.100-2.500.000 13 43,3

> 2.500.100 7 23,3

Total 30 100

Dari Tabel 13 terlihat bahwa sebagian responden petani tebu Desa Tonjong memiliki kebutuhan ekonomis dalam interval Rp 1.500.100-Rp 2.500.000 per bulannya yaitu sekitar 43,3 persen. Sementara sisanya hanya berkisar 33,3 persen di interval 0-Rp 1.500.000, tidak berbeda jauh dan 23,3 persen di interval >

2.500.100.

5.2.5 Penguasaan Lahan

Para petani yang menjadi responden tentu saja diharuskan memiliki lahan sendiri, baik itu melalui sewa ataupun lahan sendiri. Lahan merupakan unsur pokok dalam usahatani. Sebaran penguasaan lahan responden tebu Desa Tonjong, selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran Penguasaan Lahan Responden Petani Tebu Desa Tonjong Luas Lahan

Data dari Tabel 14 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen responden menguasai luasan lahan tebu sebanyak 2-5,2 hektar. Sementara 20 persen responden petani

tebu Desa Tonjong lainnya memiliki 5,3-8,5 ha, 7 persen dan 13 persen responden masing-masing menguasai sekitar 8,6-11,8 ha dan > 11,9 Ha. Fakta tersebut dapat dimengerti karena banyak para responden petani baru masuk berusahatani tebu sekitar 2-6 tahun ke belakang sehingga para pemain yang tergolong baru ini masih belum terlalu besar dari segi lahan dalam berusahatani tebu ini (minimal 2 ha).

VI PEMBAHASAN