• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL PENELITIAN

4.2 Karakteristik Petugas SAR

Karakteristik petugas SAR dalam penelitian ini terdiri dari jenis kelamin, pendidikan dan masa kerja. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Petugas SAR di Kantor SAR Medan

No Karakteristik Petugas SAR Jumlah (n) Persentase (%) 1 Jenis Kelamin

Laki-laki 30 83,3

Perempuan 6 16,7

Total 36 100,0

2 Pendidikan

Tamatan SMU Sederajat 24 66,7

Tamatan Diploma 4 11,1 Tamatan Sarjana 8 22,2 Total 36 100,0 3 Masa Kerja 1 - 10 Tahun 25 69,4 11 - 20 Tahun 7 19,4 21 - 30 Tahun 4 11,1 Total 36 100,0

Tabel 4.1. di atas menunjukkan bahwa mayoritas petugas SAR adalah laki- laki yaitu sebanyak 30 orang (83,3%), dengan pendidikan mayoritas tamatan SMU sederajat yaitu sebanyak 24 orang (66,7%) dengan masa kerja mayoritas 1-10 tahun yaitu sebanyak 25 orang (69,4%).

4.3 Analisis Univariat

Analisis univariat dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi secara tunggal seluruh variabel yang diteliti yaitu variabel persepsi dan sikap petugas SAR serta penerapan K3 pada kegiatan operasi SAR.

4.3.1 Persepsi Petugas SAR

Persepsi petugas SAR didasarkan pada skala ordinal dari 20 pertanyaan dengan alternatif jawaban Setuju, Kurang Setuju dan Tidak Setuju. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Indikator Persepsi Petugas SAR di Kantor SAR Medan Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Pernyataan Persepsi n % n % n %

Musibah merupakan takdir 3 8,3 16 44,4 17 47,2

APD penting bagi petugas SAR 14 38,9 16 44,4 6 16,7

APD digunakan ketika sedang bertugas 17 47,2 6 16,7 13 36,1

Manajemen Kantor SAR perlu Sosialisasi APD 2 5,6 6 16,7 28 77,8

Manajemen Kantor SAR wajibkan petugas memakai APD 12 33,3 12 33,3 12 33,3

Istilah K3 sudah umum di Lingkungan Kantor SAR 11 30,6 5 13,9 20 55,6

Perlu kurikulum K3 dalam Diklat SAR 3 8,3 20 55,6 13 36,1

Lingkungan kerja petugas SAR tidak selalu berisiko 6 16,7 10 27,8 20 55,6

SOP sering efektif dengan praktek dilapangan 2 5,6 4 11,1 30 83,3

Petugas SAR tidak harus ikuti Prosedur kerja 12 33,3 4 11,1 20 55,6

Setiap anggota SAR perlu pelajari K3 1 2,8 18 50,0 17 47,2

APD yang lengkap dalam operasi SAR tidak nyaman 10 27,8 6 16,7 20 55,6

Ketersediaan SOP akan kurangi Kecelakaan 13 36,1 3 8,3 20 55,6

Ilmu P3K bagian dari petugas SAR 11 30,6 14 38,9 11 30,6

Beban kerja petugas SAR berisiko terhadap Kecelakaan 8 22,2 11 30,6 17 47,2

Faktor utama kecelakaan kerja kerena tidak ada SOP 5 13,9 21 58,3 10 27,8

TRT adalah hal utama dalam upaya K3 13 36,1 4 11,1 19 52,8

Penilaian risiko penting memastikan tindakan yang dilakukan 9 25,0 8 22,2 19 52,8

Perlu penetapan Pengawas K3 10 27,8 17 47,2 9 25,0

Kantor SAR Mendukung K3 pada operasi SAR 8 22,2 17 47,2 11 30,6

Tabel 4.2. di atas menunjukkan bahwa mayotitas responden tidak setuju bahwa musibah yang terjadi merupakan takdir, dan kurang setuju jika APD penting bagi petugas SAR, selain itu petugas SAR juga masih tidak setuju jika manajemen Kantor SAR perlu mensosialisasikan penggunaan APD pada kegiatan SAR.

Mayoritas petugas juga tidak setuju istilah K3 sudah umum di Kantor SAR, dan tidak setuju jika SOP efektif di lapangan serta masih ada petugas SAR yang kurang setuju jika perlu pengawas APD dalam kegiatan SAR.

Berdasarkan keseluruhan skoring, diketahui data indikator variabel persepsi melalui uji kolmogoroof smirnov menunjukkan varibael persepsi tidak terdistribusi normal karena nilai probabilitas kurang dari 0,05 (p<0,05), sehingga batas nilai kategorisasi variabel persepsi yang digunakan adalah median yaitu skor 39, maka variabel persepsi dapat dikategorikan menjadi baik jika memperoleh nilai skor ≥39 dan kurang jika memperoleh skor <39. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.2. Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Variabel Persepsi Petugas SAR di Kantor SAR

Medan

No Persepsi Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 12 33,3

2 Kurang 24 66,7

Total 36 100,0

Tabel 4.3. di atas menunjukkan mayoritas responden mempunyai persepsi yang kurang yaitu sebanyak 24 orang (66,7%) dibandingkan responden dengan persepsi yang baik yaitu sebanyak 12 orang (33,3%).

4.3.2 Sikap Petugas SAR

Sikap petugas SAR didasarkan pada skala ordinal dari 25 pertanyaan dengan alternatif jawaban Setuju, Kurang Setuju dan Tidak Setuju. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Indikator Sikap Petugas SAR di Kantor SAR Medan Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Pernyataan Sikap n % n % n %

Kantor SAR wajib menyediakan APD yang lengkap&cukup 17 47,2 5 13,9 14 38,9

Petugas SAR wajib menggunakan APD ketika bertugas 17 47,2 11 30,6 8 22,2

APD Tim SAR mencakup seluruh anggota tubuh 16 44,4 12 33,3 8 22,2

APD bagi tim SAR sudah menjadi kebutuhan utama 0 0,0 17 47,2 19 52,8

Cepat&nyaman bertugas lebih penting daripada menggunakan APD 16 44,4 8 22,2 12 33,3

APD perlu diuji coba kelayakannya 17 47,2 6 16,7 13 36,1

Kantor SAR penting menerapkan SOP K3 12 33,3 7 19,4 17 47,2

Lokasi musibah selalu berisiko 9 25,0 12 33,3 15 41,7

Petugas SAR perlu persiapkan sendiri perlengkapan kerja 17 47,2 8 22,2 11 30,6

Penggunaan setiap peralatan SAR dilengkapi dengan prosedur kerja 15 41,7 7 19,4 14 38,9 Petugas SAR Wajib mempelajari standar K3 dalam kegiatan SAR 16 44,4 10 27,8 10 27,8

Sebelum tim SAR bertugas, perlu pengarahan terlebih dahulu 12 33,3 15 41,7 9 25,0

Prinsip kehati-hati lebih penting daripada pelaksanaan SOP/Juknis 15 41,7 9 25,0 12 33,3 Memenuhi perlengkapan K3 berdampak terhadap keberhasilan SAR 14 38,9 10 27,8 12 33,3

Perlu penunjukkan pengawas K3 15 41,7 8 22,2 13 36,1

Kantor SAR penting menyiapkan P3K pada setiap kegiatan SAR 13 36,1 14 38,9 9 25,0

Kantor SAR perlu menjamin K3 petugas SAR dengan regulasi 17 47,2 10 27,8 9 25,0

Kesiapan secara tehnis sangat penting diperhatikan 8 22,2 13 36,1 15 41,7

Kecerobohan petugas SAR harus diberi sanksi 12 33,3 7 19,4 17 47,2

Petugas SAR perlu melakukan penilaian situasi yang berisiko 14 38,9 8 22,2 14 38,9

Petugas SAR harus mengutamakan APD dibandingkan peralatan lain 15 41,7 11 30,6 10 27,8 Juknis Pengoperasian setiap peralatan harus ada dan dipahami 12 33,3 14 38,9 10 27,8

Faktor manusia merupakan faktor utama Kecelakaan Kerja 12 33,3 11 30,6 13 36,1

Petugas SAR wajib melaporkan setiap kegiatan yang berkaitan dengan K3 16 44,4 10 27,8 10 27,8 Latihan Fisik perlu untuk tingkatkan stamina untuk mengurangi resiko K3 10 27,8 15 41,7 11 30,6

Tabel 4.4. di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak setuju jika kantor SAR mewajibkan petugas SAR menggunakan APD dan manajemen Kantor SAR penting menerapkan SOP K3. Selain itu petugas SAR setuju jika kecepatan dan kenyamanan bertugas lebih penting dari pada manfaat menggunakan APD, dan setuju jika penggunaan setiap peralatan SAR dilengkapi dengan prosedur kerja serta setuju jika petugas SAR wajib mempelajari standar K3 dalam kegiatan SAR.

Berdasarkan keseluruhan skoring, diketahui data indikator variabel sikap melalui uji kolmogorof smirnov menunjukkan tidak terdistribusi normal karena nilai probabilitas kurang dari 0,05 (p<0,05), sehingga batas nilai kategorisasi variabel sikap yang digunakan adalah median yaitu 50, maka variabel sikap dapat dikategorikan menjadi baik jika memperoleh nilai ≥50 dan kurang jika memperoleh skor <50. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Variabel Sikap Petugas SAR di Kantor SAR Medan

No Sikap Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 16 44,4

2 Kurang 20 56,6

Total 36 100,0

Tabel 4.5. di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden mempunyai sikap kategori kurang yaitu sebanyak 44,6 % dibandingkan sikap yang baik yaitu sebanyak 20 orang (44,4%).

4.3.3 Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Operasi SAR

Penerapan K3 pada kegiatan Operasi SAR didasarkan pada skala ordinal dari 18 pertanyaan dengan alternatif jawaban Ya, Kadang-kadang dan Tidak. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Indikator Penerapan K3 pada Petugas SAR di Kantor SAR Medan

Ya Kadang-

kadang Tidak

Penerapan K3

n % n % n % Kantor SAR senantiasa menyediakan APD yang cukup 12 33,3 15 41,7 9 25,0 Ada arahan untuk menggunakan APD setiap kali

operasi SAR

12 33,3 14 38,9 10 27,8 Petugas SAR selalu disiplin menggunakan APD

lengkap sesuai kondisi

9 25,0 21 58,3 6 16,7 Petugas SAR sering mengalami gangguan

Kesehatan saat bertugas

5 13,9 12 33,3 19 52,8 Petugas SAR sering mengalami cidera saat bertugas 5 13,9 18 50,0 13 36,1

Petugas SAR sering mengalami kecelakaan saat bertugas 1 2,8 18 50,0 17 47,2

APD mengganggu kenyamanan dan hambatan kerja 19 57,6 11 33,3 3 9,1

Ada upaya pencegahan penyakit sebelum & atau sesudah kontak dengan korban meninggal

7 19,4 10 27,8 19 52,8

Diklat SAR selalu ada materi khusus tentang K3 13 36,1 21 58,3 2 5,6

Operasi SAR akan dihentikan/ditunda jika APD personil belum lengkap

5 13,9 16 44,4 15 41,7 Skenario latihan SAR meliputi masalah K3

personil dalam tugas

11 30,6 13 36,1 12 33,3 Pemeriksaan kesehatan sudah menjadi program

kesehatan petugas SAR selesai bertugas

2 5,6 10 27,8 24 66,7 Ada pemeriksaan Khusus keayakan peralatan

yang digunakan

13 36,1 11 30,6 12 33,3

Ada riwayat pemakaian setiap peralatan 10 27,8 11 30,6 15 41,7

Selalu ada tanda/peringatan/himbauan kehati-hatian dilokasi tugas

11 30,6 14 38,9 11 30,6 Manajemen kantor SAR mensosialisasi pemberian

sanksi Bagi petugas yang tidak ikuti prosedur kerja

10 27,8 6 16,7 20 55,6 Ada upaya melengkapi diri jika kantor belum

mendukung K3

9 25,7 19 54,3 7 20,0 Ada evaluasi jika personil cidera, kecelakaan/sakit

ketika bertugas

12 33,3 18 50,0 6 16,7

Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan kadang-kadang kantor SAR menyediakan APD, kadang-kadang manajemen kantor SAR melakukan arahan dalam penggunaan APD setiap kali dilakukan operasi SAR, dan mayoritas petugas SAR mengakui tidak mengalami gangguan kesehatan saat bertugas pada kegiatan SAR, serta menyatakan kadang-kadang manajemen Kantor SAR ada melakukan evaluasi jika personil cidera,kecelakaan kerja atau sakit.

Selain itu mayoritas responden menilai tidak ada riwayat perawatan peralatan SAR dan APD, dan menyatakan manajemen kantor SAR tidak mensosialisasikan pemberian sanksi bagi petugas SAR yang tidak mengikuti prosedur kerja.

Berdasarkan keseluruhan skoring, diketahui data indikator variabel penerapan K3 pada kegiatan operasi SAR melalui uji kolmogorof smirnov juga variabel sikap tidak terdistribusi normal karena nilai probabilitas kurang dari 0,05 (p<0,05), sehingga batas nilai kategorisasi variabel sikap yang digunakan adalah median yaitu skor 34, maka variabel persepsi dapat dikategorikan menjadi baik jika memperoleh skor ≥34 dan kurang jika memperoleh skor <34, seperti pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Variabel Penerapan K3 pada Kegiatan Operasi di Kantor SAR Medan

No Penerapan K3 Jumlah (n) Persentase (%)

1 Baik 15 41,7

2 Kurang 21 58,3

Total 36 100,0

Tabel 4.7 di atas menunjukkan penerapan K3 pada kegiatan operasi SAR mayoritas termasuk kurang yaitu sebanyak 21 orang (58,3%) dibandingkan penerapan K3 yang baik yaitu sebanyak 15 orang (41,7%).

4.4 Analisis Bivariat

Analisis bivariat dalam penelitian ini melakukan analisis secara proporsi melalui tabulasi silang antara variabel independen dengan variabel dependen dan diketahui keeratan pengaruh antara kedua variabel melalui uji chi square.

4.4.1 Pengaruh Persepsi Petugas SAR dengan Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Operasi SAR

Tabel 4.8. Pengaruh Persepsi petugas SAR terhadap Penerapan K3 pada Kegiatan Operasi SAR di Kantor SAR Medan

Penerapan K3 Baik Kurang No Persepsi n % n % Nilai X2 Nilai p 1 Baik 9 75,0 3 25,0 2 Kurang 6 25,0 18 75,0 8,229 0,004*

*) signifikan pada tingkat kepercayaan 95%

Tabel 4.8. di atas menunjukkan proporsi responden dengan persepsi yang baik 75,0% mempunyai penerapan K3 yang baik, dan responden dengan persepsi yang kurang 75,0% mempunyai penerapan K3 yang kurang. Hasil uji chi square menunjukkan terdapat pengaruh signifikan sikap petugas SAR terhadap Penerapan K3 pada operasi SAR dengan nilai p=0,004 (p<0,05).

4.4.2 Pengaruh Sikap Petugas SAR terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Operasi SAR

Tabel 4.9. Hubungan sikap petugas SAR dengan Penerapan K3 pada Kegiatan Operasi SAR di Kantor SAR Medan

Penerapan K3 Baik Kurang No Sikap n % n % Nilai X2 Nilai p 1 Baik 13 81,3 3 25,0 2 Kurang 2 10,0 18 90,0 18, 566 0,001*

*) signifikan pada tingkat kepercayaan 95%

Tabel 4.9. di atas menunjukkan proporsi responden dengan sikap yang baik 81,3% mempunyai penerapan K3 yang baik, dan responden dengan sikap yang kurang 90,0% mempunyai penerapan K3 yang kurang. Hasil uji chi square variabel

  49

sikap petugas SAR mempunyai pengaruh signifikan terhadap Penerapan K3 pada operasi SAR dengan nilai p=0,001 (p<0,05).

4.5 Analisis Multivariat

Analisis multivariat merupakan analisis lanjutan dari analisis bivariat yang ditujukan untuk mengetahui variabel paling dominan dari variabel independen yang berhubungan atau berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen, dengan ketentuan variabel independen pada analisis bivariat mempunyai nilai p<0,25. Adapun uji yang digunakan dalam analisis multivariat adalah uji regresi logistik.

Berdasarkan hasil analisis bivariat diketahui kedua variabel independen yaitu persepsi (p=0,004) dan sikap (p=0,001) layak sebagai kandidat untuk dianalisis dalam analisis multivariat karena nilai p<0,25, seperti pada Tabel 4.10

Tabel 4.10. Hasil Uji Regresi Logistik Pengaruh Persepsi dan Sikap petugas SAR terhadap Penerapan K3 di Kantor SAR Medan

No Variabel Nilai B Nilai B (exp) Nilai p Nilai CI 95% 1 Persepsi 1,555 4,737 0,146 0,582 - 38, 544 2 Sikap 3,351 28,545 0,001 3,888 - 209,594 Konstanta - 7,481

Tabel 4.10 di atas menunjukkan bahwa variabel sikap adalah variabel yang besar mempengaruhi penerapan K3p ada kegiatan Operasi SAR dengan nilai B=3,351 dan p=0,001 pada konstanta – 7,481.

BAB 5

Dokumen terkait