• Tidak ada hasil yang ditemukan

Petani kelapa sawit yang menjadi responden dalam pengkajian ini memiliki keragaman dalam tingkatan umur. Distribusi sebaran tingkatan umur disajikan pada tabel berikut :

Tabel 24. Distribusi Responden Berdasarkan Umur

No Klasifikasi Umur (Tahun) Jumlah Responden Presentase (%)

1 30 – 36 5 12,5

2 37 – 43 6 15,0

3 44 – 50 18 45,0

4 51 – 57 8 20,0

5 58 – 65 3 7,5

Jumlah 40 100,0

Sumber : Pengolahan Data Primer 2019

Berdasarkan data pada tabel 24, menunjukkan bahwa responden didominasi oleh petani pada kriteria umur 44–50 tahun yaitu sebanyak 18 responden atau bila dipersentasekan maka sebesar 45% dapat disimpulkan bahwa pada umumnya petani yang menjadi responden adalah petani dalam kelompok usia produktif, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu pada rentang umur 15 tahun hingga 60 tahun

46

digolongkan sebagai usia produktif. Jika berdasarkan usia kerja menurut Kementerian Tenaga Kerja yaitu mulai dari >18 tahun (UU No. 13 Tahun 2003).

maka dapat dikatakan semua responden dalam pengkajian berada pada usia kerja dan produktif.

Kelompok usia responden di atas tergolong usia yang masih produktif. Usia produktif biasanya masih mempunyai semangat yang lebih besar dibandingkan usia yang nonproduktif, sehingga usia produktif sangat potensial untuk lebih meningkatkan peran sertanya dalam setiap kegiatan. Usia nonproduktif masih aktif melakukan usahatani karena responden sudah terbiasa bekerja sejak kecil, selain itu responden juga mencari kesibukan untuk menghilangkan rasa jenuh. Kegiatan berusahatani wajar dilakukan oleh responden yang berusia nonproduktif karena sudah menjadi rutinitas sehari-hari, meskipun kegiatan yang dilakukan bersifat ringan, misalnya melaksanakan pemanenan, perawatan pemupukan dan lain lain.

Berdasarkan hasil kajian di lapangan bahwa pada rentang umur 44 hingga 50 tahun adalah usia yang dimana umumnya petani yang sudah berkeluarga dan sedang mempunyai tanggung jawab atas memenuhi kebutuhan pada keluarga seperti memberi nafkah keluarga, maka hal ini juga berkesinambungan dengan usia dengan gambaran kondisi fisik masih normal untuk melakukan kegiatan usaha tani.

b. Pendidikan Responden

Pendidikan responden yang dimaksud dalam pengkajian berikut adalah pendidikan formal yang telah menjadi pengalaman oleh responden, mulai dari yang paling rendah yaitu tidak tamat SD hingga yang tertinggi yaitu yang pernah menempuh tingkat perguruan tinggi. Distribusi untuk tingkat pendidikan responsen terdapat pada tabel 25 sebagai berikut :

Tabel 25. Distribusi Tingkat Pendidikan Formal Responden

No Klasifikasi Pendidikan Jumlah Responden Presentase (%)

1 Tidak Tamat SD 8 20,0

2 SD 4 10,0

3 SMP 7 17,5

4 SMA 15 37,5

5 Perguruan Tinggi 6 15,0

Jumlah 40 100,0

Sumber : Pengolahan Data Primer 2019

47

Berdasarkan data pada tabel 25, menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden didominasi pada kategori pendidikan SMA sederajat dengan jumlah sebanyak 15 responden atau setara 37,5% dari jumlah sampel dan untuk pendidikan paling rendah yakni tidak tamat SD sebanyak 4 responden atau setara 10% dari jumlah sampel.

Tingkat pendidikan formal pada petani dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan SMA merupakan pendidikan yang telah dicapai pada responden dan mencerminkan bahwa petani kelapa sawit yang terdapat pada Kecamatan Barumun Tengah cukup baik, karena pada umumnya petani yang memiliki adalah tamatan SMA.

Jika dilihat dari tabel 25, rata-rata responden telah mengenyam pendidikan dan mengerti akan arti penting pendidikan. Hal ini disebabkan faktor kesadaran masyarakat. Azwar (2013), menjelaskan bahwa lembaga pendidikan sebagai sistem yang mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena akan meletakan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Selain itu menurut Mantra dalam Wawan (2017), menyatakan bahwa pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi.

c. Jenis Kelamin

Jenis kelamin yang dimiliki responden dapat diukur berdasarkan kriteria laki-laki dan perempuan. Distribusi untuk jenis kelamin responden terdapat pada tabel 26 sebagai berikut :

Tabel 26. Distribusi Jenis Kelamin Responden No Klasifikasi Jenis Kelamin

(L/P) Jumlah Responden Presentase (%)

1 Laki-laki 32 80

2 Perempuan 8 20

Jumlah 40 100,0

Sumber : Pengolahan Data Primer 2019

Berdasarkan data yang tersaji pada tabel 26, menunjukkan bahwa hasil sebaran jenis kelamin responden lebih didominasi oleh kaum laki-laki. Dengan

48

frekuensi laki laki yaitu sebanyak 32 responden atau setara dengan 80% dari jumlah sampel. Kaum laki-laki memiliki peran yang lebih banyak dalam hal berusahatani, akan tetapi tidak semua anggota kelompoktani hanya diperankan oleh kaum laki-laki saja, di dalam penelitian ini frekuensi perempuan yang terlibat dalam berusaahatani kelapa sawit yaitu sebanyak 8 responden atau setara dengan 20%.

Hal ini dapat dikatakan bahwa para istri atau ibu rumah tangga sebagai kaum perempuan juga berperan dalam membantu dalam hal berusahatani kelapa sawit.

Banyak hal yang dapat dilakukan oleh kaum perempuan, mulai dari penanaman sampai pengolahan hasil. Terkait hal-hal yang berhubungan dengan usahatani yang memerlukan tenaga besar, diserahkan kepada kaum laki-laki.

d. Luas Lahan

Petani kelapa sawit yang menjadi responden dalam pengkajian ini memiliki keragaman luas lahan. Distribusi sebaran luas lahan disajikan pada tabel berikut : Tabel 27. Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan

No Luas Lahan (Ha) Jumlah Responden Presentase (%)

1 <0,5 2 5,0

2 0,5 s/d 1 9 22,5

3 1,1 s/d 1,5 10 25,0

4 1,6 s/d 2 4 10,0

5 > 2 15 37,5

Jumlah 40 100,0

Sumber : Pengolahan Data Primer 2019

Berdasarkan data pada tabel 27, menunjukkan bahwa hasil sebaran luas lahan lebih didominasi oleh petani yang memiliki luas lahan > 2 ha dengan frekuensi sebanyak 15 responden atau setara dengan 37,5 % dari jumlah sampel, dan sebaran yang paling sedikit adalah petani dengan luas lahan <0,5 ha dengan frekuensi 2 responden atau setara dengan 5 % dari jumlah sampel. Hal ini dapat disimpulkan bahwa petani di Kecamatan Barumun Tengah rata rata tergolong petani yang memiliki lahan yang luas.

e. Pendapatan

Petani kelapa sawit yang menjadi responden dalam pengkajian ini memiliki keragaman tingkat pendapatan masing-masing. Distrubusi sebaran tingkat pendapatan disajikan pada tabel berikut :

49

Tabel 28. Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan

No Pendapatan (Rupiah) Jumlah Responden Persentasi (%)

1 < 1 Juta 0 0,0

2 1 s/d 2 Juta 5 12,5

3 2,1-3 Juta 15 37,5

4 3,1-4 Juta 14 35,0

5 >4 juta 6 15,0

Jumlah 40 100,0

Sumber : Pengolahan Data Primer 2019

Berdasarkan data pada tabel 28, menunjukkan bahwa hasil sebaran pendapatan lebih didominasi oleh petani yang memiliki pendapatan 2,1-3 juta dengan frekuensi 15 responden atau setara 37,5 % dari jumlah responden. Melihat kenyataan tersebut pendapatan responden tergolong baik karena tidak ada responden yang memiliki pendapatam dibawah 1 juta. Oleh sebab itu, hal ini memotivasi petani dalam menggunakan bibit unggul kelapa sawit.

C. Pembahasan

1. Analisis Tingkat Motivasi Petani Dalam Menggunakan Bibit Unggul