• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang Tanggap Darurat Bidang Evaluasi Bidang Pengawasan Bidang Penelitian Bidang Pelatihan Bidang Kesehatan

g. Mengelola seluruh produksi yang dikirim dari kebun sesuai dengan kapasitas optimal pabrik dan menghasilkan produk yang berkualitas sesuai standart yang akan ditetapkan

h. Menjaga pabrik tetap pada kondisi yang baik untuk menjamin kelancaran pengolahan produksi.

i. Menyetujui bukti pengeluaran kas, menyetujui atau menolak memo permintaan barang serta menyusun dan menandatangani serah terima

2. Kepala Tata Usaha (KTU)

KTU mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut :

a. Bertanggung jawab kepada manajer dan kantor direksi serta mengkoordinasi seluruh kegiatan administrasi perkantoran secara akurat dan up to date. b. Bersana dinas/bagian lain menyusun kerja tahunan jangka pendek c. Pengawasan dan evaluasi pelaksanaan rencana kerja

d. Pengendalian sumber dana dan penggunaan dana

e. Menyimpan uang kas dan surat-surat berharga milik perusahaan f. Melakukan inspeksi ke unit lingkup parik

g. Menganalisa dan memberikan tindakan perbaikan hasil kerja bidang administrasi

h. Pengawasan dan pengendalian terhadap persediaan barang dan penggunaan terhadap asset perusahaan

i. Melaksanakan standart biaya dan fisik dan membuat laporan kegiatan pabrik serta melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh manajer/ koordinator/direksi

3. Kepala Laboratorium (bidang evaluasi dan penelitian)

a. Bertanggung jawab kepada manajer dan kantor direksi dan membuat rencana jangka pendek tentang operasional laboratorium serta membuat program perawatan alat-alat laboratorium dan unit pengolahan.

b. Melaksanakan analisa control terhadap hasil kerja pengolahan peralatan dan memeriksa serta menawasi metode pelaksanaan dan peralatan analisa.

c. Pengawasan terhadap bahan-bahan pembantu kimia dan pengendalian biaya laboratorium.

d. Membuat laporan sebagai informasi bagi dinas pengolahan dan data serta bagian yang terkait dan membuat laporan kepada manajer pabrik serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh KDT/Manajer/Direksi. 4. Kepala Dinas Teknik (bidang pengawasan dan pelatihan)

a. Bertanggung jawab kepada manajer dan membantu manajer / Koordinator PGKM melaksanakan tugas dan kebijaksanaan (Policy) yang telah digariskan oleh perusahaan.

b. Melaksanakan perancanaan, pengorganisasian, pengendalian, dan pengawasan di pabrik untuk menunjang pencapaian sasaran yang ditetapkan oleh manajer.

c. Menyediakan data dan informasi yang akurat dan up to date untuk kepentingan manajer dan mentaati semua peraturan perusahaan (sistem informasi dan produk baku).

5. Kepala Dinas Pengolahan

a. Bertanggung jawab kepada manajer dan membuat rencana kerja jangka pendek dan menengah untuk pemeliharaan dan pengoperasian mesin pengolahan.

b. Mengendalikan biaya operasional agar kegiatan berjalan efektif dan efisien, memantau, mengevaluasi dan membuat tindakan perbaikan terhadap penyimpangan operasional.

c. Memberikan usul dan saran perbaikan kepada manajer/koordinasi pebrik yang dapat meningkatkan kinerja pabrik dan mengadakan koordinasi dengan pihak di luar perusahaan seizing manajer operasional/KP.

d. Menilai komoditi, karyawan, pimpinan dan mengsulkan mutasi, demosi dan promosi.

4.1.4. Pelatihan dan Aktivitas Manajerial di Perusahaan

Pelatihan yang dilaksanakan Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu dilihat dari beberapa aspek, yaitu meliputi :

1. Peserta

Peserta yang ikut dalam pelatihan adalah seluruh pegawai yang bekerja dibagian Pabrik Gula pada PT. Perkebunan Nusantara II , Kwala Madu Stabat.

2. Pelatih

Pelatih atau instruktur yang digunakan yakni pelatih campuran, maksudnya adalah PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat menggunakan pelatih dari dalam perusahaan seperti pegawai senior atau yang sudah lebih berpengalaman untuk memberikan pengarahan bagi pegawai junior atau yang belum lama bekerja. Sedangkan pelatih dari luar adalah pelatih yang dikirim dari Departemen Tenaga Kerja serta pihak Jamsostek untuk melaksanakan pelatihan langsung ditempat kerja.

3. Materi Pelatihan

Beberapa materi pelatihan yang diberikan pada pelaksanaan pelatihan di PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu diantaranya yaitu:

a. Pelatihan penggunaan alat-alat keselamatan kerja sekaligus memberi pengawasan dalam cara dan ketertiban penggunannya seperti penggunaan sepatu boot, penutup kepala, pentup wajah (masker), dan sarung tangan. b. Pelatihan tata cara penggunaan mesin yang benar agar tidak terjadi

kecelakaan kerja seperti menyemburnya nira panas ke wajah atau ke anggota tubuh lain pegawai yang sedang melakukan pengolahan atau pengawasan mesin.

c. Pemberian pengarahan tentang pentingnya penggunaan alat-alat keselamatan kerja dan alat-alat kerja yang baik dan benar, memperhatikan lingkungan sekitar dengan teliti untuk mengetahui keadaan ketika sedang bekerja, dan perlunya komunikasi yang baik antar pegawai pada saat bekerja.

d. Pelatihan kepemimpinan bagi pegawai yang ingin naik ke jabatan yang lebih tinggi, misalnya ketika seorang pegawai ingin menjadi Kepala Bagian Pengolahan maka ia harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan perusahaan sekaligus mengikuti pelatihan kepemimpinan sebagai bukti bahwa ia memang sudah terlatih untuk mampu memimpin bawahannya.

Dalam menyampaikan materi pelatihan PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat menggunakan metode pelatihan berupa On the job training yakni melakukan pelatihan pada saat pekerjaan berlangsung, hal ini dilakukan agar pegawai lebih mengerti pada saat pelaksanaan pelatihan telah

selesai dilaksanakan karena kondisi pelatihan yang sesuai dengan kondisi pekerjaan sebenarnya. Langkah yang dilakukan PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat dalam metode On the job training di antaranya :

a) Job Instruction Training

Seorang instruktur yang disediakan pihak Departemen Tenaga Kerja ataupun Jamsostek untuk melatih langsung pada saat pegawai bekerja. b) Apprentieschip

Pegawai yang lebih berpengalaman memberikan pengarahan dan pengawasan pada pegawai yang belum berpengalaman pada saat jam kerja berlangsung.

4. Fasilitas

Departemen Tenaga Kerja melakukan pengawasan ke PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat dalam hal ketersediaan alat-alat keamanan dan keselamatan kerja dan penggunaan alat-alat kerja, apabila terdapat kekurangan dan masih ada tingkat kecelakaan kerja yang tinggi maka Departemen Tenaga Kerja akan memberikan fasilitas tambahan seperti : masker, sepatu boot, sarung tangan, dan penutup kepala. Selain itu Departemen Tenaga Kerja akan menyediakan pelatih atau instruktur agar diadakan pelatihan sesuai dengan kebutuhan pegawai di perusahaan.

Selain itu pimpinan PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat juga melaksanakan aktivitas manajerial sebagai bentuk kegiatan pelaksanaan pemimpin disuatu perusahaan, beberapa kegiatan pimpinan pada PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat adalah :

1. Mengendalikan proses pengolahan di pabrik seperti memberikan izin dimulainya proses pengolahan pada saat musim panen tebu telah tiba.

2. Mengetahui jumlah optimal yang diterima dari kebun menuju pabrik sebagai bentuk jumlah masukan bahan-bahan baku yang diperlukan oleh perusahaan untuk kemudian diolah dan menghasilkan output.

3. Melakukan rapat atau pertemuan dengan setiap karyawan pada saat perusahaan memerlukan pengambilan keputusan bersama.

4. Menyampaikan informasi baik secara formal maupun informal yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan pada setiap karyawan dan pegawai pabrik.

5. Memberikan perintah dan pengendalian hal-hal lain yang berkaitan dengan proses kerja agar tidak terjadi kendala pada saat proses tersebut berlangsung.

4.2 Hasil Penelitian 4.2.1 Teknik Analisis Data 4.2.1.1 Analisis Deskriptif

A. Deskriptif Responden

Analisis deskriptif merupakan cara merumuskan dan menafsirkan data yang ada sehingga memberikan gambaran yang jelas tentang data yang diteliti. Jumlah responden penelitian sebanyak 58 orang. Jumlah pernyataan yang diberikan untuk variabel X1 (Pelatihan) sebanyak 13 pernyataan, X2 (Aktivitas Manajerial) sebanyak 5 pernyataan dan variabel Y (Kinerja Pegawai) sebanyak 3 pernyataan.

1) Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Tabel 4.2.

Sumber : Hasil Penelitian (2013)

Dari tabel 4.2. terlihat bahwa jumlah tenaga kerja pada PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu seluruhnya adalah laki-laki. Berdasarkan rentang usia, terlihat bahwa jumlah terbesar adalah pada rentang usia 37-41 tahun yakni berjumlah sebesar 24 orang (42%), sedangkan pada rentang usia 32-36 dan 42-46 berjumlah sama yakni 17 orang (29%). Hal ini menunjukkan bahwa PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat banyak mempekerjakan pegawai pada rentang usia 37-41 tahun dan seluruhnya adalah laki-laki dikarenakan jenis pekerjaan yang menuntut tenaga lebih besar dibagian pabrik sehingga lebih pantas jika mempekerjakan tenaga kerja laki-laki, banyaknya pegawai pada rentang usia 37-41 tahun karena pada rentang usia ini pegawai banyak yang masih aktif bekerja dan banyak yang telah bepengalaman dalam bekerja.

usia * gender Crosstabulation Count Gender Persen (%) Total Laki-laki usia 32-36 17 29 17 37-41 24 42 24 42-46 17 29 17 Total 58 100 58

2) Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan

Tabel 4.3.

gender*jabatan Crosstabulation

Jabatan Gender Persen

(%) Total Laki-laki Pengolahan 13 23 13 Teknik Mesin 7 12 7 Laboraturium 10 17 10 Tanaman 17 29 17 Limbah 11 19 11 Total 58 100 58

Sumber : Hasil Penelitian (2013)

Tabel 4.3. menjelaskan bahwa tenaga kerja yang terbanyak terdapat pada jabatan pegawai bagian tanaman yakni berjumlah 17 Orang (29%), sementara itu pada bagian pengolahan berjumlah 13 orang (23%), bagian teknik mesin 7 orang (12%), bagian laboraturium 10 orang (17%), dan bagian limbah 11 orang (19%). Hal ini menunjukkan bahwa PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat banyak menggunakan pegawai di bagian tanaman hal ini dikarenakan pada bagian tanaman perlu perhatian khusus terutama dalam pengecekan kualitas tanaman yang akan digunakan sebagai bahan input awal yang akan mempengaruhi hasil produk gula dari pabrik, sehingga pengecekan awal bagian tanaman lebih difokuskan agar tidak menjadikan seluruh proses yang telah dilewati menjadi sia-sia saja.

3) Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Kerja Tabel 4.4.

Jabatan * Lamakerja Crosstabulation Lama Kerja Jumlah Persen (%)

3 tahun 9 orang 15,6 4 tahun 10 orang 17,2 5 tahun 8 orang 13,8 6 tahun 10 orang 17,2 7 tahun 11 orang 19 8 tahun 10 orang 17,2 Total 58 orang 100 Sumber : Hasil Penelitian ( 2013)

Tabel 4.4. menjelaskan bahwa jumlah pegawai terbanyak dengan jangka waktu bekerja selama 7 tahun yakni 11 orang (19%), sementara itu pegawai dengan jangka waktu bekerja 3 tahun sebanyak 9 orang (15,6%), 4 tahun, 6 tahun dan 8 tahun berjumlah sama yakni sebanyak 10 orang (17,2%), dan jangka waktu bekerja 5 tahun sebanyak 8 orang (13,8%). Hal ini menunjukkan bahwa pegawai PT. Perkebunan Nusantara II Pabrik Gula Kwala Madu Stabat memiliki pegawai terbanyak yang telah bekerja selama 7 tahun bagi perusahaan.

B.. Deskriptif Kuesioner

Analisis ini bertujuan untuk melihat persentase responden dalam memilih kategori tertentu.

1) Variabel Pelatihan

Tabel 4.5.

Pendapat Responden terhadap Variabel Pelatihan (X1 Pernyataan ) SS S KS TS STS F % F % F % F % F % Meningkatkan kemampuan kerja 8 13,8 17 29,3 15 25,9 14 24,1 4 6,9 Menarik minat dan

semangat kerja 11 19,0 16 27,6 14 24,1 11 19,0 6 10,3 Memberikan motivasi kerja 7 12,1 24 41,4 13 22,4 11 19,0 3 5,2 Instruktur menguasai

materi dengan baik

4 6,9 19 32,8 20 34,5 9 15,5 6 10,3 Instruktur mampu menyajikan materi dengan baik 4 6,9 15 25,9 18 31,0 17 29,3 4 6,9 Instruktur menjalin komunikasi yang baik

4 6,9 14 24,1 21 36,2 12 20,7 7 12,1 Mampu menarik minat

untuk mengikuti pelatihan

3 5,2 18 31,0 15 25,9 15 25,9 7 12,1

Materi bermanfaat bagi pekerjaan

6 10,3 20 34,5 18 31,0 11 19,0 3 5,2 Materi sesuai kebutuhan

kerja

5 8,6 14 24,1 24 41,4 11 19,0 4 6,9 Materi telah tepat

sasaran dengan pekerjaan

4 6,9 14 24,1 21 36,2 12 20,7 7 12,1

Fasilitas telah lengkap untuk pelatihan

4 6,9 19 32,8 13 22,4 15 25,9 7 12,1 Tempat pelaksanaan

telah sesuai

2 3,4 15 25,9 19 32,8 15 25,9 7 12,1 Alat peraga yang

tersedia mendukung aplikasi pelatihan

8 13,8 17 29,3 15 25,9 14 24,1 4 6,9

Berdasarkan Tabel 4.5. dapat diketahui :

1. Untuk pernyataan 1 (pelatihan yang diberikan meningkatkan kemampuan pegawai) 8 orang responden (13,8%) menyatakan sangat setuju, 17 responden (29,3%) menyatakan setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan kurang setuju, 14 responden (24,1%) menyatakan tidak setuju, dan 4 responden (6,9%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 17 responden (29,3%) yang menyatakan setuju, maka hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap pelatihan yang diberikan memang dapat meningkatkan kemampuan pegawai dalam bekerja sehingga mempengaruhi kinerja menjadi lebih baik. Sedangkan beberapa responden merasa bahwa pelatihan masih dianggap belum mampu meningkatkan kemampuan beberapa pegawai karena setelah mengikuti pelatihan beberapa pegawai masih belum merasa adanya kemampuan kerja yang meningkat.

2. Untuk pernyataan 2 (pelatihan mampu menarik minat dan semangat pegawai) 11 responden (19,0 %) menyatakan sangat setuju, 16 responden (27,6%) menyatakan setuju, 14 responden (24,1 %) menyatakan kurang setuju, 11 responden (19,0%) menyatakan tidak setuju, dan 6 responden (10,3%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 16 responden (27,6%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap pelatihan yang diberikan mampu menarik minat dan semangat pegawai untuk bekerja karena bertambahnya pengetahuan khususnya mengenai penggunaan alat-alat keselamatan kerja serta alat kerja lainnya. Sementara itu sebagian responden merasa bahwa pelatihan tidak mampu menarik minat dan semangatnya dalam mengikuti pelatihan karena pelatihan yang dilaksanakan kurang bervariasai dalam hal metode penyampaian materi.

3. Untuk pernyataan 3 (pelatihan memberikan motivasi kepada pegawai) 7 responden (12,1%) menyatakan sangat setuju, 24 responden (41,4%) menyatakan setuju, 13 responden (22,4%) menyatakan kurang setuju, 11 responden (19,0%) menyatakan tidak setuju, dan 3 responden (5,2%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 24 responden (41,4%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap pelatihan mampu memberikan motivasi pegawai dalam bekerja. Sedangkan beberapa responden masih menganggap pelatihan tidak memberikan motivasi pegawai dalam bekerja karena kurangnya dorongan yang mereka dapat dari instruktur untuk menerapkan secara serius materi pelatihan yang diberikan.

4. Untuk pernyataan 4 (instruktur menguasai materi pelatihan) 4 responden (6,9%) menyatakan sangat setuju, 19 responden (32,8%) menyatakan setuju, 20 responden (34,5%) menyatakan kurang setuju, 9 responden (15,5%) menyatakan tidak setuju, dan 6 responden (10,3%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 20 responden (34,5%) menyatakan kurang setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap instruktur tidak menguasai materi yang disampaikan pada saat pelatihan karena masih terdapat kendala setelah pelatihan dilaksanakan. Sementara itu beberapa responden menganggap bahwa instruktur telah menguasai mataeri pelatihan yang disampaikan karena setelah pelatihan dilaksanakan mereka merasa lebih memehami hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan.

5. Untuk pernyataan 5 (instruktur pelatihan mampu menyajikan materi pelatihan dengan baik) 4 responden (6,9%) menyatakan sangat setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan setuju, 18 responden (31,0%) menyatakan kurang setuju, 17 responden (29,3%) menyatakan tidak setuju, dan 4 responden (6,9%) menyatakan sangat tidak

setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 18 responden (31,0%) menyatakan kurang setuju, hal ini menunjukkan sebagian besar responden menganggap instruktur masih memiliki kekurangan dalam hal cara penyajian materi pelatihan karena instruktur terlihat canggung pada saat menyajikan materi. Sedangkan beberapa responden menganggap instruktur telah menyajikan materi dengan baik karena mereka merasa memahami dan menyukai cara instruktur dalam menyajikan materi.

6. Untuk pernyataan 6 (instruktur menjalin komunikasi dengan pihak peserta) 4 responden (6,9%) menyatakan sangat setuju, 14 responden (24,1%) menyatakan setuju, 21 responden (36,2%) menyatakan kurang setuju, 12 responden (20,7%) menyatakan tidak setuju, dan 7 responden (12,1%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 21 responden (36,2%) yang menyatakan kurang setuju, hal ini menunjukkan sebagian besar responden menganggap bahwa instruktur masih belum begitu baik dalam hal menjalin komunikasi dengan peserta pelatihan karena instruktur hanya melakukan interaksi disaat yang diperlukan saja. Sementara itu beberapa responden menganggap instruktur telah menjalin komunikasi yang baik dengan setiap peserta pelatihan karena mereka juga berkomunikasi dengan instruktur diluar pelatihan.

7. Untuk pernyataan 7 (instruktur mampu menarik minat peserta pelatihan) 3 responden (5,2 %) menyatakan sangat setuju, 18 responden (31,0%) menyatakan setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan kurang setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan tidak setuju, dan 7 responden (12,1%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 18 responden (31,0%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa bahwa instruktur memiliki cara yang baik dalam menarik minat beberapa peserta untuk

mengikuti pelatihan karena instruktur yang mampu membuat suasana pelatihan tidak membosankan. Sementara itu beberapa responden lain menganggap instruktur pelatihan tidak memiliki cara yang menarik minat beberapa pegawai untuk mengikuti pelatihan karena merasa instruktur masih terlihat kaku saat melatih.

8. Untuk pernyataan 8 (materi yang diberikan bermanfaat bagi pekerjaan) 6 responden (10,3%) menyatakan sangat setuju, 20 responden (34,5%) menyatakan setuju, 18 responden (31,0%) menyatakan kurang setuju, 11 responden (19,0%) menyatakan tidak setuju, dan 3 responden (5,2%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 20 responden (34,5%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan sebagian besar responden menganggap bahwa materi yang diberikan bermanfaat bagi pekerjaan pegawai karena mampu menurunkan tingkat kecelakaan kerja pegawai. Sementara itu beberapa responden menganggap bahwa materi yang diberikan masih belum bermanfaat bagi pekerjaan, karena walaupun jumlah kecelakaan kerja berkurang namun hal tersebut masih tetap terjadi. 9. Untuk pernyataan 9 (materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan) 5

responden (8,6%) menyatakan sangat setuju, 14 responden (24,1%) menyatakan setuju, 24 responden (41,4%) menyatakan kurang setuju, 11 responden (19,0%) menyatakan tidak setuju, dan 4 responden (6,9%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 24 responden (41,4%) yang menyatakan kurang setuju, hal ini menunjukkan sebagian besar responden merasa bahwa peserta masih memerlukan materi lain yang dibutuhkan bagi pekerjaan meskipun materi yang telah disampaikan memang sudah sesuai dengan kebutuhan pekerjaan sekarang karena hal yang berkaitan dengan pekerjaan bukanlah hanya kecelakaan kerja saja tetapi juga kedisplinan, kepemimpinan, dan beberapa hal lain.

Sementara itu beberapa responden menganggap bahwa kebutuhan pekerjaan mereka telah terpenuhi dengan materi yang disampaikan dalam pelatihan.

10. Untuk pernyataan 10 (materi yang diberikan tepat sasaran dengan pekerjaan pegawai) 4 responden (6,9%) menyatakan sangat setuju, 14 responden (24,1%) menyatakan setuju, 21 responden (36,2%) menyatakan kurang setuju, 12 responden (20,7%) menyatakan tidak setuju, dan 7 responden (12,1%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 21 responden (36,2%) yang menyatakan kurang setuju, hal ini menunujukkan bahwa sebagian besar responden menganggap bahwa sasaran pada hal-hal lain dalam pekerjaan belum tercapai karena materi pelatihan belum mencakup sasaran pekerjaan seluruhnya. Sementara itu beberapa responden menganggap bahwa materi pelatihan telah mencapain sasaran keseluruhan dari pekerjaan khususnya penggunaan alat-alat keselamatan kerja. 11. Untuk pernyataan 11 (fasilitas pelatihan melengkapi kegiatan pelatihan) 4 responden

(6,9%) menyatakan sangat setuju, 19 responden (32,8%) menyatakan setuju, 13 responden (22,4%) menyatakan kurang setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan tidak setuju dan 7 responden (12,1%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 15 responden (25,9%) yang menyatakan tidak setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap ketersediaan alat-alat keselamatan kerja tidak terpenuhi secara keseluruhan karena masih terjadi kecelakaan kerja. Sementara itu beberapa responden merasa fasilitas telah terlengkapi karena memang alat-alat keselamatan kerja yang dibutuhkan telah disediakan oleh pihak Departemen Tenaga Kerja.

12. Untuk pernyataan 12 (tempat pelaksanaan pelatihan mendukung bagi pegawai) 2 reponden (3,4%) menyatakan sangat setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan setuju, 19 responden (32,8%) menyatakan kurang setuju, 15 responden (25,9%)

menyatakan tidak setuju dan 7 responden (12,1%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 19 responden (32,8%) yang menyatakan kurang setuju, hal ini menunjukkan sebagian besar responden merasa meskipun tempat pelatihan yang berada langsung ditempat kerja sudah memadai untuk pelatihan mereka merasa perlu melakukan pelatihan di luar tempat kerja agar menambah pengalaman mereka dalam pelatihan. Sementara itu beberapa responden merasa tempat pelatihan yang berada langsung di tempat kerja memang mendukung bagi pekerjaan meraka selanjutnya setelah mengikuti pelatihan.

13. Untuk pernyataan 13 (ketersediaan alat peraga dalam mengaplikasikan materi pelatihan) 8 responden (13,8%) menyatakan sangat setuju, 17 responden (29,3%) menyatakan setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan kurang setuju, 14 responden (24,1%) menyatakan tidak setuju, dan 4 responden (6,9%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 17 responden (29,3%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan sebagian besar responden menganggap bahwa ketersediaan alat peraga telah mencukupi dalam pengaplikasian materi yang disampaikan. Sementara itu beberapa responden menganggap alat peraga masih perlu ditambah agar pengaplikasian materi lebih jelas.

2) Variabel Aktivitas Manajerial

Tabel 4.6.

Pendapat Responden terhadap Variabel Aktivitas Manajerial (X2

Sumber : Hasil Penelitian (2013)

)

Berdasarkan tabel 4.6. dapat diketahui :

1. Untuk pernyataan 1 (pimpinan perusahaan membuat perencanaan yang baik bagi perusahaan) 15 responden (25,9%) menyatakan sangat setuju, 18 responden (31,0%) menyatakan setuju, 14 responden (24,1%) menyatakan kurang setuju, 10 responden (17,2%) menyatakan tidak setuju, dan 1 responden (1,7%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 18 responden (31,0) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap pimpinan membuat perencanaan yang baik bagi setiap kegiatan perusahaan dari hari ke hari karena perusahaan beberapa kali telah mencapai sasaran yang menjadi target perusahaan. Sementara itu beberapa responden merasa perencanaan yang dibuat oleh pimpinan masih terdapat kekurangan karena tidak adanya perubahan yang signifikan bagi kondisi perusahaan.

Pernyataan SS S KS TS STS

F % F % F % F % F %

Membuat

perencanaan yang baik bagi perusahaan

15 25,9 18 31,0 14 24,1 10 17,2 1 1,7 Menjalin komunikasi dengan setiap pekerja 6 10,3 24 41,4 14 24,1 11 19,0 3 5,2 Pembinaan yang baik bagi setiap kegiatan

3 5,2 18 31,0 16 27,6 15 25,9 6 10,3

Memberikan perintah dan arahan yang efektif 5 8,6 16 27,6 16 27,6 16 27,6 5 8,6 Melakukan pengawasan dalam setiap pekerjaan 4 6,9 19 32,8 12 20,7 15 25,9 8 13,8

2. Untuk pernyataan 2 (pimpinan perusahaan menjalin komunikasi kepada setiap pekerja) 6 responden (10,3%) menyatakan sangat setuju, 24 responden (41,4%) menyatakan setuju, 14 responden (24,1%) menyatakan kurang setuju, 11 responden (19,0%) menyatakan tidak setuju, dan 3 responden (5,2%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 24 responden (41,4%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menganggap pimpinan menjalin komunikasi yang baik dengan pegawai baik secara formal maupun informal karena mereka juga berkomunikasi dengan pimpinan diluar lingkungan dan jam kerja. Sementara itu beberapa responden merasa pimpinan tidak menjalin komunikasi yang baik dengan setiap pekerja karena masih ada jalinan komunikasi yang kaku antara pimpinan dengan pegawai.

3. Untuk pernyataan 3 (pimpinan perusahaan melakukan pembinaan dalam setiap kegiatan perusahaan) 3 responden (5,2%) menyatakan sangat setuju, 18 responden (31,0%) menyatakan setuju, 16 responden (27,6%) menyatakan kurang setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan tidak setuju, dan 6 responden (10,3%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 18 responden (31,0%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan sebagian besar responden menganggap bahwa pimpinan melakukan pembinaan dalam setiap kegiatan seperti pengadaan pelatihan yang berada dibawah pengawasan manajer perusahaan. Sementara itu beberapa responden merasa bahwa belum merasakan pembinaan yang dilakukan oleh pimpinan dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan perusahaan karena pimpinan tidak melakukan pembinaan secara langsung tetapi melalui beberapa anggota yang telah ditugaskan.

4. Untuk pernyataan 4 (pimpinan perusahaan memberikan perintah atau arahan kepada setiap pekerja dengan efektif) 5 responden (8,6%) menyatakan sangat setuju, 16

responden (27,6%) menyatakan setuju, 16 responden (27,6%) menyatakan kurang setuju, 16 responden (27,6%) menyatakan tidak setuju, dan 5 responden (8,6%) menyatakan sangat tidak setuju. Terdapat jumlah yang sama untuk responden yang menjawab setuju, kurang setuju, dan tidak setuju yakni sebesar 16 responden (27,6%), hal ini menunjukkan bahwa terdapat keseimbangan jumlah responden yang menganggap perintah dan arahan yang diberikan pimpinan telah efektif bagi pekerjaan mereka karena pengarahan yang baik dari pimpinan dengan jumlah responden yang menganggap bahwa pimpinan tidak memberikan perintah dan arahan yang efektif karena pimpinan yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawabnya.

5. Untuk pernyataan 5 (pimpinan perusahaan melakukan pengawasan dalam setiap pelaksanaan kegiatan para pekerja di perusahaan 4 responden (6,9%) ) menyatakan sangat setuju, 19 responden (32,8%) menyatakan setuju, 12 responden (20,7%) menyatakan kurang setuju, 15 responden (25,9%) menyatakan tidak setuju, dan 8 responden (13,8%) menyatakan sangat tidak setuju. Responden dengan jumlah tertinggi terletak pada 19 responden (32,8%) yang menyatakan setuju, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden merasa pimpinan telah melakukan pengawasan yang baik bagi pelaksanaan kegiatan kerja pegawai karena pimpinan telah melakukan pengawasan pelaksanaan kerja pegawai. Sementara itu beberapa responden menganggap bahwa pimpinan masih kurang dalam melakukan pengawasan karena tidak langsung turun ke lapangan melakukan ppengawasan pada saat kegiatan kerja berlangsung.

3) Variabel Kinerja Pegawai

Tabel 4.7.

Pendapat Responden terhadap Variabel Kinerja Pegawai (Y)

Sumber : Hasil Penelitian (2013)

Berdasarkan tabel 4.7. dapat diketahui :

1. Untuk pernyataan 1 (pegawai mampu menghasilkan produksi sesuai dengan standar kualitas (mutu) dari perusahaan) 15 responden (25,9%) menyatakan sangat setuju, 21

Dokumen terkait