VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1. Karakteristik Responden
6.1.3. Pendidikan Responden
Pendidikan merupakan faktor penting terhadap kemampuan dalam
pengambilan keputusan pada usahatani karena dengan pendidikan yang dimiliki
petani akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, cara berpikir dan keterampilan
petani. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin cepat menerapkan
inovasi baru, sebaliknya semakin rendah tingkat pendidikan petani maka semakin
lambat petani tersebut dalam menerima dan menerapkan inovasi baru karena
pemikiran mereka masih berdasarkan pengalaman saja. Untuk mengetahui tingkat
pendidikan petani tebu tersebut, dapat dilihat pada tabel berikut:
Status Lahan Petani TRKSU Petani TRM
Jumlah (Jiwa) Persen (%) Jumlah (Jiwa) Persen (%)
Sakap - - - -
Sewa 14 93,33 10 88,89
Beli 1 6,67 5 11,11
Tabel 7. Tingkat Pendidikan Responden
Sumber: Data Primer diolah
Berdasarkan tabel 7 di atas dapat dilihat tingkat pendidikan petani
TRKSU (Tebu Rakyat Kerjasama Usahatani) sebanyak 9 orang dengan
prosentase sebesar 60% adalah Sarjana, sedangkan untuk petani TRM (Tebu
Rakyat Mandiri) terbanyak 9 orang dengan prosentase 60% adalah Sarjana. Data
ini menandakan tingginya tingkat kesadaran masyarakat (petani) dalam
pendidikan mengingat bahwa pendidikan sangat berpengaruh pada penerapan
teknologi baru di dalam pengembangan usahatani budidaya tanaman tebu
tersebut. Dengan pendidikan maka tingkat kemampuan dan keterampilan dalam
mengelola usahatani tanaman tebu dapat meningkat ke arah yang lebih baik. Hal
ini juga menunjukkan bahwa dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan
membantu petani tanaman tebu dalam upaya untuk meningkatkan produksi dan
pendapatan petani. Penyuluhan-penyuluhan pertanian yang dilakukan secara
intensif dan semakin luasnya sarana komunikasi, akan semakin menambah
pengetahuan dan keterampilan petani dalam berusahatani tanaman tebu, sehingga
mereka dapat meningkatkan produksi dan pendapatan yang lebih baik dari
sebelumnya, sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Tingkat
Pendidikan
Petani TRKSU Petani TRM
Jumlah (Jiwa) Persen (%) Jumlah (Jiwa) Persen (%)
SD - 0 - 0
SMP 1 7 - 0
SMA 5 33 6 40
Sarjana 9 60 9 60
Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan dari
petani yang bermitra dengan PG adalah petani yang memiliki tingkat pendidikan
yang tinggi yaitu sarjana. Tingginya tingkat pendidikan yang pernah ditempuh
para petani dapat mempengaruhi produktivitas usahatani dan produksi gula.
Kebanyakan dari petani yang bergelar sarjana ini, melihat peluang yang
cukup besar dalam menjalankan usahatani tebu. Sehingga mereka tergerak untuk
berusahatani tebu. Adapun untuk mengetahui cara-cara dalam pembudidayaan
tebu ini sebagian dari mereka mengetahui dari pendidikan formal yang mereka
tempuh dan sebagian lainnya mendapatkan ilmu secara otodidak dari generasi
keluarga sebelumnya ataupun dari pembinaan yang dilakukan oleh pihak PG.
6.2. Prosedur Pelaksanaan Pola Kemitraan Antara Petani dan PG. Candi Baru-Sidoarjo
Pelaksanaan kemitraan antara PG. Candi Baru dengan petani dilaksanakan
dengan adanya rasa kepercayaan dan kekeluargaan antara kedua belah pihak yakni
PG. Candi Baru dan petani tebu mitra. Sehingga hubungan antara kedua belah
pihak terbina dengan baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam hubungan kemitraan antara
petani anggota TRKSU (Tebu Rakyat Kerjasama Usahatani) dan TRM (Tebu
Rakyat Mandiri) dengan PG Candi Baru Sidoarjo terdapat perbedaan hak dan
kewajiban petani anggota TRKSU dan TRM. Hak petani meliputi paket kredit,
pembagian hasil, serta bimbingan dan pengawasan. Sedangkan kewajiban petani
meliputi pengelolaan usahatani, penyerahan hasil, pengembalian kredit, dan
anggota TRKSU (Tebu Rakyat Kerjasama Usahatani) dan TRM (Tebu Rakyat
Mandiri) tersebut disajikan pada Tabel 8.
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui bahwa dalam prosedur pelaksanaan
kemitraan, pihak PG. Candi Baru dan petani tebu memiliki hak dan kewajiban
yang harus dipelajari, dipahami, dipatuhi dan dijalankan oleh kedua belah pihak.
Tabel 8. Hak dan Kewajiban Petani Anggota TRKSU dan TRM Petani Anggota TRKSU Petani Anggota TRM Hak Petani:
1. Mendapatkan paket kredit
melalui PG Candi Baru sesuai luas garapan yang telah disetujui.
2. Memperoleh 66% gula hasil
tebu yang diolah dan tetes 50% 3. Memperoleh bimbingan dan
pengarahan dari PG Candi Baru dlm berusahatani tebu
4. Mendapatkan jaminan
pengelolahan seluruh hasil panen oleh pabrik gula
5. Mengetahui jadwal penebangan, jumlah tebu yang dihasilkan, dan rendemen tebu
Kewajiban Petani:
1. Mengelola usahatani tebu
sebaik-baiknya dan mematuhi bimbingan yang dilakukan oleh PG
2. Menyerahkan semua hasil
usahatani tebunya kepada PG Candi Baru sesuai kesepakatan (kontrak kerja)
3. Mengembalikan bunga kredit 12% per tahun pada saat selesai giling dan membayar biaya tebang angkut
Hak Petani:
1. Tidak berhak mendapatkan paket kredit dalam bentuk apapun.
2. Memperoleh 80% gula hasil tebu yang diolah dan tetes 50 %
3. Memperoleh bimbingan dan
pengarahan dari PG terutama jika ada masalah dalam usahataninya. 4. Tidak berhak mendapat jaminan
apapun dari PG
5. Mengetahui jadwal penebangan, jumlah tebu yang dihasilkan, dan rendemen tebu.
Kewajiban Petani:
1. Mengelola usahatani dengan baik, tidak harus mengikuti bimbingan yang dilakukan oleh PG
2. Menyerahkan semua hasil
usahatani tebunya kepada PG Candi Baru sesuai kesepakatan (kontrak kerja)
3. TRM hanya membayar biaya
tebang angkut setelah selesai giling
Dari Tabel 8 di atas dapat diketahui bahwa antara hak dan kewajiban
petani TRKSU dengan petani TRM berbeda. Perbedaan yang terjadi diantaranya
yaitu pemberian paket kredit oleh PG kepada petani TRKSU. Pemberian kredit ini
yang membedakan antara petani TRKSU dengan petani TRM dilihat dari segi
permodalannya. Sehingga menyebabkan perbedaan pada pembagian hasil giling
yaitu 66% untuk petani TRKSU dan 80% untuk petani TRM. Tidak hanya
persentase bagi hasilnya yang berbeda, biaya produksi TRKSU dengan TRM pun
berbeda. Dapat dilihat pada poin tiga kewajiban petani pada Tabel 8. Petani
TRKSU mendapatkan beban bunga 12% atas pinjaman yang diberikan PG pada
saat pengembalian dana pinjaman sedangkan petani TRM tidak dibebankan bunga
apapun karena modal yang digunakan merupakan swadaya petani itu sendiri.
Pada pelaksanaannya, petani TRKSU lebih diprioritaskan oleh PG
sehingga pada saat pembudidayaan tebu hingga pasca panen, Pabrik Gula
memegang kendali atas lahan yang telah disepakati anatara TRKSU dengan PG.
Hal ini dibuktikan dengan kewajiban petani TRKSU yang wajib melaksanakan
segala bentuk penyuluhan yang diberikan oleh PG dan mengaplikasikan terhadap
lahan yang mereka garap. Pabrik gula menginginkan kepastian hasil yang optimal
dari petani TRKSU agar dapat diperhitungkan dengan matang persentase hasil
tebu yang dapat diperoleh PG untuk memenuhi kapasitas gilingnya (sebesar
25.000 kw per hari). Pihak PG pun memberikan jaminan hasil produksi apabila
terjadi gagal panen yang disebabkan oleh kesalahan dari pihak PG. Sedangkan
pada mitra TRM tidak ada kewajiban untuk menerapkan materi penyuluhan yang
diberi kebebasan sepenuhnya dalam membudidayakan tanaman tebu. Petani TRM
juga tidak mendapatkan fasilitas berupa jaminan hasil produksi seperti yang
diperoleh petani TRKSU. Sehingga pada saat terjadi gagal panen, petani TRM
menanggung kerugian sepenuhnya atas lahan yang mereka garap. Hal-hal tersebut
yang membedakan keunggulan petani TRKSU dengan petani TRM.
Pola kemitraan antara PG. Candi Baru dan petani merupakan suatu
hubungan kerjasama dalam bentuk kontrak kerja. Dalam penyediaan lahan oleh
petani, pihak PG tidak membatasi status kepemilikan lahan tersebut. Akan tetapi
harus memenuhi persyaratan-persyaratan dari pihak PG itu sendiri.
Persyaratan yang ditetapkan oleh PG. Candi Baru pada petani dalam
melaksanakan pola kemitraan MT Tahun 2009/2010 antara lain:
1. Memiliki hak kelola atas lahan yang akan diajukan ke PG.
2. Lahan secara teknis dapat dikelola tebu oleh PG dan tidak dalam sengketa.
3. Masyarakat sekitar tidak keberatan jika lahan ditanami tebu.
4. Pengajuan kontrak dan ditandatangani dengan menggunakan materai.
5. Mendapatkan legalisasi dari kantor/perangkat desa.
6. Mengadakan jaminan agunan.
7. Disahkan oleh notaris.