VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik Responden
Karakteristik responden di Wilayah Desa Situdaun pada penelitian ini dilihat dari beberapa hal diantaranya umur, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, dan jumlah pemakaian air untuk kebutuhan sehari-hari setiap bulannya. Berikut adalah tabel sebaran responeden berdasarkan kelompok masyarakat pengguna Air dengan proyek WSLIC di Desa Situdaun. Jumlah responden ini diharapkan dapat menggambarkan keseluruhan masyarakat pangguna air dengan proyek WSLIC di Desa Situdaun.
Tabel 4. Sebaran Responden Berdasarkan Kelompok Pengguna Air di Desa Situdaun Tahun 2009
Kelompok Pengguna Jumlah Responden (orang) Kelompok 1 (Mampu) 2
Kelompok 2 (Sedang) 35 Kelompok 3 (Kurang Mampu) 22
Total 59 Sumber : Hasil Olahan Data Primer
Berdasarkan klasifikasi kelompok pengguna air, maka dari 59 responden diperoleh responden untuk kelompok pertama sebanyak tiga persen dari keseluruhan responden, 60 persen dari kelompok kedua, dan 37 persen dari kelompok ketiga. Adapun penggolongan masyarakat pengguna air ini dibagi berdasarkan tingkat pendapatan masyarakat tersebut. Seperti yang telah dijelaskan di depan, masyarakat yang dinilai cukup mampu digolongkan dalam kelompok pertama, untuk yang tingkat pendapatannya sedang digolongkan dalam kelompok kedua, dan masyarakat yang kurang mampu digolongkan dalam kelompok ketiga. Penggolongan ini diharapkan dapat menggambarkan kondisi ekonomi pengguna
air yang bertujuan untuk mengidentifikasi masyarakat yang tidak bersedia membayar iuran air meskipun telah ada peningkatan pelayanan dan perbaikan fasilitas penyaluran air ke masyarakat.
Karakteristik responden dapat dilihat dari beberapa variabel yaitu umur, pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat pelayanan BPS dalam mendistribusi air, pengetahuan responden tentang tarif air, jumlah pemakaian air rata-rata setiap bulan, dan kelompok pengguna air dengan proyek WSLIC.
6.1.1 Umur
Responden pengguna air dari proyek WSLIC berkisar antara umur 19 tahun sampai 76 tahun. Umur seseorang dinilai dapat mempengaruhi fungsi biologis dan psikologis individu tersebut. Semakin tua umur responden akan mempengaruhi kemauan dalam pengambilan keputusan. Penyebaran pelanggan menurut umur tercantum pada Tabel 5.
Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa pelanggan yang menjadi responden cenderung dalam umur yang relatif muda. Hal ini ditunjukkan oleh persentase terbesar yaitu 30 persen berkisar antara umur 20 – 29 tahun dan 25 persen berkisar antara 30 – 39 tahun. Sementara generasi yang lebih muda yaitu dibawah 20 tahun hanya sebesar dua persen. Pengguna yang berumur 40 - 49 tahun sebanyak 19 persen, berumur 50 - 59 tahun sebesar 17 persen dan di atas 60 tahun sebesar tujuh persen.
Tabel 5. Sebaran Responden Pengguna Air dengan Proyek WSLIC Menurut Penggolongan Umur Tahun 2009
Kelompok Umur Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) ≤ 19 1 2 20 - 29 18 30 30 - 39 15 25 40 - 49 11 19 50 – 59 10 17 ≥ 60 4 7 Total 59 100
Sumber:Hasil Olahan Data Primer 6.1.2 Tingkat Pendidikan
Menurut tingkat pendidikan, dari 59 orang responden sebagian besar berpendidikan Sekolah Dasar (SD / Sederajat) yaitu sebesar 68 persen, berpendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP / Sederajat) sebesar 13,5 persen, berpendidikan Sekolah lanjutan Tingkat Atas (SLTA / Sederajat) sebesar lima persen dan yang tidak pernah sekolah sebesar 13,5 persen. Penyebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan tercantum pada Tabel 6.
Tabel 6. Sebaran Responden Pengguna Air dengan Proyek WSLIC Menurut Tingkat Pendidikan di Desa Situdaun Tahun 2009
Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) Tidak Bersekolah 8 13.5 SD / Sederajat 40 68 SLTP / Sederajat 8 13.5 SLTA / Sederajat 3 5
Total 59 100
Sumber:Hasil Olahan Data Primer
Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan responden pengguna air dengan proyek WSLIC cenderung rendah. Hal ini dapat dilihat dari
persentase responden yang berpendidikan hanya setingkat SD sebanyak 40 orang dan tidak pernah bersekolah sebanyak delapan orang. Sedangkan yang berpendidikan setingkat SLTP hanya delapan orang, SLTA sebanyak tiga orang dan tidak ada yg melanjut hingga ke tingkat Perguruan tinggi. Masyarakat berpendidikan rendah pada umumnya disebabkan karena alasan terbentur masalah ekonomi sehingga anak-anak pada umumnya lebih diajarkan untuk bertani atau melakukan pekerjaan rumah. Hal ini juga disebabkan karena kurangnya kesadaran orangtua zaman dahulu akan pentingnya pendidikan bagi generasi berikutnya.
Rendahnya tingkat pendidikan ini menjadi gambaran pandangan masyarakat terhadap sumberdaya alam, khususnya dalam hal ini sumberdaya air. Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap air sebagai barang publik dan barang ekonomi. Hal ini terlihat dari nilai WTP yang rela dibayarkan masyarakat sebagai iuran air lebih kecil dari iuran air yang berlaku selama ini. Selanjutnya akan dibahas pada nilai WTP rata-rata masyarakat untuk peningkatan pelayanan BPS dalam mengelola WSLIC.
6.1.3 Tingkat Pendapatan
Menurut tingkat rata-rata pendapatan tiap bulan, kebanyakan responden berpendapatan sebesar Rp. 750.000,00 – Rp. 1.250.000,00 yaitu sebanyak 25 orang (42 persen). Masyarakat yang berpendapatan Rp. 250.000,00 – Rp. 750.000,00 sebanyak 23 orang (39 persen), berpendapatan Rp. 1.250.000,00 – Rp. 1.750.000,00 sebanyak lima orang (sembilan persen) di atas Rp. 1.750.000,00
sebanyak enam orang (10 persen), dan tidak terdapat masyarakat yang tingkat pendapatannya di bawah Rp. 250.000,00. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Sebaran Responden Pengguna Air dengan proyek WSLIC Menurut Tingkat Pendapatan di Desa situdaun Tahun 2009
Tingkat Pendapatan (Rp / bulan) Jumlah responden (Orang) Persentase (%) ≤ 250.000,00 0 0 250.000,00 – 750.000,00 23 39 750.000,00 – 1.250.000,00 25 42 1.250.000,00 – 1.750.000,00 5 9 ≥1.750.000,00 6 10 Total 59 100
Sumber:Hasil Olahan Data Primer 6.1.4 Jumlah Pemakaian Air
Penyebaran responden pengguna air dari proyek WSLIC menurut jumlah pemakaian air dapat dilihat pada Tabel 8. Dalam Tabel 8 disajikan jumlah responden menurut penggunaan air dan jumlah air yang digunakan per bulan dalam satuan m3 per bulan.
Berdasarkan Tabel 8 dapat dilihat bahwa umumnya responden pengguna air dari proyek WSLIC menggunakan air 10-14m3/ bulan yaitu sebesar 49 persen, berikutnya adalah masyarakat yang menggunakan air sebanyak 15-19m3/bulan sebesar 31 persen, 5-9m3/ bulan sebesar 10 persen, sedangkan masyarakat yang menggunakan air lebih dari 20m3 sebesar delapan persen dan antara 0-4m3/bulan sebesar dua persen. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat pengguna air dengan proyek WSLIC pada umumnya menggunakan air WSLIC secara hemat untuk keperluan air rumah tangga sehari-hari dan menggunakan air seperlunya.
Tabel 8. Penyebaran Responden Pengguna Air dengan Proyek WSLIC di Desa Situdaun Menurut Jumlah Pemakaian Air Tahun 2009
Jumlah Pemakaian Air (m3/bulan) Jumlah responden (Orang) Persentase (%) 0 - 4 1 2 5 - 9 6 10 10 - 14 29 49 15 - 19 18 31 > 20 5 8 Total 59 100
Sumber:Hasil Olahan Data Primer
Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel respon adalah bentuk pilihan masyarakat pengguna air dari proyek WSLIC terhadap adanya peningkatan pelayanan BPS dalam mengelola WSLIC yaitu pilihan untuk masyarakat yang bersedia membayar dan untuk masyarakat yang tidak bersedia membayar. Dari 59 responden yang diperoleh terdapat dua orang yang tidak bersedia membayar iuran air meskipun ada peningkatan pelayanan BPS untuk mengelola WSLIC. Masyarakat yang tidak mau membayar iuran air umumnya beralasan bahwa air merupakan barang publik yang bebas tersedia di alam dan tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menggunakannya. Selain itu, proyek WSLIC dianggap merupakan bantuan kepada masyarakat desa sehingga tidak sepatutnya dipungut iuran. Hal ini menunjukkan tingkat pemahaman masyarakat akan pentingnya air dan kelangkaannya masih rendah.
Variabel yang kontinyu dalam penelitian ini adalah umur responden (U), tingkat pendidikan responden (PDDKN), tingkat pendapatan responden (PDPTN), jumlah pemakaian air (JPA), dan kelompok responden (KLPK). Variabel penjelas yang bersifat Dummy yaitu tingkat pelayanan BPS dalam mengelola WSLIC
(PLYN) dan tingkat pengetahuan masyarakat pengguna air dengan proyek WSLIC terhadap penetapan iuran WSLIC (PGTH) yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Penilaian Responden terhadap Tingkat Pelayanan BPS dalam mengelola WSLIC
Pelayanan terhadap kualitas dan tersedianya air sering menjadi masalah yang meresahkan anggota masyarakat pengguna. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa masyarakat pengguna air dengan proyek WSLIC dijelaskan bahwa terdapat sekelompok masyarakat yang tidak mendapatkan air, mendapatkan debit air yang kecil, keruh dan sebagainya sehingga muncul keluhan mengenai distribusi air. Oleh karena itu pihak pengelola (BPS) mencoba mencari cara untuk mengatasi masalah kekurangan air ini dan mengatasi masalah distribusi air dengan memperbaiki dan meninjau kembali pipa yang disalurkan kepada masyarakat.
Tabel 9. Penilaian Masyarakat terhadap Tingkat Pelayanan BPS dalam Mengelola WSLIC di Desa Situdaun Tahun 2009
Tingkat Pelayanan (PLYN) Jumlah Pelanggan (Orang) Persentase (%) Baik 33 56 Tidak baik 26 44 Total 59 100 Sumber:Hasil Olahan Data Primer
Dalam penelitian ini tidak semua responden menyatakan bahwa pelayanan BPS dalam pengelolaan WSLIC baik. Tingkat pelayanan BPS dimasukkan dalam kategori baik jika distribusi air berjalan dengan baik dan merata kepada seluruh masyarakat yang menggunakan air, kualitas air baik (kejernihan dan sanitasi air), dan debit air yang mengalir ke masyarakat dapat mencukupi kebutuhan
masyarakat sehari-hari. Masyarakat yang menyatakan tingkat pelayanan BPS dalam mengelola WSLIC tidak baik adalah masyarakat yang menerima air dalam jumlah sedikit atau bahkan tidak mengalir selama beberapa hari dan masyarakat yang menerima air yang keruh. Terdapat 44 persen yang menyatakan pelayanan BPS dalam mengelola tidak baik. Alasan utama mereka adalah pasokan air yang tidak lancar, jumlah debit air yang mereka peroleh tidak seperti biasanya dan kualitas air yang keruh terlebih jika terjadi hujan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat resah dan mulai menggunakan kembali mata air yang letaknya jauh atau menggunakan sumur. Pemungutan iuran air juga mengalami kendala akibat masalah ini, karena air jarang mengalir masyarakat tidak mau membayar iuran. 2. Pengetahuan Masyarakat terhadap Iuran Air
Pada umumnya masyarakat telah mengatahui iuran dan penetapan iuran air yang dipungut oleh BPS. Namum ada yang tidak mengetahui, setiap waktu pembayaran langsung membayar tagihan tanpa mengatahui berapa tarif yang ditetapkan dan berapa m3 air yang digunakan selama sebulan. Informasi iuran air biasanya disampaikan pada awal mendaftar sebagai pengguna air dengan proyek WSLIC.
Tabel 10. Tingkat Pengetahuan Responden terhadap Iuran Air Tingkat Pengetahuan (PGTH) Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) Tahu 56 95 Tidak Tahu 3 5 Total 59 100
Berdasarkan hasil wawancara responden sebesar lima persen tidak mengetahui iuran yang ditetapkan oleh BPS untuk WSLIC, sedangkan 95 persen mengetahui iuran yang ditetapkan oleh BPS. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah cukup mengetahui tarif air sehingga membantu pihak pengelola dalam pemungutan iuran air dan menghindari kesalahpahaman dari masyarakat menganai iuran air.
6.2 Nilai Willingness to Pay Rata-rata Responden Pengguna Air dengan