• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Hasil Penelitian

1.2 Karakteristik Responden

Deskripsi karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, lama immobilisasi dan suku. Berdasarkan hasil penelitian diketahui

bahwa mayoritas responden adalah dewasa madya yang berusia 41-60 tahun sebanyak 18 orang (60%), berjenis kelamin perempuan sebanyak 19 orang (63,3 %) dengan mayoritas lama immobilisasi sekitar 16-20 hari sebanyak 11 orang (36,7%) dan mayoritas suku adalah suku batak sejumlah 21 orang (70%). Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden di RA4 RSUP Haji Adam Malik Medan dapat diuraikan pada table 5.1 di bawah ini.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Karakteristik Pasien Stroke di RSUP H. Adam Malik Medan

Karakteristik Responden

F %

Usia

18-40 Tahun (Dewasa Dini) 2 6,7

41-60 Tahun (Dewasa Madya) 18 60

>60 Tahun (Dewasa Lanjut) 10 33,3

Jenis kelamin Laki – laki 11 36,7 Perempuan 19 63,3 Lama immobilisasi 6 – 10 hari 10 33,3 11 - 15 hari 4 13,3 16 – 20 hari 11 36,7 21 – 25 hari 2 6,7 26 – 30 hari 3 10 Suku Jawa 6 20 Batak 21 70 Dan lain-lain 3 10 Total 30 100

1.3 Perubahan Fisiologis Sistem Gastrointestinal : Konstipasi pada Pasien Stroke yang Immobilisasi di RSUP H. Adam Malik Medan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien stroke yang immobilisasi mengalami perubahan fisiologis sistem gastrointestinal : konstipasi yaitu mengalami konstipasi berat sebanyak 16 orang (53,3%) diikuti konstipasi sedang sebanyak 10 orang (33,3%) dan konstipasi ringan sebanyak 4 orang (13,3%).

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Perubahan Fisiologis Sistem Gastrointestinal : Konstipasi pada Pasien Stroke yang Immobilisasi di RSUP H. Adam Malik Medan

Kategori Frekuensi (f) Persentasi

(%) Ringan 4 13,3 Sedang 10 33,3 Berat 16 53,3 Total 30 100 2. Pembahasan

Hasil penelitian yang didapat oleh peneliti menunjukkan bahwa perubahan fisiologis sistem gastrointestinal : konstipasi pada pasien stroke yang immobilisasi yaitu mengalami konstipasi berat sebanyak 16 orang (53,3%) diikuti konstipasi sedang 10 orang (33,3%) dan konstipasi ringan sebanyak 4 orang (13,3%). Data penelitian menunjukkan bahwa pasien stroke yang immobilisasi banyak mengalami konstipasi berat, hal ini erat kaitannya karena pasien mengalami keterbatasan gerak fisik (immobilisasi) atau tirah baring yang terus-menerus

dalam waktu yang lama yaitu sekitar 16-20 hari dan tidak melakukan mobilisasi fisik (pergerakan) sehingga mengakibatkan otot melemah, , termasuk otot abdomen, diafragma, dasar pelvik, yang digunakan pada proses defekasi.

Perubahan fisiologis pada pasien stroke yang immobilisasi sangat erat kaitannya dengan gangguan sistem gastrointestinal : konstipasi, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Cardin et al, (2010) yaitu : Konstipasi setelah stroke bervariasi dari 30% sampai 60%. Konstipasi sangat sering dijumpai pada penderita stroke dimana hampir 45% penderita stroke mengalami immobilisasi yang lama.

Pasien stroke yang mengalami konstipasi berat akan mempengaruhi perubahan pada fungsi usus, karakteristik feses dan sensasi anus, kondisi abdomen, penggunakan obat-obatan dan kepuasan saat BAB. Perubahan fungsi usus ditandai dengan frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu, perasaan tidak tuntas saat buang air besar, mengejan saat buang air besar, membutuhkan waktu yang lama saat buang air besar, ingin segera ke toilet karena desakan buang air besar secara tiba-tiba, saat rasa mules muncul feses semakin banyak/semakin sedikit atau tidak ada, rasa tertahan saat ingin buang air besar, kesulitan memulai dan menyelesaikan buang air besar, lebih sering buang angin yang berbau lebih busuk dari pada biasanya dan penurunan bising usus. Hal ini terkait dengan hasil penelitian Tania et al ( 2014), menyimpulkan bahwa prevalensi disfungsi usus sebelum stroke 23,9 % tetapi setelah mengalami stroke disfungsi usus meningkat menjadi 55,21% (p<0,0001). Berdasarkan laporan dari pasien atau pemberi asuhan kemungkinan perkembangan disfungsi usus

meningkat menjadi tujuh kali lipat setelah stroke. Disfungsi yang paling sering sebelum stroke adalah konstipasi intestinal (73,91%) dan sisanya pergerakan usus (17,39%). Setelah stroke, konstipasi tetap menjadi disfungsi yang paling sering (50%), diikuti oleh frekuensi pergerakan usus (26,79%), defekasi tidak tuntas (12,50%) dan kurangnya privasi (5,36%).

Penelitian Chan et al (2005), menyatakan bahwa tanda konstipasi pada pasien stroke yang immobilisasi menurut Receiver Operating Characteristic dengan karakteristik feses dan kondisi anus sesuai dengan penelitian yang terlampir pada kuesioner no.10 – no.16 yaitu feses berbentuk seperti pil atau butir obat, feses yang keras dari pada biasanya, warna feses lebih gelap dari pada biasanya, feses yang keluar lebih sedikit dari pada biasanya, saat buang air besar terasa nyeri pada anus, saat buang air besar terasa terbakar pada anus dan menggunakan alat bantu jari-jari untuk mengeluarkan feses. Penelitian Nazarko (2007) sesuai dengan penelitian yang dilakukan yang menyimpulkan bahwa adanya upaya mengedan saat defekasi adalah suatu tanda yang terkait dengan konstipasi. Apabila motilitas usus halus melambat, masa feses lebih lama terpapar pada dinding usus dan sebagian besar kandungan air dalam feses diabsorpsi dan sejumlah kecil air ditinggalkan untuk melunakkan dan melumasi feses. Pengeluaran feses yang kering dan keras dapat menimbulkan nyeri pada rektum.

Penelitian Song et al (2013), menyatakan bahwa tanda konstipasi pada pasien stroke yang immobilisasi dengan konsisi abdomen sesuai dengan penelitian yang terlampir pada kuesioner no.17-no.25 yaitu nyeri abdomen, distensi abdomen, perut merasa perut tidak nyaman, perut terasa penuh dan begah, perut

terasa nyeri, perut kembung, perut terasa kram, mual dan muntah dan penurunan nafsu makan karena perut terasa begah/penuh. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kondisi abdomen akibat mengalami konstipasi lebih sering merasa perut tidak nyaman dan perut kembung dan kondisi abdomen akibat konstipasi sangat jarang mengalami mual dan muntah.

Terapi laksatif merupakan salah satu medical management untuk mengatasi konstipasi (Smeltzer & Bare, 2007). Penggunaan laksatif dalam jangka pendek memang dapat mengatasi masalah konstipasi yang di alami oleh pasien, namun apabila laksatif digunakan dalam jangka waktu yang lama maka akan menyebabkan penurunan reflex gastrokolik dan duodenokolik. Dengan kata lain, penggunaan laksatif dalam jangka waktu yang lama justru akan menyebabkan masalah konstipasi (Randell et al, 2007). Hasil penelitian yang didapat bahwa pasien banyak tidak menggunakan obat pencahar yang sesuai dengan penelitian Tania et al (2014), yang menyimpulkan bahwa penggunaan laksatif ( obat pencahar ) setelah stroke 19,15% hasilnya tidaklah memuaskan (p=0,0736. Hal ini didukung oleh penelitian Bharucha et al (2004), menyimpulkan bahwa laksatif yang mengandung psilium, pectin, plantago atau selulose, jenis laksatif ini akan menyerap air sehingga melunakkan tinja. Paling bermanfaat diberikan kepada konstipasi fungsional namun tidak akan menolong pada kasus konstipasi transit lambat dan disfungsi anorektal. Efeknya akan kembung dan produksi gas berlebih.

Konstipasi pada pasien stroke yang immobilisasi terkait kepuasan saat BAB sesuai dengan penelitian yang terlampir pada no.29 dan no.30. Penelitian sebelumnya juga menyimpulkan bahwa konstipasi bukan hal yang sederhana

karena seseorang yang konstipasi akan mengalami kesulitan buang air besar sehingga pada saat selesai buang air besar merasa tidak puas karena merasa ada yang sisa atau tertinggal didalam abdomen (Schaller et al, 2006).

Perubahan fisiologis sistem gastrointestinal: konstipasi untuk pasien stroke dapat juga di pengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, suku dan lama immobilisasi. Dari data demografi menunjukkan usia responden yang banyak mengalami stroke adalah dewasa madya dengan usia 41-60 tahun yaitu sebanyak 18 orang (60%). Hal ini juga di terangkan oleh Pinzon (2010), bahwa resiko terkena stroke biasanya pada umur <45 tahun sebanyak 11,8%, pada umur 45-65 tahun sebanyak 54,2% dan pada umur >65 tahun sebanyak 33,5%. Jumlah penduduk pada usia antara 15-64 tahun memiliki jumlah yang lebih banyak daripada penduduk non produktif maupun usia lansia di Indonesia. Sehingga menunjukkan bahwa pada usia tersebut sangat berpotensi penyakit tidak menular khususnya stroke. Stroke terjadi pada orang yang berusia produktif.

Kejadian konstipasi sebesar 5,9% pada usia dibawah 40 tahun, sebesar 4-6% pada individu yang berusia 70 tahun dan terjadi konstipasi persisten pada usia yang sudah lanjut (Harrari et al, 1996 dalam Folden et al, 2002). Angka kejadian konstipasi juga tinggi pada pasien yang mengalami stroke sebesar 45% dan lansia yang dirawat di rumah sakit sebesar 46% (Folden et al, 2002).

Konstipasi pada pasien stroke lebih sering terjadi pada lanjut usia dengan usia 60 tahun, sebagian besar konstipasi pada lanjut usia berhubungan dengan penurunan motilitas kolon dan berkurangnya mobilitas aktifitas fisik. Pada lansia akan mengalami kemunduran biologis tubuh yang mengakibatkan aktifitas

kerjanya menurun dan kecukupan gizi yang dibutuhkan lebih rendah dibandingkan pada usia remaja dan dewasa (Hsieh, 2005). Untuk mencapai gizi yang prima, lansia harus memakan makanan yang beraneka ragam dan menggunakan semua macam bahan makanan dari semua golongan serta bahan makanan dalam jumlah dan kualitas yang benar dan tepat. Salah satu yang harus diperhatikan pada usia ini adalah konsumsi serat dan intake cairan setiap hari, Ini bertujuan agar terhindar dari terjadinya konstipasi (Murakami et al, 2007).

Dari segi jenis kelamin menunjukkan bahwa pasien stroke yang mengalami konstipasi adalah wanita sebanyak 63,3%. Hal ini sesuai dengan penelitian Emerson & Baines ( 2010), yang menyatakan wanita lebih sering mengalami konstipasi daripada laki-laki. Kejadian konstipasi meningkat sebesar 17 – 15% pada usia dewasa yang mengalami penurunan kemampuan fisik. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang dilakukan oleh Campbell, et al. (1993, dalam Folden et al, 2002) dimana kejadian konstipasi meningkat pada individu yang mengalami penurunan kemampuan fungsional dan kognitif dan pada usia lanjut. Beberapa faktor resiko terjadinya konstipasi kronis adalah peningkatan usia, obat-obatan, kurangnya asupan serat dan cairan sehari-hari, gangguan fungsional dan kognitif (Murakami et al, 2007).

Berdasarkan lama immobilisasi dari hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden lama immobilisasi sekitar 16-20 hari (36,7%). Hal ini sesuai dengan pendapat Bariah (2010), menyatakan bahwa immobilisasi atau tirah baring yang terus menerus selama 5 hari atau lebih akan rentan mengalami perubahan pada sistem gastrointestinal yaitu konstipasi sehingga mengakibatkan otot

melemah, ,termasuk otot abdomen, diafragma, dasar pelvik, yang digunakan pada proses defekasi.

Berdasarkan faktor suku dari hasil penelitian menunjukkan bahwa yang paling sering mengalami stroke adalah suku batak (70%). Hal ini terkait dengan pendapat Depkes (2013), menyatakan bahwa di Indonesia sendiri, suku batak dan padang lebih rentang terserang stroke dibandingkan dengan suku jawa. Hal ini disebabkan oleh pola dan jenis makanan yang lebih banyak mengandung kolestrol Dari Pembahasan yang telah dijabarkan di atas, peneliti dapat menganalisa bahwa perubahan fisiologis pada pasien stroke yang immobilisasi rentan mengalami perubahan pada sistem gastrointestinal: konstipasi berat, hal ini dapat dipengaruhi karena mengalami keterbatasan gerak fisik (immobilisasi) atau tirah baring yang terus-menerus selama 16-20 hari dan tidak melakukan mobilisasi fisik (pergerakan) sehingga mengakibatkan otot melemah, , termasuk otot abdomen, diafragma, dasar pelvik, yang digunakan pada proses defekasi yang ditandai dengan perubahan pada fungsi usus yaitu frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu, penurunan bising usus, perasaan tidak tuntas saat bab, mengedan dan rasa tertahan saat ingin buang air besar, karakteristik feses seperti: Feses keras, feses bergumpal, warna feses lebih gelap dari pada biasanya, feses yang keluar lebih sedikit, saat buang air besar terasa nyeri pada anus dan rasa terbakar pada anus, mengalami distensi abdomen, nyeri abdomen, perut terasa tidak nyaman, perut terasa penuh dan begah, perut terasa nyeri, perut kembung, perut kram, mual dan muntah serta penurunan nafsu makan karena perut terasa begah serta menggunakan obat pencahar untuk melancarkan buang air besar. Dari

data demografi dilihat adanya pengaruh yag besar baik itu usia, jenis kelamin dan suku. Meskipun hal ini tidak menjadi masalah yang spesifik terhadap kejadian stroke. Dalam penanganan pasien stroke yang mengalami konstipasi, diharapkan agar lebih melakukan mobilisasi fisik atau latihan yang cukup kepada pasien sehingga otot abdomen, pelvik dan diafragma tidak melemah serta memberikan intake cairan yang cukup dan makanan yang tinggi serat sehingga pasien stroke tidak mengalami konstipasi berat.

1) Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pasien stroke yang immobilisasi di RSUP H. Adam Malik Medan mengalami perubahan fisiologis sistem gastrointestinal : konstipasi dengan konstipasi berat sejumlah 16 orang (53,3%). Hal ini erat kaitannya karena pasien mengalami tirah baring yang terus-menerus selama 16-20 hari dan tidak melakukan mobilisasi fisik (pergerakan) sehingga mengakibatkan otot melemah, , termasuk otot abdomen, diafragma, dasar pelvik, yang digunakan pada proses defekasi. Konstipasi juga dapat dilihat karena adanya pengaruh yang besar baik dari faktor usia, jenis kelamin dan suku.

2) Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis memberikan saran sebagai berikut :

1) Praktek Keperawatan

Sebagai pemberi asuhan keperawatan, diharapkan perawat dapat melakukan mobilisasi fisik atau latihan yang cukup kepada pasien stroke yang mengalami perubahan fisiologis pada sistem gastrointestinal: konstipasi sehingga otot abdomen, pelvik dan diafragma tidak melemah serta mengkonsumsi makanan yang berserat sehingga pasien stroke tidak mengalami konstipasi berat.

3) Bagi Pasien

Diharapkan kepada pasien agar dapat melakukan latihan yang cukup secara rutin serta mengkonsumsi makanan yang berserat agar otot abdomen, pelvik dan diafragma tidak melemah sehingga tidak mengalami konstipasi berat.

3) Bagi Penelitian Selanjutnya

Diharapkan kepada peneliti selanjutnya untuk lebih mengembangkan penelitian tentang perubahan fisiologis sistem gastrointestinal : konstipasi akibat immobilisasi pada pasien stroke dengan menggunakan metode-metode penelitian yang lainnya serta menambahkan informasi-informasi terbaru yang berkaitan dengan hasil penelitian dengan cara memberikan intervensi seperti pengkajian, observasi dan pemeriksaan fisik kepada pasien yang homogen sehingga hasil yang diperoleh lebih baik lagi dan tidak bias.

4) Institusi Rumah Sakit

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa perubahan fisiologis akibat immobilisasi pada pasien stroke yaitu perubahan pada sistem gastrointestinal: konstipasi rentan mengalami konstipasi berat. Oleh karena itu, perawat perlu meningkatkan untuk memberikan intervensi dalam melakukan mobilisasi fisik atau latihan yang cukup pada pasien stroke yang immobilisasi sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih maksimal.

survivors: experience of a stroke unit. International Journal of Biomedical Science, 8 (3), 183-187.

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatam Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Akmal, M.,dkk. (2010). Ensiklopedi Kesehatan Untuk Umum. Yogyakarta: Ar-ruzz Media.

Aliah, A.,dkk. (2007). Gambaran Umum Tentang Gangguan Peredaran Darah Otak

(GPDO), dalam Kapita Selekta Neurologi, ed. Harsono. Yogyakarta : UGM Press. hal. 81-115.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Bariah, K. (2010). Efektifitas mobilisasi dini terhadap penyembuhan pasien seksio sesarea di RSUD Dr. Pirngadi Medan. Skripsi. Medan: Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.

Batticaca, F. (2008). Asuhan Keperawatan pada Klien Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika

Bharucha, A.E. (2007). Constipation. Best Practice & Research Clinical Gastroenterelogy. Vol.21.No.4.

Bharucha, et al. (2004). A new questionnaire for constipation and fecal incontinence.

Brunner.,S. (2010). Constipation in the acutely hospitalized older patients. Archives of Gerontology and Geriatrics. 50 : 277-81

Cardin, F.,et al. (2010). Constipation in the acutely hospitalized older patients. Archives of Gerontology and Geriatrics. 50 : 277-81.

Capenito, L.J. (1995). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC Centers for Disease Control and Prevention. (2013). Stroke Facts. Diperoleh pada

tanggal 21 Januari 2015 melalui http://www.cdc.gov/stroke/facts.htm Chan, A.O.O.,et al. (2005). Validated questioner on diagnosis and symptom

Chandranata, L. (2000). Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : EGC. Craven, R.F., Hirnle, C.J. (2000). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process,

and Practice. fifth edition. California: Addison, Wesley Publishing Co.

Craven, R.F., & Hirnle, C.J. (2007). Fundamentals of Nursing, Human Health and Function. (4th ed). Philadelphia: Lippincott, Williams & wilkins.

Departemen Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007: Laporan Nasional 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI.

Department of Health London. (2007). National stroke strategy. United States of America: Delmar Thomson Learning, Inc.

Dinata, C. A.,dkk. (2013). Gambaran faktor risiko dan tipe stroke pada pasien rawat inap di bagian penyakit dalam rsud kabupaten solok selatan periode 1 januari 2010 - 31 juni 2012. Jurnal Kesehatan Andalas : 2(2).

Djojoningrat, D. (2006). Pendekatan Klinis Penyakit Gastrointestinal, dalam Sudoyo, A.W., dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.

Emerson, E.,Baines, S. (2010). Healt inequalities & people with learning disabilities in the united kindom. Learning Disabilities Observatory Supported by Departement of Health.

Folden, Susan.L.,et al. (2002). Practice guidelines for the management of constipation in adult. Rehabilitation Nursing. Vol.27.No.5

Ginsberg, L. (2007). Lecture Notes Neurulogi Edisi 8. Jakarta : Erlangga.

Guy, H.,et al. (2013). Pressure ulcer prevention: making a difference across a health authority. Journal of Nursing : Vol 22. No 12

Guyton, C. (2007). Fisiologi Gangguan Gastrointestinal. In: Rachman Yanuar Luqman. ed. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Guyton, A.C., & Hall, J.E. (1996). Textbook of Medical Physiology. 9th ed. Philadelphia: W.B. Saunders Company.

Hasan, Iqbal. (2002). Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Herdman, T.H. (2012). Diagnosis Keperawatan Defenisi dan Klasifikasi 2012-2014. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.

Hsieh, C. (2005) Treatment of constipation in older adults. Am Fam Physician. 73(11). 2277–84

Junaidi, I. (2011). Stroke Waspadai Ancamannya. Yogyakarta : PT. Andi.

Janice, P.,et al. (2006). Development of a constipation risk assessment scale. Journal of Orthopaedic Nursing. 10 : 186–197

Kyle.,Gaye. (2006). Assessment and treatment of older patients with constipation. Nursing Standard.Vol.21.No.8.

Luciano, A.S.,et al .(2013). Program for the epidemiological evaluation of stroke in tandil, argentina (prevista) study: rationale and design. International Journal of Stroke. Volume 8. Issue 7.

Murakami, K.,et al. (2007). Association between dietary fiber, water and magnesium intake and functional constipation among young Japanese women. European Journal of Clinical Nutrition.

Mubarak, W.I. (2005). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori dan Aplikasi dalam Praktik. Jakarta : EGC.

Nazarko, L. (2007). Stroke: bowel care. Nursing Journal and Residential care. Vol.9.No.6

Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo. S. (2003). Pendidikan Perilaku dan Perilaku Kesehatan. Jakarta :

Rineka Cipta

Pamela, et al. (2002). Preventing and treating complications of immobility in people with ALS. USA

Pinzon, R., Asanti, L. (2010). Awas Stroke! Pengertiam, Gejala, Tindakan, Perawatan, dan Pencegahan. Yogyakarta: ANDI

Potter, P.A.,Perry, A.G. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep Proses, dan Praktik. Ed.4.Vol 1. Cetakan I. Jakarta : EGC

Pudiastuti, R.D. (2011). Penyakit Pemicu Stroke. Yogyakarta: nuha medika. Rahayu, S.,dkk. (2014). Hubungan frekuensi stroke dengan fungsi kognitif di

Randell, H.H.,et al. (2007). Use of laxatives among older nursing home residents in helsinki, finland. 24(2).147-154.

Rubens, et al. (2001). Adult constipation: a review and clinical guide. Journal of National Medical Association.

Schaller, B.J.,et al. (2006). Pathophysiological changes of the gastrointestinal tract in

ischemic stroke. American Journal of Gastroenterology.101:1655–1665 Setiati, dkk. (2014). Penatalaksanaan imobilisasi dan komplikasi akibat

imobilisasi pada orang usia lanjut. Jakarta : Departemen Rehabilisasi medik FKUI.

Smeltzer, S.C.,Bare, B.G. (2007). Textbook of Medical Surgical Nursing Vols 3. Philadelpia: Lippincott Reven Publisher.

Smeltzer, C.S., Bare G.B. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC.

Song, K.H.,et al. (2013). Development and validation of the korea rome III questionnaire for diagnosis of functional gastrointestinal disorders. Journal Neurogatroenterol Motil. Vol 19. No 4.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Suheri. (2009). Gambaran lama hari rawat dalam terjadinya luka dekubitus pada pasien imobilisasi di rsup haji adam malik medan. Skripsi. Medan : Fakultas Keperawatan USU.

Su, Y.,et al. (2009). New-onset constipation at acute stage after first stroke: incidence, risk factors, and impact on the stroke outcome. 40 : 1304 - 9. Tania, M.N.,et al. (2014). Stroke: bowel dysfunction in patients admitted for

Lampiran 16 Daftar Riwayat Hidup

Nama : Putri Sari Angelia M

NIM : 111101106

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat,Tanggal Lahir : Albion, 21 Juni 1993

Agama : Katolik

Alamat : Pinang sori, Tapanuli Tengah

Riwayat Pendidikan:

1. TK SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Pinang Sori (1997 – 1998) 2. SD Negeri 153076 Pinang Sori (1997 – 2003)

3. SMP Negeri 1 Pinang Sori (2003 – 2008)

4. SMA Swasta Katolik Sibolga (2008 – 2011)

Dokumen terkait