• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Sampel

Sampel dalam penelitian ini wanita tani yang terdapat di Kabupaten Aceh Timur. Karakteristik sampel yang dimaksud adalah meliputi karakteristik sosial ekonomi yang terdiri dari pendidikan, pendapatan suami, umur, jumlah tanggungan, pendapatan wanita dan alokasi kerja wanita tani.

5.1.1. Pendidikan

Pendidikan sangat erat hubungannya dengan alokasi kerja wanita, semakin tinggi pendidikan yang dimiliki semakin wanita akan memilih pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas pendidikan yang dimilikinya. Di Kabupaten Aceh Timur, pendidikan wanita tani amat beragam, selengkapnya disajikan pada Tabel 10 berikut ini.

Tabel 11. Pendidikan Sampel

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Jumlah (%) 1

Sumber : Data Primer Diolah dari Lampiran 1

Dari Tabel 11 tersebut dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan petani beragam mulai dari tidak tamat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Untuk data petani sampel yang diperoleh yang terbanyak adalah petani dengan pendidikan sampai sekolah menengah atas (SMA), yaitu sebanyak 20 orang atau 33,30 %, sedangkan terkecil yaitu tidak tamat SMP sebesar satu orang atau 1,70

%. Tamat SD sebanyak dua puluh satu orang sedangkan yang tidak mampu menamatkan sekolah dasar sebanyak 4 orang atau 6,70%.

Berdasarkan tabel frekuensi untuk pendidikan pada lampiran 3 halaman 50, dapat dilihat petani yang mengenyam pendidikan formal hanya sampai tiga tahun saja berjumlah 3 orang, sampai 5 tahun 1 orang, berhasil menamatkan SD atau 6 tahun ada 21 orang, sampai kelas 1 SMP berjumlah 1 orang, berhasil menamatkan SMP ada 7 orang, dan yang mengenyam pendidikan sampai 12 tahun atau tamat SMA ada 20 orang. Pendidikan wanita tani sebagian besar tamat SD atau sekitar 35%, namun jika dilihat dari nilai rata – rata dari pendidikan wanita yang menjadi sampel adalah sebesar 9 tahun atau setara dengan jenjang SMP, dengan demikian dapat diketahui wawasan pengetahuan petani serta cara berfikir dan bertindak dalam rangka pengelolaan usaha taninya masih tergolong rendah .

Lama tahun mengenyam pendidikan formal untuk sampel yang terendah adalah 4 tahun sedangkan yang tertinggi adalah 12 tahun. Wanita tani di Kabupaten Aceh Timur memiliki peran ganda. Dari satu sisi mereka harus mengurusi rumah tangga atau sebagai ibu rumah tangga, di sisi lain mereka juga bekerja di lahan pertanian guna membantu suami untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari hari.

5.1.2. Pendapatan Suami

Kepala keluarga atau suami para pekerja wanita memiliki rata – rata pendapatan sebesar Rp. 2.026.833, Penghasilan terendah suami adalah sebesar 1.200.000 sedangkan yang tertinggi sebesar 3.640.000 (lampiran 3). Profesinya pun beragam mulai dari petani, pekerja bangunan, dan buruh pabrik. Para suami yang bekerja di luar pertanian biasanya bekerja di sekitar daerah ataupun merantau atau bekerja di luar daerah pertanian. Seperti pekerja (tukang) bangunan misalnya, ikut dengan pemborong ke luar untuk mengerjakan proyek – proyek di luar daerah penelitian. Hanya pulang seminggu ataupun sebulan sekali untuk alasan menghemat biaya dan tenaga. Sedangkan untuk buruh pabrik biasanya di gaji bulanan, yang bekerja pada pabrik – pabrik yang berada di sekitar daerah penelitian.

Di daerah penelitian, bagi para kepala keluarga yang memiliki keahlian seperti menjadi tukang bangunan, pengrajin, montir, lebih memilih menjadikan keahliannya tersebut menjadi pekerjaan utama. Sedangkan lahan pertanian lebih diserahkan ke wanita tani untuk mengelolanya. Oleh karena itu, peran wanita tani tidak hanya menjadi ibu rumah tangga namun juga menjadi pekerja dan pengelola lahan pertanian.

5.1.3 Umur

Umur mempunyai hubungan terhadap responsibilitas seseorang akan penawaran tenaga kerjanya, semakin meningkat umur seseorang semakin besar penawaran kerjanya selama masih dalam usia produktif. Semakin tinggi umur seseorang semakin besar tanggung jawab yang di tanggung, meskipun pada titik tertentu penawaran akan menurun seiring dengan usia yang bertambah pula.

Adapun data keadaan umur sampel di daerah penelitian tersaji pada Tabel 12 berikut.

Tabel 12. Umur Sampel

No Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase 1

Sumber : Data Primer Diolah dari Lampiran 1

Dari Tabel 12 tersebut dapat dilihat usia wanita tani yang menjadi sampel cukup beragam. Yang terbanyak adalah wanita yang berusia 20 tahun sampai 40 tahun yaitu sebanyak 35 orang atau sebesar 58,33%. Yang kedua adalah usia diatas 40 tahun yaitu sebanyak 25 orang atau sebesar 41,67%. Sedangkan wanita yang berusia dibawah 20 tahun tidak ada atau 0%. Umur termuda sampel adalah 22 tahun sedangkan yang tertua adalah 57 tahun.

Rata – rata umur dari 60 wanita tani yang menjadi sampel di Kabupaten Aceh Timur adalah sebesar 39 tahun, maka dapat disimpulkan masuk ke dalam usia produktif sehingga memiliki petensi yang cukup besar dalam usahatani padi sawah dan usaha lain diluar usahatani padi sawah.

5.1.4. Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan merupakan faktor yang mempengaruhi alokasi kerja wanita tani. Dimana Tanggungan keluarga merupakan salah satu alasan utama bagi para wanita rumah tangga turut serta dalam membantu suami untuk memutuskan diri untuk bekerja memperoleh penghasilan. Semakin banyak sampel

mempunyai anak dan tanggungan maka waktu yang disediakan untuk bekerja semakin efektif. Adapun jumlah tanggungan atau jumlah anggota keluarga pada daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel 13 berikut.

Tabel 13. Jumlah Tanggungan Sampel No Jumlah Tanggungan

Keluarga

Sumber : Data Primer Diolah dari Lampiran 1

Dari Tabel 13 tersebut dapat dilihat tanggungan terbanyak ada pada kelompok 3-5 tahun yaitu sebanyak 28 orang atau 46,67%, dan yang terkecil pada kelompok >5 yaitu sebanyak 5 orang atau 8,33%. Jika dilihat dari rataan pada lampiran 1 halaman 44, maka jumlah tanggungan keluarga di Kabupaten Aceh Timur adalah sebanyak 3 orang. Jumlah tanggungan terkecil adalah 1 orang sedangkan jumlah tanggungan terbesar sebanyak 7 orang.

5.1.5. Pendapatan Wanita Tani

Pendapatan dalam hal ini adalah pendapatan wanita tani. Pendapatan wanita tani sangat mempengaruhi alokasi kerjanya, jika pendapatan yang diperoleh cukup tinggi, maka pada umumnya alokasi kerjanya pun tinggi.

Pendapatan wanita tani pada penelitian ini diperoleh dari upah harian yang dihitung dalam jangka waktu satu bulan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 14 berikut.

Tabel 14. Pendapatan Sampel

Sumber : Data Primer Diolah dari Lampiran 1

Dari Tabel 14 dapat dilihat pendapatan wanita tani yang menjadi sampel pada penelitian ini dengan penghasilan lebih kecil dari Rp. 1.000.000 adalah sebesar 37 orang atau sebesar 61,67%. Untuk wanita yang berpenghasilan antara Rp. 1.000.000 sampai dengan Rp 1.500.000 sebesar 31,67% atau sebanyak 19 orang. Sedangkan wanita yang berpenghasilan lebih besar dari Rp. 1.500.000 adalah sebanyak 4 orang atau sebesar 6,66%. Pada lampiran 1 halaman 44, pendapatan terkecil wanita tani adalah Rp. 780.000 sedangkan yang terbesar adalah Rp. 2.000.000.

Jenis pekerjaan wanita di lahan pertanian di Kabupaten Aceh Timur bermacam – macam. Sistem penggajiannya sebagian besar dihitung harian, walaupun ada sebagian kecil yang menerima upah bulanan. wanita tani yang menjadi sampel pada penelitian ini dengan penghasilan antara Rp. 780.000 sampai dengan Rp. 910.000 sebesar 61,67% atau sebanyak 37 orang selebihnya 38,33 % atau sekitar 23 orang memiliki penghasilan lebih dari satu juta pada setiap bulannya.

Untuk wanita tani yang berpenghasilan antara Rp. 780.000 – Rp.

910.000 merupakan pekerja tani yang biasa mengerjakan pekerjaan seperti menanam, memupuk, penyiangan lahan, memanen, ataupun mengupas (tongkol jagung). Untuk pekerjaan menanam dan memupuk biasanya upahnya sebesar Rp.

26.000 sedangkan untuk kegiatan penyiangan lahan, memanen, atau mengupas upah hariannya adalah sebesar Rp. 35.000.

Untuk wanita tani yang memiliki penghasilan diatas satu juta rupiah merupakan wanita tani yang selain pekerja memiliki jabatan atau keahlian lain.

Contohnya sebagai pemborong. Pemborong disini maksudnya adalah wanita tani yang bertanggung jawab mengumpulkan pekerja dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan kesepakatan harga yang ditelah disetujui antara kedua belah pihak yaitu antara pemilik lahan dan pemborong. Di daerah pertanian biasanya pemborong juga ikut bekerja dengan pekerja – pekerja lainnya,

oleh karenanya penghasilan yang diperolehnya lebih besar daripada pekerja biasa, yaitu gaji pekerja ditambah dengan keuntungan yang didapat dari memborong pekerjaan.

5.1.6. Alokasi Kerja Wanita Tani

Alokasi waktu wanita tani bekerja pada kegiatan usahatani sangat variatif dan di pengaruhi beberapa faktor. Dari observasi yang dilakukan, penghasilan suami yang tidak mencukupi untuk menopang kehidupan dan banyaknya tanggungan keluarga yang harus ditanggung memacu wanita untuk harus bekerja membantu suami dalam mencari nafkah.

Pada daerah penelitian jam bekerja wanita adalah 7 – 8 jam. Jika dirata – ratakan jam bekerja untuk wanita adalah sebesar 7 jam. Mereka mulai bekerja di ladang jam 08.00 – 12.00, dan mulai lagi dari jam 13.00 – 16.00 sore. Dan rata – rata bekerja 28 hari/ bulannya. Pada hari Minggu biasanya digunakan untuk kegiatan rumah tangga dan sosial.

Sebelum berangkat kerja, atau sekitar jam 04.30 wanita tani memulai aktivitasnya dengan memasak untuk anak dan keluarganya. Kemudian di lanjutkan dengan mencuci pakaian hingga pukul 06 .00 – 07.00. Waktu istirahat siang atau pukul 12.00 – 13.00 biasanya dipergunakan untuk makan siang, dengan berkumpul dengan pekerja wanita lainnya sambil memakan bekal siang dan melepas lelah.

5.2. Hubungan pendapatan suami, umur pekerja wanita, pendapatan

Dokumen terkait