METODOLOGI PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Hasil
5.1.2. Karakteristik Sampel
Populasi penelitian ini adalah mencit (Mus musculus) jantan umur 6-8 minggu dengan berat badan 30-50 gr dan sehat yang ditandai dengan gerakan yang aktif, diperoleh dari Laboratorium Biologi Fakultas MIPA USU. Kemudian jumlah mencit yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 43 ekor. Yaitu 23 ekor pada kelompok perlakuan dan 20 ekor pada kelompok kontrol, selama 28 hari. Berikut daftar berat badan mencit yang masih hidup pada akhir penelitian.
Tabel 5.1. Rata-rata Berat Badan Mencit Perlakuan per Minggu (gr)
Mencit Perlakuan
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Total Mean 1 25.21 27.01 27.72 26.76 26.67 2 20.51 21.06 22.05 23.62 21.81 3 37.24 37.99 39.75 41.23 39.05 4 28.33 29.97 29.85 31.82 29.99 5 24.78 30.19 33.75 37.08 31.45 6 22.36 25.90 28.33 29.65 26.56 7 28.54 31.42 32.53 32.64 31.28 8 29.70 29.30 30.38 31.59 30.24 9 27.87 27.90 28.63 30.62 28.75 10 30.09 30.22 31.50 33.29 31.27 11 36.38 37.31 38.56 44.44 39.17 12 30.76 32.25 32.61 34.85 32.61 13 30.81 31.36 33.84 36.60 33.15 14 33.09 33.84 34.17 33.84 33.73 15 34.60 34.51 35.11 35.32 34.88
Dari hari pertama sampai terakhir dilakukannya penelitian mencit kelompok perlakuan yang masih hidup berjumlah 15 ekor. Dapat dilihat bahwa rata-rata berat badan mencit minggu 1 sampai minggu ke 2 mengalami peningkatan. Kecuali pada mencit nomor 8 dan 15 dimana berat badan mencit mengalami sedikit penurunan. Namun jika dibandingkan antara minggu 1 dan minggu 4 rata-rata berat badan mencit mengalami peningkatan dan ini terjadi pada seluruh mencit tanpa terkecuali.
Tabel 5.2. Rata-rata Berat Badan Mencit Kontrol per Minggu (gr)
Mencit kontrol Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Total Mean 1 25.34 26.14 23.28 23.68 24.61 2 31.52 29.29 24.15 25.69 27.66 3 33.40 35.22 36.67 34.35 34.91 4 36.12 35.50 34.32 35.60 35.38 5 34.42 35.19 34.48 35.82 34.97 6 31.67 30.72 25.54 29.93 29.46 7 29.41 28.05 28.14 30.27 28.96 8 37.70 36.25 34.98 33.83 28.19 9 30.87 31.26 32.40 34.09 32.15 10 41.28 41.28 41.52 43.04 41.78 11 33.70 31.66 31.56 32.71 32.40 12 28.53 28.47 28.27 29.53 28.70 13 24.87 23.81 20.48 21.69 22.71
Dari hari pertama sampai terakhir dilakukannya penelitian mencit kelompok kontrol yang masih hidup berjumlah 13 ekor. Jika kita bandingkan antara minggu 1 dengan minggu 2 terdapat peningkatan berat badan pada mencit nomor 1,3,5,9. Selebihnya pada mencit nomor 2,4,6,7,8,10,11,12,13 mengalami penurunan. Ini dapat diakibatkan karena stress pada mencit. Jika kita bandingkan pada mencit kelompok perlakuan maka dapat dilihat bahwa pada kelompok kontrol berat badan berfluktuasi naik dan turun. sedangkan pada kelompok perlakuan, rata-rata berat badan mencit per-minggunya meningkat sampai pada akhir minggu berat badan mencit perlakuan akan rata-rata akan meningkat drastis.
Banyaknya mencit yang mati disebabkan karena stress. Naum hasil atau jumlah sampel masih dapat digunakan dalam penelitian sebab sampel terakhir masih merupakan 80% dari total sampel yang diperlukan melalui perhitungan rumus yaitu sebanyak 16 ekor mencit per kelompoknya.
Tabel 5.3. Rata-rata Konsumsi Mencit Perlakuan per Minggu (gr)
Konsumsi Pakan Mencit Kelompok
Perlakuan
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Total Mean
155.41 90.33 61.36 48.97 89.01
Dari tabel diatas diperoleh bahwa rata-rata konsumsi dari kelompok mencit perlakuan menurun, pada minggu pertama diperoleh rata-rata berat badan mencit kelompok perlakuan adalah 155.41 gr dan menurun sebanyak 65.08 gr sehingga didapat nilai konsumsi rata-rata 90.33 gr pada minggu ke 2 dan secara berkala menurun menjadi 61.36 gr dan pada akhirnya menurun sampai 48.97 gr di akhir penelitian
Tabel 5.4. Rata-rata Konsumsi Mencit Kontrol per Minggu (gr)
Konsumsi Pakan Mencit Kelompok
Kontrol
Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4 Total Mean
69.20 47.12 49.47 46.58 53.09 Dari tabel diatas diperoleh bahwa rata-rata konsumsi dari kelompok mencit kontrol juga menurun, pada minggu pertama diperoleh rata-rata berat badan mencit kelompok perlakuan adalah 69.20 gr jika dibandingkan dengan konsumsi pakan kelompok perlakuan. Maka terdapat perbedaan yang amat signifikan. Pada minggu ke 2 konsumsi mencit kelompok kontrol menurun sebanyak 22.08 gr sehingga didapat nilai konsumsi rata-rata 47.12 gr dan secara berkala menurun menjadi 49.47 gr dan pada akhirnya menurun sampai 46.58 gr di akhir penelitian.
Terdapat perbedaan mencolok antara kelompok mencit perlakuan dan kontrol dimana total mean kelompok perlakuan didapat 89.01 gr dan total mean kelompok konrol 53.09 gr selisih dari kedua kelompok mencit adalah 35.92 gr
5.1.3. Analisa Data
Hasil yang diperoleh berupa data selisih berat badan pada hari ke 28 dan hari ke 0 dan diuji dalam analisa data menggunakan spss. Uji yang dipakai merupakan uji T Independent untuk berat badan mencit karena data berdistribusi normal. Hasil yang diberikan dalam uji statistik terhadap berat badan mencit dalam kedua kelompok memberikan nilai p=0,001 maka ini menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh signifikan karena p<0,05. Data yang digunakan dalam uji statistik spss terlampir pada tabel di bawah ini.
Tabel 5.5. Data Selisih Berat Badan Mencit Hari 0 Dan Hari 28
Mencit Nomor
Selisih Berat Badan Mencit Perlakuan
Selisih Berat Badan Mencit Kontrol 1 2.92 1.12 2 3.79 2.07 3 4.44 0.67 4 5.09 2.73 5 13.18 -4.64 6 12.41 4.66 7 3.72 2.88 8 3.89 -2.73 9 2.37 2.66 10 10.82 4.16 11 6.57 2.25 12 6.91 -4.42 13 2.72 1.05
Data diatas merupakan selisih berat badan mencit dan perlakuan pada hari 28 dan hari 0. Dimana pada hari 0 merupakan hari dimana mencit belum diberi perlakuan yaitu pencekokan temulawak pada kelompok perlakuan dan air pada kelompok kontrol. Dari data tersebut didapat berat badan mencit yang cukup meningkat pada mencit kelompok perlakuan. Sedangkan pada kelompok kontrol terdapat penurunan berat badan pada mencit nomor 5, 8 dan 12 selebihnya terjadi peningkatan berat badan namun tidak terlalu signifikan. Mencit yang dipakai pada kelompok perlakuan merupakan mencit nomor 1, 2, 5, 6, 9, 11, 12, 15, 16, 17, 18, 19, 21. Mencit ini dipilih secara random sehingga tidak diikutkan 2 mencit yang masih hidup karena disesuaikan dengan jumlah mencit kelompok kontrol
Tabel 5.6. Hasil Uji Statistik Berat Badan Dengan Uji T independent One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
N 26 Asymp. Sig. (2-tailed) .500
Uji T independent PTL N Mean Signifikansi BBM ADA PEMBERIAN TEMULAWAK 13 6.06 .001 TIDAK ADA PEMBERIAN TEMULAWAK 13 0.95
Untuk melakukan uji statistik berat badan pada mencit,pertama kalinya dilakukan dulu uji normalitas dengan menggunakan uji statistik Kolmogorov-Smirnov dan didapat hasil p value 0.500 (p>0.05) dan merupakan hasil yang berdistribusi normal. Jika hasil yang didapat berdistribusi normal maka akan dilanjutkan lagi dengan uji statistik t independent test. Dari uji T Independent
didapat p value 0.001 (p<0.05). Hal ini berarti terdapat perbedaan rata-rata berat badan mencit kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan.
5.2. Pembahasan
Pemberian temulawak selama 4 minggu kepada kelompok perlakuan menunjukkan kenaikan berat badan. Seperti yang sudah dibuktikan oleh penelitian Al-Sultan (2003) dengan menggunakan ayam broiler dan hasil yang ditunjukkan bahwa berat badan ayam meningkat setiap minggunya namun hanya sedikit perbedaan dalam konsumsi pakan. Penulis menyertakan grafik perbandingan berat badan dan konsumsi dari kedua kelompok mencit untuk melihat secara jelas perbedaan yang di alami oleh mencit (grafik dapat dilihat pada lampiran 6).
Dosis pemberian dalam cairan 20 % temulawak diberi 0.0125 cc/gr BB mencit setelah di konversi dan dilarutkan dari serbuk temulawak yang sudah di peroleh. Pada kelompok kontrol perjalanan berat badan berfluktuasi kadang turun dan naik namun angka yang dicapai tetap konstan dan tidak berubah secara signifikan. Seperti yang ditunjukkan pada tabel 5.2 dimana pada mencit 1 yang memiliki rata-rata berat badan 25.34 gr pada minggu pertama dan mengalami kenaikan berat badan pada minggu ke dua 26.14 gr kemudian turun pada minggu ke tiga 23.28 gr dan akhirnya menglami sedikit peningkatan pada minggu ke empat 23.68 gr.
Pada kelompok perlakuan perjalanan berat badan juga berfluktuasi namun secara garis besar data yang diperoleh menunjukkan bahwa berat badan mencit meningkat pesat jika dibandingkan dari data minggu pertama dan minggu ke empat. Seperti yang ditunjukkan pada tabel 5.1 dimana pada mencit nomor 11 menunjukkan peningkatan berat badan yang signifikan dimana pada minggu pertama rata-rata berat badan mencit 36.38 gr dan mengalami peningkatan pada minggu ke dua (37.31) pada minggu ke tiga berat badan mencit terus meningkat sampai menyentuh angka 38.56 gr dan puncaknya pada minggu ke empat rata-rata berat badan mencit 44.44 gr Keadaan berat badan yang berfluktuasi dapat disebabkan faktor stress dari mencit.
Dalam hal konsumsi pakan tampak jelas perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Konsumsi rata-rata mencit kelompok kontrol secara kesuluruhan lebih rendah dibandingkan dengan kelompok perlakuan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 5.3 dan tabel 5.4 dimana total rata-rata konsumsi pakan pada kelompok perlakuan sebesar 89.01 gr dan pada kelompok kontrol sebesar 53.09 gr.
Ini dapat membuktikan bahwa pemberian temulawak memang meningkatkan nafsu makan. Namun itu terjadi hanya pada awal awal pemberian temulawak. Pada hari ke 19 (lihat pada tabel pada lampiran 5) sampai seterusnya rata-rata konsumsi pakan pada mencit kelompok perlakuan terkesan menurun dan stabil. Hal ini mungkin bisa terjadi akibat mencit yang stress akibat pencekokan atau pun terjadinya down regulation dari reseptor tempat berikatnya zat aktif curcumin sehingga efek yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan.
Walaupun demikian jika kita bandingkan konsumsi mencit perlakuan dan kontrol mulai dari minggu pertama sampai minggu ke empat mencit pada kelompok perlakuan tetap mengkonsumsi pakan lebih tinggi dari pada kelompok kontrol (lihat pada tabel 5.3 dan tabel 5.4)