BAB III METODE PENELITIAN
4.2 Karakteristik Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah di Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dan pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah di Pusat Pasar Kota Medan. Gambaran karakteristik responden meliputi umur, tingkat pendidikan dan pengalaman berdagang. Adapun karakeristik pedagang sampel dapat dapat dilihat pada Tabel 8 berikut :
Tabel 8. Karakteristik Sampel Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah di Pasar Induk Kota Medan dan Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah di Pusat Pasar Kota Medan
No. Karakteristik Satuan Rentang Rataan
1 Umur Tahun 22-65 44,79
2 Tingkat Pendidikan Tahun 0-19 12,11
3 Pengalaman Berdagang Tahun 2-40 18,16
Sumber : Lampiran 1
Dari Tabel 8 tersebut, dapat dikemukakan bahwa umur rata-rata pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah sampel adalah 44,79 tahun dengan rentang antara 22-65 tahun, artinya para pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah masih dalam usia produktif. Oleh karena itu dari segi fisik,dan potensinya masih cukup tinggi.
Rata-rata pada tingkat pendidikan pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah adalah 12,11 tahun dengan rentang umur 6-19 tahun, artinya setaraf dengan tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas), sehingga wawasan para pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah sudah lebih maju dan punya kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.
Selanjutnya, rata-rata pengalaman pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah adalah, 18,10 tahun dengan rentang 2-40 tahun. Dari segi pengalaman para pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah sudah cukup. Sehingga permasalahan yang terjadi dalam pemasaran dapat dengan mudah diatasi
41
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Uji Hipotesis 1: Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur Mayur dan Buah terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan yang mulai beroperasi dalam waktu Dua tahun terakhir ini, menimbulkan persepsi yang berbeda-beda dari setiap pedagang pengecer (retailer). Persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur mayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat diketahui dengan melihat jawaban-jawaban pedagang responden terhadap terhadap kuesioner yang berisi pernyataan-pernyataan yang diberikan. Pernyataan ini dibagi ke dalam 8 pernyataan positif dan 10 pernyataan negatif.
Untuk pernyataan positif, jawaban Sangat Setuju (SS) diberi nilai 5, Setuju (S) diberi nilai 4, Ragu-ragu (R) diberi nilai 3, Tidak Setuju (TS) diberi nilai 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 1, demikian juga sebaliknya untuk pernyataan negatif, jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) diberi nilai 5, Tidak Setuju (TS) diberi nilai 4, Ragu-ragu (R) diberi nilai 3, Setuju (S) diberi nilai 2, dan Sangat Setuju (SS) diberi nilai 1. Dari setiap jawaban pernyataan akan diperoleh distribusi frekuensi responden bagi setiap kategori kemudian secara kumulatif dilihat deviasinya menurut deviasi normal, sehingga diperoleh skor (nilai skala untuk masing-masing kategori jawaban), kemudian skor terhadap masing-masing pernyataan dijumlahkan.
Interpretasi terhadap skor masing-masing responden dilakukan dengan mengubah skor tersebut ke dalam skor standart, dimana dalam hal ini digunakan model Skala Likert (Skor T). Dengan mengubah skor pada skala sikap menjadi skor T menyebabkan skor ini mengikuti distribusi skor yang mempunyai mean sebesar T=50 dan standart deviasi S=8,257, sehingga apabila skor standart > 50 berarti mempunyai persepsi yang positif dan jika skor standart ≤ 50 berarti mempunyai persepsi negatif. Tanggapan Positif pedagang pengecer (retailer) sayur mayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 9 berikut :
Tabel 9. Tanggapan Positif Pedagang Pengecer (Retailer) Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
No Penyataan SS S R TS STS
1 Pasar Induk membantu dalam penyediaan barang untuk di jual
19 15 8 1 0
44,2% 34,9% 18,6% 2,3% 0%
2 Lokasi Pasar Induk merupakan lokasi yang strategis (dekat dengan sentra produksi dan pedagang) untuk berbelanja sayur dan buah
9 15 5 6 8
20,9% 34,9% 11,6% 14,0% 18,6%
3 Pasar Induk berperan sebagai fasilitator antara pedagang besar dengan pedagang eceran
12 19 9 3 0
27,9% 44,2% 21,0% 6,9% 0%
4 Keberadaan Pasar Induk sudah mampu memperkecil biaya transportasi
4 11 12 8 8
9,3% 25,6% 27,9% 18,6% 18,6%
5 Keberadaan Pasar Induk sudah mampu menghemat waktu dalam membeli barang yang hendak dijual
4 16 8 4 11
9,3% 37,2% 18,6% 9,3% 25,6%
6 Keberadaan Pasar Induk mudah dijangkau oleh pedagang retail
6 8 14 5 10
14,0% 18,6% 32,6% 11,6% 23,2%
7 Keberadaan Pasar Induk memberikan kenyamanan dalam berbelanja sayur dan buah
14 14 9 4 2
Sumber: Data primer diolah
Dari Tabel 9 diatas dapat dilihat pendapat/tanggapan positif responden terhadap keberadaan pasar induk, dari 8 pernyataan postif, responden terbanyak yang menyatakan setuju terdapat pada pernyataan yang mengatakan bahwa pasar induk membantu dalam penyediaan barang untuk dijual sebesar 79,1%, kemudian sebanyak 72,1% menyatakan setuju bahwa lokasi pasar induk merupakan lokasi yang strategis untuk berbelanja sayur, sebanyak 65,2% menyatakan setuju bahwa keberadaan pasar induk memberikan kenyamanan dalam berbelanja sayur dan buah. Dari kedelapan pernyataan positif, responden terbanyak yang mengatakan tidak setuju bahwa pasar induk mampu memperkecil biaya transportasi yaitu sebesar 37,2%, sebanyak 34,8% responden mengatakan tidak setuju bahwa keberadaan pasar induk mudah dijangkau oleh pedagang retail.
Banyaknya responden yang mengatakan tidak setuju bahwa pasar induk mampu memperkecil biaya transportasi dan mudah dijangkau di akibatkan oleh jauhnya lokasi pasar induk dari pusat kota, dan bahkan jauh dari pemukiman penduduk sehingga pedagang menyatakan tidak setuju, sementara pedagang yang setuju pada pernyataan ini dikarenakan lokasi pedagang tersebut dekat dengan pasar induk.
Tabel 10. Tanggapan Negatif Pedagang Pengecer (Retailer) sayur dan buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan Pusat Pasar lebih lengkap dan mudah berbelanja daripada di Pasar Induk
3 Minimnya transportasi umum dari berbagai sudut Kota Pasar Induk daripada ke Pusat Pasar seperti ikan, ayam, daging, dll
7 15 16 5 0 cenderung lebih sedikit daripada di Pusat Pasar Kota
7 Fasilitas seperti lampu, tempat parkir tidak tersedia di Pasar Pasar Induk kurang segar
0 0 9 22 12
Sumber: Data primer diolah
Dari Tabel 10 diatas dapat dilihat pendapat/tanggapan negatif responden terhadap keberadaan pasar induk, dari 10 pernyataan negatif, responden terbanyak yang menyatakan setuju terdapat pada pernyataan yang mengatakan bahwa produk sayur dan buah di pusat pasar lebih lengkap dan mudah berbelanja dari pada di
pasar induk sebesar 53,4%, kemudian sebanyak 51,2% menyatakan setuju bahwa pasar induk jauh dari tempat tinggal pedagang retail, sebanyak 51,2% menyatakan setuju bahwa jenis produk yang dijual dipasar induk belum lengkap. Dari kesepuluh pernyataan negatif, responden terbanyak yang mengatakan tidak setuju bahwa kualitas sayur dan buah di pasar induk kurang segar yaitu sebesar 79,0%, sebanyak 67,5% responden mengatakan tidak setuju bahwa pedagang besar atau agen yang datang ke pasar induk cenderung lebih sedikit dari pada di pusat pasar kota medan.
Banyaknya responden yang mengatakan tidak setuju bahwa kualitas sayur dan buah di pasar induk tidak segar dikarenakan memang buah dan sayur yang ke pasar induk dekat dengan berastagi sebagai pusat tanaman sayuran. Kemudian responden juga tidak setuju bahwa agen atau penjual yang datang ke pasar induk sedikit, karena justru banyak pedagang-pedagang besar sudah pindah dari pusat pasar ke pasar induk.
Untuk mengetahui gambaran persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut :
Tabel 11. Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
No. Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Positif 26 60,4
2 Negatif 17 39,6
Total 43 100
Sumber : Data primer diolah
Beradasarkan Tabel 11 di atas, dapat dilihat bahwa dari 43 pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah sampel yang diwawancarai terdapat 26 orang (60,4%) pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah yang menyatakan persepsi positif dan
17 orang (39,6%) pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah yang menyatakan persepsi negatif terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan. Hal ini menyatakan bahwa persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah mendukung, karena berdampak positif bagi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah.
Dari Tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah positif. Dengan demikian, hipotesis 1 yang menyatakan persepsi pedagang sayur dan buah di Pasar Induk terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-buahan Kota Medan adalah positif dapat diterima, yang dapat dikatakan bahwa pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah sampel cenderung sudah merasakan fungsi keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dalam memasarkan sayur dan buah.
Memang pada dasarnya, adanya relokasi mengalami kesulitan karena mendapat penolakan dari pihak terkait. Dalam beberapa penelitan respon terhadap relokasi memang pada umumnya positif tapi masih terdapat juga dengan respon negatif, hal ini sejalan dengan penelitian Retno Anggita Putri (2016) yang melakukan penelitian di tempat yang sama dengan responden yang berebda yaitu pedagang yang menetap (pedagang besar) di pasar tersebut bukan pedagang retail.
Penemuannya menyatakan hal yang sama bahwa persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah positif.
5.2. Hasil Uji Hipotesis 2: Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buah Kota Medan
Faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan ialah aksesibilitas, kenyamanan, variasi jenis produk, kualitas produk, dan harga. Untuk mengetahui hubungan tersebut maka dapat dilakukan analisis dengan mengguanakan metode Chi-Square.
5.2.1. Hubungan Aksesibilitas dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Untuk melihat ada tidaknya hubungan yang nyata antara variabel aksesibilitas dengan persepsi pedagang penegecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 12 berikut:
Tabel 12. Hubungan Aksesibilitas dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Persepsi Tingkat Aksesibilitas
Total
Mudah Sedang Sulit
Positif 2 22 2 26
Negatif 0 10 7 17
Total 2 32 9 43
Sumber : Data primer diolah
Persepsi dikelompokkan dalam 2 hal, yaitu positif dan negatif. Persepsi dikatakan positif apabila diperoleh skor standart > 50 dan persepsi dikatakan negatif apabila diperoleh skor standart ≤ 50.
Tabel 12 memperlihatkan bahwa dari 43 responden yang diwawancarai, ada 2 responden menyatakan variabel tingkat aksesibilitas menuju Pasar Induk Sayur
Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah mudah, 22 responden menyatakan sedang, dan 9 responden lainnya menyatakan sulit.
Tabel 13. Nilai Chi-Square Hubungan Aksesibilitas dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Value Df Asymp.Sig. (2-sided
Pearson Chi-Square 7.733 2 .021
Likelihood Ratio 8.429 2 .015
Linear-by-Linear Association
7.423 1 .006
N of Valid Cases 43 Sumber : Data primer diolah
Tabel 13 memperlihatkan bahwa nilai Chi-Square sebesar 7,733 dengan signifikansi 0,021. Nilai signifikansi lebih kecil dari α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima artinya ada hubungan yang nyata antara aksesibilitas menuju Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.
Hal ini sejalan dengan penelitian Lia Natalia (2014) yang menunjukkan bahwa variabel lokasi, berpengaruh terhadap minat konsumen, dimana variabel lokasi berada pada ranah variabel aksesibilitas.
Hal ini diperkuat pula oleh informasi keeratan hubungan antara variabel aksesibilitas dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan yang dapat dihitung seperti di bawah ini.
√
= 0.400
Pada rumus di atas memperlihatkan bahwa tingkat keeratan hubungan aksesibilitas dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan tergolong sedang. Hal ini ditandai dengan nilai Correlation Coefficient 0,400.
5.2.2. Hubungan Kenyamanan dengan Persepsi Pedagang Pengecer
(Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Untuk melihat ada tidaknya hubungan yang nyata antara variabel kenyamanan dengan persepsi pedagang penegecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat dilihat pada tabel 14 berikut:
Tabel 14. Hubungan Kenyamanan dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Persepsi Tingkat Kenyamanan
Total
Nyaman Sedang Tidak Nyaman
Positif 25 1 0 26
Negatif 13 2 2 17
Total 38 3 2 43
Sumber : Data primer diolah
Persepsi dikelompokkan dalam 2 hal, yaitu positif dan negatif. Persepsi dikatakan positif apabila diperoleh skor standart > 50 dan persepsi dikatakan negatif apabila diperoleh skor standart ≤ 50.
Tabel 14 memperlihatkan bahwa dari 43 responden yang diwawancarai, ada 38 responden menyatakan variabel tingkat kenyamanan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah nyaman, 3 responden menyatakan sedang, dan 2 responden lainnya menyatakan tidak nyaman.
Tabel 15. Nilai Chi-Square Hubungan Kenyamanan dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Value Df Asymp.Sig. (2-sided
Pearson Chi-Square 4.433 2 .109
Likelihood Ratio 5.070 2 .079
Linear-by-Linear Association
4.330 1 .037
N of Valid Cases 43 Sumber : Data primer diolah
Tabel 15 memperlihatkan bahwa nilai Chi-Square sebesar 4,433 dengan signifikansi 0,109. Nilai signifikansi lebih besar dari α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 ditreima dan H1 ditolak artinya tidak ada hubungan yang nyata antara kenyamanan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan. Hal ini sejalan dengan penelitian Lia Natalia (2014) bahwa secara parsial variabel pelayanan dan kenyamanan tidah berpengaruh terhadap minat konsumen untuk berbelanja.
Kenyamanan perlu didapatkan setiap orang dalam setiap kegiatannya, karena bila tidak nyaman, sesuatu yang dikerjakan tidak akan menjadi maksimal hasilnya.
Sehingga berdasarkan teori kenyamanan berpengaruh terhadap persepsi, tetapi dalam penelitian ini kenyamanan tidak berpengaruh secara nyata, hal ini dikarenakan meski beberapa responden mengaku tidak nyaman tetapi tetap berbelanja ke pasar induk karena lokasi pedagang retail dekat dengan pasar induk, sehingga alasan kenyamanan di kesampingkan.
Hal ini diperkuat pula oleh informasi keeratan hubungan antara variabel kenyamanan dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar
Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan yang dapat dihitung seperti di bawah ini.
√
= 0.306
Pada rumus di atas dapat dilihat bahwa tingkat keeratan hubungan kenyamanan dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan tergolong lemah. Hal ini ditandai dengan nilai Correlation Coefficient 0,306.
5.2.3. Hubungan Variasi Jenis Produk dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Untuk melihat ada tidaknya hubungan yang nyata antara variabel variasi jenis produk dengan persepsi pedagang penegecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat dilihat pada tabel 16 berikut:
Tabel 16. Hubungan Variasi Jenis Produk dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Persepsi Tingkat Variasi Jenis Produk
Total
Lengkap Sedang Tidak Lengkap
Positif 14 11 1 26
Negatif 7 8 2 17
Total 21 19 3 43
Sumber : Data primer diolah
Persepsi dikelompokkan dalam 2 hal, yaitu positif dan negatif. Persepsi dikatakan positif apabila diperoleh skor standart > 50 dan persepsi dikatakan negatif apabila diperoleh skor standart ≤ 50.
Tabel 16 memperlihatkan bahwa dari 43 responden yang diwawancarai, ada 21 responden menyatakan variabel tingkat variasi jenis produk Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah lengkap, 19 responden menyatakan sedang, dan 3 responden lainnya menyatakan tidak lengkap.
Tabel 17. Nilai Chi-Square Hubungan Variasi Jenis Produk dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Value Df Asymp.Sig. (2-sided
Pearson Chi-Square 1.314 2 .518
Likelihood Ratio 1.296 2 .523
Linear-by-Linear Association
1.111 1 .292
N of Valid Cases 43 Sumber : Data primer diolah
Tabel 17 memperlihatkan bahwa nilai Chi-Square sebesar 1,314 dengan signifikansi 0,518. Nilai signifikansi lebih besar dari α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak artinya tidak ada hubungan yang nyata antara variasi jenis produk Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.
Tidak adanya keterkaitan variasi jenis produk terhadap persepsi disebabkan oleh pasar induk memang sudah sangat lengkap baik berdasarkan penuturan pedagang dengan persepsi negatif, tetapi meski di pasar induk lengkap tidak menjadikan pedagang yang di pusat pasar berbelanja ke pasar induk karena kebutuhan dan barang-barang yang mereka butuhkan juga sudah lengkap di pusat pasar, sehingga variabel variasi jenis produk tidak menjadi faktor yang mempengaruhi persepsi karena baik pasar induk maupun pusat pasar sama-sama lengkap.
Hal ini diperkuat pula oleh informasi keeratan hubungan antara variabel variasi jenis produk dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan yang dapat dihitung seperti di bawah ini.
√
= 0.172
Pada rumus di atas memperlihatkan bahwa tingkat keeratan hubungan variasi jenis produk dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan tergolong lemah. Hal ini ditandai dengan nilai Correlation Coefficient 0,172.
5.2.4. Hubungan Kualitas Produk dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Untuk melihat ada tidaknya hubungan yang nyata antara variabel kualitas produk dengan persepsi pedagang penegecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat dilihat pada tabel 18 berikut:
Tabel 18. Hubungan Kualitas Produk dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Persepsi Tingkat Kualitas Produk
Total
Bagus Sedang Tidak Bagus
Positif 11 14 1 26
Negatif 5 11 1 17
Total 16 25 2 43
Sumber : Data primer diolah
Persepsi dikelompokkan dalam 2 hal, yaitu positif dan negatif. Persepsi dikatakan positif apabila diperoleh skor standart > 50 dan persepsi dikatakan negatif apabila diperoleh skor standart ≤ 50.
Tabel 18 memperlihatkan bahwa dari 43 responden yang diwawancarai, ada 16 responden menyatakan variabel tingkat kualitas produk Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah bagus, 25 responden menyatakan sedang, dan 2 responden lainnya menyatakan sulit.
Tabel 19. Nilai Chi-Square Hubungan Kualitas Produk dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Value Df Asymp.Sig. (2-sided
Pearson Chi-Square .760 2 .684
Likelihood Ratio .769 2 .681
Linear-by-Linear Association
.716 1 .397
N of Valid Cases 43 Sumber : Data primer diolah
Tabel 19 memperlihatkan bahwa nilai Chi-Square sebesar 0,760 dengan signifikansi 0,684. Nilai signifikansi lebih besar dari α 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak artinya tidak ada hubungan yang nyata antara kualitas produk Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan.
Kualitas produk tidak berhubungan secar nyata dengan persepsi pedagang retail, karena kualitas produk di pusat pasar dan pasar induk hampir sama, dapat dilihat dari tabulasi responden yang menyatakan dari 43 orang, sebanyak 41 orang mengatakan bahwa kualitas produk antara sedang hingga bagus. Dimana yang mengatakan sedang antara persepsi positif dan negatif berbanding 14:11.
Hal ini diperkuat pula oleh informasi keeratan hubungan antara variabel kualitas produk dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan yang dapat dihitung seperti di bawah ini.
√
= 0.132
Pada rumus di atas memperlihatkan bahwa tingkat keeratan hubungan kualitas produk dengan persepsi pedagang sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan tergolong lemah. Hal ini ditandai dengan nilai Correlation Coefficient 0,132.
5.2.6. Hubungan Harga dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Untuk melihat ada tidaknya hubungan yang nyata antara variabel harga dengan persepsi pedagang pengecer (retailer) sayur dan buah terhadap keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut:
Tabel 20. Hubungan Harga dengan Persepsi Pedagang Pengecer (Retailer) Sayur dan Buah Terhadap Keberadaan Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan
Persepsi Tingkat Harga
Total
Murah Sedang Mahal
Positif 0 25 1 26
Negatif 0 16 1 17
Total 0 41 2 43
Sumber : Data primer diolah
Persepsi dikelompokkan dalam 2 hal, yaitu positif dan negatif. Persepsi dikatakan positif apabila diperoleh skor standart > 50 dan persepsi dikatakan negatif apabila diperoleh skor standart ≤ 50.
Tabel 20 memperlihatkan bahwa dari 43 responden yang diwawancarai, tidak ada responden menyatakan variabel tingkat harga Pasar Induk Sayur Mayur dan Buah-Buahan Kota Medan adalah murah, 41 responden menyatakan sedang, dan 2 responden lainnya menyatakan mahal.
Tabel 21. Nilai Chi-Square Hubungan Harga dengan Persepsi Pedagang
Tabel 21. Nilai Chi-Square Hubungan Harga dengan Persepsi Pedagang