KONSEP KOMUNITAS BASIS DALAM SINODE II KAJ
5. Fanatisme agama: di tengah situasi bingung dan krisis bisa menjerumuskan orang ke dalam sikap fanatik, termasuk di dalamnya
3.14 Pola Komunitas Basis menurut Sinode II KAJ
3.14.4 Karakteristik Umum Komunitas Basis Kategorial
Sinode melihat karakteristik umum dari Komunitas Basis kategorial adalah jumlah anggota komunitas yang sangat bervariasi, dari yang hanya puluhan orang hingga yang berjumlah ratusan. Bidang kegiatannya pun amat beragam, yang tidak selalu jelas batas-batasnya dan dapat dikategorikan dalam bidang-bidang:
pewartaan, devosi, pendalaman iman, sosial karitatif, dan sosial kemasyarakatan.
Umumnya setiap komunitas kategorial memiliki beberapa bidang kegiatan meskipun dengan porsi penekanan yang berbeda-beda.
Selain itu, sifat komunitas yang beragam: dari yang relatif amat cair ( seperti misalnya komunitas-komunitas Misa Jumat Pertama atau Jumper) yang tanpa struktur organisasi formal hingga yang memiliki struktur organisasi formal. Dalam hal ini, tingkat intensitas kehadiran atau keberadaan komunitas yang berbeda-beda, dari yang berjalan satu hingga dua tahun karena tergantung dari beberapa orang
126 sebagai penggeraknya hingga yang eksistensinya sudah puluhan tahun dan dengan bidang pelayanan yang tidak berubah. 169
Basis kategorial sebenarnya juga memiliki unsur sebagai basis teritori wilayah tertentu. Daerah sebaran Komunitas Basis kategorial sangat beragam: dari yang hanya satu di suatu Paroki tertentu, atau suatu daerah tertentu (Misalnya KKMK di kompleks perkantoran) hingga yang tersebar di setiap paroki (Misalnya Legio Maria dan kelompok-kelompok persekutuan doa yang lainnya). Cara pengorganisasiannya juga berbeda-beda; ada yang dibagi secara geografis, ada pula yang berbasis paroki.
Oleh sebab itu, satuan Komunitas Basis kategorial yang berada di Paroki, menjadi bagian dari penggembalaan Pastor Paroki bersama dewan paroki setempat.
Ini berlaku bagi Komunitas Basis kategorial yang memang hanya ada di suatu paroki maupun komunitas kategorial yang memiliki struktur organisasi atau kepengurusan di tingkat keuskupan atau bahkan nasional namun keberadaannya sampai di paroki-paroki (misalnya WKRI cabang, Marriage Encounter, Legio Maria, dsb). Komunitas kategorial yang tidak dapat dikatakan berbasis paroki tertentu berada di bawah penggembalaan Vikaris Episkopalis Kategorial KAJ.
Lebih dari itu sinode menegaskan bahwa komunitas kategorial selalu diarahkan untuk semakin inklusif, sinergis, dan mengisi berbagai celah kesempatan pelayanan yang tidak dapat dipenuhi oleh komunitas teritorial.
169 Sekretariat KAJ, Menuju Gereja KAJ yang Dicita-citakan, 24.
127 3.15 Komunitas Basis dan Kesadaran akan Realitas
Komunitas Basis hendak membangun kehidupan komuniter sekaligus mengupayakan terjadinya perubahan dalam kehidupan konkret setempat. Konsep Komunitas Basis yang ditegaskan dalam sinode sebenarnya hendak menjalankan segala aspek, fungsi, dan kegiatan gerejani, mewujudkan seluruh kehidupan menggereja secara penuh dengan keterlibatan seluruh umat berima Kristiani.
Komunitas Basis menjadi suatu langkah baru bagi penghayatan iman dan persaudaraan dalam konteks kehidupan menggereja di KAJ.
Gambaran tentang bagaimana proses penegasan tersebut dapat dilihat dari metodologi yang dijelaskan oleh sinode sebagai see-judge-act yang harus diterapkan bagi komunitas-Komunitas Basis di KAJ. Proses see-judge-act tersebut dalam kehidupan Komunitas Basis disebut sebagai proses refleksi atas realitas.
Realitas yang ditemukan coba diamati (see). Realitas tersebut diinterpretasikan secara kritis agar semakin bisa dimengerti apa yang terjadi di dalamnya (judge).
Kemudian berangkat dari pemahaman baru akan realitas tersebut ditemukanlah langkah tindakan yang akan diambil (act).170
Komunitas Basis sebagai cara untuk menghayati kehidupan jemaat harus didasarkan dari realitas konkret yang dihadapi oleh umat setempat dan situasi kehidupan mereka. Mereka mencari fakta atas persoalan, tantangan, dan keprihatinan yang mereka hadapi. Bisa pula refleksi berangkat dari apa yang sudah
170 Komisi Kateketik KWI, Membangun Komunitas Basis Berdaya Transformatif Lewat Katekese Umat, 19.
128 mereka kerjakan dan perjuangkan, mendata segala keberhasilan maupun kegagalan yang terjadi kemudian membuat penilaian, Analisa serta refleksi atas apa yang sudah diamati itu.
Tak disangkal tumbuhnya Komunitas Basis gerejani ini berkaitan pula dengan tumbuhnya kesadaran baru dalam memandang realitas yang tampak dalam tumbuhnya kesadaran, visi mereka akan hidup dan tertanamnya motivasi untuk terlibat. 171 Sekaligus juga muncul kebutuhan untuk berkomunitas dan kesadaran untuk saling membantu serta mendukung, merasakan pengalaman terlibat di tingkat bawah. Dalam komunitas kecil tersebut umat beriman mengalami pengalaman eksistensial sebagai Gereja, menyadari diri sebagai umat Allah. Kesadaran tersebut berbuah dengan keterlibatan akan kehidupan menggereja: Gereja menjadi milik bersama, dan semuanya memiliki Gereja. Kehidupan bersama mereka pertama-tama berdasar pada relasi personal yang berbuah pada tindakan yang nyata.
Sinode juga mengutip pedoman KWI yang membicarakan tentang persekutuan gerejawi, dikatakan bahwa yang dicita-citakan adalah suatu koinonia yang merayakan leiturgia dan giat mewartakan kerygma, tampak dalam diakonia sehingga menjadi saksi iman sejati (melaksanakan martyria). Sehubungan dengan itu aneka bentuk menggereja di KAJ harus saling melengkapi dan memperkaya dalam Gereja, tentunya diharapkan ada keseimbangan antara kekhususan Komunitas Basis dan kebersamaannya. Dikatan bahwa:
171 A. Margana, Komunitas Basis: Gerak Menggereja Kontekstual, 41.
129 Pendalaman hidup dan layanan pastoral menurut penghimpunan umat dalam satuan yang masih memungkinkan komunikasi yang erat antara pada warga satuan itu, tak hanya dalam perayaan liturgi tetapi juga dalam hidup sehari-hari. Di berbagai Kawasan dunia ini telah tumbuh aneka jemat basis yang mengusahakan intensifikasi hidup dan layanan pastoral umat. Di tanah air kita sistem lingkungan dan kadang-kadang satuan-satuan yang lebih kecil serta beberapa perkumpulan kategorial berusaha menjadi jemaat basis. Mereka perlu lebih menyuburkan diri dengan berbagai bentuk pengelolaan dan kegiatan. Seluruh umat hendaknya saling mendorong agar merasa bertanggungjawab untuk proses itu.172
Komunitas Basis merupakan cara kehidupan jemaat yang memungkinkan terjadinya komunikasi erat, serta terwujudnya intensifikasi hidup dan layanan pastoral umat. Oleh sebab itu, kesadaran bersekutu sebagai sesama umat beriman dan panggilan untuk memberikan kesaksian di tengah masyarakat serta realitas kehidupan sehari-hari mendapatkan penekanan serta ruang yang seluas-luasnya di Gereja KAJ sendiri melalui penegasan dalam sinode.