HASIL PENELITIAN A Gambaran Umum Lokasi Peneitian
D. Analisis Bivariat
1. Karakteristrik Responden
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari. Dari hasil penelitian terhadap 58 responden memperlihatkan bahwa umur responden terbagi atas 3 kelompok, yaitu dari umur antara 20-30 tahun, umur antara 30-40 tahun dan umur responden yang lebih dari 40 tahun. Data mengenai usia responden mayoritas pada usia antara 20-30 tahun sebanyak 52%. Pada jenis pekerjaan memperlihatkan bahwa dari 58 responden penelitian, sebagaian besar sebagai ibu rumah tangga dengan jumlah 72%. Sebagian besar responden ibu rumah tangga ini mempunyai kesempatan lebih banyak dalam merawat balitanya dari kejadian sakit termasuk dalam penyakit diare. Ditinjau dari tingkat pendidikan menunjukkan bahwa responden masih banyak yang berpendidikan SMA yaitu sebesar 69%. Pendidikan merupakan suatu usaha manusia
untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses kehidupan (Ihsan, 2004). Menurut Notoatmodjo (2003) pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap perubahan perilakunya. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka kualitas penduduk akan semakin baik jika diukur dari aspek pengetahuan. Namun hal tersebut belum tentu dapat menjamin kesadaran dan kedewasaan masyarakat. Apabila tingginya tingkat pendidikan diiringi dengan kesadaran dan kedewasaan yang tinggi, maka bukan hal yang mustahil jika dapat mewujudkan tatanan kehidupan yang semakin baik.
2. Sumber Air Minum
Air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia baik untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Dengan memperhatikan kualitas dan kuantitas sumber air yang cukup
sesuai dengan kebutuhan sehari-hari, penyakit-penyakit yang berbasis lingkungan berkaitan langsung dengan air minum sebagai kebutuhan vital manusia.
Hasil penelitian menunjukan adanya sumber air minum yang memenuhi syarat (MS) sebanyak 78% dan menderita penyakit diare sebanyak 34 balita responden (58,6%). Hal ini disebabkan penyebab diare bukan hanya karena faktor sumber air minum, tetapi bisa juga dari berbagai faktor yang lain, misalkan adat istiadat masyarakat dalam hal pengolahan air minum yang kadang-kadang tidak dimasak sebelum diminum, adanya makan makanan lain seperti buah-buahan yang tidak dicuci bersih dahulu sebelum dimakan sehingga resiko untuk terkena diare bisa tinggi pada balita. Hasil penelitian lain yang sejalan adalah penelitian Wibowo et. al (2004) menyimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kejadian diare dengan jenis sumber air minum.
Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa sebanyak 22% responden menggunakan sumber air minum yang tidak memenuhi syarat (TMS), dari 58 responden penelitian, terdapat 10 balita responden mengalami diare. Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian masyarakat terhadap sumber air minum yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi faktor penunjang terjadinya diare pada balita.
Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian Irianto et, al (2009) yang menyimpulkan bahwa penyediaan air minum berhubungan dengan kejadian diare pada balita dan merupakan faktor risiko kejadian
diare dan sebanyak 87,5% menggunakan sumber air minum yang tidak terlindung. Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari- jari tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Depkes RI, 2000).
Berdasarkan hasil penelitian Sutomo (2011) disimpulkan bahwa ada hubungan antara sumber air minum yang dikonsumsi di rumah- rumah pada daerah pedesaan dan responden yang menggunakan air bersih memiliki kecenderungan lebih kecil menderita penyakit diare. Sebaliknya responden yang tidak menggunakan air bersih memiliki kecenderungan menderita penyakit diare.
Hasil analisis data secara statistik menunjukkan bahwa sumber air minum yang dikonsumsi ada hubungan yang sangat kuat dengan kejadian diare pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari dimana nilai X2 hitung (12,026) > X2 tabel (3,841) dengan nilai p= 0,001 dan phi value = 0,45.
3. Kepemilikan Jamban
Dengan bertambahnya penduduk yang tidak sebanding dengan area permukiman, masalah pembuangan kotoran manusia akan semakin meningkat. Dilihat dari segi kesehatan masyarakat, masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah pokok untuk diatasi
sedini mungkin, karena kotoran manusia (feses) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Untuk mencegah atau setidaknya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, yaitu harus ditempat tertentu atau jamban yang sehat.
Data penelitian menunjukkan responden yang telah memiliki jamban keluarga sebanyak 86,2%, dari 58 responden penelitian terdapat 14 (24,1%) balita responden yang mengalami diare. Hal ini disebabkan karena penyakit diare bisa terjadi dari berbagai faktor, baik itu dengan adanya jamban tetapi sumber air yang tidak memenuhi syarat, makanan minuman yang dikomsumsi balita sudah terkontaminasi oleh kuman/bakteri penyakit yang dibawa oleh serangga-serangga perantara bakrteri coli serta dapat pula terjadi oleh faktor-faktor lainnya.
Data responden yang tidak memiliki jamban sebanyak 14%, dari 58 responden penelitian terdapat 7 (12,1%) balita responden yang mengalami diare. Dengan belum memiliki jamban sendiri, dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit seperti kejadian diare pada balita responden yang dikarenakan kotoran tinja yang tidak terkubur rapat akan mengundang lalat maupun tikus yang akan berdampak terhadap kesehatan lingkungan.
Menurut Notoatmodjo (2003), syarat pembuangan kotoran yang memenuhi aturan kesehatan adalah tidak mengotori permukaan tanah di sekitarnya, tidak mengotori air permukaan di sekitarnya, tidak
mengotori air dalam tanah di sekitarnya, kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipakai sebagai tempat vektor bertelur dan berkembangbiak. Membuang tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi dapat mencemari lingkungan pemukiman, tanah dan sumber air. Dari lingkungan yang tercemar tinja berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat, tidak mencuci tangan dengan sempurna setelah bekerja atau bermain di tanah (anak-anak), melalui makanan dan minuman maka dapat menimbulkan kejadian diare. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Wibowo et.al (2004) disimpulkan ada hubungan yang bermakna antara kejadian diare dengan tempat pembuangan tinja.
Hasil analisis data secara statistik menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara kepemilikan jamban dengan kejadian diare pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari dimana nilai X2 hitung (10,571) < X2 tabel (3,841) dengan nilai p= 0,002 dan nilai phi value = 0,427.
4. Jenis Lantai Rumah
Data penelitian menunjukkan responden yang jenis lantai rumahnya sudah memenuhi syarat (MS) sebanyak 78%, dari 58 responden penelitian terdapat 11 (19,0%) balita responden yang mengalami diare. Penyebab diare bukan hanya karena faktor jenis lantai rumah, tetapi oleh faktor lainnya yaitu sumber air minum yang tidak memenuhi syarat, pembuangan tinja yang tidak saniter serta kebiasaan dan adat istiadat masyarakat misalnya dalam hal tindakan
air yang kadang-kadang tidak dimasak lalu dikomsumsi sehingga resiko terkena diare pada balita cukup tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jenis lantai rumah responden yang tidak memenuhi syarat (TMS) sebanyak 22%, dari 58 responden penelitian terdapat 10 (17,2%) balita responden yang mengalami diare. Hal ini disebabkan kebersihan lantai rumah tempat balita bermain mesti diperhatikan kebersihannya. Aktivitas balita responden yang bermain di lantai rumah menyebabkan terjadikan kontak antara lantai rumah dengan tubuh balita. Keadaan ini memunculkan berbagai kuman penyakit yang menempel pada tubuh balita apabila tidak dijaga kebersihannya, kondisi yang tidak baik dapat menyebabkan terjadinya diare pada balita.
Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa syarat rumah yang sehat jenis lantai yang tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim penghujan. Dengan banyaknya responden yang memiliki lantai rumah yang masih tidak kedap air sangat memungkinkan lantai menjadi sarang kuman, debu untuk dapat menjadi pencetus terjadinya diare pada balita. Aktivitas balita responden yang bermain di lantai rumah menyebabkan terjadikan kontak antara lantai rumah yang tidak kedap air dengan tubuh balita. Keadaan ini memunculkan berbagai kuman penyakit yang menempel pada tubuh balita. Kondisi yang tidak baik dapat menyebabkan terjadinya diare pada balita.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rahadi (2005) yang menyimpulkan bahwa jenis lantai berhubungan dengan kejadian diare. Hal ini disebabkan karena masih banyak lantai yang terbuat dari tanah yang akan menyebabkan ruang kotor dan menjadi sarang mikroorganisme serta mudah menyerap air yang mungkin air tersebut mengandung mikroorganisme.
Hasil uji stastistik menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat antara jenis lantai rumah dengan kejadian diare pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Poasia Kota Kendari dimana nilai X2 hitung (12,026) < X2 tabel (3,841) dengan nilai p= 0,001 dan nilai phi value = 0,455.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN