• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakterstik Penelitian Antropolog Sastra

Dalam dokumen metodologi antropologi sastra (Halaman 35-40)

Teori Penelitian Antropologi Sastra

A. Karakterstik Penelitian Antropolog Sastra

K

arakterisik peneliian antropologi sastra adalah pemahaman sastra dari sisi keanekaragaman budaya. Masalah hangat dalam menulis antropologi sampai saat ini belum terpecahkan secara serius. Belum ada rumusan yang baku, apa dan bagaimana sastra dan antropologi harus ditulis dan dipahami. Sastra dan antropologi awalnya memang wilayah yang berbeda. Namun, pada kenyataannya, sastra dan antropologi sering bersentuhan dalam menimba kehidupan manusia. Pada dasarnya, baik sastra maupun antropologi terkait dengan perilaku sosial dan budaya manusia yang kompleks.

Jika Keesing (1981:77) sudah menyoroi bahasa dalam kaitannya sebagai alat komunikasi, dari sisi antropologi, sastra dapat berimbas ke bidang antropologi sastra. Oleh karena bahasa dalam perisiwa komunikasi itu diwujudkan ke dalam sastra oleh sekelompok orang, orang sering membungkus makna simbolis dengan bahasa kias. Perilaku dan budaya manusia sering dituturkan secara imajinaif oleh informan, melebihi seorang

pengarang sastra. Tuturan secara lisan justru banyak menggoda penafsiran. Oleh sebab itu, tugas antropolog sastra dan ahli sastra sebenarnya sejajar, yaitu bagaimana menafsirkan perilaku itu tanpa mengadopsi sikap ani-humanisik. Bagaimana perilaku tokoh Datuk Meringgih dalam novel Sii Nurbaya, jelas membawa kesan tersendiri. Begitu pula karya-karya lain seperi Atheis, Upacara karya Panji Tisna, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana, Burung-burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya, Sindhen karya Krishna Miharja, dan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer akan menjadi saksi rekaman budaya suatu zaman.

Karya-karya yang memuat lokalitas telah lama menggoda ahli-ahli sastra. Mereka ada yang menyebut warna lokal, lalu diinjau, dibaca, dan diberi kriik secara sosiologis. Namun, tampaknya kriik sosiologis itu hampir kehilangan makna yang sesungguhnya. Oleh karena simbol-simbol budaya sering idak selalu sama dengan simbol sosial, karya-karya yang memuat kearifan lokal atau warna lokal sebenarnya lebih cocok dikaji dari sisi antropologi sastra. Karya-karya yang memuat warna lokal itu sebenarnya idak jauh berbeda dari sebuah etnograi. Ciri tulisan etnograi dan karya pengarang idak jauh berbeda, yaitu (1) memuat seluk beluk perilaku manusia, (2) bermuatan hal-hal humanisis. Kedua hal ini membutuhkan tafsir yang jitu. Itulah sebabnya peneliian antropologi sastra perlu selekif. Seleksi didasarkan atas keberagaman dan lokalitas sebuah karya sastra.

Tulisan antropolog idak jauh berbeda dari karya sastra, antara lain (1) untuk membaca kehidupan, (2) untuk memberikan suara kepada khalayak, (3) untuk memberikan beberapa pikiran

agar orang-orang sadar, misalnya Ernest Frankson. Sama seperi cerita rakyat, melalui kantor-kantor yang baik dari program folklife dari Smithsonian Insituion, sebenarnya bertujuan melestarikan, merangsang, dan memelihara budaya rakyat dan seni mereka. Antropologi dapat memperkaya dan diperkaya oleh apa yang disebut dengan materi pelajaran. Antropologi dapat dipandang sebagai semacam masuk dan berada di belakang orang, belajar banyak tentang kehidupan mereka, tentang niat mereka, teknik dan cara, dan pada saat yang sama secara bertahap menunjukkan bahwa kita mengetahui dan memahami cara-cara dan kemudian mencerminkan kembali kepada rakyat.

Yang paling pening, keika hendak menganalisis karya sastra, perlu seleksi terlebih dahulu. Objek peneliian yang akan dijadikan bahan analisis ada beberapa hal, antara lain (1) memilih karya yang melukiskan etnograi pada masyarakat lokal, sederhana, belum tertata, tetapi memiliki pemikiran cerdas; (2) memilih karya- karya yang melukiskan berbagai tradisi lokal, kekerabatan, trah; (3) memilih karya yang penuh tantangan, jebakan, petualangan. Karya-karya semacam itu jauh lebih bagus dibandingkan penelii asal menelii karya sastra. Karya-karya sastra etnis yang bertajuk lokalitas biasanya lebih menarik dianalisis secara antropologi sastra.

Antropologi sastra sebenarnya merupakan sebuah getaran baru yang mencoba mengurai kebuntuan pemahaman sastra secara monodisipliner. Akivitas monodisiplin ini, menurut Rokhman (2003:3), kurang memberi kesempatan leluasa pada siapa saja yang belajar sastra. Bukinya, keika ada reuni di Fakultas Sastra UGM, ada yang menanyakan kepada Dekan, “Untuk apa

saya belajar sastra?” Mendengar pertanyaan itu, Dekan waktu itu marah. Mahasiswa yang bertanya spontan menjadi bahan pergunjingan. Biarpun mahasiswa itu betul, yang seharusnya menjadi bahan introspeksi para dosen, ternyata semua itu akibat sempitnya pemahaman sastra. Sastra itu fenomena yang mahaluas cakupannya sehingga pantas apabila dikembangkan lewat antropologi sastra.

Yang lebih pening, jika interdisipliner sastra dapat diwujudkan, manusia idak akan picik memahami sastra. Manusia dapat memahami persoalan hidup manusia secara utuh. Kata Turner (1993:27), baru-baru ini idak terlihat bahwa masalah tafsir etnograi dan sastra merupakan masalah besar. Dengan demikian, idaklah berlebihan apabila ajakan Ahimsa Putra dan Budiman (Rokhman, 2003:10) untuk mengembangkan antropologi sastra patut segera mendapat tanggapan. Antropologi sastra idak sekadar masalah bandingan sastra atau sastra bandingan, tetapi perlu dipupuk agar pemahaman sastra dapat berjalan secara total. Masalah selalu ada dalam sastra karena memang hakikatnya mulitafsir. Yang menggoda adalah tafsir antropologis untuk menyelami aspek budaya secara mendalam.

Hal ini terjadi karena antropologi cenderung mengambil jarak dan menjauh dari materi akademik di kalangan ilmu humaniora seperi sejarah atau sastra, linguisik, dan sebagainya. Begitu pula ahli sastra, sering merasa dirinya lebih pandai hingga mengambil jarak esteis dengan karya sastra. Padahal, jika akan mendekai realitas tafsir etnograi dan sastra, seharusnya idak mengambil jarak. Teks etnograi dan sastra membutuhkan tafsir yang dekat sambil menyelami indakan manusia yang humanis.

Struktur masyarakat, kode dan hukum, sastra, mitos inggi, dan kehidupan nyata merupakan hasil perenungan manusia. Kewenangan etnografer untuk menemukan orang lain (ther other) di lapangan sebagai konsultan memang pening. Karakterisik etnograi juga sejajar dengan sastra, yaitu mengedepankan data. Hanya saja, jika etnograi sering memanfaatkan wawancara dengan realitas, sastra dapat saja dengan wawancara secara imajiner. Gerakan ini telah dipromosikan sebagai lawan dari analisis kogniif dan struktural-fungsionalisme, modus lain dari kepenulisan, konvensi pengalaman, interpretaif, dialogis, dan polifonik. Maka dari itu, peneliian antropologi sastra lebih banyak untuk menjawab keidakpuasan teori-teori sebelumnya yang kadang-kadang menemukan kebuntuan.

Dalam tulisan ini, diharapkan agar penelii antropologi sastra seharusnya mampu beradaptasi dan mencoba menggunakan informan untuk memahami secara alami apa yang akan terjadi. Mereka dapat menelusuri karya sastra, dikaitkan pula dengan lapangan, audiens, dan juga resepsi dramais. Saya percaya bahwa tanpa contoh kejadian yang sebenarnya keika antropolog mengambil bagian (idak hanya teks), banyak upaya untuk menggambarkan “antropologi interpretaif” baru yang cenderung membingungkan dan idak jelas. Masalahnya adalah bagaimana untuk menghasilkan kehalusan dan kejujuran dalam lapangan serta mengambil kesimpulan yang berkisar pada pemahaman beberapa jenis manusia normal. Yang terakhir ini merupakan tujuan yang serius dalam antropologi sastra karena fungsi tulisan antropologis idak hanya untuk antropolog.

Dalam dokumen metodologi antropologi sastra (Halaman 35-40)