PEREMPUAN DALAM PENAFSIRAN HAMKA DAN QURAISH SHIHAB
B. Karir dalam Tafsir Al-Azhar dan Al-Misbah
Wacana adanya ketidaksetaraan laki-laki dan perempuan, disosialisasikan dan mendapatkan respon sedemikian rupa di tanah air. Ini, karena ada asumsi bahwa ada diskriminasi terhadap perempuan dan superioritas laki-laki terhadap perempuan dalam karir56 maupun rumah tangga. Dan ironisnya di antara yang „dituduh‟ menjadi penyebab adanya diskriminasi tersebut adalah ajaran Islam. Ajaran Islam disalahpahami sebagai salah satu penyebab direndahkannya kedudukan perempuan.
Secara normatif, terdapat teks-teks keagamaan (Al-Quran dan Hadis), yang jika dipahami secara literal akan memberi kesan adanya ketidaksejajaran (superioritas- inferiotitas) antara laki-laki dan perempuan. Teks-teks dimaksud di antaranya adalah yang berbicara tentang proses penciptan perempuan, QS. an-Nisa [4]:1 kepemimpinan laki-laki atas perempuan, QS an-Nisa [4]: 34, hak-hak reproduksi perempuan, hak kewarisan dan persaksian perempuan dan sebagainya.
Tanggapan para mufassir kontemporer terhadap interpretasi mufassir klasik yang menganggap laki-laki adalah superior atas perempuan, bahwa mereka terinfiltrasi oleh beberapa hal: pertama, metode penafsiran yang terpaku pada tahlîli (kronologis, tekstual, terpaku pada keumuman lafadz dan terikat oleh tradisi Timur
pula kepada ulama-ulama lain di Jawa pada waktu itu Lihat Hamka Tafsir al-Azhar. Juz V, Prof. DR. Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983),hal 56
56
Definisi Karir adalah perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan dan sebagainya; pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju. Lihat Daryanto, S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, (Surabaya: Apollo, t.th.), h. 329
Tengah yang androsentris) dan mengabaikan metode maudhû‟i (tematis, kontekstual, dan memperhatikan logika kekhususas sebab). Kedua, Infiltrasi Israiliyat yang terserap ada teks hadis Nabi, yang berasal dari sumber-sumber tradisi Yahudi dan Nasrani. Ketiga,umumnya mufasir adalah kaum laki-laki. Keempat, banyak dikesankan bahwa kitab suci Al-Quran banyak memihak laki-laki dan mendukung sistem patriarkhi, yang oleh kalangan feminis dipandang bisa merugikan perempuan.57
Penafsiran terhadap surat an-Nisa [4]: 34 yang artinya “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Butir ayat yang berbicara tetang posisi dan kepemimpinan laki-laki atas perempuan, merupakan satu masalah yang sering dijadikan contoh oleh kalangan feminis muslim untuk menunjukkan bagaimana diskriminatifnya penafsiran tradisional terhadap perempuan. Bias gender berupa penempatan laki-laki di atas perempuan, selanjutnya menandai bagaimana penafsir selalu berusaha menempatkan laki-laki mutlak sebagai pemimpin dalam semua aspek kehidupan.
Marginalisasi perempuan yang muncul kemudian menunjukkan bahwa perempuan menjadi the second sex –sering juga disebut sebagai warga kelas kedua– yang keberadaannya tidak begitu diperhitungkan. Diktomi nature dan culture, misalnya telah digunakan untuk menunjukkan pemisahan dan stratifikasi diantara dua jenis kelamin ini, yang satu memiliki status lebih rendah dari yang lain. Perempuan (yang dianggap) mewakili sikap alam (nature) harus ditundukkan agar mereka lebih berbudaya (culture).
Implikasi dari konsep dan common sense tentang pemosisian yang tidak seimbang telah menjadi kekuatan di dalam pemisahan sektor kehidupan –ke dalam sektor domestik dan publik– di mana perempuan dianggap orang yang berkiprah dalam
57 Zaitunah Subhan, Gender dalam Tinjauan Tafsîr, dalam Jurnal Kafa‟ah (Jurnal Ilmiah Kajian Gender), Edisi Januari-Juni 2012
sektor domestik, sementara laki-laki ditempatkan sebagai kelompok yang berhak mengisi sektor publik. Ideologi semacam itu telah disahkan oleh berbagai pranata dan lembaga sosial, yang ini kemudian menjadi fakta sosial tentang status-status dan peran-peran yang dimainkan oleh perempuan. Maka perlu memahami ayat ini melalui pendekatan kontekstual, dengan tidak hanya pada makna literalnya serta mengkaji konteks asbabul wurud-nya
Jika pada umumnya mufassir klasik (dari mazhab apapun) –lewat pemahaman mereka terhadap ungkapan qawwâm– menggunakan ayat ini sebagai sebuah legalitas normatif kepemimpinan laki-laki atas perempuan, dalam rumah tangga saja atau sekaligus dalam milleau dan aspek yang lebih luas, maka menurut Asghar Ali Engineer, dengan hanya bersandar pada aspek literal ayat ini tidak cukup untuk menunjukkan bahwa Al-Quran memutlakkan kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan. Apabila memperhatikan konsideran ayat tersebut (wa bimâ anfaqû min amwâlihim) dan mengaitkannya dengan QS. al-Baqarah [2]: 228, maka sebenarnya ayat tersebut hanya berbicara tentang kepemimpinan rumah tangga (suami terhadap istri) dan inipun hanya dalam hal fungsi ekonomisnya.
Sepanjang sejarahnya hingga saat ini, perempuan tidak pernah dipertimbangkan sebagai warga negara yang bebas dari hak-hak istimewa, tugas- tugas khusus, dan perlindungan dari hukum nasional maupun internasional bagi warga negara. Dengan pembatasan –berbentuk perlindungan– ini, justru membuat perempuan tidak mempunyai peranan dalam negara. Perempuan tidak mempunyai hubungan dengan aktivitas negara dan proses pembangunan –seperti masalah-masalah nasionalisme dan konflik politik, kerusakan lingkungan, perang nuklir, genocide– dan masih banyak lagi "produk" maskulin lainnya
Banyak juga kalangan yang berbicara tentang ketimpangan sosial berdasarkan jenis kelamin. Islam tidak sejalan dengan paham patriakhi yang tidak memberikan peluang bagi perempuan untuk berkarya lebih besar di dalam ataupun di luar rumah. Al- Quran tidak mengenalkan dosa warisan dari ibu bapak umat manusia (hawa dan adam) dalam skandal buah terlarang melainkan itu tanggung jawab bersama keduanya.
Di Indonesia, dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender, perlu dikembangkan kebijakan nasional yang responsive gender. Salah satu strategi untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui strategi pengarusutamaan gender dalam
pembangunan. Hal ini dipertegas dengan diterbitkannya Inpres Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional yang menyatakan bahwa seluruh departemen maupun lembaga pemerintah non-departemen di pemerintah nasional, propinsi, maupun kabupaten atau kota harus melakukan pengarusutamaan gender dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi pada kebijakan dan program pembangunan.58
Rendahnya keterlibatan perempuan di partai politik dan parlemen, berdampak langsung pada kecilnya alokasi perhatian terhadap pembangunan kesejahteraan perempuan, karena kebijakan-kebijakan dibuat tidak berdasarkan pada kepentingan dan kebutuhan perempuan. Perempuan diposisikan sebagai objek pembangunan dimana hak-hak dan kebutuhan kesejahteraannya terabaikan. Dalam konteks ini terjadi pembangunan tidak berwawasan gender. Akhirnya yang terjadi adalah perempuan selalu berada pada posisi yang marjinal. Hal ini dapat dilihat dari bebagai indikator, diantaranya dilihat dari sistem pengupahan, upah perempuan lebih rendah daripada laki- laki, jaminan kesehatan perempuan lebih rendah daripada laki-laki, kebijakan-kebijakan moralitas lebih berpihak pada laki-laki dan sebagainya.59
Minimnya keterlibatan dan partisipasi politik perempuan ini menjadi penyumbang terhadap termajinalnya perempuan dalam pembangunan. Hal ini menjadi akar daripada keterlambatan dalam pemberdayaan yang berpotensi membuat perempuan menjadi kelas tertindas oleh kebijakan-kebijakan yang tidak berwawasan gender tersebut.60
Perdebatan yang mengemuka seputar dilarangnya perempuan terjun dibidang politik atau menjadi pemimpin bukan hanya dalam kitab fiqih klasik, tetapi juga dalam fiqih kontemporer yang ditulis oleh Wahbah Zuhaili (1993: 19) bahwa salah satu syarat seorang pemimpin adalah laki-laki, alasan ini disokong oleh hadis ahad dan diriwayatkan oleh segelintir sahabat. Hadis ini bertentangan dengan ayat Al-Quran yang menceritakan kehebatan, kebijaksanaan serta kearifan ratu Balqis sebagai penguasa negeri Saba‟.
58
Alqanitah Pohan, Gender Dalam Komunikasi Politik Aktivitas Partai Islam, dalam jurnal Kafa‟ah: Jurnal ilmiah akjian Gender, Edisi Januari-Juni 2012, h. 26
59
Silvia Hanani, Affirmative Action di Era Reformasi dan Implikasi Terhadap Pembangunan Berwawasan Jender, dalam jurnal Kafa‟ah: Jurnal ilmiah akjian Gender, Edisi Januari-Juni 2012, h. 78
60
Silvia Hanani, Affirmative Action di Era Reformasi dan Implikasi Terhadap Pembangunan Berwawasan Jender, dalam jurnal Kafa‟ah: Jurnal ilmiah akjian Gender, Edisi Januari-Juni 2012, h. 79
Menyikapi tuduhan-tuduhan miring terhadap agama, Hamka dan Quraish melihat banyak hal yang harus diluruskan khususnya persepsi masyarakat tentang perempuan, terutama anggapan laki-laki lebih utama daripada kaum perempuan. Islam sendiri tidak sejalan dengan paham patriakhi yang tidak memberikan peluang bagi perempuan untuk berkarya lebih besar di dalam ataupun di luar rumah. Al-Quran tidak mengenalkan dosa warisan dari ibu bapak umat manusia (hawa dan adam) dalam skandal buah terlarang melainkan itu tanggung jawab bersama keduanya.
Menurut Hamka banyak teks keagamaan yang mendukung persamaan unsur kejadian laki-laki dan perempuan, seperti firman-Nya dalam QS. Ali Imran [3]: 195):
“Sebagian kamu adalah bagian dari sebagian yang lain”, dalam arti bahwa sebagian kamu (hai umat manusia, yakni lelaki) berasal dari pertemuan ovum perempuan dan sperma lelaki, dan sebagaian yang lain (yakni perempuan) demikian juga halnya. Kedua jenis kelamin ini sama-sama manusia, tak ada perbedaan antara mereka dari segi asal kejadian kemanusiannya. Dengan konsideran ini, Al-Quran menegaskan bahwa “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf (QS. al-Baqarah [2]: 228).
Menurut Hamka isi ayat ini adalah keputusan yang amat penting bagi perempuan. Ayat ini menetapkan bahwa perempuan mempunyai hak dan kewajiban, sebagaimana laki-laki mempunyai hak dan kewajiban. Ini berarti laki-laki dan perempuan sama-sama mendapatkan taklif dari Allah dalam hal iman dan dalam amal sholeh, ibadah, muamalah dan pendidikan. Di masyarakat maupun dalam keluarga, perempuan mempunyai hak buat dihargai; berhak atas hak miliknya sebagaimana berhaknya atas dirinya sendiri.61 Didahulukannya penyebutan hak mereka atas kewajiban mereka merupakan penegasan tentang hak-hak tersebut, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya hak itu diperhatikan.
Segala pekerjaan kecil maupun besar dalam masyarakat –menurut Hamka adalah persatupaduan kerja kasar laki-laki dan kerja halus perempuan. Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah Islam sejak mula perkembangannya, dari Makkah sampai Madinah. Yang menyatakan percaya atau iman pertama sekali kepada Rasulullah adalah perempuan, Istri beliau yang pertama, Khadijah binti Khuwailid. Syahid yang pertama karena memperjuangkan Islam ialah perempuan, yaitu Ummi Yasir. Perempuan pertama yang
61
ikut hijrah (hijrah pertama) ke Habasyah diantaranya Ummi Habibah binti Abu Sufyan. Sejak zaman nabi, laki-laki dan perempuan dibaiat. Perempuan dan laki-laki pergi berjihad, laki-laki berperang sedangkan perempuan menyediakan makanan dan menolong tentara yang luka-luka.
Dengan contoh-contoh kejadian di zaman Rasulullah saw. ini, kita melihat bukan laki-laki saja, perempuan pun ambil bagian yang penting di dalam menegakkan
agama. “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. at-Taubah [8]: 71) Hamka menyikapi adanya perbedaan peran antara perempuan dan laki-laki akibat perbedaan fisik dan psikis dengan memberi contoh, misalnya perempuan tidak diwajibkan oleh Rasulullah berjamaah ke surau dan sholat jumat ke masjid. perempuan tidak diwajibkan berjamaah dan berjumat karena mereka mempunyai kewajiban yang lebih penting dalam rumah tangga dan mendidik anak. Oleh karena tugas rumah tangga yang berat itu, sembahyang dirumah bagi perempuan lebih baik dari sembahyang di masjid.
Tidak di wajibkannya perempuan sholat berjamaah ke mesjid bukan berarti perempuan tidak boleh atau terlarang pergi ke mesjid, mereka boleh pergi ke mesjid sebagaimana mereka inginkan asal tugas utamanya telah dilaksanakan. Karena ada perintah Rasulullah: “jangan kamu larang perempuan-perempuan kamu jika mereka hendak ke masjid. Nabi juga berpesan kepada perempuan dilain kesempatan jangan sampai tugas utama perempuan menghalanginya untuk pergi ke mesjid. Ia bersabda:
“Jangan sekali-kali pekerjaan mengasuh anak-anak menjadi penghalang baginya
dalam menjalankan shalat berjama‟ah di masjid.” (HR. Bukhari 10: 162, 164); “Dan jangan pula pekerjaan mangasuh anak-anak dijadikan rintangan bagi perempuan untuk membantu pasukan di garis depan menyangkut bahan makanan” (HR. Bukhari, 56. 67), termasuk “jangan menghalangi perempuan hingga ia menyingkirkan diri dari medan pertempuran untuk mengurus prajurit yang luka dan gugur” (HR. Bukhari, 56. 68). Dengan demikian perempuan tidak dibebani kewajiban mendirikan sholat jamaah dan
jumat. Karena beban mereka lebih berat. Yaitu mendidik anak dan memelihara ketentraman rumah tangga.62
Dengan mengetengahkan contoh diatas Hamka mengingatkan bahwa hak-hak perempuan yang diberikan Islam itu bukanlah untuk menggantikan atau menandingi kedudukan laki-laki. Seperti laki-laki yang seharusnya menanggung nafkah keluarga tidak bekerja sehingga ia menjadi penjaga rumah, sehingga perempuan yang seharusnya mendidik anak terpaksa bekerja keluar rumah. Situasi seperti ini bukan dari ajaran Islam, tetapi dari peradaban Barat sejak zaman industri; ekonomi kapitalis yang mengerahkan tenaga perempuan ke luar rumah. Pertama, karena gajinya lebih murah, kedua karena hendak menawan hati pelanggan dengan kecantikannya.63
Dengan pernyataan ini, Hamka ingin menunjukan bahwa suami tetap memiliki keutamaan dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga (Lihat surat An Nisaa' ayat 34). Allah Swt. menetapkan lelaki sebagai pemimpin dengan dua pertimbangan pokok, yaitu: Pertama, ( ب ع ب ه ف ب ) “karena Allah melebihkan sebahagian
mereka atas sebahagian yang lain,” yakni masing-masing memiliki keistimewaan- keistimewaan. Tetapi keistimewaan yang dimiliki lelaki lebih menunjang tugas kepemimpinan daripada keistimewaan yang dimiliki oleh perempuan. Di sisi lain, keistimewaan yang dimiliki perempuan lebih menunjang tugasnya sebagai pemberi rasa damai dan tenang kepada lelaki serta lebih mendukung fungsinya dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. kedua, firman Allah ( ا ا ا ا ب) bimaa anfaquu min
amwaalihim” disebabkan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka.”. Bentuk kata kerja past tence/masa lampau yang digunakan ayat ini “telah memafkahkan “, menunjukan bahwa menafkahkan menunjukkan bahwa memberi
nafkah kepada wanita telah menjadi suatu kelaziman bagi lelaki, serta kenyataan umum dalam masyarakat sehingga langsung digambarkan dengan bertuk kata kerja masa lalu yang menunjukkan terjadinya sejak dahulu. Penyebutan konsideral itu oleh ayat ini menunjukkan bahwa kebiasaan lama itu masih berlaku hingga kini. 64
62
Hamka, Tafsîr Al-Azhar, Juz 10, h. 277 63
Hamka, Tafsîr Al-Azhar, Juz 4, h. 205 64
Dalam konteks kepemimpinan dalam keluarga, alasan kedua agaknya cukup logis. Bukankah di balik setiap kewajiban ada hak? Bukankah yang membayar memperoleh fasilitas? Tetapi pada hakikatnya, ketetapan ini bukan hanya atas pertimbangan materi.65
Quraish merespon apa yang menjadi tuduhan miring terhadap teks-teks agama sebagai penyebab ketertindasan perempuan dengan berbagai argumen diantaranya; Quraish mengatakan bahwa merupakan hal yang amat penting untuk disadari oleh semua pihak –lebih-lebih perempuan sendiri– bahwa harkat dan martabat mereka sama sekali tidaklah berbeda dengan lelaki. Penekanan ini perlu karena sebagian kita –lelaki atau perempuan– tidak menyadari hal tersebut dan menduga agama yang telah menetapkan adanya perbedaan.
Quraish mengatakan bahwa tidak ditemukan dasar yang kuat bagi larangan berkarir bagi perempuan. Justru sebaliknya ditemukan sekian banyak dalil keagamaan yang dapat dijadikan dasar untuk mendukung hak-hak perempuan untuk bekerja atau berkarir. Salah satu ayat yang dapat dikemukakan dalam kaitan ini adalah QS. At- Taubah [9]: 71. Karena bekerja berarti memanfaatkan semua potensi manusia dalam kehidupan ini dengan menggunakan daya yang dimiliki; daya fisik, daya pikir, daya kalbu dan daya hidup untuk kemaslahatan diri sendiri dan kemaslahatan orang banyak. Oleh sebab itu, Quraish melihat perlunya mendudukkan perempuan pada kedudukan yang sebenarnya serta memberi mereka peranan, bukan saja dalam kehidupan rumah tangga melainkan juga dalam kehidupan bermasyarakat. 66
Laki-laki maupun perempuan menurut Quraish berhak berkarya dan terjun dalam semua bidang kehidupan termasuk bidang politik.67 Karena manusia dari dulu hingga kini merupakan satu kesatuan kemanusiaan yang tidak dapat dipisahkan, karena manusia orang perorang tidak dapat berdiri sendiri. Kebutuhan seorang manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan kerjasama semua pihak. Manusia sebagai mahluk sosial. Mereka harus bekerja sama topang menopang demi mencapai kebahagiaan hidup dan kesejahteraannya.
Hal ini mengantarkan pada dua hal, yaitu: pertama bahwa manusia itu sama dari sisi kemanusiaannya. Karena mereka adalah umat yang satu sebagaimana ditegaskan
65
Hamka, Tafsîr Al-Azhar, Juz 4, h. 407 66
Namun, tidak semua pekerjaan direstui oleh agama. Yang direstui, bahkan yanag diperintahkan agama adalah amal saleh, yakni pekerjaan yang bermanfaat dunia dan akhirat atau pekerjaan yang memenuhi nilai-nilai yang diamanatkan agama.
67
oleh Nabi Muhammad saw: “semua kamu bersumber dari Adam dan Adam tercipta dari tanah. Maka tuduhan bahwa perempuan-lah penyebab manusia terpaksa terusir dari surga tidak bisa di terima apalagi dalam Al-Quran secara tegas Allah telah menyatakan rencana-Nya menciptakan manusia menjadi khalifah di bumi –jauh sebelum penciptaan manusia– dan bahwa pelangggaran memakan buah terlarang bukan hanya dilakukan atau atas dorongan perempuan, tetapi dilakukan bersama –Adam dan Hawa–.
Kedua, karena manusia banyak sekali memiliki kebutuhan maka harus ada keragaman dalam jenis lelaki dan perempuan, profesi, kecendrungan, tingkat pendidikan dan kesejahtraan, -agar mereka saling dapat membantu.68 Hal ini ditegaskan dalam Firman Allah QS. al-Hujurât [49] : 13
Quraish tidak memungkiri bahwa mengabaikan perempuan berarti mengabaikan setengah dari potensi masyarakat, dan melecehkan mereka berarti melecehkan seluruh manusia Karena tidak seorang manusiapun –kecuali Adam dan Hawa as– yang tidak lahir melalui seorang perempuan.69
Quraish melihat meskipun lelaki dan perempuan adalah sepasang makhluk Tuhan yang memiliki martabat dan posisi yang sama, tetapi ia mengakui ada perbedaan diantara mereka, tentu perbedaan yang tidak mengakibatkan supremasi lelaki dan peremehan perempuan. Melalui perbedaan-perbedaan itu, masing-masing memiliki kemandirian yang pada akhirnya mengantar kepada terciptanya hubungan harmonis diantara keduanya sebagai prasyarat bagi terwujudnya masyarakat yang penuh kedamaian dan kesejahteraan bagi semua pihak. 70
Quraish tidak menyangkal adanya bias pemikiran terhadap perempuan yang dilakukan oleh berbagai pihak. Bias tersebut mengakibatkan peremehan terhadap perempuan karena ingin mempersamakan mereka secara penuh dengan lelaki, sehingga menjadikan mereka menyimpang dari kodratnya, sikap seperti ini merupakan pelecehan. Sebaliknya, tidak memberi hak-hak mereka sebagai manusia yang memiliki kodrat dan kehormatan yang tidak kalah dengan apa yang dianugerahkan Allah kepada lelaki, juga merupakan pelecehan.71
68
M. Quraish Shihab, Menabur pesan Ilahi, Al-Quran dan Dinamika Kehidupan Masyarakat, (Jakarta: Lentera Hati , 2006) Cet. ke-1, h. 276
69
M. Quraish Shihab, Perempuan, h. 31 70
M. Quraish Shihab, Perempuan, h. 6 71
Yang tidak memberi perempuan hak-haknya sebagai mitra yang sejajar dengan lelaki dan meremehkannya tidak jarang menggunakan dalih keagamaan serta memberi interpretasi terhadap teks dengan pendapat lama ketika perempuan masih dilecehkan di masa lalu. Sebaliknya yang memberi hak-hak kepada perempuan yang melebihi kodrat mereka, tidak jarang juga mengalami bias ketika berhadapan dengan teks-teks keagamaan dengan menggunakan logika baru yang keliru lagi tidak sejalan dengan teks, jiwa dan tuntutan agama. Karena ketika mereka menampik bias atau meluruskan kekeliruan dan kesalahpahaman tentang ajaran agama, seringkali mereka melampaui batas sehingga lahir pandangan yang justru tidak sejalan dengan ajaran agama. 72
Menurut Quraish ada dua kelompok yang sangat rawan melakukan bias dan pelecehan terhadap perempuan. Kelompok pertama, pemikiran dan pendapat lama dari dari Timur dan Barat, dan bekas-bekasnya masih terasa hingga kini, sedangkan semua pihak sudah mengakui perlunya keadilan dan kebebasan bagi perempuan. Kelompok kedua adalah mereka yang menggebu-gebu menampik bias masa lalu itu sehingga terjerumus pula dalam bias baru yang belum dikenal kecuali masa kini. 73
Quraish mengakui bahwa pandangan negative terhadap perempuan, serta anggapan kerendahan kualitasnya, diperparah juga oleh masyarakat dan pendidikan di rumah tangga yang memprioritaskan anak lelaki dibandingkan anak perempuan. Padahal kalau merujuk kepada kitab suci, tidak ditemukan dasar dari suprioritas laki- laki dari peremuan.
Perbedaan kualitas yang selama ini terasa di masyarakat lebih banyak disebabkan antara lain oleh kurang tersedianya peluang bagi perempuan untuk berkembang melalui pendidikan dan pelatihan. Di samping kurangnya minat perempuan untuk maju, juga kurangnya dorongan lelaki terhadap perempuan untuk mengembangkan diri akibat meresapnya dibawah sadar pandangan budaya yang meremehkan. Ini terbukti antara lain dengan tampilnya sekian banyak perempuan yang memiliki prestasi yang menyamai, bahkan melebihi, prestasi lelaki. Ini membuktikan bahwa perempuan dapat maju dan berprestasi dan mandiri jika mereka mau bertekad untuk maju dan menciptakan peluang buat diri mereka.
Quraish mengatakan bahwa kemandirian perempuan mengharuskannya tampil sebagai perempuan dengan semua identitasnya. Kemandiriannya tidak boleh lebur
72
M. Quraish Shihab, Perempuan, h. 32 73
sehingga menjadikannya sebagai lelaki, dan tidak juga menjadikan mereka harus