Kasus ini dipicu dari informasi berupa laporan tentang adanya kesulitan melakukan pengiriman garam bahan baku ke Sumatera Utara selain juga ada kesulitan
melakukan pembelian garam bahan baku di Sumatera Utara. Terlapor adalah PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo dengan PT Graha Reksa, PT Sumatra Palm, UD Jangkar Waja, dan UD Sumber Samudera. Laporan tersebut ditindaklanjuti oleh KPPU dengan melakukan pemeriksaan pendahuluan yang telah dilakukan pada tanggal 5 Agustus 2005 sampai dengan 19 September 2005 terhadap pihak - pihak terkait dan dilanjutkan dengan pemerikasaan lanjutan.
Dari kedua pemeriksaan tersebut didapat fakta yaitu Adanya kesepakatan secara lisan yang dilakukan PT Garam, PT Budiono dan PT Garindo (G3) dengan PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja dan UD Sumber Samudera (G4) untuk menetapkan harga produk PT Garam lebih tinggi dibandingkan dengan harga produk PT Budiono dan PT Garindo. Adanya pemberian harga yang lebih tinggi untuk garam bahan baku yang dibeli oleh perusahaan di luar G3 dan G4.
Penguasaan pemasaran garam bahan baku oleh G3 dan G4 di Sumatera Utara
mencerminkan struktur pasar yang bersifat oligopolistik.dimana terjadi koordinasi antara PT Garam, PT Budiono, dan PT Garindo dengan PT Graha Reksa, PT Sumatra Palm, UD Jangkar Waja, dan UD Sumber Samudera untuk bersama-sama melakukan pengontrolan pasokan dan pemasaran garam bahan baku di Sumatera Utara. Hal ini tercermin dari • Persaingan semu diantara G3 dalam bentuk pengontrolan jumlah pasokan dan
kebijakan penetapan harga jual garam bahan baku,
• Sistem pemasaran yang menciptakan hambatan bagi pelaku usaha selain G3. • Konsumen harus menanggung harga yang relatif tinggi dan tidak wajar karena
sistem pemasaran dimana jumlah pasokan garam belum tentu sama dengan permintaan konsumen
Akhirnya, berdasarkan bukti-bukti yang telah dihasilkan dari pemeriksaan dan penyelidikan atas perkara ini, dalam sidang majelis tanggal 13 Maret 2006, Majelis Komisi memutuskan sebagai berikut:
1. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 4 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
2. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo secara sah dan
meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
3. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo secara sah dan
meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 6 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
4. Menyatakan bahwa PT Garam, PT Budiono, PT Garindo secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 11 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
Ringkasan Keputusan KPPU
5. Menyatakan bahwa PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera secara sah dan meyakinkan tidak melanggar ketentuan Pasal 13 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
6. Menyatakan bahwa PT Garam secara sah dan meyakinkan tidak melanggar ketentuan Pasal 19 huruf a dan huruf d Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
7. Memerintahkan kepada PT Garam, PT Budiono, PT Garindo untuk memberikan ketentuan dan kesempatan yang sama kepada pelaku usaha selain PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera untuk memasarkan garam bahan baku di Sumatera Utara;
8. Melarang PT Graha Reksa, PT Sumatera Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera melakukan tindakan yang dapat menghalangi pelaku usaha lain untuk memperoleh pasokan garam bahan baku dari PT Garam, PT Budiono, PT Garindo; 9. Menghukum PT Garam, PT Budiono, PT Garindo, PT Graha Reksa, PT Sumatera
Palm, UD Jangkar Waja, UD Sumber Samudera masing-masing untuk membayar denda sebesar Rp 2.000.000.000,00 (dua milyar rupiah) kepada kas negara yang harus dibayarkan dalam pos Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta I Jl. Ir. H. Juanda No. 19 Jakarta Pusat dengan Nomor Rekening 1212 apabila tidak melaksanakan perintah dan larangan yang disebut dalam diktum butir 7 dan butir 8 putusan ini.
2.33 Putusan KPPU Perkara No. 11/KPPU-I/2005
Distribusi Semen Gresik
Perkara ini adalah Perkara yang didasarkan pada inisiatif KPPU terkait dengan Distribusi Semen Gresik di Area 4 Jawa Timur yang meliputi wilayah Blitar, Jombang, Kediri, Kertosono, Nganjuk, Pare, Trenggalek, dan Tulungagung. Pelanggaran tersebut diduga dilakukan oleh PT. Bina Bangun Putra, PT. Varia Usaha, PT. Waru Abadi, PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero), UD. Mujiarto, TB. Lima Mas, CV. Obor Baru, CV. Tiga Bhakti, CV. Sura Raya Trading, CV. Bumi Gresik yang merupakan Distributor Semen Gresik dan PT. Semen Gresik, Tbk dengan dugaan pelanggaran terhadap Pasal 8, Pasal 11, Pasal 15 ayat (1) dan (3), Pasal 19 butir d dan Pasal 25 UU No. 5 Th. 1999.
Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan, KPPU menemukan fakta bahwa PT. Semen Gresik,
Tbk. Membagi Jawa Timur menjadi 8 area pemasaran. Dalam rangka memasarkan produknya, PT. Semen Gresik, Tbk. menunjuk distributor. PT. Semen Gresik, Tbk. dan para Distributor mengikatkan diri melalui suatu Perjanjian Jual Beli yang
menempatkan para Distributor sebagai distributor mandiri/pembeli lepas. Meskipun posisi para Distributor ini sebagai pembeli lepas namun PT. Semen Gresik, Tbk. menetapkan harga jual di tingkat distributor dan mewajibkan Distributor untuk menjual sesuai harga tersebut, menentukan pihak yang bisa menerima pasokan dari distributor, melarang distributor menjual semen merek lain.
PT. Semen Gresik, Tbk. menerapkan suatu pola pemasaran yang dikenal dengan nama “Vertical Marketing System” (VMS). VMS ini merupakan pedoman bagi para Distributor untuk hanya memasok jaringan di bawahnya (Langganan Tetap/ LT & Toko). Pola ini melarang Distributor memasok LT dan toko yang bukan kelompoknya. Pola VMS tidak berjalan efektif meskipun pelanggaran terhadap VMS ini akan dikenakan sanksi. Tidak berjalannya VMS ini berakibat pada terjadinya perang harga antar distributor karena perilaku LT yang berpindah-pindah distributor dan melakukan penawaran harga serendah mungkin kepada setiap distributor.
Untuk menyikapi perang harga tersebut PT. Semen Gresik, Tbk. memfasilitasi
pertemuan-pertemuan di kantornya. Atas inisiatif para Distributor, maka dibentuklah suatu perkumpulan distributor yang bernama Konsorsium Distributor Semen Gresik Area 4 Jawa Timur. Kesepakatan yang dicapai dalam pembentukan Konsorsium adalah memperketat pelaksanaan VMS, mematuhi harga jual Semen Gresik sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan. Membagi jatah distribusi dan berkoordinasi serta saling berbagi informasi antara sesama anggota Konsorsium.
Maksud dan tujuan pembentukan Konsorsium adalah untuk menghadapi perilaku para LT dan Toko dan menghilangkan perang harga. Konsorsium ini kemudian
membentuk Kantor Pemasaran Bersama yang dibiayai secara bersama, yang bertugas mengumpulkan pesanan Semen Gresik dari LT dan melanjutkan pesanan tersebut pada PT. Semen Gresik yang sebenarnya merupakan inti dari kegiatan usaha dari masing-masing distributor tersebut.
Dengan terlaksananya VMS secara ketat oleh Konsorsium berakibat hilangnya persaingan diantara distributor, tidak dimungkinkannya distributor memperluas usahanya dan tidak dimungkinkannya LT mendapat pasokan selain dari
distributornya. Keberadaan Konsorsium juga menghilangkan kesempatan LT untuk melakukan penawaran harga karena Distributor telah bersepakat untuk menjaga harga pada harga yang telah ditentukan oleh PT. Semen Gresik, Tbk.
Berdasarkan fakta-fakta yang ada, Majelis Komisi memutuskan:
1. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X dan Terlapor XI terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 8 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
2. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX dan Terlapor X terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 11 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999; 3. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI,
Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X dan Terlapor XI terbukti secara sah dan meyakinkan telah melanggar Pasal 15 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;
4. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV, Terlapor V, Terlapor VI, Terlapor VII, Terlapor VIII, Terlapor IX, Terlapor X dan Terlapor XI terbukti secara
Ringkasan Keputusan KPPU